Novel ini berpisah tentang Aulia, seorang desainer muda berbakat yang bercita-cita tinggi. Setelah berjuang keras, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impian di perusahaan arsitektur terkemuka, dipimpin oleh CEO yang karismatik dan terkenal dingin, Ryan Aditama.
Sejak hari pertama, Aulia sudah berhadapan dengan Ryan yang kaku, menuntut kesempurnaan, dan sangat menjaga jarak. Bagi Ryan pekerjaan adalah segalanya, dan tidak ada ruang untuk emosi, terutama untuk romansa di kantor. Ia hanya melihat Aulia sebagai karyawan, meskipun kecantikan dan profesionalitas Aulia seringkali mengusik fokusnya.
Hubungan profesionalitas mereka yang tegang tiba-tiba berubah drastis setelah insiden di luar kantor. Untuk menghindari tuntutan dari keluarga besar dan menjaga citra perusahaannya, Ryan membuat keputusan mengejutkan: menawarkan kontrak pernikahan palsu kepada Aulia. Aulia, yang terdesak kebutuhan finansial untuk keluarganya, terpaksa menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama
Setelah pesta melelahkan berakhir, mereka kembali ke penthouse. Ruangan itu kini dipenuhi karangan bunga dan ucapan selamat. Suasana terasa sangat sunyi setelah keramaian pesta.
Aulia melepaskan sepatu hak tingginya dengan lelah, sementara Ryan melontarkan dasinya.
"Pesta yang sukses," kata Aulia, mencoba mencairkan suasana. "Adnan gak terlihat dimana pun. Kurasa pukulan tempo hari cukup efektif."
"Adnan sudah dikirim ke luar negeri oleh kakek. Dia gak akan mengganggu lagi," jawab Ryan. Ia berjalan menuju bar kecil dan menuangkan air putih untuk Aulia.
"Jadi... apa rencana kita sekarang?" tanya Aulia, sambil menerima gelas itu. "Pernikahan sudah terjadi. Uang sudah dikirim. Saham sudah atas nama aku. Apa babak selanjutnya?"
Ryan menatap Aulia lalu berjalan mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Aulia merasakan jantungnya berdetak dengan cepat.
"Babak selanjutnya adalah membuat pernikahan ini menjadi nyata," ujar Ryan lirih. Matanya menatap tajam ke mata Aulia.
Aulia tersenyum sinis. "Nyata? Ryan, kamu sendiri yang bilang dalam rekaman itu aku hanya 'alat'. Kenapa sekarang kamu ingin menjadikannya nyata?"
Ryan menghela napas, tatapannya melembut. "Karena aku takut, Aulia."
"Takut? Takut apa?"
"Takut kehilangan satu-satunya orang yang bisa melihat sisi manusiawi di balik dinding esku. Aku mengatakannya pada pengacaraku saat itu karena aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa aku gak punya perasaan padamu. Aku mencoba mempertahankan kontrolku," aku Ryan. Langkahnya semakin mendekat, menyudutkan Aulia ke dinding kaca yang menampilkan kerlap kerlip lampu Jakarta.
"Aku mencintaimu, Aulia. Bukan sebagai desainer junior, bukan sebagai alat bisnis. Tapi sebagai wanita yang berani menatap mataku dan bilang aku bosan," Ryan tersenyum tipis, sebuah senyum tulus yang meruntuhkan segala keangkuhannya.
Aulia membeku. Jantungnya berpacu lebih kencang daripada saat ia berdiri di altar tadi. "Ryan... ini gak ada dalam kontrak..."
"Bakar kontraknya," bisik Ryan. "Aku gak butuh kertas untuk tahu bahwa aku ingin menghabiskan sisa hidupku membangun masa depan denganmu. Bukan sebagai atasan tapi sebagai teman hidup."
Ryan mencondongkan tubuhnya, menunggu jawaban Aulia. Di bawah cahaya rembulan yang menembus kaca penthouse, Aulia melihat kejujuran di mata Ryan - sebuah kejujuran yang meluluhkan segala luka dari kata-kata kasar di masa lalu.
Aulia menyentuh wajah Ryan, merasakan rahangnya yang tegas. "Jika ini adalah desainer baru hidup kita.... Aku ingin ada banyak jendela di dalamnya, Ryan. Agar kita nggak lagi merasa terkurung dalam kedinginan."
Ryan tersenyum, lalu mencium Aulia - kali ini bukan untuk kamera, bukan untuk kuarga, tapi untuk mereka berdua.
Aulia pasrah dengan apa yang akan di lakukan oleh Ryan. Dia sudah sah menjadi isteri Ryan. Ryan menciumi Aulia dengan lembut, perlahan membuka gaun pengantin yang di pakai Aulia. Setelah itu, Ryan menuntun Aulia ke ranjang big sizenya yang penuh dengan taburan bunga. Wangi aneka bunga semakin membuat mereka tenggelam di dalam lautan cinta yang baru saja mereka temui.
Setelah cukup lama mereka memadu kasih, akhirnya merekapun tertidur karena lelah. Tertidur dalam keadaan yang polos. Cuma ditutupi oleh sebuah selimut.
Tengah malam, Aulia terbangun karena merasa harus mengeluarkan sesuatu yang harus di buang, dia melihat Ryan yang sedang terbaring di sampingnya. "Dia sangat tampan," gumam Aulia.
Kemudian dia turun perlahan dari atas ranjang hendak menuju ke toilet dan membuang air kecil.
"Akh... sakit," Aulia terpekik perlahan, merasakan nyeri di bagian intimnya. Ya semalam setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Ryan berhasil menerobos bagian paling berharga milik Aulia.
Aulia berusaha turun dan berjalan perlahan menuju toilet yang ada dalam kamar itu.
Ryan mendengarkan rintihan Aulia, dia membuka matanya. "Mau kemana, Sayang?" tanya Ryan. Aulia berhenti. Dia merasa seperti ribuan kupu-kupu beterbangan di perutnya ketika mendengar Ryan memanggilnya dengan kata sayang.
"Aku... mau ke toilet, Ryan. Aku kebelet." jawab Aulia lalu berjalan perlahan merasakan sakit di area intimnya.
Ketika Aulia sudah masuk ke dalam Toilet, Ryan melihat cairan merah yang ada di seprei tempat tidur Aulia. Dia tersenyum puas dan bangga.
Beberapa menit kemudian Aulia keluar, begitu ia mendekati ranjang, ia melihat noda merah di seprei tempatnya tidur.
"Ryan, sepreinya kotor. Aku bersihkan dulu ya." kata Aulia.
Namun, Ryan menahan tangan Aulia. "Gak usah , Biarin aja, Sayang. Itu bukti kalo kamu adalah wanita terhormat. Menyerahkan keperawanannya pada laki-laki yang sudah resmi menjadi suamimu."
Ryan menarik tangan Aulia agar naik kembali ke atas ranjang.
"Ini masih malam, Sayang. Kita lanjutkan lagi, yuk." ajak Ryan.
"Tapi, anuku masih sakit, Ryan." kata Aulia.
"Aku akan melakukannya dengan lembut, nanti lama kelamaan juga kamu gak akan merasakan sakit melainkan enak." kata Ryan menaik turunkan alisnya.
"Kamu ternyata udah pro dalam hal ini, Ryan." kata Aulia.
"Yah, Aku cuma mengikuti naluri ku aja. Jujur ini adalah pengalaman pertama aku." jawab Ryan.
"Masa? kok aku ragu ya?"kata Aulia.
"Serius, Sayang. Ciuman pertama ku adalah saat kita dipaksa berciuman oleh Adnan." Kata Ryan sambil mengangkat kedua jarinya.
Aulia melongo, gak percaya. "Ciuman pertama kok, tapi kayak udah profesional?"
"Kan aku bilang ngikutin naluri aku." kata Ryan, lalu memeluk Aulia. Bibir mereka kembali bertemu. Mereka kembali menghabiskan malam pertama mereka dengan memadu kasih.
*********
Keesokan paginya, Aulia bangun dan langsung membersihkan dirinya. Setelah itu ia menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan bagi mereka berdua.
Dia sibuk memasak sampai gak sadar akan kedatangan Ryan. Ryan berjalan perlahan menghampiri Aulia yang sedang memasak dengan Apron yang menempel di tubuhnya. Rambutnya lagi ditutupi handuk karena dia baru selesai keramas dan belum sempat mengeringkannya. Memperlihatkan leher jenjang denga kalung pemberian Ryan juga anting mutiara pemberian Bu Ratna. Ia terlihat sangat cantik, walau pun belum dandan.
Ryan memeluk Aulia dari belakang. Aulia terkejut ketika pinggangnya tiba- tiba dipeluk oleh seseorang. "Ryan, Aku kaget, tahu nggak?" kata Aulia lalu berbalik menghadap Ryan.
'Selamat pagi, Nyonya Ryan Aditama. Lagi masak apa nih, kayaknya enak banget. Aromanya menggoda banget." Kata Ryan, mengecup singkat bibir Aulia.
"Aku buatkan nasi goreng aja, soalnya aku liat di kulkas nggak ada lagi bahan makanan yang bisa diolah selain nasi goreng ini." jawab Aulia, membalas ciuman Ryan.
"Kalo gitu ntar kita belanja yuk. Untuk isi kulkas." Ajak Ryan.
"Iya deh. Tapi.... " ujar Aulia.
"Tapi apa, Sayang?" tanya Ryan bingung.
"Boleh nggak, sebentar... Aku jenguk Ibu aku di Rumah sakit. Udah beberapa hari ini aku gak nengokin Ibu, Mas." jawab Aulia.
Ryan tersenyum, menatap Aulia. "Nah, itu panggilan yang aku sukai," kata Ryan.
"Kok, tiba-tiba manggil aku, Mas?" tanya Ryan.
"Aku ikutin naluri aja sih." jawab Aulia.
"Hmmm..... gitu dong, pintar." Kata Ryan, sambil mencubit kecil ujung hidung mancung Aulia.
"Mas, gimana? Boleh gak, aku jengukin Ibu?" Aulia bertanya lagi.
"Boleh dong, Sayang. Nanti aku temenin. Aku juga mau liat keadaan mertua aku." Kata Ryan.
"Makasih ya, Mas, " kata Aulia lalu mencium pipi Ryan lembut.
Ryan tersenyum. Dia sangat bahagia. Dia telah menemukan orang yang bisa menghancurkan dinding es di hatinya.
Setelah sarapan, mereka berdua bersiap-siap hendak ke rumah sakit tempat ibunya di rawat. Menurut suster yang merawat ibunya, Ibunya sudah menunjukkan tanda-tanda baik. Sudah mulai segar dan bisa berjalan sendiri ke toilet.
Bersambung.......