Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Di sebuah dermaga pribadi yang tersembunyi dari hiruk-pikuk kota, sebuah mobil SUV hitam berhenti dengan mesin yang tetap menderu. Bayu keluar dari pintu penumpang belakang sambil mendekap sebuah selimut hangat berisi nyawa kecil yang masih sangat rapuh. Di hadapannya, Tuan Narendra sudah menunggu dengan sorot mata yang dingin, seolah bayi itu bukanlah cucunya, melainkan hanya sebuah pion dalam permainan kekuasaan.
"Kerja bagus, Bayu. Saya akan memastikan kamu baik-baik saja. Silakan kamu pergi dari sini dan ini... saya sudah menyiapkan semua identitas palsu untukmu," ujar Tuan Narendra dengan nada datar, sambil menyerahkan sebuah map berisi berkas-berkas identitas baru dan sejumlah uang.
Bayu menyerahkan bayi yang tak berdosa itu ke tangan Tuan Narendra. Ia menerima map tersebut dengan tangan yang sama sekali tidak gemetar. Tak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya.
"Baiklah, Om. Kalau begitu saya permisi! Kini tugas saya sudah selesai untuk membalas wanita itu dan membuat Devano tidak bisa lagi kembali padanya," ucap Bayu sambil tersenyum penuh kemenangan. Baginya, melihat kehancuran Devano adalah hadiah yang jauh lebih besar daripada uang.
Tuan Narendra menatap bayi di pelukannya sejenak, lalu beralih pada Bayu yang hendak melangkah pergi. "Ingat, Bayu. Sekali kamu menggunakan identitas ini, kamu tidak pernah ada di Indonesia. Jika Devano menemukanmu, saya tidak akan bertanggung jawab."
Bayu hanya melambaikan tangan tanpa menoleh, lalu menghilang ke dalam kegelapan malam. Tuan Narendra kini memandangi bayi mungil itu dengan senyum sinis.
"Maafkan Kakek, Kecil," bisik Tuan Narendra tanpa emosi. "Tapi darah Narendra tidak boleh bercampur dengan kelas rendahan seperti ibumu. Kamu akan tumbuh jauh dari sini, di tempat yang tidak akan pernah bisa ditemukan oleh ayahmu yang lemah itu."
Kembali ke rumah sakit, suasana semakin mencekam. Devano yang masih terduduk lemas di lantai koridor tiba-tiba merasakan ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal:
“Devano, jangan mencari yang sudah hilang. Fokuslah pada masa depanmu sebagai pewaris tunggal! Lupakan dia dan ibunya! Bayi itu sudah tiada. Jika kamu ingin melihatnya untuk yang terakhir kali, datanglah ke dermaga sekarang.”
Mata Devano membelalak. Ponsel di tangannya terjatuh hingga layarnya retak. Kalimat "bayi itu sudah tiada" menghantam jantungnya seperti palu godam. Ia segera teringat pada Bayu—satu-satunya orang yang tahu celah keamanan di rumah sakit ini karena dialah yang memberikan rekomendasi pengawal.
"BAYU!!!" raung Devano. Suaranya mengguncang koridor rumah sakit yang sunyi.
Ia bangkit dengan amarah yang meledak-ledak. Tanpa memedulikan orang-orang di sekitar atau penjaga medis yang mencoba menahannya, Devano berlari kencang menuju parkiran. Pikirannya kalut, antara duka dan dendam. Ia tahu ke mana ayahnya akan membawa sesuatu yang ingin dihilangkan: pelabuhan pribadi milik keluarga Narendra.
Devano melangkah dengan tergesa-gesa, nyaris berlari menembus udara malam yang menusuk. Ia segera masuk ke dalam mobilnya dan menghidupkan mesin yang langsung menderu keras. Tanpa pikir panjang, ia menginjak pedal gas sedalam mungkin, memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota yang mulai lengang.
Ia tidak lagi memikirkan keselamatannya sendiri. Deru angin di jendela dan bunyi ban yang berdecit tajam saat ia menikung tajam di persimpangan jalan sama sekali tidak ia hiraukan. Hanya satu hal yang kini menghuni pikirannya: ia harus segera sampai di dermaga.
"Bertahanlah, Nak... Daddy mohon, bertahanlah!" bisiknya dengan suara gemetar, sementara tangannya mencengkeram kemudi hingga buku-bukunya memutih.
Setiap detik terasa seperti selamanya bagi Devano. Bayangan pesan singkat yang mengatakan anaknya telah tiada terus berputar di kepalanya, menghancurkan sisa-sisa kewarasannya. Dengan air mata yang menggenang dan menghalangi pandangannya, ia terus memacu mobilnya, berpacu dengan waktu hanya untuk melihat wajah anaknya untuk terakhir kalinya.
Sesampainya di sana, Devano mengerem mobilnya dengan kasar hingga menimbulkan suara decitan panjang di atas aspal dermaga. Ia melompat keluar dan melihat pemandangan yang menghancurkan jiwanya: papanya berdiri di ujung dermaga, sedang menggendong tubuh mungil yang terbungkus selimut itu.
"Papa! Apa yang Papa lakukan pada anakku?! Dia juga cucu Papa!" teriak Devano di tengah isak tangisnya yang pecah. Langkahnya gontai, ia ingin berlari merampas bayi itu, namun tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.
Tuan Narendra menoleh perlahan, wajahnya tetap datar, tak menunjukkan penyesalan sedikit pun. Ia menatap putranya yang hancur dengan sorot mata merendahkan.
"Tenanglah, Devano! Sahabatmu sendiri yang memberikannya pada Papa. Bayi ini sudah tidak bernyawa," ujar Tuan Narendra dengan mimik wajah yang sulit diartikan—sebuah campuran antara ketegasan dan kebohongan yang sangat rapi.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Devano. Ia menggelengkan kepala dengan kuat, menolak memercayai kata-kata dingin itu. "Enggak... Papa bohong! Tadi dia masih baik-baik saja di NICU! Papa pasti melakukan sesuatu!"
Sementara itu, Bayu—yang tidak mudah percaya begitu saja pada orang lain demi obsesinya terhadap Sheila—memperhatikan segala kejadian itu dari kejauhan. Ia bersembunyi di balik tumpukan kontainer, matanya menyipit tajam menatap interaksi antara ayah dan anak itu.
"Cih! Tua bangka licik," desis Bayu dengan nada meremehkan. "Ternyata dia pembohong yang ulung. Dia bilang tidak akan melibatkanku, tapi nyatanya dia membawa-bawa namaku di depan Devano demi menyembunyikan bayi sialan itu."
Bayu mengepalkan tangannya, merasa dikhianati sekaligus kagum dengan kekejaman Tuan Narendra. Ia tahu bahwa bayi itu sebenarnya masih hidup, dan Tuan Narendra hanya sedang memainkan sandiwara kematian untuk menghancurkan mental Devano sepenuhnya.
"Silakan mainkan peranmu, Om," bisik Bayu dengan senyum miring yang mengerikan. "Selama bayi itu hilang dari hidup Sheila, tujuanku tetap tercapai. Biarlah Devano mati dalam rasa bersalahnya, sementara aku yang akan menjadi pahlawan bagi Sheila nanti." Ucap Bayu tersenyum smirk.
Devano jatuh bersimpuh di atas aspal dermaga yang dingin. Ia menatap bayi dalam dekapan papanya dengan pandangan yang hancur total. Dalam keadaan mental yang terguncang hebat, ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk berargumen. Ia menelan mentah-mentah kebohongan kejam yang diucapkan Tuan Narendra.
Baginya, dunia benar-benar telah kiamat malam itu.
Tuan Narendra melangkah mendekat, meletakkan satu tangannya di bahu Devano dengan kepura-puaan yang sempurna, seolah ia adalah ayah yang sedang berempati.
"Sebaiknya kita segera mengurus pemakaman bayi ini, Devano," ucap Tuan Narendra dengan suara berat yang menuntut kepatuhan. "Setelah itu, lupakan wanita itu. Kita kembali ke London. Papa akan bersamamu di sana, kita mulai semuanya dari awal."
Devano tidak menjawab. Ia hanya menunduk dalam, membiarkan air matanya jatuh ke atas tanah. Nama London yang diucapkan papanya terdengar seperti sebuah pengasingan, namun ia merasa sudah tidak memiliki alasan lagi untuk tinggal. Baginya, separuh nyawanya telah pergi bersama napas bayi yang ia kira telah tiada itu.
Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/