NovelToon NovelToon
Story Of Hazel Lyra Raven

Story Of Hazel Lyra Raven

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Dark Romance / Mafia / Time Travel / Reinkarnasi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:949
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.

Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??

kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!


Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar

Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 19

• Kaon & Helex ketangkep → semua tuduhan ke D.J.D secara resmi jatuh ke mereka

• Terra & Vos kabur → jadi incaran utama

• Pharma → statusnya kembali “dokter biasa” karena bukti nihil

---

Rapat singkat di pusat komando Raven selesai dalam tensi yang kaku.

Magnus berdiri tegap di depan layar monitor, menatap data yang ter-update.

“Status tersangka D.J.D yang tertangkap?” suara Magnus tegas.

Paul menjawab sambil tangannya mainin pulpen, “Kaon bungkam total. Helex cuma bilang kalau mereka ‘ngejar keadilan’ yang sampe sekarang kita nggak ngerti maksudnya apa.”

Magnus nyenderin tangan ke meja. “Pharma?”

Paul ngehela napas panjang. “Bersih. Secara hukum dia clear. Semuanya balik ke Kaon dan Helex. Semua bukti, semua testimoni, semua rekaman CCTV—arahnya selalu ke mereka. Seolah… Pharma emang nggak pernah terlibat.”

Magnus menyipit curiga. “Terlalu rapi.”

Paul nyengir getir. “Iya. Tapi gimana? Kita nggak bisa nyulik dokter baik-baik itu cuma karena feeling jelek gue.”

Di layar, ada foto Pharma tersenyum ramah di Raven Medika, lengkap dengan badge dokter senior.

Magnus menatap lama.

“Kalau itu cuma topeng?” gumamnya.

Paul angkat bahu. “Kalau iya pun, dia topengnya rapi banget.”

Paul nutup file, berdiri.

“Kita lanjut fokus ngejar Terra dan Vos dulu. Publik udah panik. Dan ada pasien anak baru masuk Raven—katanya kondisi tubuhnya... aneh.”

Magnus langsung bereaksi. “Aneh bagaimana?”

Paul geleng. “Belum jelas. Lyra yang nangani sekarang. Kita lihat dulu hasil pemeriksaannya.”

Magnus mendadak lebih tegang. “Kalau itu ada hubungannya dengan penyelidikan ini…”

“Gue juga mikir gitu,” potong Paul.

---

Raven Medika – Ruang anak

Lyra berdiri di samping ranjang seorang anak laki-laki kira-kira usia 11 tahun. Tubuhnya kurus banget, ada bekas-bekas operasi yang kayaknya dilakukan tanpa prosedur benar. Bocah itu pucat, tapi matanya… terlalu waspada untuk ukuran anak.

Lyra tersenyum lembut.

“Halo. Namamu siapa?”

Anak itu menatap Lyra lama.

Suaranya kecil, parau, dan bikin bulu kuduk berdiri:

> “Mereka bilang aku nomor 27… bukan nama.”

Lyra refleks merinding.

Dalam pikirannya:

Ini bukan kasus anak biasa. Ini sisa dari horor yang belum selesai.

---

Magnus masuk beberapa menit kemudian, masih pakai jaket polisi penuh badge.

Begitu liat kondisi bocah itu, ekspresinya berubah gelap.

Lyra pelan banget berbisik ke Magnus:

> “Kalau ini… bukti hidup… kita nggak boleh salah langkah lagi.”

Magnus menatap bocah itu seperti menatap luka lamanya sendiri.

> “Kita belum selesai,"

---

Raven Medika – Ruang Anak

Situasi awalnya tegang.

Magnus berdiri di sisi kanan ranjang pasien, Lyra di sisi kiri. Si bocah nomor “27” itu masih memandangi mereka dengan ekspresi kosong tapi… waspada.

Tiba-tiba pintu geser kebuka.

Pharma masuk. Dengan seragam dokter yang masih licin tanpa noda, clipboard di tangan, senyum profesional yang terlalu rapi untuk momen seserius ini.

“Maaf terlambat. Ada operasi darurat barusan,” katanya santai.

Begitu bocah itu ngeliat Pharma…

Srek.

Anak itu langsung duduk tegak dan wajahnya berubah cerah—cerah dalam cara yang nggak wajar, kayak robot yang nemu master-nya.

“Dokter Pharma!”

Dia melompat turun dari tempat tidur dan langsung nyamperin Pharma dengan langkah kecil cepat.

Lyra dan Magnus langsung refleks pasang mode waspada.

Pharma jongkok, menatap si bocah dengan lembut. “Heh. Kau sudah lebih baik dari terakhir kita ketemu. Lenganmu… sudah nggak terlalu sakit, kan?”

Anak itu mengangguk cepat. “Dokter baik! Dokter yang selamatkan aku!”

Magnus saling lirikan sama Lyra.

Paul dari jauh udah melipat tangan, curiga aktif.

Pharma berdiri lagi dan menghadap mereka dengan tatapan santai.

“Pasien ini korban kecelakaan mobil tiga minggu lalu,” jelas Pharma seolah sedang memamerkan hasil kerja baik. “Aku melakukan operasi darurat di Delphi. Tanpa aku, dia sudah meninggal. Trauma memengaruhi memorinya—itu sebabnya dia bicara seperti tadi.”

Pharma menepuk lembut kepala bocah itu.

Senyumnya lembut…

…tetapi matanya?

Kosong. Datar. Berhitung.

Magnus mendekat satu langkah.

“Kau mengenalnya baik sekali, Dokter.”

Pharma membalas dengan nada ramah tapi pedas.

“Dokter harus selalu ingat pasiennya, Komisaris.”

Sementara semua orang masih mengamati, si bocah tiba-tiba menarik ujung jas Pharma.

“Dokter, aku mau tunjukkan sesuatu—yang kamu bilang jangan kasih tahu siapa pun.”

Ceria. Lugu.

Tanpa sadar menyebut rahasia depan polisi.

Semua badan langsung kaku.

Pharma membeku sepersekian detik—wajah tetap tersenyum, tapi kerongkongannya turun naik cepat.

Magnus langsung tegang. “Apa yang dia maksud, Dokter?”

Pharma menatap Magnus dengan dingin yang cuma muncul sepersekian detik, lalu lenyap kembali ke wajah malaikatnya.

“Anak kecil sering salah mengingat,” gumamnya pelan.

Tapi tangan Pharma mencengkram bahu bocah itu terlalu kuat untuk disebut “lembut”.

Lyra maju setengah langkah. “Dokter, itu menyakitinya.”

Pharma melepaskan genggamannya.

Senyumnya masih sama…

…tapi suasana udara berubah.

Pharma memandang satu per satu mereka di ruangan.

“Kalau kalian ingin menginterogasi seorang anak yang baru saja selamat dari trauma… aku sarankan kalian melakukannya dengan benar. Dan tanpa… teatrikal.”

Lalu dia menggandeng si bocah, hendak keluar.

Magnus menghalangi jalannya.

“Kami masih perlu keterangan darinya.”

Pharma menatap Magnus, dan untuk pertama kali ia bicara tanpa topeng:

“Kalau kalian menyentuh pasienku tanpa alasan cukup… aku yang akan menghentikan kalian.”

Sunyi membeku.

Bocah itu memandangi Pharma dengan kagum.

Senyum kecil muncul di bibir Pharma lagi.

“Permisi.”

Pharma jalan melewati Magnus tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Pintu tertutup.

Paul membisik ke Lyra:

“Dia berbahaya. Dan dia tahu kita nggak punya bukti. Itu… bikin dia makin berani.”

Lyra menghela napas panjang.

Magnus mengepalkan tangan.

“Kalau dia memang bersih… kenapa setiap langkahnya terasa seperti ancaman?”

---

Notif HP Magnus bunyi tiga kali berturut-turut.

Jazz nelpon. Suaranya kenceng tapi napasnya pendek, jelas habis lari atau abis ngejar maling pake sepatu licin.

“Magnus! Lu harus balik ke kantor polisi. Sekarang.”

Magnus ngerningin alis. “Ada apa?”

“Kita dapet dia.”

Jazz kedengeran senyum, tapi senyum yang… pahit.

“Dalang sebenernya udah ketangkep.”

Lyra dan Paul langsung fokus ke call itu.

Magnus nahan nafas. “Siapa?”

“Dokter… yang lo liat dulu waktu di Delphi. Yang ngaku Kael. Nama aslinya Grayson Helmer. Dia anggota DJD yang ditanem khusus di dunia medis. Dan—” Jazz ngelanjutin pelan.

“Dia ngaku semua. Jual organ, penculikan, mutilasi. Semua.”

Lyra ngerasa dunia berhenti sepersekian detik.

Paul langsung ngomong kasar lirih, “Sialan. Jadi selama ini—”

“Pharma bukan kriminalnya…” Magnus menghembuskan napas berat.

“…tapi kita udah memperlakukannya seolah dia pelakunya.”

Lyra merasakan perutnya serasa ditonjok.

Semua tuduhan. Semua kecurigaan. Semua tatapan dingin ke Pharma.

Magnus langsung gerak, suaranya mendadak tegas lagi.

“Kami ke sana sekarang.”

---

Di perjalanan keluar ruang anak, Magnus sempet berhenti sebentar.

Matanya ngarah ke pintu yang baru aja ditutup Pharma tadi.

“Bahkan kalau dia nggak bersalah…” gumamnya lirih, “…dunia udah bikin dia keliatan kayak monster.”

Lyra ngikut di belakangnya, nunduk dikit.

“Saya ikut. Saya… harus bilang sesuatu ke dia nanti.”

Paul masuk mode polisi serius. “Gue langsung koordinasi sama tim forensik.”

Mereka bertiga keluar dari Raven Medika, dinginnya angin luar nusuk kulit.

Dan di ujung lorong parkir…

Pharma berdiri di sana.

Tangan di saku, mata menatap laut jauh di belakang gedung.

Seakan dia udah tau kabar itu duluan.

Atau… dia nggak kaget sama sekali.

Lyra memanggil pelan. “Dokter Pharma…”

Pharma noleh perlahan.

Senyumnya kecil. Licin. Ambigu.

“Akhirnya kalian sadar juga.”

Magnus mendekat satu langkah. “Kami menyesal.”

Pharma ngangkat dagu sedikit, nada suaranya rendah tapi nancep.

“Penyesalan tidak menghapus apa yang kalian lakukan.”

Hening.

Angin lewat.

Ada dingin yang bukan dari cuaca.

Pharma jalan melewati mereka.

“Tapi tidak apa,” katanya tenang. “Pada akhirnya… kebenaran selalu memilih untuk muncul.”

Dia berhenti sebentar di samping Lyra.

“Rawat pasien saya dengan baik, Dokter Lyra.”

Nada “pasien saya” diucap dengan penekanan—kayak ngingetin siapa pemilik jiwa rapuh itu.

Lalu Pharma pergi begitu saja.

Jaketnya berkibar tipis.

Kakinya mantap, kayak orang yang udah siap perang babak berikutnya.

Paul bergumam, lirih tapi tajem:

“Dia bukan dalang…”

“…tapi jelas dia bukan malaikat.”

Magnus ngejatuhin tatapan ke tanah—keras, penuh tekad.

“Kita belum selesai dengan dia.”

Fade to black.

---

---

Dalang aslinya:

Grayson, dokter senior yang sok karismatik, ternyata udah nyamar di balik kasus mutilasi itu. Dia main licik: memalsukan catatan medis, hacking rekaman CCTV, dan biar lebih sinematik — dia sengaja pakai alat-alat bedah yang sama kayak milik Pharma. Jadi semua bukti awal nembak ke Pharma.

Padahal Pharma?

Bro cuma sibuk nyelametin bocah-bocah. Literally.

---

Scene update:

Magnus dapet telepon dari Jazz.

Jazz:

“Magnus, target secured. Si dalang… Grayson. Udah di borgol. Dia ngaku semua.”

Magnus: setengah lega, setengah kesel karena waktu hampir terbuang

“Pharma harus keluar dari Raven sekarang juga.”

Cut ke Raven Medika.

Dokter-dokter bisik-bisik:

“Kok yang salah bukan dia?”

“Jadi yang dingin-dingin itu… bukan psikopat?”

Pharma cuma pasang wajah: “Aku bilang dari awal 🙂.”

Lyra dateng sambil masih gendong bocah yang happy banget liat Pharma. Magnus cuma melirik — anak itu kan korban kecelakaan, bukan kasus mutilasi. Semua makin ngeh: Pharma bukan pelaku.

Dan langsung di situ, Pharma bangun reputasi dokter penyelamat, bukan butcher.

---

Kalimat terakhir scene:

Magnus jalan ngelewatin koridor, cape, lapar, tapi puas.

“Kadang… kebenaran cuma kalah cepat dari gosip.”

Terus pintu lift nutup.

Segala kecurigaan anti-Pharma officially game over.

---

---

Markas hening.

Lampu emergency aja yang nyala.

---

Meanwhile di Raven Medika:

Lyra finally taro anak-anak di kamar pasien, dicek satu-satu… dan dia juga udah kayak zombie manis berseragam dokter.

Pharma lewat:

“Dokter Lyra, kau sudah 28 jam berdiri. Duduk—atau aku akan bedah lututmu supaya kau tidak bisa berdiri lagi.”

Itu dark jokes… tapi efektif.

Lyra ketawa lemes dan akhirnya nurut duduk.

---

Magnus?

Dia doang yang masih kerja.

Orang kalau pernah dibesarin militer tuh kasur teori konspirasi.

Dia benerin semua laporan, ngecek surat perintah, nge-drop seluruh tekanan hari itu ke kertas.

Lalu tiba-tiba…

pikirannya balik ke anak yatim yang digendong Lyra.

Flash kecil.

Diri kecilnya.

Seragam pelatihan.

Suara bom jauh.

Hidup yang harusnya nggak sekeras itu buat bocah.

Magnus berhenti nulis.

Menutup folder case mutilasi.

Case Pharma: CLEARED.

Dia berdiri, keluar kantor, dan akhirnya ngomong ke udara kosong:

“Aku akan pastikan kamu… tidak tumbuh sepertiku.”

---

Besok pagi…

Baru mulai.

Ada satu jejak baru dari interogasi Grayson yang bisa ngebangunin DJD lebih cepat dari sirine kebakaran.

1
AEERA♤
bacaa woee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!