Profil Karakter Utama
Arkaen "Arka" Malik (30 th): CEO muda dari Malik Group yang terlihat bersih dan filantropis. Namun, di balik itu, ia adalah "Don" dari sindikat The Black King. Dia dingin, penuh perhitungan, dan tidak percaya pada cinta karena trauma masa lalu.
Alea Senja (24 th): Seorang jurnalis investigasi amatir yang cerdas namun sedang kesulitan ekonomi. Dia memiliki sifat yang berani, sedikit lancang, dan tidak mudah terintimidasi oleh kekuasaan Arka.
Alea tidak sengaja memotret transaksi ilegal di pelabuhan yang melibatkan Arka. Alih-alih membunuhnya, Arka menyadari bahwa Alea memiliki kemiripan wajah dengan wanita dari masa lalunya yang memegang kunci brankas rahasia keluarga Malik. Arka memaksa Alea menandatangani kontrak "Pernikahan Bisnis" selama satu tahun demi melindunginya dari kejaran faksi mafia musuh sekaligus menjadikannya alat untuk memancing pengkhianat di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pisau di Balik Jubah Putih
Manila menyambut mereka dengan kemacetan yang menyesakkan dan udara yang pengap oleh asap knalpot. Kota ini adalah rimba beton yang sempurna untuk menghilang, sekaligus tempat yang paling berbahaya jika kau adalah orang yang paling dicari di Asia Tenggara.
Rio mengemudikan mobil ambulans curian melewati gang-gang sempit di distrik Binondo, kawasan Pecinan tertua di dunia. Di bagian belakang, Arka terus menggenggam tangan Alea. Gadis itu kini mengalami demam tinggi akibat infeksi luka tembak yang mulai meradang. Keringat dingin membasahi pelipisnya, dan igauan pendek sesekali keluar dari bibirnya yang pucat.
"Tahan sebentar lagi, Alea. Kita hampir sampai," bisik Arka, suaranya parau karena kurang tidur.
Ambulans itu berhenti di depan sebuah toko obat tradisional yang tampak kumuh. Di lantai atas toko tersebut, terdapat sebuah klinik bedah bawah tanah yang tidak terdaftar di catatan medis manapun. Inilah wilayah kekuasaan Dokter Mateo, satu-satunya pria yang pernah menjahit luka Don Malik dan tetap memegang rahasianya selama tiga dekade.
"Tuan Arka, kita sudah sampai," ucap Rio sembari membuka pintu belakang.
Arka segera menggendong Alea. Tubuh gadis itu terasa ringan namun sangat panas. Mereka masuk melalui pintu belakang toko, menaiki tangga kayu yang berderit, dan disambut oleh bau antiseptik yang tajam beradu dengan aroma herbal Cina yang pekat.
Di dalam klinik, seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal dan jubah putih yang sedikit kekuningan sedang mencuci tangannya. Ia menoleh perlahan.
"Arkaen... kau membawa masalah besar ke pintuku," suara Dokter Mateo tenang, namun matanya menatap tajam ke arah Alea.
"Selamatkan dia, Mateo. Aku tidak butuh ceramahmu tentang risiko," balas Arka sembari meletakkan Alea di atas meja operasi yang diterangi lampu halogen tua.
Mateo segera memeriksa luka di bahu Alea. Ia mendengus melihat jahitan kasar Arka di tengah laut kemarin. "Jahitan ini seperti dikerjakan oleh tukang jagal. Untung kau tidak memutus saraf utamanya."
"Aku melakukan apa yang harus kulakukan agar dia tidak mati kehabisan darah," Arka berdiri di sudut ruangan, tangannya tetap berada di dekat senjata yang disembunyikan di balik jaketnya. Instingnya tetap waspada, meski ini adalah tempat perlindungan lama.
Mateo mulai bekerja. Ia memberikan bius lokal dan mulai membersihkan infeksi di bahu Alea. Rio berjaga di pintu masuk tangga, sementara Arka mengawasi monitor jantung yang berkedip lemah.
Namun, ada sesuatu yang terasa ganjil bagi Arka. Mateo bergerak terlalu lambat untuk ukuran dokter bedah trauma yang legendaris. Dan setiap beberapa menit, mata Mateo melirik ke arah jam dinding besar di sudut ruangan.
"Ada yang mengganggumu, Mateo?" tanya Arka tiba-tiba, suaranya sangat rendah.
Mateo berhenti sejenak, tangannya yang memegang pinset sedikit bergetar. "Hanya usia, Arka. Mataku tidak seakurat dulu."
"Atau mungkin... kau sedang menunggu seseorang?" Arka melangkah maju. Tangannya kini sudah memegang gagang pistolnya. "Sejak kapan kau memakai sepatu pantofel Italia yang baru dan mengkilap di klinik berdebu ini? Dan sejak kapan Mateo yang miskin punya jam tangan Rolex di pergelangan tangannya?"
Mateo tertegun. Ia perlahan meletakkan alat bedahnya. Wajahnya yang semula tenang kini dipenuhi ketakutan. "Mereka... mereka memegang cucuku, Arka. Aku tidak punya pilihan."
"Siapa?!" bentak Arka.
"The Ghost," bisik Mateo.
Tepat saat nama itu terucap, langit-langit klinik pecah. Dua orang penyerang berbaju taktis hitam terjun menggunakan tali, melepaskan tembakan gas air mata ke tengah ruangan.
"RIO! AMANKAN ALEA!" teriak Arka sembari melepaskan tembakan ke arah penyerang pertama.
Asap putih pekat memenuhi klinik dalam sekejap. Arka bergerak berdasarkan memori spasial. Ia tahu di mana meja operasi Alea berada. Ia menerjang ke arah meja tersebut, bermaksud melindungi Alea dengan tubuhnya.
Namun, di tengah kepulan asap, sebuah bayangan bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Itu bukan pengawal biasa. Orang itu memegang pisau bedah yang berkilau di bawah lampu operasi.
"Mundur, Arkaen," suara itu lembut, namun dingin seperti es.
Arka menembak, namun bayangan itu menghilang di balik lemari obat. Detik berikutnya, sebuah tendangan keras menghantam punggung Arka, membuatnya tersungkur.
"Aku bukan pengejar kasar seperti tim Helena," bayangan itu muncul kembali dari balik asap. Kali ini wajahnya terlihat. Seorang pria muda dengan wajah tampan yang tenang, hampir terlihat seperti malaikat maut yang rapi. Inilah Caleb, atau yang dikenal di dunia bawah tanah sebagai 'The Surgeon'—anggota ketiga Obsidian Circle yang bertugas sebagai eksekutor 'pembersihan' internal.
"Surya gagal karena dia terlalu banyak bicara. Helena gagal karena dia terlalu serakah," Caleb memutar-mutar pisau bedahnya. "Aku tidak punya keduanya. Aku hanya punya presisi."
Arka bangkit, darah mengalir dari pelipisnya. "Kau tidak akan menyentuhnya, Caleb."
"Aku tidak ingin menyentuhnya," Caleb melirik Alea yang masih terbius. "Aku ingin kartu memori yang dia ambil dari Helena. Serahkan itu, dan aku akan membiarkan Mateo menyelesaikan jahitannya. Jika tidak... aku akan membedah kalian berdua di sini tanpa bius."
Rio muncul dari balik kepulan asap, mencoba menyerang Caleb dari belakang, namun Caleb bereaksi lebih cepat. Ia melemparkan pisau bedah kecil yang mengenai lengan bawah Rio, membuat senjatanya terjatuh.
"Satu langkah lagi, dan aku akan memutus arteri karotis gadis ini," Caleb kini berdiri tepat di samping Alea, ujung pisaunya hanya berjarak beberapa milimeter dari leher Alea yang tidak berdaya.
Arka menurunkan senjatanya. Jantungnya berdegup kencang, sebuah perasaan yang jarang ia alami. Takut. Bukan takut mati, tapi takut kehilangan satu-satunya cahaya dalam hidupnya yang gelap.
"Kau ingin datanya? Ambil ini," Arka mengeluarkan sebuah kartu memori dari sakunya. Itu bukan kartu memori yang asli, melainkan kartu tiruan yang sudah disiapkan Rio sebagai umpan.
Caleb tersenyum tipis. "Kau pikir aku bodoh, Arka? Aku tahu Alea menyembunyikan yang asli di tempat yang sangat pribadi. Dan aku tidak keberatan mencarinya."
Tepat saat Caleb hendak menyentuh Alea, Alea tiba-tiba membuka matanya. Pengaruh biusnya belum hilang sepenuhnya, tapi rasa sakit dan suara keributan telah memicu adrenalinnya. Dengan sisa tenaga yang ada, Alea menyambar botol alkohol di meja samping dan menyiramkannya ke mata Caleb.
"ARGGHH!" Caleb berteriak, matanya terbakar oleh cairan alkohol.
"SEKARANG, ARKA!" teriak Alea dengan suara parau.
Arka tidak membuang sedetik pun. Ia menerjang Caleb, menghantamkan tinjunya ke rahang pria itu. Terjadi pergulatan brutal di lantai klinik yang penuh dengan obat-obatan yang pecah. Caleb, meski matanya teriritasi, tetap bertarung dengan insting yang mengerikan. Ia berhasil menggores lengan Arka dengan pisau bedahnya berkali-kali.
Rio, meski lengannya terluka, bangkit dan membantu Arka. Mereka berdua mengeroyok Caleb sampai sang pembunuh itu terdesak ke arah jendela kaca.
"Ini untuk setiap nyawa yang kau ambil, Dokter Gadungan!" Arka memberikan tendangan terakhir yang mengirim Caleb menembus jendela kaca, jatuh dari lantai dua ke arah tumpukan sampah di gang bawah.
Arka segera kembali ke meja operasi. "Alea! Kau tidak apa-apa?"
Alea terengah-engah, air mata menahan sakit mengalir di pipinya. "Aku... aku benci rumah sakit."
Arka tertawa getir sembari memeluk kepalanya. Ia menoleh ke arah Mateo yang terduduk lemas di pojok. "Mateo... selesaikan pekerjaanmu. Cepat. Sebelum Caleb memanggil bantuan."
Mateo, dengan tangan gemetar, kembali menjahit luka Alea di bawah todongan senjata Rio. Kali ini ia bekerja dengan kecepatan yang luar biasa.
Sepuluh menit kemudian, setelah luka Alea dibalut dengan rapi, mereka bersiap pergi.
"Mateo, ambil uang ini dan pergilah selamatkan cucumu," Arka melemparkan segepok uang tunai ke atas meja. "Tapi jika aku melihatmu lagi, aku tidak akan segan-segan."
Mereka membawa Alea keluar menuju ambulans. Saat mereka melaju pergi dari Binondo, Arka melihat Caleb di spion—pria itu berdiri di tengah jalan, wajahnya berlumuran darah, namun ia hanya menatap mobil mereka dengan senyuman yang sangat mengerikan.
"Dia belum selesai dengan kita," bisik Alea, menggenggam tangan Arka erat.
"Aku tahu," jawab Arka, wajahnya mengeras. "Tapi sekarang kita tahu siapa musuh ketiga kita. Caleb bukan sekadar pembunuh, dia adalah pemegang data kesehatan seluruh anggota Obsidian Circle. Dia tahu kelemahan fisik mereka semua."
Alea menatap kartu memori asli yang masih ada di balik balutan perbannya. "Kalau begitu, kita punya alasan baru untuk mengejarnya. Dia adalah kunci untuk meruntuhkan mereka dari dalam secara biologis."
Ambulans itu menghilang di balik kegelapan malam Manila. Perang melawan Obsidian Circle kini telah memasuki babak yang lebih intim dan mematikan—sebuah perang yang tidak lagi menggunakan peluru besar, melainkan pisau bedah yang menyasar titik nadi paling lemah.