Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baskara Lian
"Sebaiknya kakak biarkan salepnya meresap terlebih dahulu, jangan gunakan pakaian."
Hita mulai memasukkan kembali salep ke dalam kotak, tak lupa pula memasukkan kembali pada laci sebagaimana kotak itu diletakkan semula.
Dirga menolehkan kepalanya ke belakang, memperhatikan istrinya itu yang tengah sibuk membuka dan menutup laci.
Dirga baru memperhatikan detail-detail kecil yang sebelumnya tak pernah ia perhatikan—mulai dari rambut bergelombang yang tebal dan tergerai indah, mata bulat yang bersinar, Samapi pada kulit istrinya yang mulai mulus kembali setelah goresan yang tercipta akibat serpihan kaca di mall.
Saat pandangan Dirga semakin turun, dahi laki-laki itu berkerut kala melihat memar keunguan di pergelangan tangan Hita. Itu terlihat seperti lebam, dan kembali lagi membuat Dirga bertanya-tanya.
"Apa yang terjadi pada tanganmu?" tanya Dirga, secara naluriah pula ia menggapai tangan Hita hingga sang empunya tersentak.
Begitu halus sentuhan Dirga begitu membolak-balik tangan kecil nan halus istrinya. Dahinya berkerut penuh konsentrasi kala memeriksa.
Hita di sisi lain membeku kala melihat Dirga mengelus memarnya itu dengan ibu jari, bertanya-tanya apakah laki-laki itu sadar dengan apa yang dia lakukan sekarang—memberi perhatian, secara tidak langsung.
"Hanya... terbentur," bohong Hita, entah akan dipercayai atau tidak.
Jelas sekali bahwa itu bukanlah luka benturan, melainkan memar yang Dirga buat sendiri tanpa laki-laki itu sadari. Menahan Hita agar tetap di bawahnya dan tidak memberontak kala laki-laki itu menggagahi.
Hita perlahan-lahan menarik tangannya dari Dirga, kembali teringat lagi dengan kejadian malam itu. Ia tak tau apakah keputusan yang benar untuk memberitahu Dirga sekarang, tapi menurutnya itu bukanlah keputusan yang terbaik yang bisa ia buat.
"Kakak bisa tunggu di sini, aku akan menyiapkan makan malam bersama tante Nadia dan Lian, aku akan membawakan makan malam kakak nanti." Dengan itu Hita berbalik, bahunya menegang kala melangkah mendekati pintu.
Hita tau bahwa mungkin saja ucapannya di toilet itu mungkin mempengaruhi Dirga, menarik secercah simpati yang membuat Dirga sedikit melunak padanya. Tapi hanya butuh waktu hitungan detik saja sebelum laki-laki itu kembali membencinya.
Langkah Hita berhenti kala di ambang pintu, kepalanya menoleh ke belakang, menatap Dirga yang memandanginya dengan tatapan datar yang sulit diartikan.
"Aku akan meminta tante Nadia yang memasakkan makan malam untuk kakak," ujar Hita lembut. "Jadi jangan khawatir makananya akan terasa tidak enak."
Diam-diam tangan Dirga mengepal saat mendengar ucapan Hita yang jelas merujuk pada sarapan pagi tadi, saat ia mengatakan bahwa masakan Hita tak sebanding dengan ibunya.
Tapi entah mengapa Dirga merasa kesal setengah mati saat Hita mengatakan itu padanya, seakan-akan istrinya itu melempar kata-katanya sendiri ke wajahnya.
Dirga tak mengatakan bahwa ia berharap agar Hita setidaknya membujuk agar dia mau mencoba makanan buatan perempuan itu. Tapi tidak mengatakannya bukan berarti ia tak berharap, kan?
Kala pintu tertutup, tatapan Dirga masih terpaku pada punggung Hita yang telah hilang di balik pintu.
Sekarang pertanyaan yang terpenting adalah apa yang terjadi pada Dirga? Kenapa ia tak mampu mendeteksi perasaanya sendiri? Kenapa kata-kata Hita mempengaruhinya sekali.
Hita hanya mengatakan kebenaran bahwa dia adalah anak haram yang tak diharapkan, bertanya apakah itu yang membuat Dirga begitu kasar padanya, bahkan perempuan itu memaklumi perbuatannya.
Tapi itu malah membuat Dirga merasa bahwa ia benar-benar bajingan tak berotak.
Helaan napas panjang lolos begitu Dirga menyugar rambutnya yang basah, berusaha untuk menepis jauh-jauh pikirannya pada istri penggantinya itu.
...****************...
BYUR!
Suara riak air memenuhi kolam saat Lian melompat ke dalam air, membuat cipratan-cipratan air kolam membasahi tepi.
Indahnya terlihat begitu nyata saat lampu-lampu kekuningan mengitari kolam, membuat tempat itu tampak seperti pemandian elit kerajaan. Tempat pemandian para bidadari di malam hari.
Bagitu indahnya tubuh Lian meliuk-liuk di dalam air, membuat siapapun yang memandang akan terpaku di tempat.
Contohnya adalah Baskara.
Entah sejak kapan laki-laki itu berada di sana, bersama dengan segelas minuman keemasan yang jelas sekali adalah wiski.
Bersama dengan seringai menyebalkan yang khas, pemilik club terbesar di Bali itu melangkah ke tepi kolam dengan mata yang tak bisa berpaling pada tubuh gadis di dalam air.
"Ternyata kau masih suka berenang, ya?"
Seringai Baskara kian melebar saat kepala Lian muncul di permukaan. Rambut gadis itu lepek karena air, menempel di dahi dan leher.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Dengan kesal Lian bertanya, bersama dengan cemberut menggemaskan yang dia sangka terlihat galak.
Lian mengusap wajahnya, menyingkirkan air dan mencoba menatap Baskara yang berdiri di tepi kolam dengan lebih jelas.
Laki-laki itu hanya mengenakan kaus putih polos dan celana hitam pendek, tak lagi menggunakan pakaian mencolok yang kerap membuat mata Lian sakit kala memandanginya.
"Awalnya hanya berjalan-jalan." Baskara melangkah mengitari kolam, menggoyangkan gelas di tangannya. "Tapi kebetulan sekali aku menemukan harta karun di sini," godanya, mengedipkan mata sembari menyesap wiski di dalam gelas.
Sikap genit laki-laki itu benar-benar membuat Lian merasa geli setengah mati.
Sejak bertahun-tahun lalu Baskara memang sudah menyebalkan begini, menggodanya dan membuatnya jengkel.
"Setidaknya aku mengira bahwa kau sudah tidak suka berenang lagi." Baskara bicara lagi. "Aku dengar semenjak masuk kuliah kau jadi lebih malas dan menghabiskan banyak waktu di kamar."
"Itu karena kau hanya 'mengira'," ketus Lian. "Lagipula kau dengar dari siapa bahwa aku malas? Aku adalah anak paling rajin di rumah ini."
"Benarkah?" Baskara terlihat sekali meledek. "Sejak dulu juga aku tau bahwa kau selalu menjadi Martadinata termalas," ucapnya, meletakkan gelas di sisi kolam berenang saat duduk di tepi dengan kaki masuk ke dalam air.
Baskara menampakkan tangannya di tepi kolam, tubuhnya dicondongkan ke depan, kakinya berayun-ayun di dalam air. Tapi matanya, selalu fokus pada Lian yang berada di tengah-tengah kolam yang sedang merengut.
"Kita sudah lama sekali tidak bertemu, dan aku lihat-lihat kau tumbuh semakin cantik," goda Baskara semakin gencar. "Kalau saja Bram merestui, akan aku culik kau ke Bali sekarang juga."
Baskara memperhatikan reaksi Lian.
"Padahal ini adalah peluang yang sangat bagus untuk mempererat hubunganku dengan Dirga." Baskara semakin berniat membuat Lian kesal. "Kalau kau menikah denganku, kita bisa menjadi keluarga—"
"BASKARA!"
Tawa sontak mengudara saat Lian berseru kesal, gadis itu mengayunkan tangannya dan menyipratkan air ke arah Baskara dengan kesal, membuat laki-laki itu langsung basah.
Tapi Baskara tak kesal sama sekali, malah tertawa lepas dan segera pula bangkit dari tepi kolam.
"Berhentilah mengatakan kata-kata menjijikan itu!"
Napas Lian terengah-engah, matanya memincing tajam saat menatap Baskara. Terlihat seperti ingin memakan laki-laki itu hidup-hidup.
"Menjijikan?" ulang Baskara geli, seringainya semakin melebar. "Kenapa kau menganggap kata-kataku menjijikan? Bukankah beruntung sekali jika kau bisa menikah denganku?"
"Aku lebih baik menikah dengan Wisnu daripada dengan laki-laki menjengkelkan sepertimu," balas Lian sengit.
Sejak dulu Baskara ini benar-benar menyebalkan, tapi untungnya Lian selalu punya Bram untuk menyelamatkannya.
Walaupun Baskara itu teman Dirga, tapi laki-laki itu satu tahun lebih tua dari kakak tertuanya.
Jika Bram kini sudah berusia tiga puluh tahun, maka Baskara ini sudah tiga puluh satu, sementara Dirga baru berusia dua puluh delapan. Dan bagaimana dengan Lian? Dia hanya gadis berusia dua puluh tahun.
Yang Lian tau, Baskara ini telat masuk sekolah karena alasan yang konyol—malas.
"Apa yang kau lakukan?!"
Lian memeluk tubuhnya secara naluriah saat Baskara melepaskan kausnya yang basah dan masuk ke dalam air perlahan-lahan.
Gila sekali laki-laki itu.
Lian melangkah semakin mundur kala Baskara mendekat, matanya memandangi bagaimana tubuh padat dan berotot Baskara saat mendekatinya dengan seringai jahil yang memuakkan.
"Menurutmu apa yang sedang aku lakukan?" Dirga menaik-turunkan alisnya, semakin senang saat melihat Lian yang kewalahan.
"Berhenti di sana atau aku akan memberitahu—Baskara!"
Lian meronta-ronta saat Baskara dengan satu gerakan menariknya, membuatnya menjerit kaget dan tertarik ke arah tubuh keras laki-laki itu.
"Memberitahu siapa? Kak Bram?" bisik Baskara jahil, tangannya melingkari pinggang ramping itu erat-erat. "Kau ini masih saja suka mengadu, ya? Menggemaskan sekali."
"Lepaskan!" Lian menjerit-jerit kesal saat Baskara malah membuatnya semakin menempel dengan tubuh laki-laki itu.
Tangan Lian memukul-mukul dada bidang Baskara kuat-kuat, tapi malah membuat laki-laki gila itu semakin tertawa puas.
"Jangan seperti itu, nanti kau lelah," ejek Baskara, menangkap satu kepalan tangan Lian saat ingin memukulnya lagi.
Baskara mengelus buku-buku jari gadis itu yang memerah karena memukuli tubuhnya, membuat Lian merinding geli dibuatnya.
"Dasar menyebalkan, kau—"
"Lian!"
Keduanya sontak menoleh saat suara halus itu terdengar, diikuti suara langkah kaki.
"Kak Pramahita?" Senyum Lian langsung mengembang begitu Hita muncul dari pintu, langsung terbelalak Hita melihat pemandangan dihadapannya.
"Kalian..."
Hita dengan polosnya langsung berbalik, matanya membola begitu melihat Lian dan Baskara di dalam kolam begitu dekatnya.
"Awas!" Lian langsung mendorong tubuh Baskara menjauh saat tangan laki-laki itu mengendur di pinggangnya.
Hita memperhatikan dari pantulan kaca yang ditutupi tirai begitu Lian mendekat, bertanya-tanya apa sekiranya hubungan adik Dirga itu dengan Baskara.
"Ada apa, kak?"
Lian langsung merangkul pundak Hita begitu keluar dari kolam, membuat pakaian kakak iparnya itu langsung basah.
Hita tak keberatan dengan itu, malah memasang senyum lembut tulusnya yang biasa terlihat di wajah cantik itu.
"Tante Nadia ingin kita membantunya memasak makan malam," ucap Hita lembut, sedikit melirik ke arah Baskara yang tengah bersantai di dalam kolam.
"Baiklah, kalau begitu berganti pakaian dulu."
Lian langsung menuntun Hita untuk masuk ke dalam rumah, sekalipun tak menoleh ke arah Baskara yang perlahan-lahan senyumannya surut.
Laki-laki itu mengamati punggung Hita dan Lian yang menjauh, ekspresinya berubah seketika. Tak ada lagi seringai menyebalkan. Hanya sedikit kekecewaan.
"Aku selalu menganggapmu gadis yang polos, Lian." Gumamnya, menatap kedua tangan yang tadi ia gunakan untuk menyentuh Lian. "Tapi sekarang kau sudah beranjak dewasa."
Baskara melangkah ke tepi kolam, membiarkan air beriak di sekitarnya.
"Membuat seseorang kabur di hari pernikahannya bukanlah kepolosan, dan aku tau itu."
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga