Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.
Tokoh Utama:
Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.
Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paspor, Koper, dan Les Bahasa Jerman yang Menyiksa
Dua minggu sebelum keberangkatan ke Jerman adalah waktu yang paling brutal dalam sejarah hidup Ghea. Jika dulu dia merasa belajar Fisika itu seperti mendaki gunung, sekarang belajar bahasa Jerman rasanya seperti mendaki gunung sambil menggendong gajah, pakai egrang, dan di tengah badai salju.
Setiap sore, setelah jam sekolah usai, Ghea tidak lagi nongkrong di kantin bareng Juna. Dia harus "setor nyawa" di ruang perpustakaan pribadi rumah Arlan. Di sana, Papa Arlan sudah duduk dengan kacamata bacanya, tumpukan kamus tebal, dan sebuah papan tulis putih.
"Ghea, ulangi lagi. 'Ich möchte ein Schnitzel bestellen'. Fokus pada pelafalan huruf 'CH' di tenggorokan, bukan seperti orang lagi tersedak biji salak," ucap Papa Arlan tegas.
Ghea menarik napas dalam-dalam. "Is... Is mös-te... Is mok-te... Aduh Om! Kenapa sih bahasa Jerman huruf 'CH'-nya harus kayak suara orang mau ngeluarin dahak?"
Arlan yang duduk di meja sebelah sambil menyusun dokumen visa, cuma bisa menahan tawa. "Ghe, itu namanya suara fricative. Lo harus rileks."
"Rileks gimana?! Ini tenggorokan gue udah kering kayak kerupuk kaleng gara-gara latihan huruf 'R' yang harus bergetar di belakang!" protes Ghea sambil meneguk air mineralnya dalam satu kali tegukan.
Papa Arlan mengetuk papan tulis. "Jangan banyak mengeluh. Di Jerman nanti, kalau kamu tidak bisa memesan makanan dengan benar, kamu hanya akan makan roti tawar selama enam bulan. Arlan tidak akan membantumu setiap saat."
Sementara Ghea berjuang dengan kata kerja yang berubah-ubah, Juna justru sibuk dengan urusan "logistik". Juna merasa punya tanggung jawab moral sebagai sahabat sejati.
"Ghe, nih, gue udah siapin paket darurat buat lo di Jerman," ucap Juna sambil menyerahkan satu koper kecil yang isinya penuh dengan... mie instan berbagai rasa, sambal ulek sachet, dan satu renteng tolak angin.
"Jun, gue mau ke Jerman, bukan mau naik haji," kata Ghea sambil melihat tumpukan sambal sachet itu.
"Heh! Di sana itu dingin, Ghe! Lidah lo bakal mati rasa kalau makan sosis sama kentang terus. Ini sambal ulek adalah kunci kewarasan lo. Dan satu lagi..." Juna mengeluarkan sebuah benda dari tasnya. "Gue kasih lo jimat."
Ghea melihat benda itu. Ternyata itu adalah foto Juna yang sedang bergaya peace dengan latar belakang gerobak siomay sekolah. "Buat apa, Jun?!"
"Supaya lo nggak lupa kalau di Jakarta ada cowok ganteng yang selalu nungguin traktiran bratwurst dari lo!" Juna nyengir lebar.
Masalah lain muncul: Koper.
Ghea adalah tipe cewek yang kalau pergi ke pasar saja bawaannya seperti mau pindah rumah. Di kamar Arlan (dengan pengawasan Mama Arlan tentu saja), Ghea sedang berusaha menutup kopernya yang sudah buncit.
"Ghea, kamu bawa apa saja sih? Ini beratnya sudah lewat batas maskapai," tanya Arlan sambil mencoba membantu menekan tutup koper Ghea.
"Cuma barang penting, Ar! Baju hangat, sepatu bot, skincare, catokan rambut, terus ada bantal kesayangan gue yang baunya udah pas..."
"Catokan? Ghe, di Jerman ada toko elektronik. Lagian kita ke sana buat riset, bukan mau ikut fashion show di Berlin," Arlan mengeluarkan catokan rambut itu dari koper.
"EHH! JANGAN! Kalau rambut gue mekar kayak singa kena setrum, riset lo bakal keganggu karena lo bakal silau liat rambut gue!" Ghea merebut kembali catokannya.
Papa Arlan lewat di depan kamar dan menggelengkan kepala. "Arlan, biarkan saja. Nanti kalau kopernya pecah di bandara, itu akan jadi pelajaran Fisika tentang tekanan kinetik yang bagus buat dia."
Satu hari sebelum keberangkatan, mereka semua berkumpul di sekolah untuk pamitan. Shinta muncul, tapi kali ini dia tidak membawa aura permusuhan. Dia memberikan sebuah kotak kecil pada Ghea.
"Apa nih? Bom?" tanya Ghea curiga.
Shinta memutar bolamatanya. "Itu syal. Bagus buat musim dingin di Munich. Aku cuma nggak mau kamu pulang-pulang jadi es mambo terus Arlan nggak punya asisten lagi."
Ghea tertegun. "Makasih, Shin. Gue kira lo masih benci sama gue."
"Masih sih, sedikit. Tapi Arlan kelihatan lebih hidup pas sama kamu. Jadi ya sudahlah, jagain dia baik-baik. Kalau dia kenapa-kenapa di Jerman, aku yang bakal jemput dia langsung pakai jet pribadi Papa," ancam Shinta, tapi kali ini ada nada bercanda di sana.
Malam harinya, Arlan dan Ghea duduk di teras rumah Arlan. Paspor mereka sudah rapi di dalam tas, tiket pesawat sudah dicetak.
"Ar... gue takut," bisik Ghea.
"Takut apa?"
"Takut gue nggak bisa adaptasi. Takut gue malah bikin lo malu di depan profesor-profesor Jerman itu."
Arlan memegang tangan Ghea. Dia menatap bintang yang sama yang mereka lihat beberapa malam lalu. "Ghe, lo inget nggak pertama kali kita ketemu di ruang arsip? Lo itu variabel yang nggak pernah gue duga akan masuk ke hidup gue. Dan sejak ada lo, hidup gue jadi nggak terukur tapi jadi lebih bermakna."
Arlan mengeluarkan sebuah kamus saku kecil buatan tangannya sendiri. Di halaman depan tertulis: Kamus Khusus Ghea: Bahasa Hati Arlan.
"Gue nggak butuh lo jadi jenius di Jerman. Gue cuma butuh lo jadi Ghea yang berisik, yang pantang menyerah, dan yang selalu ada buat ngingetin gue kalau hidup itu bukan cuma soal rumus," ucap Arlan lembut.
Ghea tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Arlan. "Siap, Bos Robot. Gue janji bakal bikin Munich jadi lebih berwarna... atau mungkin lebih berisik."
Keesokan paginya di Bandara Soekarno-Hatta. Juna, Pak Broto, dan orang tua mereka sudah berkumpul. Suasana penuh haru.
"Ghea! Inget! Kirim foto bratwurst!" teriak Juna saat Arlan dan Ghea mulai masuk ke area imigrasi.
Arlan melambaikan tangan. Ghea memberikan ciuman jauh pada Juna dan orang tuanya. Saat mereka berjalan menuju gerbang keberangkatan, Arlan merangkul bahu Ghea.
"Siap untuk petualangan baru, Meine Liebe?" tanya Arlan dalam bahasa Jerman yang sempurna.
"Siap! Tapi artinya apa tuh? 'Jangan lupa bawa catokan' ya?" jawab Ghea asal.
Arlan tertawa lepas. "Bukan, Ghe. Artinya... Ayo kita taklukkan dunia bareng-bareng."
Pesawat Boeing 777 itu lepas landas, membawa dua remaja dari ruang arsip sekolah menuju cakrawala baru. Dinginnya Eropa sudah menunggu, tapi hangatnya cinta (dan stok sambal ulek Juna) sudah siap menemani mereka.
Perjalanan udara selama belasan jam ternyata sanggup membuat seorang Ghea berubah dari gadis enerjik menjadi seonggok kerupuk yang layu karena kelembapan udara kabin. Saat roda pesawat Boeing 777 itu menyentuh landasan Bandara Munich Franz Josef Strauss, Ghea terbangun dengan rambut yang sudah tidak karuan arahnya dan bekas iler yang (untungnya) hanya dia yang tahu.