Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Kita Tidak Salah, Sya
Radit melanjutkan kembali acara makan singkong goreng di dalam kamarnya. Ia menyetel salah satu saluran TV berbayar, film yang ia tonton bercerita tentang perselingkuhan antara majikan dengan pembantu rumah tangganya yang cantik dan seksi.
"Mirip nih ceritanya sama aku," gumam Radit.
Ia terus menonton sambil sesekali berkomentar sendiri tentang film yang ia tonton. Ia seakan sedang melihat dirinya sendiri sebagai selingkuhan dari si pemeran utama, memikirkan hal tersebut, Radit tiba-tiba merasa amat merindukan Tasya. Semalam ia menurunkannya di depan gapura komplek rumah mertuanya yang katanya kejam, entah bagaimana nasib Tasya kini. Perasaannya tak enak, seolah ada sesuatu yang sedang menimpa kekasih hatinya tersebut.
Radit sedih saat melihat Tasya sedih. Ia tak punya kuasa untuk masuk ke dalam rumah Tasya karena ia bukan siapa-siapa, hanya atasan yang merangkap sebagai kekasih gelap. Rasa rindu pun menelusup ke dalam hatinya. Cinta terlarang memang terasa lebih dalam dibanding cinta yang sudah halal.
"Huft...." Radit menghela nafas dalam. Ia sadar dirinya sudah melakukan perbuatan yang salah namun ia tidak bisa melepas Tasya pergi begitu saja, setelah sekian lama mereka terpisah. Ia masih tetap mencintai Tasya bahkan semakin dalam setiap harinya.
Radit mengambil ponsel miliknya yang berada di atas nakas lalu melihat foto-foto saat mereka berada di Semarang dan Yogyakarta. Tasya nampak cantik sekali saat berada di cafe meski memakai pakaian kerja, bukan gaun seksi seperti mantan kekasih Radit yang lain. Di mata Radit, Tasya adalah wanita yang paling cantik selain sang Mami, Adel.
Rasa rindu yang Radit rasakan semakin besar dan tak tertahankan, padahal belum ada 24 jam mereka terpisah. Tanpa pikir panjang, Radit pun menghubungi Tasya. Panggilan pertama tidak dijawab, sampai panggilan keempat baru Tasya mengangkatnya.
"Halo." Suara Tasya terdengar amat merdu di telinga Radit.
"Halo, Cantik. Kamu sedang apa?" tanya Radit dengan suaranya yang dibuat agak manja.
Tasya terdengar tertawa kecil. "Aku sedang beres-beres rumah."
"Beres-beres rumah? Kamu disuruh lagi sama mertuamu yang kejam itu? Kenapa tidak suruh pembantu sih?" Radit kesal membayangkan sang kekasih hati diperlakukan semena-mena oleh mertuanya sendiri.
"Bukan Dit. Aku sedang membereskan rumah kontrakanku yang sudah tidak kutinggali beberapa bulan ini," jawab Tasya.
Kening Radit berkerut. "Rumah kontrakanmu? Kenapa kamu kembali lagi ke rumah kontrakanmu? Bukankah kamu akan menetap di rumah mertuamu itu?"
Tasya terdengar menghela nafas dalam. Dengan suara yang getir, ia menjelaskan apa yang telah terjadi pada rumah tangganya sejak semalam sampai akhirnya ia memilih pergi. "Aku sudah tidak tinggal di sana lagi. Hanya aku sendiri yang pergi, Mas Setyo tetap berada di sana."
"Loh, kok bisa? Kamu diusir? Siapa yang usir? Mertuamu yang kejam itu? Atau suamimu yang akhirnya mengusirmu keluar dari rumah?" Radit yang terbakar emosi memberondong Tasya dengan banyak pertanyaan.
"Panjang ceritanya. Yang pasti, aku sudah tidak betah tinggal di sana lagi. Sejak semalam, aku terus dicecar dengan berbagai macam pertanyaan yang menyudutkanku," jawab Tasya.
"Pertanyaan menyudutkan?"
"Iya. Semua berawal dari sebuah foto. Ternyata saat kita berada di cafe estetik itu, ada yang memotretku secara diam-diam dan mengirimkannya pada Mas Setyo. Untung saja wajahmu tidak terlihat. Aku sudah berusaha mengelak tapi malah kami semakin bertengkar dan akhirnya aku memutuskan untuk pindah. Aku... sudah tidak tahan lagi. Aku muak dengan semuanya." Tasya menghapus air matanya yang tak kuasa menetes. Berbicara dengan Radit seakan menumpahkan semua isi hati yang selama ini hanya bisa ia pendam seorang diri. Radit adalah tempat ia mengadu, selain kepada Sang Pencipta tentunya.
"Ya ampun, Sya. Kenapa kamu tidak jujur saja, sih? Katakan saja kalau aku adalah kekasihmu. Hubungan kita tak perlu disembunyikan terus. Aku siap kok bertanggung jawab atas apa yang kulakukan." Radit bisa menebak kalau di ujung telepon sana Tasya sedang menangis dan itu membuatnya tidak suka. Orang yang paling ia cintai, disakiti oleh orang lain, ia sangat marah dibuatnya.
"Aku... sudah memutuskan... akan menggugat cerai Mas Setyo, Dit. Bagaimana menurutmu?" tanya Tasya dengan suara agak serak.
"Menurutku? Tentu saja aku akan mendukung setiap keputusanmu. Itu keputusan paling bagus yang pernah kudengar. Tak usah pikir panjang, langsung gugat saja. Kamu butuh apa? Pengacara? Akan aku siapkan yang terbaik hanya untukmu!" Radit menjawab dengan menggebu-gebu.
Seakan menyadari kalau ucapannya membuat Tasya makin sedih, Radit pun mengoreksi ucapannya. "Sya, maksud perkataanku adalah jika memang perceraianmu menjadi awal dari hubungan kita yang lebih baik lagi, kenapa tidak? Sejujurnya... aku ingin hubungan kita bisa diketahui semua orang. Tak perlu harus sembunyi-sembunyi seperti ini." Radit menatap layar TV yang ia tonton. "Cinta kita tidak salah, Sya, hanya waktu kita bertemu lagi yang tidak tepat."
Tasya terdiam. Ia tadi pulang ke rumah kontrakannya dalam keadaan basah kuyup membawa rasa sakit hati yang dalam. Rumah kontrakannya masih sama. Setelah memohon pada pemilik rumah, Tasya diperbolehkan membayar 3 bulan, tidak setahun seperti biasanya, mengingat musibah yang sedang dialami keluarga kecilnya.
Ya, musibah.
Siapa yang menyangka, pagi itu mereka pergi dengan suka cita namun berakhir dengan air mata. Kini, Tasya kembali ke rumah penuh kenangan manis dengan air mata, setelah meninggalkan tempat penuh luka. Hanya sendiri, tanpa Setyo dan Dicky.
"Sya?" Suara Radit menyadarkan lamunan Tasya.
"I-iya," jawab Tasya cepat. Ia menghapus air matanya meski tak ada yang melihat kalau saat ini ia sedang menangis.
"Maaf, kamu marah ya padaku? Aku terlalu mendesakmu ya? Maaf, Sya. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya terlalu senang mendengar kamu akan berpisah dari laki-laki yang sudah menyakiti hatimu itu." Suara Radit menunjukkan betapa menyesalnya ia.
"Aku tak marah padamu. Aku hanya sedih. Aku kembali ke rumah ini namun keadaannya kini sudah berbeda. Dicky belum sadar dan Mas Setyo... kini sudah berubah. Dulu kami bahagia di rumah ini namun kebahagiaan itu hancur dalam sekejap," kata Tasya dengan suara getir.
"Oh ya ampun, Sya. Kamu pasti sangat sedih saat ini. Berikan alamatmu, aku akan datang secepat kilat." Radit tak mau membiarkan Tasya sedih sendiri. Ia harus berada di sampingnya, menemani di saat ia sedih, seperti dulu Tasya yang menemani Radit saat semua teman-teman menjauhinya.
"Sudah kukirimkan. Aku tunggu kedatanganmu," balas Tasya.
Radit langsung mandi dan tancap gas ke rumah kontrakan Tasya. Ia tak mempedulikan tatapan mata ingin tahu dari kedua orang tuanya. Bahkan sindiran halus dari sang Papi, ia acuhkan.
"Tuh, maling singkong goreng tiba-tiba sudah mandi dan rapi. Mau kemana dia di hari libur begini?" sindir Richard.
"Hush, Papi. Kok anaknya sendiri dipanggil maling singkong goreng sih?" omel Adel.
"Memang benar dia malingnya. Singkong Papi tuh, dia yang habiskan dan bawa kabur!" balas Richard. "Mana lagi enak-enaknya lagi."
"Sudah... sudah. Nanti Mami buat lagi. Tunggu Pak Udin cabut singkong di belakang," kata Adel menenangkan.
"Yaudah, sekarang kita tanam singkong aja yuk, Mi. Mumpung hujan. Enak, anget-anget."
****
ayo Dit hiburlah Tasya kekasih mu yg lg melow 🤭