NovelToon NovelToon
ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Dokter / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:651
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.

Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.

Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERPISAHAN DENGAN KELUARGA

Hari keberangkatan tiba lebih cepat dari yang diharapkan. Tanggal 20 Agustus 2026 – hanya dua hari sebelum pelatihan dasar militer dimulai – Evan menghabiskan waktu terakhirnya di rumah orang tuanya di kampung Cibuntu, mengemas barang-barang yang akan dibawanya ke akademi militer di Bandung.

Kotak kayu berisi warisan Kakek Darmo sudah disiapkan dengan hati-hati di dalam koper khusus, dilindungi oleh kain lapis agar tidak rusak selama perjalanan. Kedua kalung pusaka – batu giok dari Kakek Darmo dan besi dari kakek buyutnya – telah dikenakan dengan hati-hati di lehernya, menjadi simbol dari akar keluarga yang selalu akan membimbingnya.

PAGI YANG PENDEK

Pagi itu, ibu Evan bangun lebih awal dari biasanya untuk memasak sarapan khas kampung – bubur manado dengan ikan asin dan sambal matah yang pedas, hidangan kesukaan Evan sejak kecil. Meskipun wajahnya dipenuhi senyum, mata ibunya terkadang berkaca-kaca ketika melihat anaknya yang akan segera pergi jauh.

"Kamu harus makan banyak ya, dek," ujar ibu sambil menambahkan lagi bubur ke piring Evan. "Di akademi mungkin tidak akan ada makanan seperti yang ibu buat."

Evan tersenyum hangat dan mengambil tangan ibunya. "Tidak ada makanan yang bisa menyamai masakanmu, Bu. Tapi saya akan selalu mengingat rasanya dan membawa kenangan ini dengan saya di mana pun saya pergi."

Ayah Evan datang dengan membawa sebuah kotak kayu kecil yang baru dibuat. Di dalamnya terdapat foto keluarga, beberapa biji tanaman obat dari kebun Kakek Darmo, dan sebuah kartu ucapan yang ditulis oleh seluruh anggota keluarga.

"Ini untukmu, anak," ujar ayah dengan suara yang penuh kasih sayang. "Kita tidak bisa selalu ada di sisimu, tapi dengan ini, kamu akan selalu merasa dekat dengan keluarga dan kampungmu."

Evan menerima kotak tersebut dengan rasa syukur yang mendalam. Ia membuka kartu ucapan dan membaca pesan dari setiap anggota keluarga – dari pamannya yang berharap dia menjadi prajurit yang baik, hingga keponakannya yang menulis bahwa dia adalah panutan terbaiknya.

PERPISAHAN DI MAKAM KAKEK DARMO

Sebelum berangkat, Evan bersama keluarga pergi ke makam Kakek Darmo untuk mengucapkan selamat tinggal dan meminta restu. Ia membawa seikat bunga melati putih dan sebuah mangkuk kecil berisi nasi hangat dengan lauk yang pernah menjadi favorit Kakek.

"Saya akan pergi hari ini, Kakek," bisik Evan sambil menyebarkan bunga di sekitar makam. "Saya akan menjalankan pelatihan di akademi militer dan kemudian melanjutkan kuliah seperti yang kita rencanakan bersama."

Ia menunjukkan kotak kayu berisi warisan leluhurnya. "Semua ini saya bawa bersama saya. Saya akan menjaganya dengan baik dan terus belajar dari setiap hal yang kamu tinggalkan untuk saya."

Ayah Evan menyandarkan tangan di bahu Evan. "Kakek akan selalu membimbingmu dari sana, anak. Dia tahu bahwa kamu akan melakukan yang terbaik dan tidak akan mengecewakannya."

Ibu Evan meneteskan air mata yang ditahan-tahan. "Semoga Kakek memberimu keberuntungan dan perlindungan di mana pun kamu berada, dek. Jangan pernah lupa untuk selalu berdoa dan menjaga diri sendiri."

Setelah mengucapkan doa bersama, mereka berjalan meninggalkan makam dengan langkah yang pelan. Evan melihat ke belakang untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke mobil, merasa bahwa Kakek Darmo memang sedang menyaksikannya dengan senyum bangga.

KEBERANGKATAN DARI KAMPUNG

Ketika mereka tiba di halaman rumah, banyak tetangga kampung yang telah menunggu untuk menyambut dan mengucapkan selamat tinggal. Pak Jono datang dengan membawa sebuah tas kecil berisi ramuan obat yang telah ia siapkan sendiri.

"Ini untukmu, Evan," ujar Pak Jono dengan suara penuh perhatian. "Ramuan ini untuk menjaga kesehatanmu di akademi. Jika merasa lelah atau tidak enak badan, kamu bisa menggunakannya sesuai petunjuk yang saya tulis di atas kemasan."

Mbok Siti juga datang dengan membawa bungkusan berisi kue kering khas kampung. "Untuk camilanmu ketika sedang belajar atau berlatih. Jangan lupa untuk makan dengan teratur ya, anak."

Banyak tetangga lain yang memberikan ucapan doa dan semangat – mulai dari masukan untuk selalu menjaga disiplin, hingga harapan agar dia tidak melupakan kampung kelahirannya.

"Sampai jumpa lagi, Evan! Kita tunggu kabarmu ya!" teriak salah satu tetangga ketika mobil mulai bergerak perlahan.

Evan mengangkat tangan untuk melambaikan selamat tinggal, mata nya sedikit berkaca-kaca melihat kampung yang semakin kecil di balik jendela mobil. Ia tahu bahwa ia akan sangat merindukan kampung ini, keluarga, dan semua tetangga yang selalu memberikan dukungan padanya.

DI STASIUN KERETA

Di stasiun kereta Cirebon, Rina dan beberapa teman sekelas sudah menunggu dengan membawa kado dan kartu ucapan. Rina memberikan sebuah tas ransel baru yang sudah diisi dengan buku-buku referensi tentang kedokteran dan beberapa perlengkapan kecil yang mungkin dibutuhkan Evan di akademi.

"Saya akan selalu mendukungmu, Evan," ujar Rina dengan suara lembut. "Jika ada kesusahan atau hanya ingin berbicara, jangan ragu untuk menghubungi saya kapan saja. Saya juga akan selalu mengikuti perkembanganmu dan menunggu kabarmu."

Teman-teman lainnya juga memberikan ucapan semangat. Budi memberikan sebuah buku tentang sejarah perjuangan prajurit Indonesia, sementara yang lain memberikan kartu dengan pesan-pesan motivasi yang membuat Evan tersenyum.

"Kita semua tahu kamu akan menjadi prajurit yang luar biasa," ujar salah satu teman. "Jangan pernah berubah ya, Evan – tetap menjadi orang baik yang kita kenal."

Ketika peluit kereta berbunyi menandakan bahwa waktu keberangkatan telah tiba, Evan memberikan pelukan terakhir kepada orang tuanya dan teman-temannya. Ibu Evan memeluknya erat-erat, tidak ingin melepaskannya.

"Jaga diri dengan baik ya, dek," ujar ibu dengan suara yang bergetar. "Kamu bisa pulang kapan saja jika merasa rindu atau membutuhkan bantuan. Rumah ini akan selalu terbuka untukmu."

Ayah Evan memberikan tatapan yang penuh kebanggaan. "Kamu sudah menjadi orang yang kuat dan tangguh, anak. Kita percaya padamu dan tahu bahwa kamu akan menghadapi semua tantangan dengan baik. Jadilah prajurit yang bisa membawa nama keluarga dan negara dengan bangga."

PERJALANAN KE BANDUNG

Saat kereta mulai bergerak, Evan berdiri di dekat pintu kereta dan melambaikan tangan kepada orang tuanya dan teman-temannya yang masih berdiri di platform stasiun. Sampai mereka benar-benar hilang dari pandangan, ia baru saja duduk dan melihat keluar jendela, menyaksikan pemandangan yang berlalu dengan cepat.

Ia mengambil kotak kayu kecil dari ayahnya dan membukanya, melihat foto keluarga yang tersimpan di dalamnya. Kemudian ia menyentuh kedua kalung di lehernya, merasakan kekuatan dan dukungan yang datang dari leluhurnya dan keluarga.

Di mejanya terletak surat penerimaan yang telah ia baca berkali-kali, serta brosur tentang akademi militer dan universitas yang akan ia tempuhi. Ia tahu bahwa perjalanan yang akan ia tempuh tidak akan mudah – pelatihan militer yang ketat, studi yang berat, dan tanggung jawab yang besar akan menantinya.

Namun dengan dukungan dari keluarga, teman-teman, dan kekuatan yang diberikan oleh warisan leluhurnya, Evan merasa bahwa dirinya sudah siap untuk menghadapi segala sesuatu. Ia menutup matanya sejenak, berdoa dengan tulus untuk keselamatan dan keberhasilan dalam perjalanan yang akan datang.

"Saya akan melakukan yang terbaik," bisiknya dengan penuh tekad, melihat ke arah langit yang cerah di luar jendela. "Saya tidak akan mengecewakan siapapun – terutama keluarga dan Kakek Darmo yang telah memberikan segalanya untuk saya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!