NovelToon NovelToon
Sugar Daddy Kere

Sugar Daddy Kere

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.

​Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.

​Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.

Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Sugar Daddy KR

​Pagi itu, suasana di Lantai 30 terasa aneh. Meskipun Ayu kini kembali ke biliknya, ia merasakan mata Lingga mengawasinya lebih intens dari biasanya. Penjelasan Lingga tadi malam tentang perbedaan antara asisten profesional dan sugar baby terasa logis di permukaan, tetapi di bawahnya, ada keretakan.

​Lingga sendiri sangat terganggu. Pertanyaan lugas Ayu telah memicu alarm dalam dirinya. Selama ini, dia nyaman mendefinisikan hubungan mereka sebagai "kontrak kerahasiaan berbayar". Tapi bukankah semua sugar baby pada dasarnya adalah kontrak berbayar yang melibatkan kerahasiaan?

​Jika aku adalah sugar daddynya, apa yang akan kulakukan? Pikiran itu melintas, tidak diminta, dan Lingga segera menekannya. Dia adalah pria yang mengutamakan kendali.

​Ayu, di sisi lain, bekerja dengan keras, berusaha menunjukkan bahwa dia adalah aset yang menghasilkan, bukan liabilitas yang menggoda.

​Lingga memanggil Ken, yang berdiri seperti patung di dekat lift.

​"Ken," bisik Lingga, suaranya sangat rendah. "Kau yakin software pelacak di ponsel Ayu aman?"

​"Sangat aman, Tuan. Bahkan jika Nona Ayu mencoba menghapusnya, saya akan langsung mendapat notifikasi," jawab Ken datar. "Anda tidak perlu khawatir tentang komunikasi."

​"Bagus," kata Lingga. "Sekarang, aku ingin kau pergi ke toko perhiasan Tuan Dirga. Pilihkan perhiasan yang... mewah. Sesuai dengan status Mahardika Group. Sebagai hadiah kecil atas kerja kerasnya minggu ini."

​Ken mengerutkan dahi, ekspresi yang sangat langka. "Perhiasan, Tuan? Untuk Nona Ayu?"

​"Ya. Tapi jangan biarkan dia berpikir itu hadiah pribadi," Lingga segera menambahkan, nadanya tegas. "Katakan padanya itu adalah bonus kinerja dan hadiah dari Mahardika Group untuk menghargai efisiensinya. Pastikan kau menekankan bahwa ini bukan dari Lingga pribadi."

​Ken mengangguk, tetapi ia tahu Lingga sedang mencoba memainkan permainan berbahaya. Hadiah berlebihan adalah bahasa sugar daddy, bukan CEO biasa. Lingga sedang menguji batas dirinya sendiri dan Ayu.

​Ken kembali sore itu, membawa kotak beludru hitam kecil yang sangat elegan. Ia mendekati meja Ayu.

​"Nona Ayu," kata Ken, suaranya datar. "Tuan Lingga meminta saya menyampaikan ini. Ini adalah bonus kinerja dari Mahardika Group, menghargai efisiensi Anda selama seminggu ini. Terima kasih."

​Ayu, yang sedang memeriksa laporan biaya, terkejut. "Bonus? Tapi gaji saya sudah dipotong 80%, Tuan Ken."

​"Bonus kinerja adalah hal yang terpisah, Nona. Mahardika Group tidak pernah pelit pada aset berharganya," jawab Ken, tanpa sedikit pun senyum.

​Ayu ragu-ragu membuka kotak itu. Di dalamnya, terbaring kalung perak tipis dengan liontin kecil yang berharga—bukan berlian besar, tetapi jelas perhiasan berkelas yang mahal.

​Ayu menatap kalung itu, lalu menatap Lingga yang pura-pura fokus pada tablet-nya.

​Ini adalah jebakan, pikir Ayu. Ini adalah upaya untuk meracuni hubungan profesional kami dengan kemewahan.

​Ayu segera menutup kotak itu. "Tuan Ken, terima kasih. Tapi saya tidak bisa menerima ini."

​Ken terkejut. "Nona Ayu?"

​"Sebagai profesional, saya menerima gaji atas pekerjaan saya," jelas Ayu, menatap kotak itu dengan jijik. "Saya bekerja keras demi pendidikan saya, bukan demi perhiasan. Jika Mahardika Group ingin menghargai saya, biarkan mereka membatalkan pemotongan gaji 80% itu. Mengapa memberikan perhiasan yang mahal, sementara saya harus hidup hemat?"

​Ayu mendorong kotak itu kembali ke Ken. "Tolong kembalikan ini pada Tuan Lingga. Katakan padanya, saya hanya menerima gaji, bukan hadiah."

​Ken menatap Ayu dengan rasa hormat yang mendalam. Gadis muda itu menolak godaan materi, dan itu adalah sesuatu yang Aleya tidak pernah lakukan.

​Ken membawa kotak itu ke meja Lingga.

​"Tuan," kata Ken. "Nona Ayu menolak. Dia bilang dia hanya menerima gaji, bukan hadiah."

​Lingga akhirnya mendongak dari tablet-nya. Ekspresinya rumit—frustrasi karena ditolak, tetapi juga rasa bangga yang aneh.

​"Dia menolaknya? Kenapa?" tanya Lingga, suaranya sedikit meninggi.

​"Dia bilang, jika Mahardika Group ingin menghargai asetnya, batalkan saja pemotongan gaji 80% itu. Dia bekerja untuk pendidikan, bukan untuk perhiasan," lapor Ken, mengulangi kata-kata Ayu.

​Lingga terdiam, memandang pintu perpustakaannya. Dia benar-benar memegang teguh kata-katanya. Dia mempertahankan 'Jarak Profesional'nya dengan mengorbankan materi.

​"Baik," kata Lingga, mengambil kotak perhiasan itu dan melemparkannya ke laci. "Hukumannya tetap berlaku. Tapi aku akan mencari cara lain untuk menguji integritasnya."

​Malam itu, saat sesi 'hukuman' di perpustakaan, Ayu duduk sendirian, membaca bukunya.

​Pintu perpustakaan terbuka. Lingga masuk, membawa dua cangkir mug keramik.

​Ia berjalan ke arah Ayu dan meletakkan salah satu mug di hadapannya.

​"Minumlah," kata Lingga. "Ini cokelat panas. Aku juga butuh asupan gula setelah menghadapi negosiasi panjang."

​Ayu melihat mug itu. Cokelat panas yang mengepul. Ini adalah hal paling normal yang pernah Lingga tawarkan padanya.

​"Terima kasih, Tuan Lingga," kata Ayu, mengambil mug itu.

​Lingga duduk di seberangnya. Keheningan jatuh. Kali ini, tidak ada piano, tidak ada kontrak. Hanya dua orang yang berbagi minuman di ruangan besar.

​"Ken bilang kau akan kuliah di luar kota," kata Lingga, memecah keheningan. "Kau akan meninggalkanku dalam enam bulan."

​Ayu menunduk. "Ya, Tuan. Jika beasiswa saya berhasil. Saya harus mencari pengalaman di sana."

​"Dan kau akan bekerja keras untuk menutupi 80% gaji yang hilang itu?" tantang Lingga.

​"Ya, Tuan. Tapi saya tidak akan lari. Saya akan menyelesaikan kontrak ini. Saya akan membuktikan bahwa saya layak mendapatkan rekomendasi Mahardika Group," jawab Ayu.

​Lingga menyesap cokelat panasnya. Ia menatap Ayu, yang kini terlihat lembut di bawah cahaya lampu perpustakaan.

​"Ayu," kata Lingga.

"Bagaimana jika... aku membatalkan pemotongan gaji itu, dan menggantinya dengan... tunjangan tambahan? Sebagai kompensasi atas waktu pribadimu yang hilang. Dengan syarat, kau harus bersikap sedikit lebih... nyaman. Kau harus sesekali menanyakan kabarku, atau setidaknya tertawa sedikit pada lelucon Ken."

​Godaan itu sangat halus, sangat intim. Lingga tidak lagi menawarkan hadiah materi yang mencolok. Ia menawarkan uang tunai, yang sangat Ayu butuhkan, untuk sedikit kehangatan emosional.

​Lingga tersenyum kecil, senyum yang sangat menggoda. "Anggap saja aku membayar untuk keintiman non-fisik. Itu tidak ada dalam kontrak, Ayu. Tapi aku yakin, sebagai lulusan terbaik, kau tahu cara menawar."

​Ayu membeku. Ini adalah ujian yang jauh lebih berbahaya daripada perhiasan. Lingga sedang mencoba membeli batas dirinya yang tersisa.

"Tunjangan tambahan untuk perhatian pribadi khusus pada anda tuan?" tanya Ayu.

"Tentu saja," jawab Lingga, nadanya kembali datar. "Aku ingin kamu menanyakan kondisi tidur ku, kesehatanku, dan perasaanku, anggap saja itu biaya operasional kesehatan mental CEO. Bagaimana? Apakah ini terdengar cukup profesional bagimu?" Lingga tersenyum miring, menunggunya.

***

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
pasti ayu merinding dengar kalimat itu....
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
ciiynn 2
uuuww menggoda~😖
ciiynn 2
duhhh berani bgt
ciiynn 2
duhhhhh😷
ciiynn 2
tersenyum tipis? dia tidak tersenyum tapi hatinya yang tersenyum😏
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
ciiynn 2
haha🤣🤣🤣
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh jamu guncang jagad....weleh welehhh itu bisa bikin remukkk kasur dong bun🤭🤭🤭🤭
novi a.r
good novel, good job thor, cemungut
Bhebz: makasih banyak kk
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
semua cuma omong kosong... lambat laun nty saling jatuh cinta... gak mau pisahhhhg
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
😀😀😀😀
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sabar ay....
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ahhhhh gak guna menggerutu...
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ea harus pahit..
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
bukan pengawal/peramal ayu dia pelawak 😃😀🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
setipis apakah senyuman itu... apa setipis tisu basah / kering bun.....???
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....
HanaShui🌺
gak yakin Yu🤣
HanaShui🌺
debaran jantung ni yeee
Daniaaa
waduh nyesel 🤣
Daniaaa
awal yang keren Thor
Sofiaa
seruuuu thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!