"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.
"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Yang Sunyi
Rara terdiam di pojok ruangan, wajah lelahnya jelas tergambar. Ia baru saja pulang berbelanja dari pasar.
“Sudah Ayah bilang, uang untuk belanja masak bukan untuk jajan kalian!”
Laki-laki separuh baya membentak Rara, ia menunduk ketakutan.
Bentakan laki-laki separuh baya itu membuat Rara mematung. Jemarinya saling meremas, dadanya terasa sesak. Suara itu melengking, sarat amarah yang menggebu.
“Maaf, Yah. Alisya menangis minta mainan itu,” jawab Rara sangat pelan sambil menunjuk benda di tangannya.
Tatapan ayahnya menajam. Rara tak sanggup menahan air mata.
“Nggak usah cengeng,” ujarnya dingin.
Tangis Rara terhenti. Alisya segera menggenggam tangannya. Tanpa menoleh lagi, laki-laki itu pergi meninggalkan mereka.
Rara menatap punggung ayahnya hingga menghilang dari penglihatannya. Lalu bergerak membuka kantong belanjaannya, ia menyeka air mata yang pelan-pelan tetap keluar.
Rara duduk terdiam cukup lama. Amarah ayahnya masih menggema di telinganya. Ia tak paham apa yang harus dibelikannya…
"Sudah kak, jangan menangis," ucap adiknya Alisya. Rara hanya menoleh pelan.
"Semoga ibu cepat menjemput kita ya kak," sambungnya lagi.
Rara tersenyum kecil. Andai ada ibu mungkin ia tidak akan menggantikan tugasnya seperti sekarang. Rara menghela nafas berat.
Ia kembali pada pekerjaannya seperti biasa. Setelah semuanya rampung, ia mengajak Alisya bermain di halaman rumah.
"Kakak nggak bantu ayah lagi?" tanya Alisya polos.
"Kan udah selesai dek," balas Rara.
Tak lama mereka asyik bekejaran, Arini muncul. Ia datang sendirian.
"Rara, main yuk?"
"Main dimana Arini?" tanya Rara.
Arini menunjuk ke sebuah rumah bagus di seberang sawah. Rara menggeleng.
"Aku takut Arini, nanti ayah marah." wajahnya lesu.
"Yah... Padahal di sana rame loh," sambung Arini.
Namun Rara benar-benar tak mau diajak. Ia takut ayah akan marah lagi.
Apalagi di sana pasti ada anak perempuan yang bikin adiknya dimarahi ayah.
"Kalau begitu kia main masak-masak di sini aja ya?" pinta Arini kemudian.
Rara mengangguk setuju. Senyumnya merekah.
"Asyik kita main masak-masak ya kak," Alisya tak kalah semangat.
Kemudian mereka sibuk menyiapkan peralatan untuk main. Tidak istimewa. Alat yang mereka gunakan adalah alat-alat sederhana. sebuah tempurung kelapa dan kotak-kotak makanan bekas.
Beberapa waktu mereka tenggelam dalam permainan, melupakan sejenak kelelahan dan kekhawatiran hari esok.
Sore merambat pelan. Cahaya keemasan menyelinap di sela pepohonan, sementara bayangan rumah memanjang di tanah. Tawa Rara, Alisya, dan Arini masih terdengar.
Sosok lelaki paruh baya muncul dari belakang rumah, menyandang sebuah cangkul di bahunya.
"Rara, Alisya, sudah sore! Sana mandi, nanti habis magrib ayah antar kalian mengaji." suaranya tegas.
"Iya yah, " jawab Rara dan Alisya serentak.
Arini memandang keduanya, lalu berpamitan untuk pulang.
"Besok main lagi ya kak," pinta Alisya. Arini tersenyum, mengaguk lalu berjalan meninggalkan Rara dan Alisya.
Rara mengambil handuk dan kantong kecil berisi sabun dan sikat giginya. Tidak ada odol di dalamnya. Alisya membawa sebuah gayung kecil usang. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak di sebelah sawah, menuju embung yang tak jauh dari belakang rumahnya.
"Asyik kak Rara, kita bisa berenang lagi,"
"Nggak usah berenang nanti digigit lintah lagi, mau dimarahi ayah?" Rara memarahi adiknya, Alisya manyun. Tawanya hilang.
Sesampai di embung mereka langsung turun ke dam. Karena di bagian embung dalam sudah dipenuhi ibu-ibu dan anak-anak mandi sore. Jika menunggu mungkin akan kemalaman di sana.
Langit perlahan berubah, tak lagi ada cahaya yang menyilaukan, Rara mengajak adiknya pulang sebelum ayah menyusul.