Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 QUEEN MASIH SAKIT.
Sinar matahari pagi menembus tirai jendela kamar Queen dengan lembut. Udara di dalam ruangan terasa hangat, namun ketegangan menggantung di antara tiga orang dewasa yang berdiri di sana.
Queen masih tertidur. Napasnya teratur meski wajahnya terlihat pucat. Sari duduk di sisi ranjang, mengusap punggung tangan kecil itu dengan hati-hati, seolah takut sentuhannya terlalu keras.
Ammar berdiri beberapa langkah dari ranjang, matanya menatap putrinya dengan sorot penuh kekhawatiran. Jas kerjanya sudah rapi, menandakan ia harus segera berangkat.
“Sari,” panggil Ammar dengan suara datar namun tegas. “Saya titip Queen. Saya harus pergi ke kantor. Ada rapat penting. Setelah rapat, saya akan langsung pulang.”
Sari langsung berdiri, menunduk sopan. “Baik, Tuan.”
Nada suaranya lembut, tanpa bantahan. Seperti biasa.
Namun belum sempat Ammar melangkah pergi, suara Sabrina memecah suasana.
“Ammar!” protesnya tajam. “Aku ibunya Queen. Kenapa kamu malah menitipkan anakku kepada pembantu?”
Sari refleks semakin menunduk. Tangannya mengepal kecil di sisi tubuh.
Ammar berhenti melangkah. Perlahan ia menoleh ke arah Sabrina. Tatapannya dingin, menusuk, tanpa sedikit pun kehangatan.
“Apa kamu pantas disebut ibu?” tanya Ammar dengan suara rendah namun penuh tekanan.
Sabrina terperanjat. “Ammar!”
“Kamu tahu Queen demam sejak kapan?” lanjut Ammar. “Kamu tahu obat apa yang sudah diminumnya? Atau kamu bahkan tahu jam berapa dia terakhir bangun?”
Sabrina terdiam.
“Aku tidak melarangmu jadi ibu,” ujar Ammar tajam. “Tapi jangan halangi orang yang benar-benar peduli padanya.”
“Ammar!” suara Sabrina meninggi, matanya berkaca-kaca entah marah atau tersinggung.
Namun Ammar sudah berbalik. Tanpa menoleh lagi, ia melangkah pergi meninggalkan kamar itu, meninggalkan Sabrina dengan wajah merah padam dan Sari dengan hati yang semakin berat.
Pintu tertutup Sunyi.
Sari kembali duduk di samping Queen. Ia menghela napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, Sabrina melangkah mendekat. Nada suaranya berubah dingin dan penuh perintah.
“Pergilah.”
Sari mendongak pelan. “Maaf, Nyonya?”
“Biar saya yang jaga Queen. saya ibunya,” titah Sabrina. “Kalau ada apa-apa, nanti saya panggil kamu.” ucap Sabrina ketus
Sari terdiam sejenak. Hatinya menolak.
Namun posisinya tak memberi ruang untuk membantah.
“Baik, Nyonya,” jawabnya akhirnya. Ia berdiri, mengusap kepala Queen sekali lagi dengan lembut.
“Kakak keluar sebentar ya, Nona. Istirahat yang baik.”
Queen tidak terbangun.
Dengan langkah pelan, Sari keluar dari kamar, menutup pintu perlahan. Namun entah kenapa… hatinya tidak tenang.
Beberapa jam berlalu.
Sari berada di dapur, mencoba menyibukkan diri. Namun pikirannya terus tertuju pada satu hal Queen.
Ia melirik jam dinding berkali-kali.
“Kenapa rasanya tidak enak…” gumamnya lirih.
Tiba-tiba...
Prang!
Suara benda pecah terdengar jelas dari arah lantai atas. Jantung Sari seakan berhenti berdetak.
Itu dari kamar Queen. Tanpa berpikir panjang, Sari langsung berlari menaiki tangga. Napasnya terengah, dadanya sesak oleh rasa panik.
Begitu pintu kamar Queen terbuka Pemandangan itu membuat langkahnya terhenti.
“Nona…”
Queen duduk di lantai, tubuh kecilnya gemetar. Air mata membasahi pipinya. Di sekelilingnya, pecahan gelas berserakan di lantai, memantulkan cahaya matahari dengan tajam.
“Hhiks…” Queen terisak. “Maafkan Queen… Queen ingin minum… tapi gelasnya jatuh… hiks…”
Sari langsung berlutut, mengabaikan pecahan kaca yang berbahaya.
“Tidak apa-apa, Sayang,” ucapnya panik namun lembut. “Kakak di sini.” Ia memeriksa tangan dan kaki Queen dengan cermat. Syukurlah, tidak ada luka serius hanya goresan kecil di telapak tangan.
“Kenapa Nona sendirian?” tanya Sari sambil memeluk Queen erat.
“Mamah… pergi,” jawab Queen terisak. “Queen panggil… tapi Mamah tidak ada…”
Hati Sari terasa diremas kuat. Ia menggendong Queen, membawanya menjauh dari pecahan kaca. Dengan cepat, ia membersihkan luka kecil itu, lalu memeluk Queen erat-erat.
“Maaf, Kak… dingin… takut…” Queen menangis semakin keras.
“Tidak apa-apa,” bisik Sari sambil mengusap punggung kecil itu. “Kakak tidak akan pergi. Kakak janji.” Sari menoleh ke sekitar kamar. Kosong.
Sabrina benar-benar pergi tanpa memberi tahu siapa pun.
Dengan tangan gemetar, Sari membereskan pecahan kaca, lalu mengambilkan air minum baru untuk Queen. Ia membantu Queen minum perlahan.
“Nona jangan bangun sendiri lagi ya,” ujarnya lembut. “Panggil Kakak.”
Queen mengangguk kecil, memeluk leher Sari erat-erat.
Beberapa menit kemudian, Queen tertidur kembali di pangkuan Sari, kelelahan setelah menangis.
" Kakak jangan tinggalkan queen. kakak temani queen "
Sari menatap wajah polos itu dengan mata berkaca-kaca. " Iya sayang.. "
“Kenapa anak sekecil ini harus merasakan sepi…” gumamnya lirih.
Ia menarik selimut, menutup tubuh Queen dengan rapi.
Di dalam hatinya, Sari tahu jika Ammar tahu apa yang terjadi, badai besar akan datang. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak yakin… badai itu akan membawa perubahan, atau justru kehancuran.
...----------------...
DI KANTOR.
Di dalam ruang kerjanya, Ammar duduk menghadap layar laptop, namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Berkas rapat terbuka, grafik terpampang jelas, namun tak satu pun masuk ke kepalanya.
Bayangan wajah Queen yang pucat terus terlintas.
Belum genap satu jam rapat berjalan, pintu ruangannya diketuk pelan.
“Masuk,” ucap Ammar tanpa menoleh.
Pintu terbuka. Kepala pelayanan di rumah Ammar. masuk dengan wajah tegang. Di belakangnya berdiri Betrand, tangan kanannya.
“Ada apa?” tanya Ammar, nadanya datar namun tegas.
Pak Harun menelan ludah. “Maaf mengganggu, Tuan. Saya mendapat laporan dari salah satu staf rumah…”
Ammar langsung menegakkan tubuhnya. “Lanjutkan.”
“Nyonya Sabrina… meninggalkan rumah tanpa memberi tahu siapa pun. Dan… Nona Queen sempat ditinggal sendirian di dalam kamar.”
Detik itu juga, wajah Ammar berubah. “APA?” suaranya meninggi, membuat Betrand refleks menegakkan sikap.
“Tuan… Nona Queen masih demam, dan...” Pak Harun ragu melanjutkan.
“Apa yang ada di pikiran Sabrina ” potong Ammar tajam.
“Ada insiden kecil. Gelas pecah di kamar Nona. Untung Sari segera datang.”
Tangan Ammar mengepal keras di atas meja.
Dadanya naik turun, napasnya memburu. Rasa marah, kecewa, dan takut bercampur jadi satu. “Di mana Sabrina sekarang?” tanya Ammar dingin, namun sorot matanya menyala.
“Kami belum tahu pasti, Tuan.”
Ammar berdiri mendadak hingga kursinya terdorong ke belakang.
“Betrand,” panggilnya dengan suara rendah tapi penuh tekanan.
“Cari di mana lokasi Sabrina saat ini.”
“Baik, Tuan,” jawab Betrand cepat, langsung mengeluarkan ponsel dan melangkah keluar ruangan.
Ammar mengusap wajahnya kasar.
“ Queen sakit…” gumamnya penuh amarah. “Dan dia tega meninggalkannya sendirian.” Ia melangkah ke arah jendela, menatap jalanan di bawah dengan mata memerah.
“Sabrina…” desisnya pelan namun berbahaya.
“Kamu benar-benar tidak pantas dipanggil seorang ibu.”
Kenangan bentakan Sabrina pada Queen pagi tadi kembali terputar jelas di kepalanya. Cara Queen menunduk, cara tubuh kecil itu gemetar ketakutan.
Ammar menutup matanya.
Dan di benaknya, satu nama lain muncul Sari.
Wanita itu selalu ada. Diam, patuh, namun tak pernah abai.
“Jika bukan Sari…” gumam Ammar dengan suara bergetar, tak berani melanjutkan pikirannya sendiri.
Pintu kembali terbuka.
“Tu..." Betrand menghentikan langkahnya sejenak melihat raut wajah Ammar. “Lokasi Nyonya Sabrina terlacak. Ia berada di sebuah kafe di pusat kota.”
Ammar langsung meraih jasnya yang tergantung di sandaran kursi.
“Batalkan semua jadwal setelah ini,” perintahnya sambil mengenakan jas.
“Kalau ada yang mencari saya, bilang saya tidak bisa diganggu.”
“Baik, Tuan.” Tanpa menunggu lebih lama, Ammar melangkah keluar ruangan. Langkahnya cepat, rahangnya mengeras, sorot matanya penuh tekad.
Kali ini, ia tidak akan diam. Queen bukan mainan.
Dan kesabarannya… telah habis
pantesan ...
type istri mu adalah yang bener2 wanita berkeluarga.bukan wanita hanya mementingkan karier.aku juga kerja,tapi begitu pulang anak terutama ku peluk,ku suapkan makan,ku Nina bobokan ketika tidur, walaupun umur nya sudah 4 tahun,cowok lagi.tapi karena aku ingin berdekatan dengan anak,ingin mempererat jalinan bathin kami berdua.
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...