Raisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase Digta...
Hari ini, seharian Digta tidak pulang ke kosan. Dia baru pulang pas menjelang sore.
"Aman, kayaknya dia udah pergi," ucap Digta pelan.
Digta tau persis jam 3.40 Raisa pergi bekerja, namun tanpa dia duga mereka berpapasan di depan kamar Digta.
"Baru pulang?" tanya Raisa sambil tersenyum ramah.
Digta hanya tersenyum tipis sambil bergegas mencari kuncinya di dalam tas ranselnya. Namun, Digta kesulitan menemukan kunci kamarnya.
Tiba-tiba saja, Yanto datang menghampiri Raisa.
"Raisa..." Sapa Yanto dengan nada genit. Raisa menoleh kemudian tersenyum ke arah Yanto. "Mau pergi kerja?" tanya Yanto.
"Iya," jawab Raisa singkat.
"Mau Mas Yanto antar?" Yanto mulai menawarkan diri mengantar Raisa.
"Mas," gerutu Digta pelan. Digta yang melihat hal itu langsung memperhatikan mereka.
"Eugh," Raisa tampak tak enak saat itu. "Terima kasih, Kak, aku berangkat sendiri aja," sahut Raisa menolak dengan halus.
Tanpa Digta sadari, dia tersenyum mendengar jawaban Raisa.
"Eh, nggak apa-apa, sekalian Mas Yanto mau ke BIP ada perlu," Yanto mulai nyerocos membuat Raisa tak enak menolaknya.
"Eugh," Raisa sempat melirik ke arah Digta, namun Digta pura-pura tidak peduli, buru-buru masuk ke dalam kamarnya.
"Boleh, Kak, kalau begitu," sahut Raisa singkat.
Digta yang mengintip dari balik tirai kamarnya tampak kesal sekarang. "Kok mau-maunya Raisa dianter Yanto," gerutu Digta nggak jelas. "Akh, bodo amat bukan urusan gue," katanya lagi sambil duduk di meja belajarnya mencoba untuk tidak peduli.
Namun, tanpa dia duga seharian ini dia tak bisa tenang, dia tampak cemas dan gelisah. "Kayaknya omongan Yanto buat deketin Raisa itu serius," ucap Digta pelan, dia mulai mengacak-acak rambutnya. "Itu kan bukan urusan gue," kata Digta lagi. "Kok gue jadi kepikiran?" Digta mulai bingung dengan perasaannya.
"Yanto itu binatang buas, bisa-bisa Raisa diterkam terus," Digta terus memikirkan Raisa dan berpikir yang macam-macam.
Sampai akhirnya malam pun tiba. Digta melihat Yanto keluar dengan sepeda motornya. "Waah, nggak beres nih," celetuk Digta semakin overthinking.
Digta melirik jam yang ada di atas meja belajarnya, waktu menunjukkan pukul 10 malam. "Pas banget sama Raisa pulang kerja," ucap Digta lagi.
Digta jadi semakin gelisah, tanpa pikir panjang Digta menyambar ponselnya dan menelepon Raisa. Tak lama, telepon itu tersambung.
"Hallo, lu belum pulang, kan," kata Digta dengan cepat. "Tunggu, gue jemput lu, ya! Ada yang mau gue omongin," ungkap Digta kemudian menutup sambungan telepon itu.
Senyum licik terukir di wajahnya. "Mampus lu, Yanto," ucap Digta. Digta segera beranjak dari kamarnya.
Sekitar 10 menit, Digta sudah sampai di depan BIP (Bandung Indah Plaza), dan benar saja di sana tampak Yanto sedang berbincang dengan Raisa.
"Si buaya buntung itu mulai cari mangsa, kan," ucap Digta pelan.
Sepeda motor Digta berhenti persis di belakang sepeda motor Yanto.
Tin... tin...
"Eugh, Kak, maaf aku pergi dulu ya," kata Raisa sambil menoleh ke arah Digta dan berlalu dari hadapan Yanto, Raisa segera menghampiri Digta.
"Eugh..." Yanto melirik ke belakang. "Digta bangke!" gerutu Yanto.
Digta membuka kaca full face-nya dan tersenyum ke arah Yanto dengan menunjukkan wajah tengil. Tak lupa, Digta memberikan helm kepada Raisa.
"Yuk!" Kata Digta, Raisa hanya tersenyum manis ke arah Digta. Dia segera naik ke jok belakang Digta menarik tangan Raisa untuk berpegangan, Raisa pun melingkarkan tangannya di pinggang Digta.
"Pegangan, nanti jatuh!"
"Eugh, iya," sahut Raisa sambil senyum-senyum.
Digta masih menatap Yanto penuh kemenangan. "Sialan!" gerutu Yanto, lagi-lagi Digta nyengir ke arah Yanto sambil melaju dengan sepeda motornya.
Yanto hanya menyaksikan kepergian Digta dan Raisa.
Di sepanjang jalan, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Digta.
"Akh, Digta jemput aku!" gumam Raisa sambil nyengir di sepanjang jalan.
Sampai akhirnya mereka sampai di kosan.
Digta berjalan mendahului Raisa. "Eugh, Digta," Digta menoleh sejenak. "Kita ngobrol di dalam aja," Kata Digta sambil terus berjalan menuju kamarnya.
Digta sedikit mengulur waktu membuka kunci kamarnya. Tak lama, tampak Yanto tiba di sana, kemudian Digta mengajak Raisa masuk ke dalam kamarnya.
"Yuk, masuk!" kata Digta seraya tersenyum ke arah Raisa. Matanya sedikit melirik memperhatikan Yanto. Tanpa diduga, Digta tersenyum ke arah Yanto sambil menutup pintu kamarnya.
"Eeh, dasar psikopat, katanya nggak mau," gerutu Yanto.
Raisa mulai salah tingkah ketika melihat Digta menutup pintu. "Kok pintunya ditutup?" kata Raisa heran.
"Eugh, dingin," jawab Digta asal saja.
"Ough..."
"Digta bansat, doi pulang kerja langsung dieksekusi," gerutu Yanto pelan sambil terus berjalan menuju kamarnya.
Digta mengintip dari balik jendela kamarnya memastikan Yanto sudah masuk ke dalam kamar kosnya.
"Em, Digta, kamu mau ngomong apa?" Tanya Raisa gelagapan.
"Eugh..." Digta menoleh ke arah Raisa. "Gue cuma mau bilang hati-hati sama Yanto," ungkap Digta sedikit ragu-ragu.
"Emang kenapa? Kak Yanto keliatannya baik," Digta langsung mendelik ke arah Raisa.
"Lu kan nggak kenal baik sama dia, dia itu kaya binatang buas nggak bisa liat cewek cantik dikit," Digta menghentikan kata-katanya, dia sedikit keceplosan.
"Walau dikit aku cantik menurut kamu?" Raisa senyum-senyum menatap Digta.
"Eugh.." Digta dibuat salah tingkah, dia bingung harus bereaksi seperti apa.
Tiba-tiba saja, Digta membuka pintu kamarnya. "Udah malam," kata Digta dia tak berani menatap Raisa.
"Makasih ya udah jemput aku," Ucap Raisa seraya berlalu dari hadapan Digta.
"Eugh, Cha, besok biar gue jemput lu, ya," kata-kata itu terlontar begitu aja dari mulut Digta.
"Eugh..." Raisa menoleh sejenak ke arah Digta, Raisa tampak terkejut.
"Sampai jumpa besok," kata Digta lagi sambil menutup pintu kamarnya.
"Heuh..."
Raisa yang masih berdiri di tempat itu tampak senyum-senyum sendiri. Raisa melompat-lompat saking senangnya.