Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?
Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Keesokan harinya, Alana berdiri di ambang pintu ruang fisioterapi dengan perasaan campur aduk. Ia mengenakan gaun yang paling menyerupai gaya penampilannya saat pertama kali bertemu Andrew, terlihat lembut dan rapuh. Ia membawa sebuah sketsa baru, berharap karya seni itu bisa menjadi jembatan menuju hati mereka yang telah membatu.
Namun, kenyataan di dalam ruangan itu menghantamnya lebih keras dari bayangan mana pun.
Ares sedang berada di kursi latihan paralel, mencoba menyeimbangkan tubuhnya. Di sampingnya, Chloe berdiri memberikan instruksi kecil dengan nada riang. Begitu Alana melangkah masuk, suasana sedikit mendingin, namun Ares tidak meledak. Ia bahkan tidak berhenti dari latihannya.
"Ares... aku membawakan ini untukmu," ucap Alana pelan, menunjukkan sketsa wajah Ares yang sedang tersenyum.
Ares hanya melirik sekilas tanpa menghentikan gerakannya. "Taruh saja di sana, Alana. Terima kasih," jawabnya datar, tanpa emosi, seolah Alana hanyalah seorang kurir pengantar barang.
Ares kembali menoleh pada Chloe. "Gimana tadi, Chloe? Langkahku sudah lebih tegak, kan?"
"Sangat tegak! Kamu hampir terlihat seperti model runway," canda Chloe sambil tertawa, sengaja mengabaikan kehadiran Alana yang berdiri mematung.
Bagi Ares, pengabaian adalah senjata paling ampuh. Ia tidak mengusir Alana karena ia ingin membuktikan bahwa wanita itu sudah tidak memiliki kuasa lagi atas perasaannya. Alana kini hanyalah "gangguan" yang tidak menarik baginya.
Melihat dirinya diabaikan total oleh Ares, Alana berbalik dan berjalan menuju kafetaria rumah sakit. Ia tahu di sana Andrew berada. Andrew adalah target utamanya, pria yang dulu begitu mudah ia kendalikan dengan satu tatapan sedih.
Di sudut kafe yang tenang, Andrew duduk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Wajahnya tampak sangat serius, matanya terpaku pada layar laptop, sesekali jemarinya mengetik dengan cepat. Ia tampak begitu berwibawa, jauh lebih matang daripada Andrew yang dulu dikenalnya.
Alana duduk di kursi tepat di depan Andrew tanpa permintaan izin. "Andrew... bisakah kita bicara? Sebentar saja."
Andrew tidak mendongak. Jemarinya tetap menari di atas keyboard. "Aku sedang sibuk, Alana. Kalau ini soal permohonan maaf, Ares sudah memberikannya. Jadi, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan."
"Ini bukan soal maaf," Alana merendahkan suaranya, mencoba memasukkan nada menggoda sekaligus putus asa yang dulu selalu berhasil membuat Andrew luluh. "Aku tidak bisa berhenti memikirkan apa yang sudah terjadi pada kita. Aku tahu kamu masih merasakannya, Andrew. Kebencianmu padaku adalah bukti bahwa kamu belum benar-benar melupakanku."
Andrew akhirnya berhenti mengetik. Ia menutup laptopnya perlahan, lalu mendongak. Namun, apa yang dilihat Alana bukan lagi tatapan pria yang tergila-gila. Andrew menatapnya dengan pandangan seorang pengusaha yang sedang melihat sebuah proposal yang tidak menguntungkan.
"Kamu salah besar, Alana," ucap Andrew dingin. "Aku tidak membencimu. Benci itu butuh energi, dan aku tidak punya sisa energi untuk orang sepertimu. Semua waktuku sekarang adalah untuk kesembuhan Ares dan kebahagiaan keluarga kami."
Andrew mengemasi laptopnya ke dalam tas. "Dulu aku memang bodoh karena terpikat pada topengmu. Tapi sekarang, saat aku melihatmu, aku hanya melihat cermin dari kesalahanku sendiri. Dan aku sudah berhenti menyalahkan diri sendiri."
Andrew berdiri, menatap Alana untuk terakhir kalinya sebelum melangkah pergi. "Jangan membuang waktumu di sini. Gadis yang bersama Ares di dalam sana... dia punya sesuatu yang tidak akan pernah kamu miliki yaitu kejujuran. Dan itulah yang membuat kami berdua akhirnya bisa bernapas kembali."
Alana ditinggalkan sendirian di tengah riuh kafetaria. Ia gagal total. Andrew yang dulu menjadi pelindungnya kini adalah orang yang paling dingin terhadapnya. Ancaman Nadya kembali terngiang di telinganya. Jika ia tidak bisa membuat mereka terpikat, Nadya akan menghancurkannya.
Namun, saat ia melihat Andrew berjalan kembali menuju ruang fisioterapi dan merangkul bahu Ares serta menyapa Chloe dengan hangat, Alana menyadari satu hal, ia tidak sedang melawan cinta, ia sedang melawan sebuah keluarga yang telah menemukan kembali jiwanya.
Putus asa adalah racun yang paling mematikan. Alana merasa terpojok, di satu sisi ada ancaman Nadya yang bisa menghancurkan hidupnya kapan saja, di sisi lain ada tembok dingin yang dibangun Andrew dan Ares. Ia melihat Chloe sebagai satu-satunya penghalang. Dalam pikiran Alana yang sudah kacau, jika Chloe menghilang, maka Ares akan kembali ke titik nol, dan Andrew akan dipaksa untuk kembali mencari "bantuan" dari Alana.
Dengan tangan gemetar, Alana menghubungi Nadya dari bilik toilet rumah sakit yang sepi.
"Mereka tidak pengaruh dengan keberadanku, Tante. Andrew bahkan tidak mau menatapku," bisik Alana parau. "Ada gadis itu, Chloe. Dia adalah pusat segalanya sekarang."
"Kalau begitu, hilangkan saja gadis itu," jawab Nadya dingin dari seberang telepon. "Aku sudah mengirim seseorang ke Singapura. Namanya Marko. Dia ahli dalam membuat segala sesuatu tampak seperti kecelakaan kedua. Hubungi dia. Dia sudah menunggumu di area parkir."
Setelah menutup teleponnya, Alana segara menemui Marko, seorang pria dengan tatapan kosong dan perawakan yang tidak mencolok. Setelah berkenalan dan berbicara, sesuai arahan Nadya, mereka merencanakan sabotase kecil namun mematikan.
Sore itu, Ares dan Chloe dijadwalkan untuk melakukan sesi terapi mandiri di taman atap rumah sakit yang memiliki area lantai licin jika terkena air.
"Hanya perlu sedikit minyak di area transisi antara karpet dan lantai marmer," bisik Marko. "Saat gadis itu mencoba berjalan dengan tongkatnya, dia akan kehilangan keseimbangan. Dan mengingat kondisi punggungnya yang belum stabil, satu jatuh yang keras bisa membuatnya lumpuh permanen... atau bahkan lebih buruk."
Alana merasa mual mendengarnya, tapi ia mengangguk. "Oke, ayo kita lakukan."
Sore itu, suasana taman atap sangat tenang. Andrew sedang menerima telepon bisnis penting di ujung lorong, membiarkan Ares dan Chloe berlatih berjalan beriringan. Ares menggunakan tongkat penyangga, sementara Chloe berjalan di sampingnya dengan penuh semangat.
"Ayo, Ares! Sepuluh langkah lagi sampai ke bangku itu!" seru Chloe ceria.
Alana mengamati dari balik pilar, jantungnya berdegup kencang. Ia melihat Marko baru saja menjauh setelah menumpahkan cairan bening yang sangat licin di area yang akan dilewati Chloe.
Chloe melangkah dengan penuh percaya diri. Namun, saat ujung tongkatnya menyentuh area berminyak itu, tongkatnya tergelincir hebat.
"ARES!" teriak Chloe saat tubuhnya limbung ke belakang.
Ares, yang refleksnya belum pulih sempurna, mencoba meraih tangan Chloe. Namun, karena tumpuan kakinya sendiri belum kuat, ia ikut kehilangan keseimbangan. Mereka berdua hampir terjatuh dengan keras ke lantai marmer yang keras.
Namun, di detik-detik kritis itu, Andrew yang mendengar teriakan Chloe langsung berlari secepat kilat. Ia tidak hanya menangkap Chloe, tapi juga menahan tubuh Ares agar tidak menghantam lantai. Andrew berlutut di lantai, menopang kedua orang itu dengan tangannya yang gemetar karena tegang.
"Kalian tidak apa-apa?!" Andrew berteriak cemas.
Chloe gemetar hebat, wajahnya pucat pasi. "Lantai... lantainya licin sekali, Kak Andrew."
Andrew mengusap lantai dengan jarinya dan mencium aromanya. Matanya mendadak berkilat penuh amarah. Ini bukan air biasa. Ini seperti minyak.
Andrew berdiri, matanya menyapu seluruh area taman atap dengan tajam. Ia melihat bayangan seseorang yang mencoba melarikan diri di balik pilar. Tanpa pikir panjang, Andrew berlari mengejar.
Ia berhasil menyudutkan orang itu di dekat pintu darurat. Dan betapa terkejutnya Andrew saat melihat Alana berdiri di sana dengan wajah yang dipenuhi ketakutan, bersama seorang pria asing yang mencoba melawan.
"Alana?!" geram Andrew. Ia mencengkeram kerah baju pria asing itu dan menghantamkannya ke dinding. "Apa yang kamu lakukan?! Kamu mencoba mencelakai adikku?!"
Ares mendekat dengan susah payah, dibantu oleh seorang perawat. Begitu melihat Alana dan sisa minyak di tangan Andrew, Ares menatap Alana dengan tatapan yang lebih dingin dari kematian.
"Aku sudah memaafkanmu sekali, Alana," suara Ares rendah namun sangat mengintimidasi. "Tapi mencelakai Chloe... itu adalah kesalahan fatal yang kamu buat dalam hidupmu."
Andrew melepaskan Marko dan menatap Alana dengan kebencian murni. "Aku tidak akan membiarkan hukum yang mengurusmu kali ini, Alana. Aku akan memastikan kamu dan siapa pun yang mengirimmu membusuk di tempat yang paling gelap."
Alana jatuh berlutut, menangis histeris. "Andrew...Bukan aku... Yang melakukan ini, aku hanya di suruh, Tante Nadya! Ibumu yang menyuruhku Andrew! Dia mengancamku!"
Mendengar nama Nadya, rahang Andrew mengeras. Perang yang selama ini ia hindari dengan ibu kandungnya kini telah resmi dimulai.
...🌼...
...🌼...
...🌼...
...Bersambung.......