NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26_KALAH SAMA ES KRIM

Langkah Nayla akhirnya benar-benar melambat.

Ia berhenti di bawah pohon besar di pinggir jalan kompleks, menundukkan badan sedikit sambil menopang lututnya. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tidak beraturan. Tenggorokannya terasa kering, seperti ada pasir menempel di sana.

“Duh… panas,” gumamnya.

Ia mengipas wajahnya dengan telapak tangan, berharap angin pagi bisa sedikit membantu. Kaus yang ia kenakan sudah sedikit lembap oleh keringat. Rambutnya yang dicepol mulai berantakan, beberapa helai menempel di leher.

Azka berhenti beberapa langkah di depannya.

Sejak tadi, tanpa Nayla sadari, Azka memperhatikan semua tingkahnya. Cara Nayla menahan capek, cara ia memaksa diri tetap berjalan meski jelas kelelahan. Tidak mengeluh berlebihan, tapi juga tidak berpura-pura kuat.

Azka menyelipkan tangannya ke saku celana training, lalu bertanya dengan nada datar, tapi ada sesuatu di baliknya.

“Capek?”

Nayla mengangguk cepat. “Iya. Capek… pake banget.”

Ia melirik Azka dari bawah, memperhatikan wajahnya yang masih tenang. Tidak ada tanda ngos-ngosan. Napasnya teratur. Bahkan tidak berkeringat berlebihan.

“Kok kamu kuat banget sih?” tanya Nayla heran. “Nggak capek apa?”

Azka mengedikkan bahunya santai. “Biasa.”

Ia lalu mengambil botol minum dari tangannya dan menyodorkannya ke Nayla. “Minum.”

Nayla menatap botol itu beberapa detik, lalu mengalihkan pandangannya ke wajah Azka. “Kamu?”

“Kamu yang lebih butuh,” jawab Azka. “Baru segini aja udah ngos-ngosan. Lebay banget.”

“Eh!” Nayla langsung melotot. “Siapa tuh tadi yang bilang ‘pelan aja’?”

Azka menyipitkan matanya, menahan senyum yang hampir lolos. “Minum, Nayla.”

Nada suaranya kali ini lebih rendah. Lebih tegas. Tidak mengejek.

Nayla mendengus kesal, bibirnya mengerucut. Tapi tenggorokannya terasa semakin kering. Ia kembali menatap botol itu, lalu Azka, lalu botol itu lagi.

Akhirnya ia mengambilnya.

“Makasih,” katanya pelan sebelum langsung meneguk air.

Air dingin itu terasa seperti penyelamat. Nayla menutup mata sejenak saat minum, menghabiskan hampir setengah botol. Ia baru sadar betapa hausnya dirinya.

Azka memperhatikannya dalam diam.

Entah sejak kapan, melihat Nayla minum dari botolnya sendiri terasa… aneh. Bukan risih. Justru sebaliknya.

“Pelan,” kata Azka singkat. “Kesedak nanti.”

Nayla berhenti minum, menatap Azka dengan alis terangkat. “Kamu cerewet.”

Azka mendengus kecil. “Aku realistis.”

Nayla mengembalikan botol itu. “Ini.”

Azka menerimanya tanpa ragu, lalu meneguk sisa airnya.

Nayla membelalakkan mata. “Eh! Kamu nggak jijik?”

Azka menutup botol, melirik Nayla sekilas. “Kenapa harus jijik?”

Jawaban itu membuat Nayla terdiam.

Ada jeda hening yang aneh di antara mereka. Bukan canggung, tapi juga bukan biasa. Angin pagi berhembus pelan, menggerakkan daun-daun di atas mereka.

“Aku kira kamu bakal marah karena aku lelet,” kata Nayla tiba-tiba.

Azka menoleh. “Kenapa aku harus marah?”

“Biasanya kamu....” Nayla menggantungkan kalimatnya, lalu menghela napas. “...Ya, gitu.”

Azka tidak langsung menjawab. Ia menatap jalanan di depan, lalu berkata pelan, “Jogging itu buat dinikmati, bukan buat nyiksa orang.”

Nayla terkekeh kecil. “Kok jadi bijak?”

“Jangan biasain,” sahut Azka cepat.

Mereka sama-sama tersenyum tipis.

***

Langkah Nayla tiba-tiba terhenti.

Azka yang berjalan beberapa langkah di depannya baru menyadari saat langkah di belakangnya tak lagi terdengar. Ia berhenti, lalu menoleh ke belakang.

Nayla berdiri mematung.

Tatapannya lurus ke depan, tidak berkedip. Wajahnya berubah total, yang tadinya lelah dan kepanasan, kini justru berbinar seperti anak kecil.

“Azka,” panggil Nayla pelan.

Azka mengernyit. “Kenapa?”

Nayla tidak langsung menjawab. Ia hanya menggerakkan dagunya ke satu arah.

Azka mengikuti arah pandang itu.

Sebuah gerobak es krim kecil berdiri tak jauh dari sana. Warna-warni gambar di sisi gerobak itu terlihat mencolok di bawah sinar matahari pagi.

Azka menaikkan alisnya. “Es krim?”

Nayla langsung mengangguk antusias. “Iya. Aku mau es krim.”

Azka menghela napas pendek, lalu langsung berkata, “Nggak boleh.”

Jawaban itu terlalu cepat.

“Hah?” Nayla memicingkan mata. “Sekali-kali.” lanjut Nayla merengek.

“Nggak ada sekali-kali,” sahut Azka tegas.

Nayla berdecak, kedua tangannya bertolak pinggang. “Kenapa sih?”

Azka menatap Nayla lurus. “Nanti kamu sakit. Pagi-pagi begini makan es krim.”

“Apasih,” Nayla mendengus. “Bilang aja kamu pelit.”

Azka mengusap wajahnya, jelas terlihat sedikit frustrasi. “Aku nggak pelit, Nayla.”

Nayla tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah, menatap gerobak es krim itu lagi.

Beberapa detik hening.

Lalu Nayla bergumam, tidak terlalu pelan. “Ck. Nggak peka banget.”

Azka mendengarnya.

Ia menoleh tajam. “Apa?”

“Bukan apa-apa,” jawab Nayla cepat, tapi nada sebalnya masih terasa.

Azka menatap Nayla cukup lama. Wajah itu. Cara Nayla merengek setengah kesal, setengah berharap. Entah kenapa, pertahanan Azka mulai runtuh.

Ia menghela napas panjang.

“Oke,” katanya akhirnya. “Kali ini aja.”

Nayla langsung menoleh. “Serius?”

“Dan jangan dibiasain,” tambah Azka cepat.

Nayla tersenyum lebar. “Siap, Bos!”

Ia langsung berjalan duluan menuju gerobak es krim, langkahnya ringan seolah lupa kalau tadi ia hampir tumbang karena kelelahan.

Azka mengikutinya dari belakang, menggeleng kecil.

"Bisa-bisanya gue kalah sama es krim", batinnya.

Penjual es krim itu tersenyum ramah. “Mau rasa apa, Mbak?”

Nayla menoleh ke Azka. “Kamu mau?”

Azka menggeleng. “Nggak.”

Nayla kembali ke penjual. “Cokelat satu.”

Tak lama, es krim cokelat itu berada di tangannya. Nayla menatapnya seperti harta karun.

Ia menjilat sedikit, lalu menghela napas puas. “Enak banget.”

Azka melirik sekilas. “Jangan kebanyakan.” katanya sambil membayar Es Krim Nayla.

“Iya, iya,” jawab Nayla cepat.

Beberapa langkah kemudian, Nayla tiba-tiba berhenti dan menyodorkan es krimnya ke Azka. “Mau?”

Azka terdiam. “Apaan?”

“Cobain aja,” kata Nayla santai. “Enak.”

Azka menatap es krim itu, lalu wajah Nayla. “Aku bilang aku nggak mau.”

“Cuma dikit,” desak Nayla.

Azka menghela napas, lalu mendekat dan menjilat sedikit.

Nayla tersenyum puas. “Tuh kan.”

Azka menjauh Lagi. “Udah.”

Nayla tertawa kecil.

***

Interaksi mereka ternyata tidak hanya berhenti di antara dua orang itu saja.

Gerobak es krim yang tadi mereka hampiri masih berada tak jauh dari posisi mereka berdiri sekarang. Jaraknya paling lima langkah. Bapak penjual es krim itu sesekali melirik ke arah Nayla dan Azka sambil tersenyum sendiri, seolah menikmati pemandangan pagi yang menurutnya cukup menyenangkan.

Tiba-tiba, suara berat itu memanggil.

“Mbak?”

Nayla refleks menoleh. Alisnya terangkat satu. “Iya, Pak?”

Bapak penjual es krim tersenyum lebih lebar. Kerutan di sudut matanya semakin terlihat. “Pacarnya, ya, Mbak?”

Nayla langsung terdiam.

Seketika ia menoleh ke arah Azka.

Azka juga menoleh ke arahnya di saat yang sama.

Pandangan mereka bertemu. Terlalu lama. Terlalu jelas. Ada sesuatu yang menggantung di udara, membuat Nayla mendadak gugup tanpa alasan.

Beberapa detik berlalu begitu saja.

Nayla menyenggol lengan Azka pelan, memberi kode dengan wajah setengah panik.

Azka menyipitkan mata. “Kenapa?” bisiknya rendah.

“Jawab itu,” bisik Nayla cepat.

“Kamu aja yang jawab,” sahut Azka tanpa beban.

“Aku… aku nggak tahu mau jawab apa,” Nayla berbisik lagi, suaranya hampir seperti keluhan. “Nanti salah jawab, kamu marah.”

Azka menghela napas pendek. “Bilang aja sesuai pikiran kamu.”

“Kamu aja, Azka,” desak Nayla, nadanya nyaris memohon.

Azka terdiam sejenak. Lalu ia menoleh ke arah bapak penjual es krim itu.

“Bukan, Pak,” ucapnya akhirnya. “Dia… sepupu saya.”

Mata Nayla langsung membelalak.

"Sepupu?!"

“Oalah,” kata bapak penjual itu sambil tertawa kecil. “Bapak kirain pacarnya. Ternyata sepupunya, ya?”

Ia melirik mereka berdua bergantian. “Padahal kelihatannya cocok. Yang ceweknya cantik, cowoknya tampan.”

Azka tersenyum canggung. “He-he.”

Nayla hanya tersenyum kaku, lalu menunduk, pura-pura sibuk dengan es krimnya.

Mereka berjalan menjauh beberapa langkah.

Begitu jarak mereka cukup aman dari pendengaran orang lain, Nayla menoleh ke Azka. Tatapannya penuh tanda tanya.

“Sepupu?” tanyanya pelan.

Azka mengangguk santai. “Iya.”

“Emang kita sepupu?” Nayla menatapnya tidak percaya.

“Bukan,” jawab Azka jujur. “Tapi aku harus jawab apa selain itu?”

Nayla terdiam.

Ia kembali menjilati es krimnya, kali ini tanpa rasa antusias seperti sebelumnya. Dadanya terasa aneh. Bukan marah. Bukan juga sedih.

Lebih ke… dongkol yang tidak ia pahami sendiri.

Azka melirik sekilas ke arahnya. “Kenapa?”

“Nggak apa-apa,” jawab Nayla singkat.

Tapi dari cara Nayla memalingkan wajah, Azka tahu, jawaban itu tidak sepenuhnya benar.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa…tidak suka dengan kata 'sepupu' yang baru saja ia ucapkan sendiri.

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!