NovelToon NovelToon
MISI DARI TANAH TERLUKA

MISI DARI TANAH TERLUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Balas Dendam / Dokter Genius / Mengubah Takdir / Preman
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: Juventini indonesia

cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SERANGAN ULAR COBRA DI DESA

BAB 18

Liburan yang Berubah Arah

Liburan kuliah datang tanpa seremoni. Kampus Universitas Gunung Jati mulai lengang, sebagian mahasiswa pulang kampung, sebagian lain menikmati jeda panjang setelah semester berat.

Namun bagi Sandi, Nurdin, Amelia, Santi, dan Sinta, liburan justru berubah menjadi tugas lapangan.

Pagi itu mereka dipanggil ke ruang Dr. Deden, dosen pembimbing mereka. Wajah sang dosen terlihat serius—bukan seperti orang yang hendak memberi kabar liburan.

“Kalian saya tugaskan,” ucap Dr. Deden sambil membuka map tebal di mejanya,

“untuk membantu praktik medis darurat di RS Dumai, Kota Sukabumi.”

“Rumah sakit?” Santi mengernyit.

“Kami kan mahasiswa, Pak.”

Dr. Deden mengangguk.

“Kalian tidak akan menangani tindakan berat. Kalian membantu observasi, pencatatan, dan pendampingan pasien.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah.

“Di sana sedang terjadi kasus penyakit aneh.”

Semua langsung fokus.

“Warga datang dengan gejala lumpuh sebagian, nyeri hebat di otot, gangguan napas, dan pembengkakan jaringan,” jelasnya.

“Awalnya dikira infeksi biasa. Tapi setelah ditelusuri oleh Dr. Farhan, dokter muda yang bertugas di sana… dugaan terkuat adalah racun bisa ular cobra.”

“Cobra?” Sinta terbelalak.

“Di Sukabumi?”

“Bukan satu dua kasus,” jawab Dr. Deden serius.

“Puluhan. Dan yang aneh—tidak semua korban mengaku digigit.”

Ruangan hening.

Sandi menyilangkan tangan.

“Berarti ada sesuatu yang tidak wajar.”

“Itulah kenapa saya mengirim kalian,” kata Dr. Deden menatap mereka satu per satu.

“Kalian pernah turun lapangan. Kalian tahu cara bekerja di bawah tekanan.”

Amelia menelan ludah.

“Berangkat kapan, Pak?”

“Hari ini.”

Perjalanan menuju Sukabumi ditempuh hampir semalaman. Mobil sewaan melaju menembus kabut dan jalan berkelok. Nurdin menyetir bergantian dengan Sandi. Yang lain terlelap setengah sadar.

Saat fajar menyingsing, RS Dumai terlihat sederhana namun sibuk. Ambulans keluar-masuk. Wajah-wajah cemas memenuhi lorong.

Seorang pria berjas putih menyambut mereka.

“Saya Dr. Farhan,” katanya cepat.

“Terima kasih sudah datang. Kami benar-benar kekurangan tangan.”

Mereka langsung diajak masuk ke ruang rawat darurat.

Seorang pasien terbaring lemah. Wajahnya pucat, napasnya pendek-pendek. Di lengan kirinya tampak dua titik kecil kehitaman—nyaris tak terlihat.

“Ini gigitan?” tanya Sandi pelan.

Dr. Farhan mengangguk ragu.

“Bentuknya mirip. Tapi pasien ini pingsan di sawah, tidak melihat ular apa pun.”

Santi mencatat cepat.

“Gejala muncul berapa lama setelah kejadian?”

“Sekitar satu jam,” jawab Farhan.

“Cepat. Terlalu cepat untuk infeksi biasa.”

Di ruangan lain, seorang ibu menangis. Anak laki-lakinya kejang ringan, otot-ototnya kaku.

“Dia cuma main di kebun belakang,” isak sang ibu.

“Nggak ada ular… nggak ada apa-apa.”

Amelia memegangi tangan ibu itu, menenangkannya.

Sandi berdiri di sudut ruangan, memperhatikan semua detail. Bau obat, suara monitor jantung, dan ekspresi ketakutan itu—semuanya terasa familiar.

Namun ada satu hal yang mengusiknya.

Ia berbisik pada Nurdin.

“Kalau benar cobra… harusnya ada luka jelas. Dan kasusnya nggak menyebar begini.”

Nurdin mengangguk.

“Kayak… disengaja.”

Sore itu, Dr. Farhan mengajak mereka ke ruang rapat kecil.

“Kami temukan sesuatu,” katanya sambil menunjukkan foto-foto.

“Beberapa korban mengalami paparan racun lewat luka gores kecil… bahkan pori-pori kulit.”

“Artinya racunnya bisa disemprotkan,” gumam Sandi.

Dr. Farhan menatapnya tajam.

“Seperti mekanisme cobra penyembur.”

Ruangan kembali sunyi.

Sinta berbisik ketakutan.

“Jadi… ada ular berkeliaran?”

Sandi menatap jendela, ke arah hamparan kebun dan semak di luar rumah sakit.

“Atau,” katanya pelan,

“ada seseorang… yang sengaja memanfaatkannya.”

Di luar, matahari mulai tenggelam di balik perbukitan Sukabumi.

Dan tanpa mereka sadari—

liburan kuliah itu baru saja berubah

menjadi misi yang jauh lebih berbahaya

dari sekadar praktik lapangan.

Desa Grenjeng dan Dua Raja Bola

Penyelidikan perlahan membawa mereka keluar dari tembok rumah sakit.

Sore itu, setelah jadwal jaga berakhir, Dr. Farhan mengajak Sandi dan Nurdin berkeliling Desa Grenjeng, tak jauh dari RS Dumai. Desa itu tampak hidup—suara palu, dengung mesin jahit, dan aroma karet mentah bercampur di udara.

“Ini jantung ekonomi warga sini,” jelas Dr. Farhan.

“Hampir tujuh puluh persen penduduk Grenjeng adalah pengrajin bola sepak.”

Sandi berhenti di depan sebuah rumah produksi. Di dalamnya, puluhan bola setengah jadi tersusun rapi. Beberapa ibu menjahit panel kulit sintetis, sementara para pemuda memompa dan mengetes pantulan bola.

“Bola-bola ini,” lanjut Farhan,

“dikirim ke Bandung, Jakarta, Surabaya… bahkan ekspor ke Jepang.”

Amelia yang ikut menyusul tampak kagum.

“Desa kecil, tapi produksinya besar.”

Nurdin mengangguk.

“Pantesan banyak orang luar masuk ke sini.”

Dr. Farhan menarik napas panjang.

“Masalahnya… bisnis besar selalu datang dengan konflik besar.”

Mereka dibawa ke warung kopi kecil di ujung desa. Di sana, seorang pria tua—Pak Ujang, tokoh warga—mulai bercerita dengan suara pelan.

“Sudah bertahun-tahun,” kata Pak Ujang,

“Grenjeng ini jadi medan perang dua vendor besar.”

“Siapa mereka?” tanya Sandi.

Pak Ujang menatap sekeliling, memastikan tak ada orang asing.

“Yang pertama… Tuan Nakata,” ujarnya.

“Pemilik vendor bola sepak Specs. Orang Jepang-Indonesia. Licik, tapi rapi. Semua pakai kontrak.”

Sandi menyipitkan mata.

“Yang kedua,” lanjut Pak Ujang lebih pelan,

“Tuan Mr. Im Jong Un… pemilik vendor Mikasa. Modal besar, cara keras. Banyak orang takut sama dia.”

Santi dan Sinta yang ikut mendengar saling pandang.

“Dua-duanya sudah bersaing lama?” tanya Amelia.

“Lama sekali,” jawab Pak Ujang.

“Kalau satu dapat pesanan besar, yang lain pasti terguncang. Pernah ada sabotase mesin, pemutusan kontrak sepihak… tapi tak pernah separah sekarang.”

“Sekarang?” tanya Nurdin.

Pak Ujang mengepalkan tangan.

“Sejak tiga bulan terakhir… pesanan melonjak tajam. Jepang minta ribuan bola kualitas FIFA. Nilainya miliaran.”

Sandi langsung menangkap benang merahnya.

“Dan tiba-tiba… warga mulai sakit.”

Pak Ujang mengangguk berat.

“Pengrajin yang sakit kebanyakan berasal dari vendor kecil—bukan milik Nakata atau Im Jong Un langsung.”

Sunyi menyergap meja itu.

“Artinya,” gumam Amelia,

“kalau warga takut bekerja… produksi terganggu.”

“Vendor kecil tumbang,” sambung Nurdin.

“Vendor besar ambil alih pesanan.”

Sandi menatap ke arah kebun di belakang rumah produksi.

Semak-semak tinggi. Gelap. Lembap. Tempat ideal bagi ular—atau sesuatu yang dibuat seolah-olah alami.

“Cobra penyembur,” ucapnya pelan.

“Bukan cuma senjata alam… tapi alat teror.”

Dr. Farhan menelan ludah.

“Kami curiga itu. Tapi tak punya bukti.”

Sandi berdiri.

“Kalau ini memang permainan bisnis,” katanya tegas,

“berarti bukan cuma nyawa warga yang dipertaruhkan… tapi masa depan desa ini.”

Di kejauhan, matahari tenggelam sempurna.

Lampu-lampu rumah produksi menyala satu per satu.

Minggu Sore yang Mencekam

Minggu sore di Desa Grenjeng biasanya sederhana dan hangat.

Lapangan bola desa kembali hidup. Anak-anak muda berkumpul, sebagian melepas lelah setelah seminggu menjahit bola. Sandi dan Nurdin ikut turun ke lapangan, bercampur tawa dan teriakan khas sepak bola kampung.

Di sisi timur lapangan, terbentang semak belukar tua—lembap, rimbun, dan jarang disentuh. Setiap kali bola melenceng ke arah sana, permainan terhenti lama karena bola sulit dicari.

“Kalau ke timur lagi, traktir es!” teriak salah satu pemuda.

Sandi tertawa, menyapu keringat.

Di pinggir lapangan, Amelia, Santi, dan Sinta duduk di bangku kayu. Mereka menikmati suasana itu—anak-anak kecil berlarian, ibu-ibu mengobrol, dan semangat desa yang terasa utuh.

“Desa ini sebenarnya indah ya,” kata Santi.

“Kalau nggak ada kejadian aneh itu.”

Amelia mengangguk.

“Warganya kompak.”

Sinta tersenyum, matanya mengikuti Sandi di lapangan.

Permainan memasuki menit-menit seru.

Sandi menerima umpan, menendang keras—

bola melesat ke sisi timur.

“Waduh!” seru Nurdin.

“Ke semak lagi!”

Beberapa pemuda berlari ke arah belukar.

Tiba-tiba—

SSSSHHHHH!

Suara desis keras memecah tawa sore.

Dari balik semak lembap, muncul seekor ular cobra penyembur, tubuhnya terangkat, lehernya mengembang. Matanya tajam, penuh ancaman—terganggu oleh keramaian dan gerakan mendadak.

“ULAR!!”

teriak seseorang panik.

Amelia berdiri refleks.

“Ya Allah!”

Santi dan Sinta berteriak bersamaan, mundur beberapa langkah. Kepanikan menjalar cepat.

Sandi menoleh, matanya langsung menangkap ancaman itu.

“SEMUA JANGAN GERAK!” teriaknya keras.

Ia berlari cepat ke pinggir lapangan, berdiri di depan Amelia, Santi, dan Sinta, kedua tangannya terbuka seolah jadi tameng.

“Tenang,” ucapnya tegas tapi rendah.

“Jangan panik. Mundur pelan-pelan.”

Cobra itu mendesis makin keras.

Tiba-tiba—

PSSSHT!

Semburan bisa meluncur cepat ke arah kerumunan.

“AAARGH!!”

teriak Mang Ujang, warga yang paling dekat dengan semak. Ia terjatuh, memegangi wajahnya.

“Matanya… panas!” jeritnya.

“Mang Ujang kena!” teriak warga lain.

Kekacauan pecah.

“Sandi!” panggil Nurdin.

“Bantu dia!” balas Sandi cepat.

“Kamu ke Mang Ujang!”

Sandi tetap berdiri menghadang, memastikan Amelia dan yang lain menjauh dengan aman. Wajahnya tegang, matanya tak lepas dari ular itu.

“Ke belakang! Sekarang!” katanya pada Amelia.

Amelia mengangguk, menahan gemetar.

Dari kejauhan terdengar teriakan,

“Pawang! Panggil Mang Dedi!”

Namun waktu tak berpihak.

Cobra itu mundur perlahan, lalu menghilang kembali ke balik semak rimbun, lenyap secepat kemunculannya.

Mang Dedi—pawang ular desa—baru tiba beberapa menit kemudian, napasnya terengah.

“Telat…” gumamnya saat melihat kondisi Mang Ujang.

Tanpa menunggu, Sandi dan Nurdin langsung bergerak.

“Bilas matanya!” perintah Sandi.

“Jangan digosok!”

Mereka memberi pertolongan pertama darurat, menyiram mata Mang Ujang dengan air bersih, menutupnya, lalu mengangkat tubuh pria itu ke mobil warga.

“Ayo ke RS Dumai! Sekarang!” seru Nurdin.

Mobil melaju kencang meninggalkan lapangan.

Di belakang, Amelia memeluk Santi dan Sinta yang masih gemetar. Wajah-wajah warga pucat—ketakutan berubah menjadi keyakinan pahit.

Ini bukan lagi isu.

Cobra penyembur benar-benar ada.

Dan Minggu sore yang seharusnya penuh tawa

berubah menjadi peringatan keras

bahwa ancaman di Desa Grenjeng

bukan sekadar cerita.

Dan tanpa disadari warga Grenjeng—

di balik bola-bola yang menggelinding ke berbagai penjuru dunia,

sedang berlangsung pertarungan kotor

yang bisa mematikan siapa saja

yang berdiri di tengahnya.

Racun yang Tak Biasa

Ruang perawatan darurat RS Dumai kembali dipenuhi ketegangan.

Mang Ujang terbaring di ranjang, kedua matanya tertutup perban basah. Napasnya masih berat, keringat dingin membasahi pelipis. Sandi dan Nurdin berdiri di sisi ranjang, tak beranjak sejak pasien itu dibawa masuk.

Dr. Farhan bergerak cepat.

“Bilas ulang dengan NaCl,” perintahnya pada perawat.

“Jangan hentikan irigasi.”

Beberapa menit berlalu. Mang Ujang mulai sedikit tenang, meski sesekali mengerang menahan perih.

Dr. Farhan membuka sarung tangannya, lalu menoleh ke Sandi dan Nurdin.

“Secara klinis,” katanya pelan,

“kasus Mang Ujang aneh.”

Sandi menyilangkan tangan.

“Aneh bagaimana, Dok?”

Dr. Farhan menunjuk catatan medis.

“Kalau ini murni semburan cobra penyembur… harusnya reaksi di mata lebih cepat dan lebih parah. Biasanya kornea langsung keruh dalam hitungan menit.”

Nurdin mengernyit.

“Tapi ini…?”

“Nyeri hebat, iya,” jawab Farhan.

“Tapi kerusakan jaringan lebih lambat. Seolah-olah… racunnya tidak murni.”

Sandi terdiam.

“Maksud dokter… dicampur?”

Dr. Farhan mengangguk pelan.

“Kami temukan sisa cairan di sekitar kelopak mata. Setelah uji cepat, ada indikasi larutan kimia tambahan—iritan industri dosis rendah.”

Nurdin mengepalkan tangan.

“Jadi bukan cuma ular.”

“Bisa ular tetap ada,” lanjut Farhan,

“tapi sudah dimodifikasi. Entah disemprotkan ulang, atau ularnya diberi perlakuan tertentu.”

Ruangan itu hening.

Sandi menatap Mang Ujang.

“Ini sudah masuk kategori… kejahatan.”

“Betul,” kata Farhan tegas.

“Dan yang membuat saya khawatir—efeknya dirancang supaya tidak langsung mematikan, tapi cukup untuk melumpuhkan korban berhari-hari.”

“Biar warga takut bekerja,” gumam Nurdin.

Dr. Farhan menatap mereka berdua.

“Kalian melihat langsung ularnya. Ukuran, pola gerak, dan arah semburan—itu bukan perilaku liar sepenuhnya.”

Sandi menghela napas pelan.

“Ada yang mengendalikan.”

Di sisi lain desa—

di sebuah rumah besar berpagar tinggi milik Tuan Nakata.

Di bawah bangunan utama, tersembunyi sebuah ruang koleksi. Lampu temaram menyinari deretan akuarium kaca tebal. Suara desis halus dan gesekan sisik terdengar samar.

Tuan Nakata berdiri tenang, mengenakan sarung tangan khusus.

Di hadapannya, ular sanca melingkar malas di cabang buatan. Di sebelahnya, iguana hijau menatap dingin. Rak-rak lain berisi berbagai jenis reptil—sebagian tak berbisa, sebagian eksotis.

Ia tersenyum puas.

“Cantik, bukan?” gumamnya pada seorang pria asing di sampingnya.

“Bagi warga desa,” jawab pria itu ragu,

“binatang-binatang ini… menakutkan.”

Nakata tertawa pelan.

“Ketakutan,” katanya,

“adalah alat paling murah dan efektif.”

Ia berhenti di depan sebuah kandang tertutup kain hitam. Dari dalam terdengar desis khas—tajam dan teratur.

“Alam,” lanjut Nakata,

“bisa dilatih. Bisa diarahkan.”

Tangannya menyibakkan sedikit kain itu. Sepasang mata berkilat terlihat sesaat, lalu tertutup kembali.

“Kita tidak perlu membunuh mereka,” katanya tenang.

“Cukup membuat mereka tidak berani keluar rumah.”

Di luar rumah itu, Desa Grenjeng mulai sunyi lebih cepat dari biasanya.

Sementara di RS Dumai,

Sandi berdiri dengan rahang mengeras.

Potongan-potongan mulai tersusun.

Dan ia sadar—

ini bukan lagi sekadar praktik lapangan mahasiswa.

Ini adalah permainan kotor

yang melibatkan manusia, uang,

dan makhluk yang dijadikan senjata.

Menjelang Piala Dunia

Angin sore menyapu Desa Grenjeng dengan tenang, namun di balik ketenangan itu, roda keserakahan mulai berputar semakin kencang.

Di layar televisi besar ruang tamu Tuan Nakata, logo FIFA World Cup 2026 terpampang jelas—Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada sebagai tuan rumah. Presenter asing berbicara tentang jutaan penonton, miliaran dolar, dan satu kebutuhan utama yang tak pernah berubah:

bola sepak.

Nakata menyandarkan punggungnya di kursi kulit, senyum tipis terukir di wajahnya.

“Piala Dunia,” katanya pelan,

“selalu berarti banjir pesanan.”

Di hadapannya duduk dua orang.

Yang pertama, Pak Heru—pejabat desa Grenjeng. Kemeja rapi, jam tangan mahal, wajah tenang tapi matanya gelisah.

Yang kedua, pria berambut kusut dengan kulit legam dan mata cekung—Mang Zondol, pawang ular yang namanya jarang disebut terang-terangan, tapi selalu dikenal di kalangan tertentu.

“Vendor kecil itu,” lanjut Nakata,

“mengganggu arus produksi.”

Pak Heru mengangguk pelan.

“Mereka memang keras kepala. Nggak mau ikut skema.”

Mang Zondol menyeringai.

“Kalau cuma ditutup paksa, nanti ribut. Tapi kalau warga takut keluar rumah…”

Ia mengangkat bahu.

“Usaha mati sendiri.”

Nakata berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke desa.

“Kita tidak butuh kekerasan terbuka,” katanya dingin.

“Cukup teror. Cobra penyembur. Sedikit racun. Sedikit kepanikan.”

Pak Heru menarik napas dalam.

“Kalau sampai ada korban jiwa—”

“Tidak,” potong Nakata cepat.

“Kita atur dosis. Mang Zondol paham.”

Mang Zondol mengangguk mantap.

“Bisa dibuat seperti serangan alami. Ular dilepas, diarahkan. Nanti hilang sendiri.”

Ruangan hening sesaat.

Lalu Nakata membuka laci meja.

Ia mengeluarkan tiga amplop cokelat tebal, meletakkannya satu per satu di atas meja.

“Lima puluh juta,” katanya singkat.

“Per orang. Uang kas. DP.”

Pak Heru menatap amplop itu cukup lama sebelum akhirnya meraih miliknya. Tangannya sedikit bergetar.

“Kalau semua vendor kecil tutup,” katanya pelan,

“pasar kita bersih.”

Nakata tersenyum puas.

“Dan kontrak ekspor… milik kita.”

Mang Zondol mengambil amplopnya sambil terkekeh.

“Ular cuma alat,” katanya.

“Yang bikin desa lumpuh itu rasa takut.”

Di luar rumah Nakata, senja berubah gelap.

Di sisi lain desa, di RS Dumai, Sandi berdiri di depan jendela lorong rumah sakit. Lampu-lampu desa terlihat jauh di bawah sana.

Entah kenapa, dadanya terasa berat.

Ia belum tahu tentang Piala Dunia.

Belum tahu tentang uang DP.

Belum tahu tentang kesepakatan kotor itu.

Namun nalurinya berkata satu hal—

serangan ular itu bukan yang terakhir.

Dan jika dibiarkan,

Desa Grenjeng akan menjadi korban

demi satu perayaan sepak bola dunia.

1
muhamad candra cirebon
mantap 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!