Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Hampir terperangkap di lift
Hampir terperangkap di lift yang rusak ini membuatnya menyadari bahwa musuh mereka tidak akan berhenti sebelum mereka benar-benar hancur. Kotak besi itu berguncang hebat diiringi suara decit logam yang memekakkan telinga. Anindira terjerembap ke lantai yang dingin sementara lampu di langit-langit berkedip-kedip lalu mati total secara mendadak.
Kegelapan yang pekat menyelimuti mereka berdua dalam hitungan detik yang sangat mencekam. Anindira merasakan paru-parunya menyempit saat ia teringat kembali pada ruang bawah tanah tempat ia dikurung lima tahun lalu. Ia merangkak dalam gelap hingga ujung jemarinya menyentuh sepatu pantofel milik Devan yang masih berdiri tegak.
"Tuan Devan, apakah kita akan jatuh ke dasar gedung ini?" tanya Anindira dengan suara yang nyaris hilang ditelan ketakutan.
"Tenanglah, rem darurat sudah mengunci posisi kita sekarang, tetaplah berada di dekat saya," jawab Devan sambil merogoh ponselnya untuk menyalakan senter.
Cahaya putih dari ponsel itu menyinari wajah Devan yang nampak sangat tenang namun memiliki sorot mata yang penuh dengan amarah. Ia menatap ke arah panel tombol yang kini sudah tidak mengeluarkan daya listrik sama sekali. Anindira mencoba bangkit dengan kaki yang lemas sambil berpegangan pada dinding besi yang terasa sangat lembap.
Suara gesekan kabel dari arah atas lift terdengar sangat mengerikan seolah sedang ada seseorang yang mencoba memutus sisa tumpuan mereka. Anindira menutup telinganya rapat-rapat saat dentuman keras kembali menggema di lorong lift yang sangat sunyi itu. Ia bisa merasakan keringat dingin membasahi seluruh permukaan kulitnya karena membayangkan maut yang sedang mengintai di balik pintu besi tersebut.
"Seseorang sengaja melakukan ini untuk mencegah kita sampai ke ruangan rapat direksi tepat waktu," gumam Devan sambil memeriksa celah pintu lift.
"Apakah mereka benar-benar berniat membunuh kita hanya demi dokumen yang saya bawa ini?" tanya Anindira sambil memeluk erat tasnya.
Devan tidak menjawab dan justru menarik sebuah tuas tersembunyi yang berada di bagian atas panel kendali dengan sangat kuat. Ia meminta Anindira untuk memegang ponselnya sementara ia mencoba membuka paksa pintu lift menggunakan kekuatan lengannya. Otot-otot di tangan Devan nampak menegang hebat hingga urat-uratnya terlihat sangat jelas di bawah cahaya lampu senter yang remang-remang.
Pintu lift akhirnya terbuka sedikit, memperlihatkan dinding beton yang gelap di antara lantai sepuluh dan lantai sebelas gedung tersebut. Anindira merasakan hembusan angin dingin yang masuk melalui celah sempit itu, membawa aroma oli dan debu yang sangat menyengat. Ia menatap ke bawah dan hanya melihat kegelapan yang seolah tidak memiliki dasar sama sekali.
"Dira, Anda harus memanjat keluar lebih dulu melalui bahu saya, cepatlah sebelum kabel ini benar-benar putus!" perintah Devan dengan nada yang sangat mendesak.
"Saya tidak bisa meninggalkan Anda sendirian di dalam kotak maut ini, Tuan!" seru Anindira dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.
Devan menatap Anindira dengan tatapan yang sangat dalam seolah sedang meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja di bawah kendalinya. Ia tidak memberikan ruang bagi Anindira untuk membantah dan segera mengangkat tubuh wanita itu agar bisa mencapai lantai di atas mereka. Anindira berpegangan pada tepian marmer lantai sebelas dengan jari yang mulai terasa sangat perih karena bergesekan dengan batu yang kasar.
Dengan tenaga yang tersisa, Anindira berhasil menarik tubuhnya naik ke lantai yang aman dan segera berbalik untuk membantu Devan. Ia melihat kabel baja di atas lift mulai mengeluarkan percikan api karena gesekan yang terlalu berat dan sangat panas. Suasana menjadi sangat kacau saat alarm kebakaran gedung mulai berbunyi dengan suara yang sangat nyaring dan memekakkan telinga.
"Tuan Devan, berikan tangan Anda kepada saya sekarang juga!" teriak Anindira sambil menjulurkan lengannya sejauh mungkin ke bawah.
Devan melompat dan menangkap tangan Anindira tepat sesaat sebelum kabel baja itu putus dan menjatuhkan lift menuju dasar gedung dengan suara dentuman yang sangat dahsyat. Anindira menarik Devan sekuat tenaga hingga pria itu berhasil berguling ke lantai marmer yang aman di sampingnya. Mereka berdua terengah-engah dengan tubuh yang dipenuhi dengan debu dan noda oli hitam.
"Terima kasih, Anda baru saja menyelamatkan nyawa saya untuk kedua kalinya hari ini," ucap Devan sambil menatap Anindira dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Kita harus segera menuju ruangan rapat, Tuan, mereka tidak boleh menang dengan cara seperti ini," balas Anindira sambil merapikan kacamatanya yang retak.
Mereka menaiki tangga darurat dengan langkah yang sangat cepat karena waktu rapat sudah lewat sepuluh menit dari jadwal yang ditentukan. Anindira merasakan jantungnya berdegup sangat kencang bukan hanya karena lelah, tetapi karena emosi yang meluap-luap di dalam dadanya. Ia akan menunjukkan pada ayahnya dan Sarah bahwa ia bukanlah wanita lemah yang bisa dihancurkan dengan mudah.
Pintu ruangan rapat besar terbuka dengan hentakan yang sangat keras saat Devan dan Anindira masuk dengan penampilan yang sangat berantakan. Seluruh jajaran direksi terkesiap melihat kondisi pimpinan mereka yang nampak seperti baru saja keluar dari medan peperangan. Hendra Adiguna nampak sangat terkejut sementara Sarah mengepalkan tangannya di bawah meja dengan wajah yang sangat pucat.
"Mohon maaf atas keterlambatan kami, ada sedikit kendala teknis yang nampaknya sengaja dipasang di lift utama gedung ini," sindir Devan sambil duduk di kursinya dengan sangat berwibawa.
"Mari kita mulai pembahasannya, Dira, tolong berikan data rekening rahasia itu kepada semua peserta yang hadir di sini," perintah Devan dengan suara yang menggelegar.
Anindira melangkah maju dengan kepala tegak, membagikan salinan dokumen yang berisi bukti penggelapan dana yang sangat besar. Ia bisa melihat tangan ayahnya gemetar saat membaca nama-nama pemilik rekening yang tercantum di dalam kertas putih tersebut. Identitas yang disembunyikan selama ini nampaknya akan segera terkuak melalui lembaran bukti yang sekarang berada di tangan para penguasa.