NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Monster Tampan

Menjadi Tawanan Monster Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu_Fikri

Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Little Incident

Malam itu, gedung Steel Plaza berubah menjadi pusat perhatian seluruh Jakarta. Acara amal bertajuk "Baja dan Harapan" digelar dengan sangat mewah. Dinding ballroom dihiasi dengan emas dan kristal yang memantulkan cahaya ke segala arah.

Para pengusaha kaya, pejabat dan artis papan atas berkumpul di sana. Udara ruangan penuh dengan wangi parfum mahal dan obrolan tentang bisnis.

Tepat pukul delapan malam, pintu utama terbuka. Ruangan mendadak hening, etensi semua orang mengarah pada bintang utama sekaligus pemilik acara.

Axel Steel melangkah masuk.

Tubuh tegapnya mengenakan tuksedo custom berwarna biru tengah malam yang begitu gelap hingga nyaris terlihat hitam pekat.

Rahang tegasnya tercukur bersih, menonjolkan garis wajah yang dingin dan tanpa ampun. Tatapan mata kelabunya tajam seperti belati baja, menyapu ruangan dengan aura pemimpin yang tangguh. Teriakan samar-samar terdengar dari beberapa wanita muda yang terpesona.

Axel menggandeng mesra seorang wanita cantik sekaligus tunangannya, Sesilia Kira.

Semua orang kembali tertegun karena kecantikannya.

Gadis itu tampak seperti dewi yang baru saja turun dari singgasana awan. Tubuhnya dibalut gaun satin premium berwarna soft rose gold. Bagian dadanya berpotongan cowl neck yang jatuh melengkung alami. Di kedua bahunya terdapat tambahan kain tulle transparan yang menjuntai hingga ke lantai. Kain gaun itu berkilau lembut setiap kali melangkah, seolah gadis milik Steel itu adalah dewi bulan yang menapaki tanah. Rambut panjangnya yang bergelombang dibiarkan tergerai, membingkai wajah cantiknya yang hanya di poles riasan minimalis namun sangat berkelas.

Banyak pengusaha dan beberapa artis papan atas tertangkap basah menatap Sesilia tak berkedip. Beberapa laki-laki mendapatkan pukulan dari pasangannya masing-masing karena terlalu intens menatap perempuan lain secara terang-terangan.

Melihat itu Axel makin mendekap posesif pinggang ramping tunangannya, menunjukkan pada dunia bahwa gadis cantik itu adalah miliknya seorang. Siapapun yang berani mendekat atau menatap terlalu lama akan mendapat akhir yang tragis

Setelah kedatangan pemilik acara yang dramatis, suasana pesta kembali kondusif. Para tamu kembali berbincang hangat. Namun, suasana tenang itu pecah oleh langkah kaki bersepatu hells milik Andin Wijaya, yang sengaja di hentak keras. Perempuan itu menggandeng lengan tunangannya, Julian Vane mesra.

Seketika, ruangan kembali heboh. Para tamu berbisik-bisik tentang penampilan Andin yang sangat mencolok dan sangat terbuka. Gaun yang dikenakannya berwarna merah mencolok dengan potongan dada rendah serta belahan paha yang mencapai pinggul.

Apalagi cara berjalannya yang sengaja melenggak-lenggok. Menambah nilai minus untuk kehadirannya malam itu.

Penampilan mencolok Andin itu mengaburkan identitasnya sebagai mahasiswa kedokteran. Ia lebih cocok disebut wanita penghibur yang haus akan belaian.

Disampingnya, Julian Vane hanya tersenyum senang mendapati perhatian bernada negatif untuk tunangannya itu. Seakan memberi apresiasi pada tingkah murahan sang tunangan.

Pasangan kontroversial itu sengaja berjalan pelan menuju Axel dan Sesilia. Hingga akhirnya mereka bertemu. Tepat di tengah lantai dansa. Sontak perhatian semua orang mengarah pada keempatnya.

...

Atmosfer di tengah ballroom mendadak turun hingga ke titik beku. Axel berdiri tegak, mengungguli tinggi Julian. Udara diantara mereka menguar pekat dan terasa berat. Seperti kabel tegangan tinggi yang siap putus kapan saja. ​

"Mr. Steel," Julian memulai, suaranya halus tapi penuh racun. Matanya menatap lapar pada gadis dalam pelukan Axel. Tepatnya pada leher Sesilia yang putih mulus.

"Hallo, pretty girl," Sapanya pada Sesilia.

Belum sempat gadis itu menjawab sepatah kata, Axel sudah menduluinya.

"Mr. Vane. Watch out your territory. Don't. Look. At Mine!!" Suara Axel berat dan dalam. Itu adalah peringatan pertama dan terakhir dari lelaki bermarga Steel itu.

"Ow, chill, bro. I haven't even touched her with a fingernail." Julian membalas jenaka.

Sesilia mengamati dalam diam interaksi dua predator itu. Diam-diam menilai rival tunangannya dan ternyata lelaki itu lebih mirip iblis yang turun dari neraka dan berpura-pura menjadi manusia berwujud Julian Vane. Wajahnya super menyebalkan, pikirannya.

"Lagipula, kalian berdua belum menikah. Dan mungkin masih ada sedikit celah untuk lelaki yang lebih baik." Julian kembali bersuara, nadanya benar-benar provokatif.

"W..what!!? Siapa yang akan menikahi siapa? Beb?" Andin bersuara, kaget akan maksud perkataan tunangannya barusan.

Mulut Julian terkatup rapat, menatap Andin dengan tatapan mengancam. Menyuruh gadis bodoh itu diam lewat tatapan. Tutup mulutmu, atau kujadikan kau makanan buaya kesayanganku.

Sesilia tersenyum geli menyaksikan interaksi dua sejoli di depannya ini. "So romantic." Katanya pelan sambil menatap Axel dan mendusel-dusekan kepalanya pada dada bidang lelaki itu manja.

Sepertinya aksi Julian untuk memprovokasi Axel gagal total. Terganggu oleh tingkah tunangan kesayangannya sendiri.

"So, Mr. Vane. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan tunanganmu. She's so.... unique." Suara Axel menghentikan drama konyol antara Julian dan Andin.

"She's pretty....and ...hot" Julian menjawab pelan.

"Andin Wijaya, calon Nyonya Vane." Andin memperkenalkan diri, mengulurkan tangan pada Axel dengan dagu terangkat. Sok berkuasa.

Axel hanya menatap uluran tangan itu sekilas dari ekor matanya. Malas meladeni. Sesilia bersorak kegirangan dalam hati melihat wajah malu Andin dengan tangannya yang tetap terangkat, tidak bersambut.

​"Mr. Vane," suaranya Axel mengalun rendah dan serak, "Wanita-mu terlalu....telanj-"

Belum selesai kata-kata itu, Sesilia menyikut Axel kuat, matanya memancarkan sinar laser yang bisa meluluhkan baja sekalipun. Menyadarkan lelaki itu untuk menggunakan bahasa yang sopan.

"Em..maksudku, wanitamu terlalu terbuka." Axel kembali melanjutkan, setelah mendapat pelototan tajam dari gadis kesayangannya.

"Barang bagus memang harus dipamerkan, bukan?" Jawab Julian sekenanya.

"Really? I mean, semakin bagus dan langka sebuah barang. Maka akan semakin sedikit orang yang pernah melihatnya."

"You mean, You're jealous because of my beautiful fiancee?" Julian menjawab sarkas.

"No, no, no. I mean, you're not love her." Axel menjawab penuh kemenangan. Sedangkan wajah Andin sudah semerah tomat busuk.

"Cinta atau tidak, it's none of your business, Steel. Perhatikan saja wanita miskin-mu. Dia mungkin agak.... bau sampah" Julian menjawab pelan, sedangkan ekor matanya melirik Sesilia remeh.

"Berlian tetap berlian, meski berada dalam tumpukan sampah, Mr. Vane." Axel membalas, sambil mencium pucuk kepala Sesilia mesra.

"Ieyw ..." Andin bersuara sok jijik, matanya berputar muak.

Tiba-tiba keempat orang itu dikagetkan oleh kedatangan Uni bersama Kakaknya, Edward Steel. Uni memakai gaun bergaya sabrina berwarna hitam, senada dengan tuxedo mahal yang dipakai kakaknya Edward.

"Sesi... oh my gosh! You look stunning, pretty girl!!" Seperti biasa, Uni dan semangat menggebu-gebunya.

"You look good too, Ni." Sesilia membalas kalem. Kemudian keduanya berpelukan hangat.

Axel dan Edward hanya berpandangan sekilas, tipikal Steel sekali.

"Sesi.. sejak kapan kalian akrab? Maksudku kau dan senior ini?" Uni bertanya pada Sesilia setelah mengakhiri sesi berpelukannya. Matanya menatap Andin sangsi.

"Disgusting!" Andin bersuara malas.

"Kita cuma tidak sengaja bertemu kok, Ni." Sesilia menjawab pelan. Tidak meladeni Andin. Mulut Uni membentuk huruf O kecil, mengerti.

"Kekasihku terlalu berharga untuk berteman dengan.... perempuan kelas rendah." Julian membela tunangannya.

"Of course, honey." Andin membalas sambil tersenyum.

"Kekasihku juga tidak akan pernah cocok dengan wanita jalang murahan bodoh tanpa prestasi." Axel membela Sesilia. Sedangkan Uni sudah tersenyum sumringah pada sepupunya itu.

Julian menatap Axel horor, merasa sangat tersinggung.

"To be honest, kalian berdua terlihat sangat....serasi. Yang satu tipikal ular berbisa dan satunya sekedar anjing bodoh yang hanya bisa menggonggong. So, perfect." Itu suara Edward, ternyata laki-laki itu muak melihat drama Julian dan Andin di depannya.

Batle yang sangat epik antara Steel dan Vane. Dua lawan satu. Beberapa tamu mengangkat telpon genggamnya, merekam momen itu.

Julian merasa terpojok, seperti anjing kecil di tengah dua singa kekar yang ketakutan. Kedatangan Edward membuat rencananya gagal total. Orang-orang sekarang terlihat sangat meremehkannya. Ditambah gaun yang dikenakan Andin memperburuk suasana. Kepalang malu, Julian segera menyeret paksa Andin menjauh dari sana. Andin terlihat sangat kesusahan mengimbangi langkah tunangannya. Kakinya beberapa kalj tersandung heels-nya sendiri.

Saat hampir sampai di ujung ruangan, Andin menabrak seorang pelayan dan jatuh terjembab ke depan. Wajahnya mencium lantai marmer yang dingin. Gaun merahnya yang terbuka robek sangat parah. Rambutnya juga terkena tumpahan wine yang dibawa pelayan itu. Beberapa orang yang menyaksikan berteriak tertahan. Sedangkan Julian Vane yang beberapa langkah di depan Andin, malah terlihat menggerutu karena tuxedo mahalnya terkena tumpahan wine. Sama sekali tidak peduli pada nasib tunangannya.

Tawa kecil dan mencemooh terdengar bersahutan. Tidak ada seorangpun yang berani mendekat untuk membantu Andin.

Pelayan malang yang tertabrak itu setelah sadar dari keterkejutannya segera mengulurkan tangannya. Berniat menolong Andin. Tetapi tidak bersambut hangat.

Andin bangun perlahan, tangan kanannya memegang gaunnya yang sobek. Wajahnya ditutupi oleh tangan kirinya. Walaupun kesusahan, gadis itu tetap memaksakan berdiri dan berjalan cepat membelah kerumunan orang yang berkumpul menyaksikan insiden itu. Sampai titik terakhir, ia masih bersikeras mempertahankan harga dirinya yang tersisa. Andin benar-benar kehilangan muka.

Tunggu saja hingga insiden itu menjadi salah satu topik memalukan di sosial media. Julian Vane dan Tunangannya yang seperti jalang rendah tanpa otak.

Sesilia terlihat tertawa-tawa kecil bersama Uni. Menertawakan kemalangan Andin yang konyol, begitu juga orang lain disana.

1
partini
baca sinopsisnya penasaran
Lusy Kunut: Stay tune yah kak, supaya rasa penasarannya terobati👍
total 1 replies
merdi Yanto
cuit cuit cuit😍🤣
merdi Yanto
duh🤭
merdi Yanto
Bau-bau mulai berbalas perasaannya Axel
merdi Yanto
/CoolGuy//CoolGuy/
merdi Yanto
Plot twist banget keluarganyaa
merdi Yanto
🤭🤭🤭🤭
bau bau bucin😍😄
merdi Yanto
Suka cerita dari sok benci jadi bucin akut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!