NovelToon NovelToon
Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Richacymuts

Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”

Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.

Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 – Jejak yang Menghilang

Langkah sepatu Isabella bergema lembut di sepanjang koridor lantai tujuh belas—lantai yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu dalam imperium bisnis Hartmann. Tidak ada yang berani menatapnya lebih dari dua detik; aura Isabella memang seperti itu: halus… tapi tajam, cantik… tapi dingin di kedalaman yang sulit ditebak.

Pintu ruang kerja Markus terbuka otomatis ketika sensor mendeteksi ID khusus yang hanya dimiliki keluarga inti. Markus sedang berdiri di depan jendela besar, memandangi langit Berlin yang muram.

“Papa,” sapa Isabella lembut.

Markus menoleh perlahan. “Isabella. Tepat waktu seperti biasa.”

Ada senyum hangat di wajah Markus—hangat yang selalu sukses membuat Isabella bertanya-tanya… berapa persen kehangatan itu asli? Namun, ia membalas senyum itu tetap manis. Peran seorang putri yang sempurna sudah melekat dalam dirinya sejak kecil.

“Pasti hal penting sampai Papa memanggilku ke kantor, bukan?” tanya Isabella sambil duduk tanpa perlu dipersilakan.

Markus menghembuskan napas pelan, lalu mengambil sebuah map hitam dari mejanya. Ia mendorongnya ke arah putrinya.

“Ini tentang Vivienne.”

Alis Isabella terangkat sedikit.

“Calon istri Julian? Apa dia masih… menghilang?”

Markus menatapnya, lama. “Justru itu. Terlalu lama. Terlalu banyak yang tidak masuk akal.”

Isabella membuka map itu. Di dalamnya hanya ada satu lembar foto: Vivienne dengan gaun putih elegannya saat gala terakhir sebelum kepergiannya. Tidak ada data tambahan. Tidak ada laporan. Kosong, seolah sengaja dihilangkan.

“Papa ingin aku mengejar jejak orang yang pura-pura tak meninggalkan jejak sama sekali?” Isabella menutup map itu dengan satu gerakan anggun.

“Bukan hanya mengejar.” Markus merapatkan jarak. Matanya penuh ketenangan yang tidak wajar. “Papa ingin kau mencari tahu… siapa sebenarnya Vivienne.”

Isabella membiarkan kalimat itu menggantung.

“Papa curiga?”

Markus tidak menjawab. Ia hanya memutar cincin lamanya di jari—kebiasaan yang hanya muncul saat Markus sedang memikirkan sesuatu yang gelap.

“Vivienne muncul dalam hidup Julian terlalu tiba-tiba,” ujar Markus perlahan. “Dan dia menghilang tepat di saat yang… terlalu tepat.”

Isabella menyilangkan kaki, tatapannya berubah lebih serius. “Ini tentang Julian?”

Markus tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai pada mata.

“Kau tahu betapa berharganya Julian bagi keluarga kita.”

Isabella tahu makna kalimat itu. Julian adalah pewaris paling potensial. Bukan hanya karena kepandaian, tapi karena Markus pernah berkata:

“Julian adalah masa depan Hartmann. Kau dan Liam adalah sayapnya.”

Tidak ada yang tahu apa artinya, kecuali Markus.

“Jadi aku harus menemukan Vivienne,” simpul Isabella pelan.

“Dan mencari tahu apakah dia ancaman,” tambah Markus dengan suara yang hampir tak terdengar.

Sunyi merambat di ruangan.

Lalu Markus mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat, suaranya menurun menjadi bisikan dingin yang hanya bisa didengar Isabella karena kedekatan mereka sebagai ayah–anak.

“Dan Isabella… kalau ada sesuatu yang berbahaya tentang Vivienne, Papa ingin kau menjadi orang pertama yang mengetahuinya. Bukan Daniel. Bukan media. Dan terutama…” ia berhenti sejenak, senyumnya melebar samar, “bukan Julian.”

Isabella menatap ayahnya, membaca maksud tersembunyi—dan Markus membiarkannya membaca sebagian saja, tidak lebih.

“Baik, Papa,” jawab Isabella akhirnya. “Aku akan menemukan Vivienne.”

Markus menepuk bahu putrinya, gerakan penuh kasih yang… sayangnya terasa seperti kasih yang dibuat-buat bagi orang yang mengenalnya terlalu lama.

“Anakku yang pintar.”

Isabella berdiri, bersiap pergi.

Namun sebelum ia melangkah keluar, Markus menambahkan satu kalimat yang membuat udara ruangan terasa lebih berat.

“Dan Isabella… jangan percaya siapa pun. Termasuk Vivienne. Termasuk Daniel.”

Tatapannya berubah dingin sepersekian detik.

“Juga Julian.”

Pintu menutup pelan di belakang Isabella, dan Markus kembali menatap jendela.

Senyum tipis muncul, samar… berbahaya.

Seolah ia tahu sesuatu.

Seolah ia menyembunyikan sesuatu.

Dan seolah ia menunggu bagian tertentu dari rencananya… berjalan sesuai keinginannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!