Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa Kalah
Sore itu, hujan gerimis mulai turun.
Aelira berdiri sendirian di halte bus dekat sekolah. Jaket seragamnya basah di bagian bahu. Seharusnya Ravian yang menjemput, tapi pesan terakhir dari Miko mengatakan Ravian masih syuting adegan malam.
Tiga pria dengan wajah tidak ramah turun dari dua motor. Tatapan mereka mengarah ke Aelira.
"Lo Aelira, kan? Pacarnya Ravian?"
Aelira mundur selangkah. "Ada apa?"
"Boss kami pengin ngobrol sama lo."
"Maaf, saya tidak kenal boss kalian."
Pria itu tersenyum sinis. "Nggak perlu kenal. Lo ikut aja."
Tangannya hendak meraih Aelira. Tapi sebelum menyentuh—sebuah helm melayang dan menghantam kepala pria itu.
BRAK!
Pria itu ambruk.
Rian berdiri di belakangnya—wajah dingin, napas memburu. "Dia bilang jangan sentuh."
Dua pria lainnya terkejut, lalu menyerang. Rian menghindari pukulan pertama, membalas dengan tendangan ke perut lawan. Yang kedua mencoba meninju dari samping—Rian menangkap tinju itu, lalu membanting pria itu ke aspal.
Tapi serangan dari belakang tak terhindarkan. Sebuah balok kayu menghantam pelipis Rian.
Dia oleng—tapi tetap berdiri. Darah mengalir di sudut bibirnya.
"Ri, awas!" teriak Aelira.
Rian menangkap balok itu tepat di tangannya. Telapak tangannya terluka. Tapi dia tetap maju—sampai tiga pria itu akhirnya kabur.
---
Langit Jakarta semakin gelap.
Suara sirene polisi mulai terdengar dari kejauhan.
Rian menarik Aelira memasuki area jalanan perumahan baru. Mereka hampir terjatuh saat berbelok tapi memutuskan tetap berlari.
Keduanya sudah terengah-engah sementara musuh masih mengejar.
"Ri, capek banget," kata Aelira sudah berkeringat.
Rian menoleh cemas. "Kita cari tempat persembunyian dulu," katanya lembut.
Aelira mengangguk dengan wajah kelelahan.
Rian mengajaknya berbelok ke arah rumah terbengkalai kemudian mengajaknya bersembunyi di balik rerimbunan semak kering dan pagar yang hancur.
Aelira jatuh berlutut di tanah penuh daun kering.
Napasnya memburu, wajahnya pucat, rambutnya berantakan.
"Ssst!!" Rian langsung membekap mulut Aelira saat mendengar suara langkah kaki mendekat.
Tubuh cowok itu basah oleh keringat dan darah di pelipisnya juga sudut bibirnya yang robek.
"Diem!" katanya berbisik—penuh penekanan.
Aelira mengangguk-angguk menurut sambil mengerut diam. Tubuh mereka terlalu dekat. Nafas Rian terasa di pelipis Aelira. Dadanya naik turun cepat.
Suara-suara musuh semakin dekat.
"Kayaknya tadi mereka lari ke arah sini."
"Cek ke semak! Nggak boleh ada yang lolos!"
BRUKK!
Sebuah balok menghantam tong kosong tak jauh dari tempat mereka bersembunyi.
Aelira memejamkan mata, tubuhnya gemetar. Tangannya mencengkeram lengan seragam Rian.
Refleks, Rian merangkul kepala Aelira ke dadanya dan menunduk menutupi tubuhnya. Gadis cantik itu menahan napas—matanya terpejam kuat, air mata mengalir tanpa suara.
Jantung Rian berdetak sangat cepat. Aromanya. Sentuhan Aelira. Kedekatan ini—sangat menyiksa.
"Tenang, gue di sini. Jangan takut, ya!" kata Rian pelan.
Setelah beberapa menit menegangkan—suara langkah kaki menjauh. Mereka selamat.
Tapi Rian masih belum melepaskan Aelira.
"Hei, lo nggak papa? Ada yang luka? Ada yang kena pukul nggak?" tanya Rian memegang bahunya cemas.
Rian mengecek kondisi Aelira dengan ekspresi kalut dan khawatir.
Aelira membuka matanya perlahan dan mengangkat wajah—membuat mata mereka bertemu.
Deg!!
Keduanya sama-sama membeku.
"Gue baik-baik aja. Makasih!" Aelira mengangguk pelan.
Rian menatapnya dalam lalu melihat kaki Aelira yang tergores batu.
"Sial. Kaki lo luka." Dia menyentuh kaki Aelira. "Sakit?"
Aelira menggeleng pelan. "Cuma luka dikit. Nggak papa, kok."
Rian menatapnya sambil menggigit bibir. Kelopak matanya meredup dan menyayu. Pemuda itu menunduk dengan hembusan napas berat setelah membuat gadis yang dicintainya dalam bahaya.
"Jangan bikin gue cemas, bisa? Lain kali jangan nunggu di halte sendirian."
Aelira mengangguk pelan. "Kita keluar sekarang—"
"Li!" Rian menahan tangannya membuat Aelira menoleh.
"Iya?"
"Gue udah baca buku harian lo yang ketinggalan di Panti Asuhan."
Mata Aelira membulat lebar. "Apa?"
Rian tersenyum getir. "Bego, ya gue?" lirihnya dengan mata berkaca-kaca. "Gue beneran enggak tahu kalau selama ini lo selalu lihat ke arah gue."
Aelira terdiam dan membeku di tempatnya.
Rian terkekeh getir dengan mata memerah. "Gue pikir saat SMP cinta gue ke cewek terpintar di sekolah bertepuk sebelah tangan. Sampai gue nggak berani ungkapin."
"Rian—"
"Gue tahu lo dulu juga suka sama gue."
Aelira terdiam. Tubuhnya terpaku saat menatap sepasang mata yang melihatnya sayu.
"Asal lo tahu." Suara Rian semakin serak dan lirih. "Gue juga cinta sama lo. Bahkan lebih dari itu. Bodohnya gue selalu takut untuk maju karena lo terlalu tinggi buat gue gapai."
Setetes air mata menetes di pipi Aelira tanpa bisa dicegah.
Hening. Hanya suara napas mereka berdua yang terdengar.
"Maaf karena gue terlambat bilang semuanya sama lo. Tapi sekarang gue cuma mau tanya satu hal." Pemuda itu menarik napasnya dalam-dalam.
"Apa?"
"Gue takut nyesel lagi seperti dulu setelah perpisahan kita di SMP dan gue nggak ada kesempatan buat bilang soal perasaan gue." Rian menatap gadis itu intens. "Li, gue sayang sama lo. Apa gue masih punya kesempatan lagi buat perbaiki semuanya? Apa di hati lo masih ada nama gue?"
Aelira menatap matanya dengan mata membulat.
---
Di sisi lainnya...
Ravian duduk di bangku tengah mobil van ZEYON.
Wajahnya pucat. Ponsel masih menempel di telinga—namun tubuhnya kaku membeku.
Dia mendengar semuanya. Suara Rian dari telepon terdengar jelas.
"Gue juga cinta sama lo..."
"Apa di hati lo masih ada nama gue?"
Rahang Ravian mengeras dengan kilatan mata tajam.
"Lo masih sayang sama gue, kan? Gue bisa rasain itu."
Ravian tidak bernapas.
Matanya memerah dengan tangan mengepal kuat sebelum menjauhkan ponsel dari telinganya dan mematikan panggilan. Tidak sanggup mendengar percakapan mereka.
"Gue cukup tahu." Desisnya rendah, dingin, dan patah.
Tenggorokannya seperti dicekik.
"Ternyata emang bukan gue dari awal, ya?" Ravian tersenyum getir. "Lo enggak pernah cinta sama gue."
---
Beberapa jam kemudian...
Suara detik jam dinding menggema di ruangan yang sepi.
Aelira duduk di meja ruang tengah dengan lembaran modul berserakan. Matanya lelah, tapi fokus.
"Perbandingan reaksi enzim—"
TING TONG TING TONG!!!
Suara bel rumah tiba-tiba membuatnya menoleh cepat.
Keningnya mengerut. Sudah malam. Siapa yang datang?
Dia berjalan ke pintu, membukanya perlahan.
Ravian berdiri di ambang pintu. Wajahnya basah—bukan karena hujan. Matanya merah. Pakaiannya masih sama seperti pagi. Tidak ada senyum. Tidak ada sarkasme. Hanya... kekosongan.
"Van...? Jam segini kamu—"
Ravian melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan. Dia menutup pintu di belakangnya.
Lalu—tanpa bicara—dia menarik Aelira ke dalam pelukannya.
Bukan pelukan posesif seperti biasanya. Bukan pelukan yang menuntut atau memaksa.
Tapi pelukan seseorang yang hancur.
Dan di pelukan itu, Ravian akhirnya bicara.
"Gue dengar semuanya, Li," bisiknya di rambut Aelira. "Gue dengar lo... sama dia. Di halte. Di semak-semak. Gue dengar semuanya."
Aelira membeku.
"Gue cuma mau tanya satu hal." Ravian melepaskan pelukannya. Dia menatap Aelira—matanya basah, sudut bibirnya bergetar. "Setelah semua yang udah gue kasih... setelah gue berusaha jadi lebih baik... apakah di hati lo... masih ada gue?"
Aelira tidak bisa menjawab. Air matanya jatuh.
Dan Ravian—untuk pertama kalinya dalam hidupnya—merasa bahwa dia tidak bisa memenangkan hati seseorang dengan kekayaan, dengan popularitas, dengan ketegasan.
Karena cinta bukan tentang siapa yang paling kuat. Tapi tentang siapa yang dipilih.
Dan malam itu, Ravian merasa kalah.