Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.
Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."
Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Dibawah Naungan Langit Bali
Kamar itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara napas yang menderu hebat, saling bersahutan dalam irama yang tak beraturan.
Biru jatuh tersungkur di atas tubuh Selena, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya yang basah oleh keringat. Keduanya terengah-engah, mencoba meraup oksigen yang seolah habis tersedot oleh intensitas gairah yang baru saja meledak.
Selena memejamkan mata, merasakan berat tubuh Biru yang maskulin menindihnya—sebuah beban yang anehnya terasa sangat nyaman. Jantung Biru berdenyut sangat keras tepat di atas dadanya, dug-dug, dug-dug, seperti genderang yang masih menyisakan gema peperangan.
"Mas... jantungmu..." bisik Selena parau, suaranya hampir hilang. Tangannya yang lemas terangkat perlahan, mengusap punggung Biru yang masih menegang.
Biru tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengeratkan pelukannya, menghirup aroma tubuh Selena dalam-dalam seolah itu adalah nyawa tambahannya. Ramuan Wayan memang luar biasa, tapi ia tahu, keberadaan Selena-lah yang sebenarnya membuat jantungnya mampu bertahan melewati badai emosi setinggi ini.
"Aku masih di sini, Selena," gumam Biru akhirnya, suaranya berat dan serak. "Aku masih bernapas... karena kamu."
Ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap wajah Selena yang tampak begitu cantik dengan rambut berantakan dan pipi yang masih merona merah.
Biru mengecup dahi Selena dengan lembut, sebuah kecupan yang tidak lagi mengandung nafsu, melainkan rasa syukur yang mendalam.
Di luar sana, suara deburan ombak pantai Uluwatu masih terdengar konstan, namun bagi mereka berdua, dunia seolah telah berhenti berputar. Malam ini, mereka bukan lagi sekadar dua orang yang terikat kontrak dua miliar, melainkan dua jiwa yang baru saja selamat dari maut—baik maut karena ombak, maupun maut karena kesepian yang selama ini mereka sembunyikan.
Keheningan yang sempat tercipta setelah badai gairah itu tidak bertahan lama. Tatapan mata mereka bertemu dalam jarak yang begitu tipis, saling mengunci satu sama lain.
Di mata Biru, tidak ada lagi jejak pria kaku yang penuh perhitungan; yang tersisa hanyalah binar pemujaan yang mendalam. Sementara di mata Selena, amarah dan cemburu tadi siang telah lebur menjadi binar kerinduan yang tak terbendung.
Seolah ada magnet yang tak terlihat, mereka kembali saling menarik. Tanpa sepatah kata pun, Biru menangkup wajah Selena dengan kedua tangannya, lalu kembali memagut bibir wanita itu.
Kali ini, pagutannya terasa berbeda—lebih menuntut, lebih lapar, dan jauh lebih penuh gairah daripada sebelumnya.
Selena membalasnya dengan intensitas yang sama. Ia melumat bibir Biru seakan ingin menghisap seluruh napas pria itu ke dalam dirinya. Lidah mereka saling membelit, bertukar rasa dalam sebuah tarian yang panas dan intim. Kerinduan yang selama ini disembunyikan di balik gengsi dan lembaran kontrak kini tumpah ruah tak bersisa.
Tangan Biru mulai menjelajah kembali, menyusuri lekuk tubuh Selena yang masih lembap oleh keringat, memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat tubuh Selena kembali meliuk indah.
Di bawah temaram cahaya lampu, mereka seolah lupa pada dunia, lupa pada kontrak, dan lupa pada peringatan medis. Jantung Biru berpacu dalam irama yang liar namun harmonis, seolah-olah setiap detaknya adalah sebuah penegasan bahwa malam ini, ia benar-benar hidup seutuhnya hanya untuk wanita di pelukannya.
"Aku masih mau Selena, boleh?"
Permintaan itu meluncur dari bibir Biru dengan suara yang sangat rendah, hampir berupa bisikan yang bergetar di depan bibir Selena. Tatapannya yang gelap dan intens seolah mengunci seluruh kesadaran Selena, tidak memberikan celah bagi wanita itu untuk berpaling.
Selena terkesiap, merasakan napas Biru yang panas menyapu kulit wajahnya. Kalimat itu—yang terdengar begitu sopan namun penuh dengan tuntutan yang membara—membuat ulu hati Selena mencelos.
Tidak ada lagi perintah otoriter atau nada dingin khas CEO Hermawan Group; yang ada hanyalah seorang pria yang sedang bertekuk lutut pada gairahnya sendiri.
"Mas..." Selena berbisik lirih, jemarinya mengusap rahang tegas Biru yang mulai ditumbuhi rambut halus. Ada rasa khawatir yang tulus, namun di saat yang sama, tubuhnya sendiri memberikan jawaban yang berbeda dengan reaksi yang semakin memanas.
Biru menggeleng pelan, lalu mengecup sudut bibir Selena dengan lembut namun dalam. "Aku tidak pernah merasa sekuat ini, Selena. Izinkan aku... sekali lagi."
Selena tidak mampu menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menarik tengkuk Biru, menyatukan kembali bibir mereka dalam sebuah jawaban bisu yang penuh persetujuan. Tangannya melingkar erat di bahu kokoh Biru, mengundang pria itu untuk kembali memimpin tarian panas di atas ranjang mereka.
Malam di Uluwatu itu pun kembali memanas. Biru tidak membiarkan satu detik pun terbuang sia-sia. Ia mencumbu Selena dengan intensitas yang lebih dalam, seolah ingin memastikan bahwa setiap inci tubuh istrinya itu mencatat namanya dengan tinta gairah yang tak akan bisa dihapus oleh kontrak mana pun.
Di bawah naungan langit Bali, mereka kembali tenggelam dalam lautan kenikmatan, mengabaikan dunia dan segala batasan medis yang selama ini memenjara mereka.
***
jin ouch jin sentuh itu selena...