NovelToon NovelToon
Trigger Between Us

Trigger Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Luo Aige

Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.

Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.

Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.

Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.

Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Datanglah lebih cepat

Pria bertubuh besar itu sempat membeku beberapa detik saat melihat wanita di depannya benar-benar menggenggam bilah pisaunya dengan tangan kosong. Bahkan setelah ujung tajam itu melukai telapak tangannya cukup dalam, Aveline sama sekali tidak melepaskan genggaman. Darah mulai menetes deras melewati sela jarinya, jatuh satu per satu ke jalanan batu Velmire yang kotor.

Sorot mata pria itu perlahan berubah. Bukan karena takut, melainkan bingung. Karena tidak ada orang normal yang akan menangkap belati seperti itu secara langsung.

“Nona ...,” ujar Liora dengan suara bergetar pelan. Wajahnya sudah pucat sejak tadi. Matanya terus terpaku pada darah yang menetes dari tangan Aveline.

Namun wanita itu sama sekali tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan, dingin, tanpa perubahan berarti di wajahnya meskipun luka di telapak tangannya terlihat cukup parah.

Beberapa orang di sekitar jalan mulai berhenti berjalan. Bahkan suara dari rumah judi di belakang mereka perlahan mengecil karena sebagian orang mulai keluar untuk melihat keributan di depan bangunan.

Dan di antara kerumunan itu, gadis muda yang tadi dimenangkan Aveline dari meja judi ikut berdiri tidak jauh di belakang Aveline. Tubuhnya tampak tegang sejak melihat tiga pria tersebut. Jemarinya mencengkeram ujung pakaian lusuhnya sendiri sambil menatap takut ke arah jalan.

Sedangjan pria berkepala botak yang tadi sempat ditampar Liora akhirnya tertawa kasar meskipun ekspresinya masih kesal.

“Sial … wanita ini ternyata lebih gila dari yang kukira.”

Pria lain ikut menyeringai sambil meludah ke samping. “Apa kau pikir hanya karena bisa menangkap pisau kau jadi hebat?”

“Apa perempuan distrik atas sekarang memang suka mencari perhatian di Velmire?”

Tawa rendah kembali terdengar dari mereka. Salah satu pria bahkan sengaja melangkah lebih dekat sambil menatap darah di tangan Aveline.

“Lihat tanganmu,” katanya meremehkan. “Kau bahkan hampir tidak bisa menggenggam lagi.”

Aveline tetap diam.

Tatapannya perlahan berpindah dari wajah satu pria ke pria lainnya tanpa tergesa. Tidak ada kepanikan ataupun kemarahan berlebihan di sana. Justru ketenangan itu yang perlahan membuat senyum mereka mulai berkurang sedikit demi sedikit.

Lalu tanpa peringatan, Aveline memutar pergelangan tangannya.

“ARGH!”

Pria yang pisaunya ditahan langsung mengumpat keras saat sendi tangannya dipelintir kasar. Belati itu jatuh ke jalan dengan bunyi logam nyaring sebelum Aveline mendorong siku pria tersebut tepat ke arah lengannya sendiri.

Bunyi benturan terdengar keras. Tubuh besar itu langsung terhuyung mundur sambil memegangi tangannya dengan wajah menahan sakit. Namun Aveline tidak memberi waktu sedikit pun.

Kakinya bergerak cepat menghantam lutut pria lain di sampingnya sampai lelaki itu jatuh berlutut ke tanah dengan suara umpatan kasar. Bahkan sebelum pria tersebut sempat bangkit, Aveline sudah menarik kerah bajunya lalu membanting tubuhnya ke sisi bilik telepon.

Brak! Kaca bilik bergetar keras.

Liora sampai tersentak kaget melihat suara benturan itu. Bahkan beberapa orang yang menonton dari pinggir jalan mulai saling melirik. Cara bergerak wanita itu sama sekali tidak terlihat seperti bangsawan biasa.

Pria terakhir langsung maju sambil mengumpat marah, mencoba memukul wajah Aveline dari samping. Namun wanita itu menundukkan kepala sedikit lalu menghantamkan siku tepat ke tenggorokan pria tersebut.

Lelaki itu langsung tersedak sambil mundur beberapa langkah dengan wajah merah.

Aveline berdiri tegak lagi di tengah jalanan sempit Velmire. Napasnya masih stabil meskipun darah terus menetes dari telapak tangannya. Mantel hitamnya bergerak pelan tertiup angin dingin distrik itu, sementara tatapannya kembali mengarah pada tiga pria di depannya. Tidak ada satu pun dari mereka yang masih tertawa sekarang. Dan justru karena itulah suasana terasa semakin tidak nyaman.

“Nona.…” Liora kembali bersuara pelan. Kali ini suaranya terdengar lebih panik saat melihat darah di tangan Aveline semakin banyak.

Namun sebelum siapa pun sempat bergerak lagi, mata Liora tiba-tiba membesar.

“Nona, di belakang—!”

Salah satu pria yang sejak tadi jatuh ternyata diam-diam sudah mengambil kembali pisaunya. Dengan wajah penuh amarah, ia langsung berlari dari belakang Aveline sambil mengangkat senjata itu tinggi-tinggi ke arah punggung wanita tersebut.

Semua terjadi sangat cepat. Namun, tepat sebelum pria itu mencapai Aveline ... suara dengungan mesin kendaraan terdengar memecah suasana dari ujung jalan. Sebuah mobil militer berwarna hitam berhenti mendadak tak jauh dari depan gedung judi, pintunya terbuka dengan hentakan keras.

William adalah orang pertama yang melangkah turun.

Tanpa menyia-nyiakan sedetik pun, langkahnya bergerak cepat menuju pria bersenjata. Bahkan sebelum lelaki tersebut sempat menyadari apa yang sedang terjadi, William sudah menghantam lengan pria itu dari samping dengan kekuatan penuh—cukup keras hingga pisau yang digenggamnya terlepas dan jatuh berdentang ke permukaan jalan.

Dampak hantaman membuat tubuh sang pria terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.

Di saat yang sama, beberapa kendaraan militer lain turut berhenti berbaris di belakang mobil William. Para prajurit segera turun dengan gerakan sigap, senjata di tangan sudah terangkat lurus mengarah ke kerumunan orang di sana.

Satu tembakan peringatan dilepaskan melesat ke udara.

Seketika itu juga, suasana jalanan berubah menjadi kacau balau. Warga Velmire yang sedari tadi hanya diam menonton buru-buru berlarian menjauh. Sejumlah pria yang masih berdiri di dekat gedung judi langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi memudian mundur ketakutan saat melihat ujung laras senjata para tentara tertuju tepat ke arah mereka.

“Jangan bergerak!”

“Turunkan tangan kalian!”

“Lawan sedikit saja, akan kami tembak!”

Ketiga pria itu seketika berniat kabur menyelamatkan diri, namun para prajurit bergerak jauh lebih cepat dan sigap. Salah satunya dihantamkan ke dinding hingga tubuhnya terhentak keras sebelum tangannya dipelintir kasar ke belakang. Sementara yang lain ditendang hingga jatuh tersungkur di jalan berbatu, dan ditahan beberapa tentara sekaligus.

“Lepaskan aku!”

“Kami tidak melakukan apa pun!”

“Dasar anjing milit—ARGHH!”

Suara teriakan bercampur makian dan erangan kesakitan memenuhi udara.

Sementara William, kini berdiri tegap setelah memastikan pria terakhir sudah tak berdaya. Tatapan tajamnya bergerak cepat, memindai seluruh keadaan di sekelilingnya hanya dalam beberapa detik.

Liora yang wajahnya masih pucat dengan tubuh gemetar. Kerumunan orang yang perlahan menjauh karena ketakutan. Tiga pria yang sudah diamankan oleh anak buah William. Serta Aveline, yang berdiri diam tak jauh dari tempatnya.

Begitu menyadari kehadiran William, Aveline perlahan menggerakkan tangannya ke belakang punggung. Ia berusaha menyembunyikan telapak tangannya yang masih meneteskan darah deras di balik lipatan mantel hitam yang ia kenakan.

Para prajurit masih sibuk menahan ketiga pria tadi, perhatian William perlahan kembali tertuju pada Aveline. Tatapannya turun sesaat ke arah posisi tangan gadis itu yang sejak tadi terus disembunyikan di belakang punggung.

Darah masih menetes pelan dari sela jemarinya. William langsung menyadarinya.

“Aveline.” Nada suaranya rendah dan dingin. Tidak keras, tetapi cukup membuat Liora refleks menoleh cepat ke arah tangan majikannya.

Aveline tetap berdiri tenang seolah tidak terjadi apa-apa. “Aku tidak terluka parah.”

Namun William sama sekali tidak terlihat percaya. Tatapannya tetap tertahan pada tangan wanita tersebut tanpa bergeser sedikit pun.

“Ulurkan tanganmu.”

Aveline tidak bergerak.

Tatapan mereka saling bertemu beberapa detik di tengah suara langkah para tentara dan keributan orang-orang yang masih menjauh dari area depan gedung judi. Tidak ada perubahan jelas di wajah Aveline, tetapi bahunya sedikit menegang saat tangannya justru bergerak lebih jauh ke belakang.

Dan itu sudah cukup bagi William.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, pria itu langsung melangkah mendekat lalu menarik pergelangan tangan Aveline dari belakang tubuhnya.

Telapak tangannya akhirnya terlihat jelas di bawah sorot lampu kendaraan militer. Luka robek itu masih mengeluarkan darah cukup banyak, mengalir melewati pergelangan tangan hingga mengenai ujung mantel hitam yang ia kenakan.

Tatapan William langsung berubah lebih tajam.

Aveline berusaha menarik tangannya kembali, tetapi genggaman William jauh lebih kuat dibanding tenaganya sekarang.

“Aku baik-baik saja.”

“Kau menangkap pisau dengan tangan kosong.”

Nada suara William terdengar datar, tetapi jelas mengandung tekanan yang membuat Liora langsung diam.

Beberapa prajurit sempat melirik ke arah mereka sebelum buru-buru kembali mengurus para tahanan. Tidak jauh dari sana, Bram ikut memperhatikan keadaan tersebut beberapa detik sebelum pandangannya bertemu dengan William.

William tidak mengatakan apa-apa.

Namun satu lirikan singkat saja sudah cukup membuat Bram memahami maksudnya.

Pria itu segera bergerak mendekati Liora. “Nona Liora, ikut ke belakang bersama kami dulu.”

Liora tampak ragu. Tatapannya masih tertuju cemas pada tangan Aveline yang berdarah, tetapi akhirnya ia tetap mengangguk pelan.

Sebelum mereka sempat benar-benar bergerak, suara langkah tergesa terdengar mendekat dari arah lain.

Gadis muda yang tadi dimenangkan Aveline dari meja kartu langsung berlari kecil menghampiri mereka. Wajahnya terlihat panik sejak tadi, apalagi setelah melihat darah di tangan Aveline dari dekat.

“Nona …!” Remaja itu berhenti beberapa langkah di depan Aveline dengan napas tidak teratur. “Apa Anda baik-baik saja?”

Aveline akhirnya mengangkat pandangan ke arahnya, tetapi tidak langsung menjawab.

Sedangkan William ikut menoleh perlahan. Tatapannya jatuh tepat ke wajah gadis remaja itu. Hanya satu tatapan singkat, tetapi cukup membuat gadis tersebut langsung menundukkan kepala dengan gugup.

“Siapa dia?” tanya William pendek. Nada suaranya tidak tinggi, tetapi terdengar tajam dan menekan.

Sang gadis langsung meremas ujung pakaian lusuhnya sendiri. “N–nama saya Sabrina ... saya tidak punya tempat pergi.”

Ia sempat melirik takut ke arah rumah judi di belakangnya sebelum kembali berbicara pelan.

“Nona itu yang menolong saya.”

William tetap diam.

Perempuan di hadapannya menelan saliva dengan gugup sebelum melanjutkan lagi dengan suara lebih kecil.

“Kalau saya tetap di sini … mereka akan membawa saya kembali.”

Suasana sempat hening beberapa detik. Lampu kendaraan militer masih menyinari area depan gedung sementara para prajurit terus menyeret para preman yang sudah ditangkap menjauh dari sana.

William akhirnya membuka suara tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.

“Bawa dia ikut.”

William langsung menarik Aveline menuju mobil hitam militer miliknya tanpa memberi kesempatan wanita itu melepaskan tangannya sendiri. Langkahnya cepat melewati para prajurit yang masih sibuk mengamankan area di sekitar. Suara teriakan para tahanan dan langkah sepatu tentara masih terdengar samar di belakang mereka, tetapi William sama sekali tidak berniat menolah.

“Aku bisa jalan sendiri.” Aveline mencoba menarik lengannya, namun genggaman William tetap kuat.

“Aku tahu.”

“Kalau begitu lepaskan.”

“Tidak.”

Jawaban itu keluar datar tanpa emosi berlebihan. Justru karena terlalu tenang, Aveline langsung menatapnya tidak suka.

William membuka pintu mobil lalu mendorong Aveline masuk lebih dulu. Tubuh wanita itu jatuh duduk di kursi mobil dengan napas pendek penuh kesal. Mantel hitamnya sedikit berantakan akibat dorongan tadi. Baru saja ia ingin membuka pintu kembali, William sudah masuk menyusul lalu membanting pintu mobil hingga tertutup rapat.

Klik.

Aveline menoleh pelan. “Kau serius menguncinya?”

William tidak menjawab. Tatapannya kembali turun ke arah tangan Aveline. Darahnya masih menetes pelan.

“Aveline.”

“Aku tidak akan mati.”

“Kau berdarah.”

“Aku masih bisa menggerakkan tangan.”

Lagi-lagi William menarik pergelangan tangannya sebelum Aveline sempat menghindar. Tepat di telapak tangan yang terluka.

Aveline refleks sedikit menegang. “Lepaskan.”

“Apa kau sama sekali tidak berpikir kalau tindakanmu tadi bisa membuat tanganmu tidak bisa dipakai lagi?”

“Aku memang baik-baik saja.”

“Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu sampai menangkap pisau dengan tangan kosong?”

“Aku masih cukup waras untuk menghajar mereka.”

William menatapnya beberapa detik tanpa bicara. Tatapan itu datar, tetapi cukup membuat Aveline sadar pria itu sedang benar-benar kesal sekarang.

Namun bukannya mundur, Aveline justru bersandar santai ke kursi.

“Tidak perlu menatapku seperti itu. Tanganku belum putus.”

William membuka laci kecil di bawah dashboard tanpa mengalihkan pandangan darinya. Kotak obat hitam langsung ditarik keluar bersama beberapa gulung perban dan cairan antiseptik.

Aveline memperhatikan benda-benda itu sekilas sebelum akhirnya menghela napas pelan.

“Kau selalu menyimpan obat di mobil?”

“Aku tentara.”

“Kedengarannya lebih seperti kebiasaan seseorang yang terlalu sering membereskan masalah.”

“Dan sekarang masalah itu duduk di depanku.” Sudut bibir Aveline bergerak tipis, samar.

William mulai membersihkan darah di telapak tangannya menggunakan kain kasa. Cairan antiseptik langsung mengenai luka terbuka itu.

Aveline refleks menarik napas pendek. Menyadari reaksi itu, tatapan William langsung terangkat.

“Sakit?”

“Tidak.”

“Kau baru bereaksi.”

“Aku hanya tidak suka rasa perih.”

“Itu tetap sakit.”

Aveline mendecakkan lidah pelan sambil memalingkan wajah ke arah jendela mobil.

Di luar sana lampu kendaraan militer masih menyinari jalanan Velmire. Para warga terlihat buru-buru menjauh begitu melihat area depan gedung judi dipenuhi tentara bersenjata.

William kembali fokus membalut tangannya perlahan. Gerakannya tetap tenang dan rapi meskipun wajahnya masih terlihat dingin.

“Mereka hampir menusukmu dari belakang.”

“Aku dengar langkahnya.”

“Tapi kau tetap terlambat bereaksi.”

“Bukankah kau datang tepat waktu?”

William berhenti sebentar.

Aveline akhirnya menoleh lagi ke arahnya. Tatapan mereka bertemu dalam jarak dekat di dalam mobil yang sempit itu.

Lalu wanita itu berkata pelan,

“Jangan bilang kau panik.”

William langsung menarik simpul perban sedikit lebih kuat.

Aveline mendesis pelan. “Sial. Itu sengaja?”

“Supaya kau berhenti bicara.”

“Hah.” Aveline menyandarkan kepala ke kursi lagi. “Galak sekali.”

“Kau baru saja melukai tanganmu sendiri.”

“Aku melukai mereka lebih parah.”

“Itu bukan hal yang membanggakan.”

Keheningan sempat memenuhi mobil beberapa detik. Hanya suara mesin kendaraan yang masih menyala pelan terdengar di antara mereka.

William masih memegang tangannya, tetapi kali ini genggamannya jauh lebih longgar dibanding tadi.

Aveline memperhatikan itu sebentar sebelum akhirnya berkata pelan tanpa melihat ke arahnya,

“Kau datang cepat.”

“Aku dapat telepon dari markas.”

“Liora?”

Aveline terdiam sesaat lalu menghela napas kecil ketika melihat reaksi pria itu. Sudah ia duga, Aveline lalu terkekeh pelan. “Ck! Dia bahkan berani melanggar perintahku tanpa memikirkan keselamatannya.”

William menggeleng pelan sebelum akhirnya, ia mulai membuka suara.

“Lain kali.”

“Kalau kau ingin mencari masalah di Velmire,” ujar William rendah sambil menatap lurus ke depan. “Setidaknya tunggu aku datang dulu.”

Sudut bibir Aveline bergerak tipis samar.

“Kalau begitu kau harus belajar datang lebih cepat lagi, Tuan Kolonel.”

.

.

.

Bersambung

1
Norris Yuniarty
seru2 cerita y😍😍😍
Norris Yuniarty
seru cerita y😍😍😍
Saelyn: Mksh😺
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjut.......
Dede Dedeh
aku suka karakter cewek yg kuat....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!