NovelToon NovelToon
Imam Untuk Adelin

Imam Untuk Adelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Chicklit / Perjodohan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Larasatii

Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.

Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.

Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.

Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.

Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Pertemuan Tak Terduga

“Jalan tercepat meraih surga Allah di antaranya adalah … menuntut ilmu syari. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadis riwayat muslim.” Ustaz tersebut membuka ceramah dengan penuh antusias yang terpancar dari wajahnya. Kemudian, ia kembali melanjutkan ceramah.

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu. Maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” Suara itu menggema di dalam masjid. Suara yang teduh dan menenangkan. Berisi ceramah-ceramah yang selama ini tak pernah kudengar sama sekali.

“Ketika kita menuntut ilmu agama, maka akan mendatangkan rahmat dan rida dari Allah ta’ala. Menuntut ilmu agama membuat kita menjadi tahu mana yang batil mana yang patut dikerjakan.”

“Mana ibadah yang wajib dan sunah, dan mana ibadah atau amalan yang diada-adakan atau perkara baru yang mendatangkan kejahilan serta kemurkaan dari Allah. Menuntut ilmu membat kita mentauhidkan Allah dan menjauhi perbuatan syirik.”

Air mataku menetes tanpa bisa kubendung. Sesekali tanganku menyeka bulirnya dengan cepat. Gemuruh di dadaku tak lagi mampu menahan sesaknya. Entah apa hal yang menyebabkan aku menangis. Yang kuingat, ingatan tentang kejadian semalam kembali terulang. Seolah sebuah suara penghakiman itu kembali muncul di kepalaku.

Tiba-tiba … seseorang memberikan aku sebuah tisu. Ia—wanita bercadar di sampingku. Tiba-tiba, sebuah tangan merangkul bahuku erat. Kemudian membawaku ke dalam pelukannya. Aku, semakin dirundung pilu.

“Nangis aja, nggak apa-apa!” ucap wanita bercadar itu sambil mengelus punggungku lembut. Ia sama sekali tak mendesakku dengan kalimat tanya sedari tadi. Kubiarkan dekapan itu. Karena sejujurnya, aku tak lagi sanggup bersandiwara sedari tadi. Aku lelah mengejar dunia yang fana ini. Aku … ingin pulang kepada-Nya.

Ceramah itu telah usai. Semua orang bersiap hendak pulang. Saat aku selesai menaruh mukenaku, tiba-tiba wanita bercadar yang tadi berada di sebelahku kini menyalami tanganku.

“Nama anti, siapa? Eh … maksud saya, namamu siapa?”

“Adelin. Kalau kamu?” tanyaku kemudian padanya.

“Ningsih,” jawabnya seraya tersenyum hangat padaku.

“Hey! Namamu siapa?” tanyaku dengan nada suara lembut seraya menyapa gadis kecil di hadapanku, yang kini tengah berada di pangkuan Mbak Ningsih.

“Asiah, Ammah,” jawabnya mewakili anaknya yang masih berusia balita itu. Kami pun menutupi perbincangan kami setelahnya.

Semua orang keluar dari dalam masjid dengan tertib. Hingga tiba-tiba … seseorang menepuk pundakku pelan dari arah belakang. Aku lantas menoleh ke arah belakang. Kulihat, seorang wanita bercadar tengah tersenyum menatapku. Senyuman di balik cadarnya dapat kukenali dari bentuk mata dan alisnya. Aku spontan mengernyitkan dahi heran.

“Afwan, siapa, ya?” tanyaku lembut seraya bertanya padanya.

“Ini saya Deva, dokter yang menemanimu malam itu,” jawabnya berusaha mengingatkanku.

Tak butuh waktu lama untuk berpikir, aku langsung tahu bahwa itu adalah dia. Kini, aku beralih memeluk tubuhnya. Tangis haru pun pecah kala kami saling berpelukan. Ia menyeka air mataku dengan sigap. Kemudian berkata ….

“La ba’sa. Nggak apa-apa. Kamu mau nangis? Boleh. Pasti semua orang yang baru berhijrah akan menangis di fase-fase awalnya.” Ia menyudahi pelukannya kala aku melepas pelukan itu. kemudian, dokter yang kini kuketahui bernama Deva itu lantas menarik tanganku pelan.

“Ayo! Kita makan siang di rumah saya. Kebetulan saya juga belum makan siang,” ajaknya padaku.

Pikiranku berkelana pada sosok ibu di rumah yang mungkin kini sedang menanti hadirku. Aku tak mungkin menerima tawaran Dokter Deva. Sementara … ibu menanti kepulanganku yang tak pasti. Di sisi lain, aku harus tetap mencari pekerjaan agar Ibu dan adikku yang durhaka itu tak lagi mendesakku.

“Bagaimana? Mau?” Suara Dokter Deva menyentak lamunanku kembali. Lalu, aku mulai bersuara.

“Maaf, Dok.  Saya habis ini mau cari kerja. Takutnya ibu saya nungguin di rumah.” Aku menahan napas. Memastikan alasanku dapat diterima olehnya.

Tiba-tiba … Dokter Deva terlihat sedang memikirkan sesuatu. Lalu, ia berkata.

“Saya ada pekerjaan buat kamu.” Telunjuk Dokter itu mengarah ke atas seolah mendapatkan ide segar.

“Saya tahu kota Jakarta ini ada banyak lowongan terbuka. Tapi, saya ingin kamu setelah berhijrah agar mendapatkan tempat bekerja yang layak dan aman dalam proses hijrahmu. Juga pastinya, bebas dari yang bukan mahram. Kamu mau tahu pekerjaannya?”

“Apa itu, Dok?”

“Kamu suka anak-anak?” Senyumku seketika merekah. Tentu aku menyukai anak-anak. Aku bahkan merindukan sosok adikku yang kini telah meninggalkanku puluhan tahun lamanya. Aku lantas mengangguk cepat seraya mempertahankan senyumku.

“Ayo, ikut saya!” Aku menerima tawarannya. Kemudian berjalan mengikuti langkah sang Dokter.

***

Sebuah rumah elegan berdiri indah di tengah komplek elit ini. Bercat putih gading, memiliki pagar besi yang menjulang hingga mencapai kepala. Seorang bapak-bapak berseragam satpam berdiri di pintu gerbang berwarna hitam itu. Kemudian, ia dengan antusias membuka pintu gerbang sambil menuai salam dan senyuman pada kami.

Mataku menelusuri seluruh apa yang tampak. Tetumbuhan yang rimbun namun rapi. Bunga-bunga mekar yang ramah, menyapaku dengan lambaiannya serta aromanya yang wangi. Aku tersenyum seketika memandang keasrian halaman rumah itu.

Lantas, bagaimana dengan kondisi di dalamnya? Mungkin akan semakin terawat. Kini, kakiku melangkah masuk menuju rumah mewahnya. Dinginnya ubin rumah menyambutku. AC yang selama ini hanya kurasakan saat berada di kantor dulu, kini kurasakan sejuknya saat pintu ini pertama kali terbuka. Siapa mata yang tak berdecak kagum olehnya?

Tiba-tiba … saat pintu itu terbuka, seorang anak kecil datang menyambut hadirku. Aku tersenyum lantas berlutut menyambutnya.

“Umi!” Senyumku memudar seketika. Aku mengernyitkan dahi lalu berkata.

“Tante, ya, Sayang,” jawabku lembut seraya membelai lembut rambutnya yang sedikit bergelombang.

“Ho, Umi mana? Nggak ada?” Aku semakin dibuat heran oleh setiap pertanyaan balita ini. Hingga sudut mataku mulai menangkap sesuatu. Dokter Deva yang kini telah membuka cadarnya, duduk di atas sofa dengan wajah tertekuk dan seolah tengah menangis.

“Uminya ke mana, Sayang?” tanyaku kembali memastikan rasa penasaranku terlunaskan.

“Umi ketemu Allah kata abaty,” jawabnya dengan ekspresi wajah yang mampu merobek hati siapa pun saat melihatnya.

Darahku berdesir seketika. Ternyata, anak ini adalah seorang piatu. Dadaku terasa sesak, seolah diimpit batu besar. Aku berusaha tetap menunjukkan ekspresi ceriaku di hadapannya. Tak ingin ia ikut larut dalam tangis seperti yang kini dialami Dokter Deva.

“Ho … Sayang. Eh, Tante mau tanya. Nama kamu siapa?”

“Hamjah,” jawabnya seraya tersenyum ceria. “Hayya, Tante! Main, yuk!” Hamzah menarik tanganku ke sebuah ruang bermainnya. Aku melirik ke arah Dokter Deva yang kini tampak menuai senyuman hangat kembali saat melihat kami bermain.

“Lempal! Lempal bolanya!” Aku mengikuti instruksinya. Melempar bola itu padanya kemudian tertawa ceria. Hamzah ikut larut dalam tawa. Tiba-tiba, ia memelukku erat. Lalu berkata.

“Tante! Jadi Umi, ya.” Aku mengangguk cepat. Aku berusaha membuatnya bahagia oleh jawabanku. Ya, bisa saja ia saat ini hanya tengah merindukan sosok ibunya.

Tiba-tiba … sebuah suara menghentikan aktifitas bermain kami. Suara yang familiar dalam ingatanku. Saat aku menoleh ke asal suara yang semula mengucapkan salam itu, aku lebih dibuat kaget lagi.

“Ustaz Afwan?” batinku bertanya. Tiba-tiba … Hamzah berlari menujunya sambil berteriak.

“Abaty!” teriaknya lalu disambut oleh gendongan Ustaz Afwan. Aku melongo menatap keduanya saling berpelukan satu sama lain. Tiba-tiba … anak kecil nan polos itu berkata ….

“Abaty! Itu, ada Umi balu.” Suasana menjadi canggung seketika. Aku dan Ustaz Afwan kini saling pandang sepersekian detik. Kemudian, batinku merusuh.

“Nggak mungkin, kan? Aku menikah dengan duda?”

1
mama Al
Adeline kan di gambarkan berhijab masa minum bir
Larasati: bisa aja kak.. kalau udh kalang kabut dan udh dark pikirannya. hehe
total 1 replies
mama Al
ya udah jangan ngemis sama dia
mama Al
jangan mau!
jangan mau!
Nifatul Masruro Hikari Masaru
karena....
.
Larasati: karenanya bikin gemas ya kak 🤭
total 1 replies
Keke Chris
semangat nulisnya 💪
Larasati: waa kakakku... makkasih ya kak kee 😍
total 1 replies
Tulisan_nic
No, Adelin!


Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣

Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Rizkia Mauli
penulisannya sangat bagus, alurnya menegangkan. aku baru baca tiga bab udah kerasa ketegangannya. sangat rekomended bagi yang suka alur menegangkan dan emosional.
Larasati: waaa makasi banyak dek atas ulasannya.. 😍😍 rajin2 mampir ya dek.
total 1 replies
ceefour
Yeayy... So sweet
Larasati: 😍 sweet ya. Alhamdulillah halal.
total 1 replies
ceefour
Waow cepet ya proses nikahnya
Larasati: kalau ustaz gitu main sat set.. hahaha
total 1 replies
Rizkia Mauli
aku merasakan kekecewaan terhadap sosok Adelin, tapi... termasuk wajar gak sih jika diposisi seperti itu sampai sekalut itu dan akhirnya memilih hal buruk terhadap hidupnya? eh kayaknya wajar deh, aku pun pernah di masa tertekan jg melakukan hal bodoh sih hehe
Larasati: wajar dong. kalau memang sudah sekalut itu siapa yaang gak belok dek hehe
total 1 replies
Rizkia Mauli
aku yakin adelin gak akan nerima deh, dari prolog aja mungkin itu baru pertama kalinya dia, jadi... ntah deh hehe
Larasati: hehe ayo bab berikutnya yuk
total 1 replies
Rizkia Mauli
Bugh ini.... apakah... antara benar-benar jatuh atau... suara orang yang datang menolong?
Tulisan_nic
I could feel a quiet kind of fear settling in me as I read 🥲
Larasati: same with me... 🫣
total 1 replies
Tulisan_nic
Kekalutan apa sebegitu merubah seseorang, Adelin, why?
Larasati: emosinya unstable kak /Sob/
total 1 replies
Tulisan_nic
Ikut merasakan, kepedihan dan hancurnya Adelin. Ikut merasakan kejamnya dunia menghujam kehidupan Adelin. Ikut merasakan, detik-detik waktu berhenti saat satu langkah kaki menapaki tempat ketinggian ekstrem.
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?
Larasati: 🥲 iya kak... kalutnya ya kak jadi adelin
total 1 replies
ceefour
Yah jangan membanting gelas dong
Larasati: terkejut dia 🫣
total 1 replies
ceefour
Lho ada Dimas lagi
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Larasati: makasi kak sudh hadir 😍
total 1 replies
mama Al
bagus kak
Larasati: makasi ya kak sudah mampir 😍
total 1 replies
ceefour
Yaah... Gimana tuh kelanjutannya?
Larasati: hayo tebak apa selanjutnya ya?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!