NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 : Di Ambang Ketakutan Terbesar

Malam di Jakarta kembali menunjukkan wajahnya yang angkuh dan dingin.

Di balik jendela kaca besar mansion Arlan, lampu-lampu kota tampak seperti permata yang berserakan, namun tak satu pun dari kemewahan itu mampu menenangkan badai yang tiba-tiba muncul di dalam kamar utama.

Suasana yang tadinya sunyi dan damai, dalam sekejap berubah menjadi medan pertempuran emosi yang menguras air mata.

​Waktu menunjukkan pukul dua dini hari.

Kinara terbangun bukan karena suara bising, melainkan karena rasa tidak nyaman yang merambat dari pinggang menuju perut bawahnya.

Awalnya, ia mengira itu hanya posisi tidur yang salah. Namun, rasa itu perlahan berubah menjadi kram yang tajam, membuat perutnya yang sudah besar mengeras seperti batu di bawah daster sutranya.

​"Nngh..." Kinara merintih pelan, tangannya mencengkeram sprei dengan kuat.

​Arlan, yang selama beberapa bulan terakhir ini tidurnya tidak pernah benar-benar nyenyak karena selalu berjaga, langsung tersentak.

Instingnya sebagai "suami siaga" jauh lebih tajam daripada insting bisnisnya. Dalam hitungan detik, ia sudah terduduk tegak, menatap Kinara dengan tatapan yang dipenuhi kekhawatiran murni.

​"Kin? Sayang? Kenapa? Ada yang sakit?" suara Arlan bergetar hebat.

" Sayang heii"

Ia segera menyalakan lampu tidur, memperlihatkan wajahnya yang pucat pasi dalam cahaya remang.

​Kinara mencoba mengatur napasnya, dahi dan pelipisnya sudah mulai basah oleh keringat dingin.

"Hanya... hanya kencang sedikit, Arlan. Jangan panik... mungkin ini hanya kontraksi palsu, dokter bilang ini normal di bulan kedelapan." kata kirana..lanjutnya

" udah istirahat lagi yah sayang hmmm?? aku ngak apa apa kok"

​Namun, bagi Arlan, tidak ada kata "normal" jika itu menyangkut rasa sakit Kinara.

Pria itu langsung turun dari ranjang, berlutut di samping tempat tidur agar bisa sejajar dengan wajah istrinya.

Tangannya yang besar dan hangat gemetar saat menyentuh perut Kinara, merasakan sendiri betapa kerasnya rahim istrinya saat itu.

​"Kencang sekali, Kin. Ini tidak mungkin normal," bisik Arlan.

Ia menoleh ke arah jam dinding, lalu ke ponselnya. "Sudah berapa kali dalam satu jam terakhir? Aku akan menghitungnya. Tarik napas, Sayang... ikuti aku. Inhale... exhale..."

​Melihat Arlan yang lebih sibuk mengatur napas daripada dirinya sendiri, Kinara sempat tersenyum di tengah rasa sakitnya.

"Arlan, kamu yang harus tenang. Napasmu lebih pendek daripada napas dan kontraksiku."

​"Bagaimana aku bisa tenang, Kin?!" Arlan berdiri, mulai berjalan mondar-mandir di depan ranjang dengan langkah yang sangat gelisah.

"Aku tidak bisa melihatmu seperti ini. Jika aku bisa memindahkan rasa sakit itu ke tubuhku, aku akan melakukannya sekarang juga tanpa berpikir dua kali."

​Arlan kemudian mengambil tabletnya, jari-jarinya menari dengan cepat untuk menghubungi dokter pribadi keluarga di jam yang sangat tidak wajar itu.

Ia tidak peduli jika ia harus membayar sepuluh kali lipat, yang ia inginkan hanyalah kepastian bahwa Kinara tidak dalam bahaya.

​"Halo, Dokter? Istriku... perutnya mengeras. Ya, usia kehamilan tiga puluh dua minggu. Berapa lama? Baru saja. Tidak, tidak ada flek. Tapi dia kesakitan! Datang sekarang ke mansion! Saya tidak mau tahu, kirim tim medis sekarang!"

​"Arlan! Kamu berlebihan!" protes Kinara saat Arlan menutup telepon dengan kasar.

​Arlan kembali ke sisi Kinara, menggenggam tangan istrinya dan menempelkannya ke pipinya sendiri.

Matanya mulai berkaca-kaca—sebuah pemandangan yang dulu mustahil dilihat dari seorang Arlan yang arogan.

"​Kin...aku..Aku..takut, Kin... aku benar-benar takut," aku Arlan dengan suara yang pecah.

"Setiap kali melihatmu mengerang kesakitan, memori tentang masa lalu saat aku menyakitimu kembali menghantamku seperti godam. Aku merasa... aku merasa Tuhan sedang menghukumku melalui ketakutan ini. Aku takut Dia mengambilmu atau bayi kita karena aku belum cukup menebus dosa-dosaku padamu."

​Kinara tertegun.

Ia menarik wajah Arlan, memaksa suaminya untuk menatap matanya.

"Arlan, lihat aku. Bayi ini hadir bukan untuk menghukummu. Dia hadir karena dia ingin melihat ayahnya berubah menjadi pria paling lembut di dunia. Dan kamu sudah melakukannya. Jangan pernah merasa Tuhan sedang menunggumu jatuh. Dia sedang memberikanmu kehidupan yang baru."

​Arlan memejamkan mata, membiarkan satu tetes air matanya jatuh di telapak tangan Kinara.

"Aku rela kehilangan seluruh hartaku, Kin. Aku rela kembali hidup susah di Yogyakarta asalkan kamu dan anak kita selamat. Tanpa kalian, rumah mewah ini hanya akan menjadi kuburan bagiku."

​Malam itu berlanjut dengan ketegangan yang mereda perlahan.

Tim medis akhirnya sampai dan setelah pemeriksaan singkat, mereka mengonfirmasi bahwa itu memang hanya Braxton Hicks atau kontraksi palsu yang dipicu oleh kelelahan.

Arlan baru bisa bernapas setelah dokter memberikan vitamin tambahan dan memastikan detak jantung bayi sangat stabil.

​Setelah tim medis pergi, Arlan tidak kembali tidur.

Ia duduk di pinggir ranjang, memijat kaki Kinara yang membengkak dengan minyak aromaterapi hingga istrinya itu jatuh tertidur karena kelelahan. Dalam keheningan malam, Arlan menatap perut Kinara dan membisikkan sesuatu yang sangat mendalam.

​"Nak... terima kasih sudah menjaga Ibu di dalam sana. Ayah berjanji, mulai besok, Ayah tidak akan membiarkan Ibu memikirkan satu pun masalah. Tumbuhlah dengan sehat, jagoan Ayah. Dunia sudah menunggu keberanianmu, dan Ayah sudah menyiapkan segalanya untuk melindungimu."

​Keesokan paginya, saat Kinara terbangun, ia mendapati Arlan sedang sibuk di sudut kamar yang sudah ia sulap menjadi area kerja kecil.

Arlan benar-benar memindahkan seluruh urusan kantor ke rumah. Ia tidak akan membiarkan jarak satu meter pun tercipta antara dirinya dan Kinara hingga hari persalinan tiba.

​"Arlan? Kamu tidak ke kantor?" tanya Kinara sambil mendudukkan diri.

​Arlan menoleh, memberikan senyuman yang sangat hangat.

"Kantor sudah aku pindahkan ke sini, Sayang. Mulai hari ini sampai kamu melahirkan, aku adalah bayanganmu. Ke mana pun kamu pergi, aku ada di belakangmu. Dan satu lagi..."

​Arlan menunjukkan sebuah sketsa di layar tabletnya.

"Aku sudah merancang nursery (kamar bayi) tambahan dengan tema yang kamu suka.

Semuanya akan selesai dalam dua minggu. Aku ingin kamu melihat bahwa penyesalanku bukan hanya kata-kata, tapi setiap detail kenyamanan untukmu dan anak kita."

​Di pagi yang cerah itu, Kinara menyadari bahwa Arlan telah sepenuhnya luruh. Pria itu bukan lagi "Tuan Dingin" yang mengejarnya karena utang, melainkan seorang Ayah dan Suami yang cintanya meluap-luap.

Ketakutan semalam telah berubah menjadi pengabdian yang tak terbatas, membuktikan bahwa pelangi yang muncul setelah badai di Jakarta ini jauh lebih indah dari apa pun yang pernah Kinara bayangkan dalam novel-novelnya.

catatan :

"Gimana Bab ini? Sudah cukup bikin kalian ikut deg-degan bareng Arlan? 😭 Akhirnya kita lihat sisi Arlan yang benar-benar 'tak berdaya' di depan Kinara. Bukan karena ancaman bisnis, tapi karena rasa takut kehilangan dunianya. Siapa yang sangka Tuan Dingin bisa sampai bawa tim medis lengkap hanya karena kontraksi palsu? 🚑💨 Jangan lupa kasih semangat buat Arlan di kolom komentar ya!"

Bab 34 ini spesial banget buat aku. Arlan akhirnya mewujudkan mimpi Kinara untuk punya ruang menulis sendiri. Menurut kalian, hadiah apa yang lebih romantis dari seorang suami yang mendukung impian istrinya sepenuhnya? 🥺❤️ Semoga Arlan-Arlan di dunia nyata juga se-suami siaga ini, ya! Sampai jumpa di bab selanjutnya yang bakal makin menegangkan

kita lanjut lagi besok yah lope..

iloveyouuuuu😻🤍🤍

1
Ma Em
Akhirnya Kinara mau memaafkan Arlan karena Arlan memang tdk salah cuma salah sangka saja , semoga Arlan dgn Kinara selalu rukun dan bahagia bersama anaknya nanti setelah lahir semakin bertambah bahagia dan tdk akan terpisahkan .
riela_nahak: halloooooo kkkk😻 semogaaaa yah ka ih💐 btwwww tunggu partai selanjutnya yah kk lvyouuuuui🤍🤍💐😻
total 1 replies
Anonim
maso..,,...,...kis
riela_nahak: hallooo kakakakakakakk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!