NovelToon NovelToon
AKU IBU TIRI MUDA

AKU IBU TIRI MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Danica

Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NYONYA ARYA**

*MINGGU PAGI. JAM 07.15 WIB.*

Hari Minggu yang cerah. Langit biru, nggak ada awan.

Anginnya pelan. Cuaca pagi yang kayaknya sengaja dibikin bagus buat ngasih semangat ke keluarga kecil yang baru belajar jadi utuh.

Hari ini jadwal beli sayur ke Mang Oyo. Mang Oyo itu tukang sayur keliling komplek Griya Asri. Gerobaknya warna hijau luntur. Belnya bunyi _ting-ting_ jam 7 pagi. Kalau telat 5 menit, bayamnya udah tinggal sisa.

Ini debut pertama Bailla sebagai Nyonya Arya di komplek. Misi: “Belanja Sayur plus Memproklamirkan Diri sebagai Nyonya Arya”. Kedengerannya gampang. Tapi jantung Bailla udah deg-degan sejak subuh.

Dia mondar-mandir di dapur. Buka tutup lemari. Cari keranjang belanja. Plastik lagi mahal-mahalnya. Pak Arya bilang, “Kita bawa keranjang aja, Bailla. Biar hemat. Biar nggak bikin sampah.” Jadi sekarang dapur itu penuh keranjang warna-warni. Masalahnya, Bailla nggak tau keranjangnya ditaro di mana.

Kulkas juga udah kosong. Kosong beneran. Isinya cuma telur 2 butir, kecap setengah botol, sama es batu. Perlu di-upgrade. Perlu diisi ulang. Perlu jadi kulkas yang layak buat keluarga 5 orang.

Di meja makan, Pak Arya duduk. Nyruput kopi panas. Kopi buatan pertama dari istri kecilnya. Rasanya... agak pahit. Tapi dia minum semua. Sambil ngeliatin Bailla yang udah kayak setrikaan.Bolak-balik.Buka tutup lemari.

Celingukan.

“Bailla... kamu lagi nyariin apa?” tanya Pak Arya penasaran. “Udah bolak-balik kayak setrikaan aja.”

Bailla berhenti. Ngehela napas.“Om... ada lihat keranjang belanjaan nggak??”

Pak Arya mikir. Tangan nunjuk ke segala arah. Kayak lagi nunjuk harta karun di peta bajak laut. “Keranjang belanjaan... itu di...

eh...maaf Bailla, saya lupa dimana. Terakhir dipakai Aya buat nenteng anak kucing hehe...” Dia garuk kepala yang nggak gatal.

Bailla diem. Tatapannya kosong. Napasnya ditarik dalam-dalam. “Ya Ampun Om. Kirain tau.Udah berharap lho ini.”

Pak Arya cuma bisa nyengir. “Nanti Om tanya Ara ya, cantik.

Jangan cemberut dong.” Dia coba ngoda. Ngusap pipi Bailla pelan.

Bailla diem. Tapi senyum kecilnya muncul. Karena dibilang “cantik”. Padahal cuma pake kaos putih lusuh sama celana jeans selut.Rambut masih acak-acakan belum disisir.

Tiga menit kemudian, Ara lari dari kamar. Bawa keranjang merah. “Ini dia! Harta karun!” teriaknya.

Pak Arya langsung angkat tangan kayak habis nemu emas. “Ini dia harta karun sudah ketemu! Ternyata di tempat bermain anak-anak. Di bawah meja Lego.”

Bailla ngambil keranjang itu. “Nah gitu dong, pahlawan.”

Dia senyum.“Oke makasih, sugar daddy hehe.” Dia balas ngoda.

Pak Arya ketawa.

“Oke momy kecil mau jalan dulu ya. Jaga rumah. Kalau anak-anak nyariin, bilang masih belanja ke Mang Oyo.”

Bailla melangkah menuju pintu. Misi dijalankan.

----------++

*OUTFIT MISI.*

Bailla: kaos oblong putih, celana jeans selut, sandal jepit Swalow. Rambut diiket kuncir kuda seadanya. Nggak pake lipstik. Nggak pake bedak. Karena ini bukan foto prewed. Ini perang di gerobak sayur.

Ara: celana pendek pink, kaos bergambar Elsa. Rambut dikuncir dua. Sandal jepit pink. Tangannya udah pegang uang 20 ribu. Buat ice cream.

Kalau dilihat dari jauh, mereka kayak kakak-adik. Bukan ibu-anak tiri. Dan Bailla suka itu.

---

*JALAN MENUJU TKP.*

Perumahan Griya Asri pagi-pagi rame. Bapak-bapak cuci motor. Ibu-ibu nyapu halaman. Anak-anak main sepeda.

“Pagi, Bu!”

“Pagi, Kak Bailla!”

“Wah, udah belanja ya, Neng?”

Banyak ibu-ibu nyapa. Ramah. Tapi matanya ngeliatin Bailla dari atas sampai bawah. Kayak lagi scan.

Bailla jawab semua sapaan. Senyum 3 S: sopan, santun, setengah takut. Dia masih asing. Mereka juga masih asing sama dia.

Sampai di TKP. Gerobak Mang Oyo udah mangkal di depan pos RT. Sayurnya masih segar. Bayam ijo. Wortel oranye. Tomat merah. Cabai merah yang bikin mata perih cuma liatnya.

“Pagi, Mang,” sapa Bailla. Senyumnya hati-hati.

Mang Oyo angkat kepala. “Pagi juga Neng! Wah, ada Aya. Tumben Aya ikut belanja. Biasanya ikut Bapak.” Dalam hati Mang Oyo pasti mikir,

_ini siapa ya?

Apa ini istrinya Pak Arya?

Tapi kok masih muda banget”?_

“Aya iya Mang. Ini sama Kak Bailla,” jawab Aya sambil nunjuk Bailla.

“Oh iya, Mang. Beli bayam satu iket, wortel dua, sama...

sama...” Bailla buka HP. Liat catatan. “Empe, cabe, bawang, tomat, sama... sama kerabatnya.”

Belum selesai ngomong, datang gerombolan ibu-ibu komplek.

Kayak pasukan khusus. Bawa keranjang, bawa gosip, bawa kue buat arisan.

“Oh, Mbak Bailla istri nya Pak Arya ya?” tanya Ibu Ida. Rumah nomor 21. Tinggal 3 rumah dari rumah Pak Arya. Dia tau semua urusan komplek.

“Iya Mbak. Kenalkan saya Bailla. Istri nya Pak Arya.

Kakaknya anak-anak hehe.” Bailla senyum mesem.

“Ka... oh iya, Saya Bu Ida. Sepertinya Ibu Ida paham dengan panggilan Kakak.” Dia ketawa kecil. Paham. Paham banget.

“Bailla sekarang usianya berapa?” tanya Ibu yang pakai roll rambut. Nggak ngenalin diri. Langsung nanya umur.

“Masih 21 tahun Bu. Tapi udah tua karena udah punya 3 anak hehe.” Jawaban spontan Bailla. Cukup buat ngejelasin status dan perannya.

“Bu Arya geulis pisan ya ibu-ibu. Seperti bintang film itu siapa ya... eee...???”

“Kak Bailla mirip Natasha Wilona kan Bu. Cantik!” Ara ikut nimbrung. Senyum bangga. Kayak dia yang dibilang cantik.

“Iya benar... Mirip. Masih muda cantik. Beruntungnya Pak Arya dapetin buah segar hahaha... Maaf bercanda ya Neng.” Candaan Ibu Roll Kepala. Ngenes juga di hati Bailla.

Tapi dia cuma ketawa kecil. Anggap aja pujian.

Tiba-tiba datang Ibu RT. Berdaster bunga. Di pelipisnya ada koyo. Dia scan Bailla dari ujung rambut sampai ujung sandal jepit.

“Pantesan Pak Arya betah di rumah sekarang,” katanya.

“Biasanya jam segini udah jalan-jalan puter komplek. Sekarang di rumah terus. Nunggu istri pulang belanja.”

Bu Ida nimbrung. “Denger-denger pinter masak ya, Neng? Kemarin bikin nasi goreng, anak-anak habis. Kata Aya, ‘enak ada telur hitamnya’.”

Satu gerobak ketawa. Bailla rasanya mau masuk ke karung bawang. Malu.

“Eh, itu... itu namanya ‘telur hitam manis’, Bu,” bela Ara.

Nongol dikit dari balik rok Bailla. “Resep rahasia.”

Mang Oyo nambahin bonus. Satu plastik tauge. “Nih, Bu.

Buat nambah menu telur hitam manis. Biar ada kriuk-kriuknya.”

Semua tertawa... Semua menerima

*MISI BELANJA COMPLETE.*

Bailla jalan pulang. Nenteng tas belanja penuh. Bayam, wortel, tomat, cabai, bawang, tauge. Lengkap. Hampir satu gerobak diborong.

Ara bawa ice cream dua tangan. Kayak habis menang lomba.

“Lihat, Kak! Rasanya strawberry! Aku minta dua!”

Belanja pertama kali jadi Nyonya Arya. Gagal elegan. Tapi lulus.

Di gerbang, Arbil lagi nyuci motor Bapaknya. Dia melirik tas belanja. “Baru pulang perang, Kak?”

Bailla ketawa. “Iya. Ini korban keroyokan ibu-ibu komplek.

Cuma alhamdulillah dapet bonus tauge dari Mang Oyo.”

Arbil ketawa. Pertama kali ketawa lepas sejak Bailla datang.

“Besok aku temenin. Biar Ibu-Ibu nggak ngeroyok.”

Bailla kaget. Arbil manggilnya... pake “Kak” lagi. Tapi juga belum “Bu”.

Gak apa-apa. “ kakak” udah cukup. Artinya dia udah mulai dianggap bagian.

---

*PUKUL 09.00. MAKAN PAGI YANG HANGAT.*

Di meja makan udah terhidang. Sayur bening bayam.

Tempe goreng. Sambel terasi resep Mami. Nasi hangat.

Pak Arya nyicip sayur. Asinnya pas. “Emang udah lulus S1 ya, Bailla?” tanyanya serius.

Bailla ketawa. “Lulus apa, Pak?”

“Lulus belanja. Lulus masak.” Pak Arya nyuap lagi. “Enak. Nggak keasinan. Nggak hambar.”

Bailla senyum. “Lulus digosipin juga, Pak.”

Pak Arya nyuap lagi. “Ibu-Ibu komplek itu kayak CCTV, Bailla.

Kalau mereka udah nerima kamu, berarti kamu aman.

Artinya... rumah kita aman.”

Dari ruang tengah, suara Ara berteriak. “Kak Bailla!

Besok belanja lagi ya! Aku mau ikut! Mau minta bonus permen!”

Bailla bales teriak. “Siap, Bos!”

Di luar, Bu RT lewat. Teriak dari pagar. “Bu Arya, besok arisan di rumah saya ya! Dateng! Bawa ‘Telur Hitam Manis’ ya!”

Bailla melambai. Tangannya masih bau bawang. Rambutnya masih acak-acakan. Tapi hatinya... wangi. Kayak diterima.

---

*SIANG HARINYA. EVALUASI MISI.*

Bailla duduk di teras. lMinum es teh. Ngeliatin Ara main masak-masakan di halaman. Pak Arya lagi benerin keran air yang bocor.

Arbil keluar bawa gelas. Duduk di samping Bailla.

“Kak,” katanya pelan. “Kemarin pas belanja, aku denger Ibu RT ngomong sama Bu Ida.”

Bailla nengok. “Ngomong apa?”

“Katanya, ‘Bagus juga ya Pak Arya dapet istri muda. Anak-anak keliatan seneng.’”

Bailla diem. Dia nggak tau harus jawab apa.

Arbil lanjut. “Aku nggak suka denger orang ngomong gitu.

Kayak Kakak itu pengganti Mama.”

Bailla senyum kecil. “Gak apa-apa, Bil. Mereka nggak tau ceritanya. Yang penting, kita tau.”

Arbil angguk. Dia minum air putih. Terus ngomong lagi.

“Kak... besok aku temenin belanja ya. Biar kalau ada yang nanya-nanya aneh, aku yang jawab.”

Bailla kaget. “Emang kamu nggak sekolah?”

“Minggu. Libur.” Arbil senyum kecil.

Bailla nggak tau kenapa, tiba-tiba matanya panas. Dia peluk Arbil pelan.“Makasih, Bil.”

Arbil diem. Terus bisik. “Kak... aku nggak janji bakal manggil Kakak ‘Mama’ sekarang. Tapi... aku janji bakal jaga Kakak. Kayak Kakak jaga Aya.”

Bailla ngangguk. Itu udah lebih dari cukup.

*SORE HARINYA.*

Pak Arya pulang kerja. Bawa es krim buat semua. “Biar nggak kalah sama Ara,” katanya.

Mereka makan es krim di teras. Ngobrol ngalor-ngidul. Ngomongin rencana minggu depan. Ngomongin liburan kecil ke pantai. Ngomongin mimpi.

Bailla ngeliat itu. Lima orang. Satu meja. Satu tawa.

Dia inget malam pertama. Kasur 180x160 yang penuh. Guling yang jadi sekat. Rasa takut yang nggak ilang-ilang.

Sekarang? Rasa itu pelan-pelan berubah. Jadi hangat. Jadi nyaman. Jadi rumah.

---

*MALAM HARINYA.*

Sebelum tidur, Bailla masuk kamar. Di atas meja, ada kertas kecil. Tulisan tangan Pak Arya.

_“Buat Nyonya Arya, Makasih udah berani keluar rumah. Makasih udah berani ketemu ibu-ibu komplek. Makasih udah berani jadi bagian dari kita. Besok kita belanja lagi ya.

Om traktir bakso.”_

Bailla senyum. Dia lipat kertas itu. Simpan di dompet.

Dia matiin lampu. Tidur. Tanpa takut. Karena sekarang, dia tau.

Rumah ini... udah nerima dia.

Dan besok, dia siap buat misi berikutnya. Misi jadi istri. Jadi ibu. Jadi Bailla yang utuh.

1
Yuliyana
ada bima n dito, siapa ya ?
Miss Danica: Maaf kak di Bab ini ada perubahan nama tokoh dan ada yang lupa edit ... Makasih atas koreksiannya. Selamat membaca kak 😍🙏
total 1 replies
Miss Danica
Hay gaeess sahabat NT mohon suportnya karya pertama ku ini ya. mohon bimbingannya juga semoga sehat sehat semuanya sukses untuk kita semua.😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!