Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Kegelapan kamar itu terasa menekan paru-paru Siham. Di sampingnya, napas Dewangga terdengar sangat stabil, ritme yang menandakan bahwa pria itu tidak memiliki beban pikiran sedikit pun. Dewangga bisa tertidur dengan mudah setelah hari yang melelahkan di kantor, seolah dunia ini memang berputar hanya untuk melayaninya. Sementara Siham? Ia merasa seperti sedang tenggelam di tengah samudra yang tenang namun mematikan.
Siham mencoba memejamkan mata, namun bayangan naskah, tekanan dari Ayah mertuanya, dan sikap dingin Dewangga sore tadi terus menari-nari di pelupuk matanya. Selimut sutra yang membungkus tubuhnya terasa kasar di kulitnya yang sensitif malam ini. Akhirnya, dengan gerakan sepelan mungkin agar tidak mengusik sang Raja di sampingnya, Siham bergeser ke tepi ranjang.
Ia meraih tablet dari nakas. Benda itu adalah satu-satunya pelarian yang ia miliki. Dengan hati-hati, ia bangkit dan melangkah menuju sofa kecil di sudut kamar yang remang-remang. Ia tidak ingin menyalakan lampu utama; ia hanya butuh cahaya dari layar tabletnya untuk menyinari lubang hitam di hatinya.
Bagi Dewangga, tablet itu hanyalah alat kerja. Sang CEO sering melihat istrinya berkutat dengan benda itu, mengira Siham sedang mengedit naskah penulis atau memeriksa jadwal penerbitan untuk memastikan citra perusahaan tetap stabil. Dewangga tidak pernah bertanya lebih jauh, dan Siham membiarkan asumsi itu tetap ada. Baginya, tablet itu adalah bunker rahasia satu-satunya tempat di mana ia tidak perlu menjadi istri sempurna.
Siham menyalakan layarnya. Cahaya putih dari tablet memantul di bola matanya yang mulai sembap. Alih-alih membuka aplikasi kerja, jemarinya bergerak lincah membuka sebuah aplikasi media sosial anonim. Di sana, ia bukan Siham sang editor senior. Di sana, ia adalah Aksara Renjana, seorang pengembara kata yang hanya ingin membuang luka.
Ia mulai menulis. Ujung stylus pen-nya menari di atas layar kaca, merangkai kalimat yang sejak tadi tersangkut di tenggorokannya saat makan malam.
"Kamu adalah rumah yang pintunya selalu terkunci, sementara aku adalah tamu yang lupa bahwa aku punya kunci sendiri untuk pergi. Lima tahun aku menyajikan hangatnya sup di atas meja, tapi kau lebih memilih kedinginan dalam egomu yang setinggi menara."
Siham menarik napas panjang, menahan isak yang nyaris lolos. Ia melirik sekilas ke arah tempat tidur, ke arah sosok suaminya yang masih bergeming. Ia menambahkan baris penutup yang paling tajam.
"Ternyata, menjadi bagian dari prestasimu adalah hukuman paling sunyi yang pernah aku terima. Karena di matamu, aku hanyalah editor yang bertugas merapikan bab-bab hidupmu agar terlihat sempurna di mata dunia, sementara naskah cintaku sendiri kau anggap sampah."
Tanpa ragu, ia menekan tombol post. Biarlah kata-kata itu menguap di jagat maya, menjadi konsumsi orang-orang asing yang tidak akan pernah tahu siapa laki-laki yang ia sindir. Baginya, ini adalah satu-satunya cara agar ia tidak gila.
Beberapa saat kemudian, suasana hening itu pecah oleh suara gumaman rendah dari arah tempat tidur. Dewangga terbangun. Bukan karena suara Siham, tapi karena kebiasaan tubuhnya yang selalu terjaga jika merasa ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Ia meraba sisi ranjang yang kosong, lalu matanya menangkap siluet istrinya yang sedang meringkuk di sofa dengan cahaya tablet yang menerangi wajahnya.
"Siham? Belum tidur?" suara Dewangga serak, namun tetap terdengar otoriter.
Siham tersentak, hampir menjatuhkan tabletnya. Ia segera mematikan layar.
"Belum, Mas. Ada beberapa naskah yang perlu aku cek sebentar untuk besok."
Dewangga mendengus pelan sambil bangkit dan duduk di tepi ranjang. Ia mengusap wajahnya kasar. "Kamu terlalu terobsesi dengan pekerjaan. Ayah sudah bilang, kamu tidak perlu bekerja sekeras itu sekarang. Fokus saja menjaga namaku dan keluarga."
Kata-kata itu. Selalu saja soal nama baik dan keluarga. Tidak pernah soal "Bagaimana perasaanmu?".
Dewangga kemudian berdiri, melangkah menuju meja kecil di sudut kamar untuk mengambil air minum. Namun, matanya tertuju pada sebuah tas kerja milik Siham yang diletakkan di atas meja rias. Dari sela-sela tas yang sedikit terbuka, menyembul sebuah buku dengan sampul yang mencolok.
Dewangga mengambil buku itu. Sebuah novel fisik yang tampaknya naskah contoh dari kantor Siham. Di sampulnya, terdapat ilustrasi seorang wanita yang menatap jendela hujan dengan judul yang menurut Dewangga sangat cengeng.
Mata Dewangga tertuju pada nama penulis yang tertera di sana: Aksara Renjana.
"Aksara Renjana?" gumam Dewangga pelan. Nama itu terasa asing sekaligus menggelitik telinganya. "Ini penulis baru yang kamu pegang?"
Siham membeku di sofa. Jantungnya berdegup kencang. "I-iya, Mas. Penulis baru yang sedang naik daun."
Dewangga membuka lembar pertama secara acak. Sebagai pria yang tumbuh dengan logika bisnis dan efisiensi, Dewangga selalu menganggap karya sastra romansa adalah hiburan kelas bawah yang membuang waktu.
Ia membaca satu paragraf pendek di sana: "Cinta yang paling menyakitkan bukanlah saat kau dikhianati, melainkan saat kau dianggap tidak ada di saat kau berdiri tepat di depan matanya."
Dewangga mendengus sinis. Ia menutup buku itu dengan sedikit kasar. "Novel sampah," ucapnya dingin. "Bagaimana bisa orang-orang menghabiskan waktu hanya untuk membaca keluhan yang dibungkus dengan bahasa berbunga-bunga seperti ini? Sangat tidak produktif."
Ia meletakkan buku itu kembali dengan posisi sembarangan. "Jangan biarkan naskah-naskah tidak logis seperti ini mempengaruhi caramu berpikir, Siham. Hidup itu tentang eksekusi, bukan ratapan."
Siham hanya terdiam, tangannya mengepal di balik daster sutranya. Ia ingin berteriak bahwa novel sampah itu adalah jiwanya. Ia ingin memaki pria yang menganggap perasaannya sebagai hal yang tidak produktif. Namun, seperti biasa, ia memilih untuk menelan kembali belati itu.
Dewangga kembali ke tempat tidur, seolah tidak baru saja menghancurkan hati istrinya berkeping-keping. "Sudah, matikan tabletmu. Besok kita ada acara makan siang dengan kolega Papa. Aku tidak mau kamu terlihat kuyu."
Malam itu, keduanya kembali berada di bawah selimut yang sama. Dewangga kembali terlelap dalam hitungan menit, merasa dunianya sudah terkendali dengan sempurna. Namun di sampingnya, Siham menatap langit-langit kamar dengan mata yang benar-benar kering.
Ia baru saja menyadari satu hal: Dewangga tidak hanya tidak mencintainya, tapi pria itu bahkan tidak mengenalnya sama sekali. Dan di jagat maya, ribuan orang sedang mulai menyukai puisi belati yang baru saja ia kirimkan untuk suaminya yang sedang tertidur lelap itu.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor