Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Di atas kursi itu, Lin Fan sedang duduk santai dengan sebelah kaki di atas Batu Giok Yin Yang. Ia sedang memakan sepotong kue kacang hijau yang ia temukan di saku jubah barunya (entah bagaimana sistem menyelipkan camilan di sana). Ia mengunyah dengan tenang, pipinya sedikit menggembung, menatap Su Qingxue yang sedang memelototi kursi goyang tersebut.
Bagi Su Qingxue, pemandangan di depannya adalah sebuah fenomena spiritual yang mengguncang jiwa.
Mata Roh Es-nya melihat Kursi Goyang Energi Qi memancarkan cahaya hijau keemasan. Ia melihat Batu Giok Yin Yang berdenyut merah dan biru. Ia bahkan melihat remah-remah kue kacang hijau yang melayang sesaat sebelum jatuh ke pangkuan... udara kosong.
Ia tidak bisa melihat Lin Fan. Ia tidak bisa merasakan auranya. Jubah Penolak Gangguan itu bekerja terlalu sempurna, menetralkan semua frekuensi spiritual yang mencoba mendeteksi penggunanya. Di mata Su Qingxue, ada sepotong kue kacang hijau yang melayang di udara, tergigit sedikit demi sedikit, dan kursi goyang yang berayun maju mundur seolah-olah diduduki oleh hantu.
Namun, di dunia kultivasi, hantu memiliki aura Yin yang pekat. Sedangkan ketiadaan yang ada di depan Su Qingxue ini sama sekali tidak memancarkan hawa Yin. Ia murni... kosong.
*Astaga...* batin Su Qingxue menjerit, kakinya tanpa sadar melangkah mundur setengah inci. Napasnya tercekat di tenggorokan. *Ini... ini adalah 'Tubuh Transparan Dao'! Legenda itu benar-benar ada! Beliau telah meluruhkan eksistensi fisiknya hingga tidak lagi terikat oleh hukum materi!*
Su Qingxue segera menjatuhkan dirinya, duduk bersila di atas lantai batu dengan postur yang sangat formal dan khidmat. Ia meletakkan cincin spasial perak itu di lantai di depannya.
Lin Fan menelan kue kacang hijaunya, menatap Su Qingxue dengan alis berkerut. *Apa yang gadis ini lakukan sekarang? Kenapa dia duduk di lantai bukannya meletakkan barang itu di meja?*
"Senior Lin," suara Su Qingxue bergetar oleh emosi pemujaan yang meluap-luap. Ia menatap lurus ke arah udara kosong tepat di atas kursi goyang. "Qingxue hadir membawa persembahan sumber daya sekte bulan ini. Namun, melihat Anda telah mencapai tahap 'Penyatuan Ketiadaan' di mana wujud fisik Anda melebur bersama udara... saya merasa sangat malu membawa benda-benda materi ini ke hadapan Anda."
Lin Fan berhenti mengunyah. Ia melirik jubah abu-abunya. *Tunggu. Dia benar-benar tidak bisa melihatku? Berarti jubah ini bukan cuma peredam suara, tapi juga kamuflase optik absolut? Gila, ini adalah penemuan terhebat abad ini!*
Lin Fan tersenyum lebar. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, melambai-lambaikan tangannya tepat di depan hidung Su Qingxue. Gadis itu tidak berkedip sedikit pun, pandangannya tetap tertuju pada titik kosong di sandaran kursi. Lin Fan nyaris tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi serius di wajah pualam gadis yang biasanya sangat angkuh ini.
"Senior," lanjut Su Qingxue, matanya mulai berkaca-kaca oleh pencerahan. "Melihat Anda mengunyah kue kacang hijau dari alam ketiadaan... saya mengerti maknanya. Anda sedang mengajarkan saya bahwa bahkan hal yang paling remeh seperti sepotong kue pun berasal dari kekosongan dan akan kembali pada kekosongan. Bahwa kita tidak boleh terikat pada wujud kue tersebut, melainkan pada esensi dari tindakan mengunyah itu sendiri!"
Di depan wajah Su Qingxue, Lin Fan menepuk jidatnya sendiri dengan telapak tangan.
*Ya ampun. Dia benar-benar sudah gila,* batin Lin Fan tak habis pikir. *Aku cuma makan kue karena aku lapar. Esensi tindakan mengunyah apanya? Kalau kau tidak mengunyah, kau akan tersedak, dasar bodoh.*
Namun, Lin Fan tentu saja tidak akan merusak momen ini. Membiarkan Su Qingxue bermonolog dengan halusinasinya sendiri adalah cara terbaik untuk menghindari obrolan panjang yang menguras tenaga.
"Saya akan meninggalkan cincin spasial ini di sini, Senior," ucap Su Qingxue perlahan, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga menyentuh lantai batu. "Saya tidak akan mengganggu sirkulasi peleburan ruang Anda lebih lama lagi. Kehadiran saya yang masih kotor oleh wujud fisik ini hanya akan menodai udara suci di sekitar Anda."
Gadis itu bangkit berdiri dengan gerakan yang sangat berhati-hati, seolah-olah ia takut memecahkan gelembung ruang tak kasat mata di ruangan itu. Ia mundur selangkah demi selangkah, tidak pernah membelakangi kursi goyang tersebut, hingga akhirnya ia melewati batas tirai sutra dan menghilang dari pandangan.
Setelah Su Qingxue benar-benar pergi, Lin Fan menghela napas panjang, sebuah hembusan lega yang membuat jubah abu-abunya sedikit berkibar. Ia menurunkan bahunya, merelaksasikan setiap otot di tubuhnya.
Ia menatap cincin spasial perak yang tergeletak di lantai. Dengan menggunakan sisa energi dari tingkat 9 Puncaknya, ia "menarik" cincin itu menggunakan aliran Qi halus hingga benda itu terbang ke tangannya tanpa ia harus membungkuk.
Lin Fan menimbang cincin spasial itu di telapak tangannya. Cincin ini berisi kekayaan yang bisa membiayai pasukan elit selama sepuluh tahun. Ribuan batu roh tingkat tinggi, ratusan botol pil abadi, gulungan jurus legendaris, dan senjata-senjata pusaka berserakan di dalam ruang dimensinya.
Bagi kultivator mana pun, benda ini adalah kunci untuk menjadi penguasa dunia.
Namun bagi Lin Fan, yang kini dibalut oleh Jubah Penolak Gangguan dan didukung oleh Kursi Goyang Energi Qi, cincin ini memiliki arti yang jauh lebih sederhana dan memuaskan.
"Dengan sebanyak ini..." gumam Lin Fan, menyematkan cincin itu di jari manisnya, "Aku bisa menyuruh Wang Ta membelikan bahan pembuat kasur sutra es yang lebih tebal, dan mungkin membayar orang khusus untuk mengipasi anggurku agar aku tidak perlu meniupnya kalau masih panas."
Lin Fan menyandarkan punggungnya kembali ke kursi, melipat kedua tangannya di atas perut, dan membiarkan ayunan ritmis rotan membawanya kembali ke alam mimpi.
Dengan kekayaan absolut di jarinya dan jubah ketiadaan di pundaknya, Lin Fan akhirnya berhasil mencapai puncak tertinggi dari rantai makanan kultivasi: menjadi bos besar yang dibayar mahal untuk menjadi tidak kasat mata dan tidak melakukan apa-apa. Di luar sana, legenda tentang "Tubuh Transparan Dao" miliknya sudah pasti akan memicu badai kegilaan baru, namun di sudut dapur ini, yang ada hanyalah dengkuran damai seorang pria yang menang melawan kerasnya kehidupan.