JANGAN LUPA UNTUK SELALU MEMBERIKAN DUKUNGANNYA YA...!!!
Lin Yao seorang blogger makanan didunia modern Time Travel kenegeri kuno, menjadi seorang wanita muda miskin.
Berawal hanya dengan sebuah sendok, ia menghasilkan uang sepenuhnya melalui Hobby & kecerdasannya dalam makanan.
Lin Yao memanfaatkan keterampilan memasaknya untuk bisa bertahan bertahan hidup didunia yang baru ia pijaki.
Bukan cuma untuk dirinya seorang, tapi juga bagi keluarganya.
Bagaimana kah kisah perjalan Lin Yao diDunia kuno...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Lin Yao menormalkan reaksi wajahnya, memasang senyuman ramah.
"Tuan muda, ini adalah prodak terbaru buatan kami, teh perilla krisan dan minuman perilla hawthorn."
Lin Yao menunjuk keember kayu disebelahnya "minuman ini dimasak selama dua jam lamanya dengan tambahan sedikit gula untuk memperkuat rasa.
"Krisan meredakan panas dan mengurangi peradangan, sedangkan perilla menghantarkan rasa dingin dari luar. Kombinasi keduanya memiliki rasa manis dengan aroma yang harum, sehingga sangat cocok untuk dinikmati saat musim panas yang terik."
Lin Yao beralih keember yang lain.
"Ini teh perilla hawthorn, proses pembuatannya sama dengan menggunakan bahan-bahan berkualitas bagus. Rasanya manis, asam segar."
"Hawthorn merangsang nafsu makan dan membantu memperlancar pencernaan, sedangkan perilla berfungsi untuk menstabilkan Qi serta menenangkan perut. Jika tuan muda baru saja makan makanan berlemak, semangkuk minuman ini pasti akan membuatmu merasa segar dan menghilangkan rasa berminyak yang tertinggal dimulutmu."
"Kedua minuman ini harganya dua wen per cangkir dengan gelas bambu, atau satu wen per mangkuk tanpa gelas bambu. Apa tuan muda mau mencobanya..?"
"Woah, minuman sehebat ini harganya cuma dua wen..? aku mau keduanya." ucap Xu Fang Zhi rendah hati.
Lin Yao merasa senang.
Lin Song sigap mengeluarkan tabung bambu dari keranjang untuk bersiap mengisinya dengan minuman.
"Aku tidak mau gelas bambu itu." sela Xu Fang Zhi menghentikan pergerakan Yao dan Song.
"Satu gelas bambu harganya sama dengan satu mangkuk minuman, itu tidak sepadan."
Xu Fang Zhi menoleh kebelakang, dimana pelayannya berdiri.
"Jin Yu, pergi dan ambil ember kayu dari rumah."
Lin Yao mengira pemuda pelit itu akan menawar lagi. Tetapi sebaliknya, dia hanya menyuruh seorang pelayan pulang untuk mengambil ember kayu.
Rupanya Lin Yao terlalu banyak berpikir tentang pemuda didepannya.
Maklum saja, selama Yao melihat pemuda itu pasti ketika sedang menawar belanjaan. Bahkan saat membeli panekuk seharga tiga wen saja masih ditawar, menggelikan.
Pelayan itu segera pergi untuk memenuhi titah sang majikan.
Beberapa saat kemudian, dia kembali membawa ember kayu kecil yang amat unik dan cantik.
Saat Lin Yao mengisi ember dengan minuman, dia mengamatinya.
Ember itu dilapisi minyak tung, memberikan kesan hangat dengan kilauan jernih. Permukaannya diukir dengan pola yang halus.
Jelas ember itu sangat berharga.
Tapi kenapa orang ini begitu pelit, padahal dia saja mampu membeli wadah semewah ini..?
"Minuman disini harganya lima puluh wen, karena tuan muda adalah pelanggan pertama, aku akan memberikanmu diskon," kata Lin Yao sambil tersenyum kepada Xu Fang Zhi.
Seringai konyol langsung terbit dibibir Xu Fang Zhi, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi sempurna.
"Nona, kau benar-benar tahu cara berbisnis."
Transaksi pembayaran dilakukan.
Setelahnya Fang Zhi dan pelayannya pergi, menenteng ember dengan bersemangat.
Minuman sudah habis terjual lebih awal. Kini hanya ada panekuk telur bawang.
Jeroan babi rebus juga telah habis terjual.
Ketiga bersaudara itu menutup kios mereka seperempat jam lebih awal dari kemarin.
Dalam perjalanan pulang, Lin Yao terus memikirkan berapa banyak lagi makanan yang bisa dia buat dengan piringan besi itu.
Mie, nasi, tahu, sate goreng-----
Lin Yao sangat merindukan makanan jalanan yang lezat dari kehidupan sebelumnya. Hanya dengan memikirkannya saja sudah membuat air liur menggenangi seluruh permukaan rongga mulut.
Karena diabad ini tidak ada apa-apa, semua juga serba sulit terbatas. Lin Yao akan membuatnya sedikit demi sedikit.
Lin Yao memiliki banyak ide untuk penggunaan teppanyaki itu. Tetapi seperti kata orang bijak...
Kau tidak bisa gemuk hanya dalam satu gigitan, maka kau harus makan dua gigitan dilain waktu.
Lin Yao baru saja memesan lima puluh bakpao kukus dari Kakek Wang, tidak seharusnya ia tamak ingin banyak bisnis, sedangkan yang satu saja baru akan dimulai.
Jadi sekarang fokus utama adalah membuat roujiamo (Bakpao sandwich) untuk dijual besok.
Sesampainya dirumah.
Setelah istirahat singkat, mereka bertiga melakukan tugas masing-masing.
"Kakak, beli lebih banyak telur dan tepung hari ini." kata Lin Yao sembari merapikan barang-barang kecil yang dibawanya dari kios.
Lin Shun mengangguk setuju "Oke, apa kau berencana membuat lebih banyak panekuk telur..?"
"Tidak, ini untuk bakpao kukus yang akan kita jual besok," jawab Lin Yao.
"Oh, oke..!"
Lin Shun menyambar tongkat pengangkutnya, lalu pergi kepasar untuk berbelanja setelah berpamitan pada kedua adiknya.
Lin Yao pergi kekebun sayur dibelakang rumah untuk memeriksa daun bawang dan bawang liar yang baru ditanam.
Mereka baru ditanam beberapa hari, jadi daun bawang dan bawang liar belum banyak berubah.
Tapi setidaknya kedua tanaman itu tidak layu apa lagi mati.
Lin Yao memperkirakan dalam beberapa minggu kedua tanaman itu sudah dapat dipanen.
Setelahnya Lin Yao mengajak Lin Song mendaki gunung. Ia ingin kembali mencoba peruntungannya, siapa tahu bisa menemukan beberapa bahan langka yang berharga lagi.
Kakak beradik itu mengambil jalur lain yang sedikit lebih jauh.
Pilihannya tak salah, karena baru beberapa meter melewati lereng gunung. Lin Yao melihat tanaman yang familiar.
Lin Yao segera mendekat. Ia memeriksa tanaman itu dengan cermat.
Tumbuhan ini memiliki daun yang lebar dan tebal, terbagi seperti telapak tangan, dengan tepi yang halus.
Ini umbi konjac.
Bagi mereka yang sedang menjalani progam menurunkan berat badan, produk konjac adalah yang paling favorit.
Baik itu camilan konjac yang asam pedas atau tahu konjac yang lembut dan lezat. Ada pula mie konjac yang bebas gluten. Semua selalu laris manis dipasaran.
Umbi konjac kaya akan serat, rendah kalori, dan mengenyangkan.
Diera paceklik dan kelangkaan bahan pangan, membudidayakan konjac untuk menjadi bahan pangan pokok. tentu bisa sangat membantu dalam mengatasi mahalnya harga makanan.
Terlebih, konjac amat mudah tumbuh dalam kondisi kering sekalipun.
Ini penemuan yang berharga, bisa menjadi alternatif untuk menghasilkan lebih banyak uang.
Lin Yao melepaskan tangan Lin Song, mengeluarkan peralatan dari keranjangnya, lalu mulai menggali dengan tenaga penuh.
Umbi konjac tumbuh dalam, jadi dia dengan hati-hati memasukkan sekop ketanah, berusaha agar tidak merusak akarnya.
Lin Song berjongkok disebelah sang kakak, matanya lebar penuh rasa ingin tahu.
"Kakak, bisakah ini dibuat menjadi sesuatu yang lezat..?"
"Tentu saja..! Saat kita sampai dirumah, aku akan membuatkanmu tahu dengan ini." jawab Lin Yao dengan terus tetap menggali.
Mendengar kakaknya mengatakan ini, Lin Song ingin membantu.
Lin Yao segera menghentikannya.
"Song'er, meskipun ini enak, tapi juga beracun. Kakak yang harus menggali."
Lin Song terkejut, segera menarik tangannya dan mengangguk tergesa-gesa.