Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.
Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Anonym dan Tekanan Batin
Hujan di luar jendela penthouse lantai lima puluh itu tidak lagi terdengar seperti musik yang menenangkan, melainkan seperti ribuan jarum yang menghantam kaca. Lana duduk meringkuk di atas tempat tidur besarnya, masih mengenakan kemeja yang sama dengan yang ia pakai ke kampus, namun kini kemeja itu kusut dan menyisakan noda kopi samar di lengannya. Tas cokelat pemberian Arka yang penuh coretan merah itu tergeletak di lantai, tampak seperti bangkai yang menyedihkan.
Lana memeluk lututnya, dagunya bertumpu pada tempurung lutut yang gemetar. Ruangan kamarnya yang luas dan wangi lavender biasanya memberikan rasa aman, namun malam ini, setiap sudut ruangan terasa seperti sedang mengawasinya. Ia merasa tidak lagi memiliki tempat persembunyian.
Ponsel di samping bantalnya bergetar. Bzzzt... Bzzzt...
Lana tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Ia ragu untuk meraih benda tipis itu. Sejak ia masuk ke dalam mobil jemputan tadi sore, ponselnya tidak berhenti berteriak. Notifikasi terus masuk satu per satu, menghujani layar ponselnya dengan kata-kata yang lebih tajam daripada sembilu.
Dengan tangan yang dingin, Lana meraih ponselnya. Layarnya menyala, menampilkan serangkaian notifikasi dari aplikasi pesan singkat dan media sosial. Semua berasal dari nomor yang tidak dikenal dan akun-akun anonim tanpa foto profil.
"Jangan pikir karena lo tinggal di sana, lo bisa jadi bagian dari mereka. Lo itu cuma pemanis sementara, dasar gadis desa murah!"
"Denger ya, Lana. Kalo lo masih berani deket-deket Arka atau Ezra di depan umum, liat aja apa yang bakal terjadi sama muka lo yang sok polos itu."
"Keluar dari kampus ini sebelum kita bikin lo bener-bener nggak punya muka buat pulang ke desa!"
Lana membaca pesan-pesan itu dengan mata yang perih. Setiap kata terasa seperti tamparan fisik. Ia menghapus pesan itu satu per satu, namun setiap kali ia menghapus satu, tiga pesan baru muncul kembali. Pesan-pesan itu tahu segalanya; mereka tahu dia tinggal di penthouse, mereka tahu dia dekat dengan tujuh pria itu, dan mereka tahu betapa takutnya dia saat ini.
"Siapa kalian... kenapa kalian begini?" bisik Lana terisak.
Tekanan batin itu mulai terasa menyesakkan. Lana merasa terjepit di antara dua kenyataan yang sama-sama mengerikan. Di dalam rumah ini, ia merasa dicintai dan dihargai, namun di luar sana, cinta dan penghargaan itu berubah menjadi racun bagi orang lain. Ia merasa kehadirannya telah memicu monster kecemburuan yang kini balik menyerangnya tanpa ampun.
Ia mencoba meletakkan ponselnya di laci meja rias, berharap bisa menjauh dari teror digital itu. Namun, meskipun ponselnya sudah tersembunyi, kata-kata di dalamnya tetap bergema di kepalanya. Pesan anonim itu menyebutnya "parasit". Mereka menyebutnya "pelayan yang naik pangkat". Mereka menuduhnya menggunakan cara-cara kotor untuk memikat para pria di rumah ini.
Lana bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju cermin besar yang kemarin memantulkan wajahnya yang berseri. Namun malam ini, cermin itu memantulkan wajah seorang gadis yang ketakutan. Mata Lana sembab, kulitnya pucat, dan bibirnya yang tadinya merona kini tampak pecah-pecah karena terus digigit.
"Apa aku bener-bener parasit?" tanyanya pada bayangannya sendiri.
Rasa percaya diri yang kemarin dibangun dengan susah payah oleh Bumi dan Kenzo kini hancur berkeping-keping. Lana merasa semua pujian yang ia terima hanyalah sebuah kepalsuan, sebuah sandiwara yang ia mainkan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia pantas berada di sini. Pesan-pesan anonim itu terasa seperti suara kebenaran yang kejam yang menariknya kembali ke realitas.
Tiba-tiba, ponselnya kembali berdering. Kali ini bukan pesan, melainkan panggilan suara dari nomor yang disembunyikan.
Lana menatap layar ponselnya dengan ketakutan yang murni. Ia tidak berani mengangkatnya, namun ia juga tidak sanggup mematikannya. Ia hanya bisa menatap ponsel itu bergetar di atas meja, seolah-olah benda itu adalah sebuah bom waktu yang siap meledakkan sisa-sisa kewarasannya.
Panggilan itu berakhir, berganti dengan sebuah pesan singkat terakhir yang membuat napas Lana tercekat.
"Kita tahu lo ada di kamar sekarang. Kita tahu lo lagi nangis. Jangan pikir dinding mewah itu bisa ngelindungi lo dari kita selamanya, Lana. Besok di kampus, kejutan yang lebih besar nunggu lo."
Lana menjatuhkan ponselnya ke lantai. Ia mundur hingga punggungnya menabrak dinding yang dingin. Ia merasa diawasi. Apakah ada kamera di kamarnya? Apakah ada orang yang membuntutinya hingga ke pintu lift? Pikiran paranoid mulai menguasai otaknya. Ruangan yang tadinya mewah kini terasa seperti penjara kaca yang tembus pandang.
Ia merasa terpojok. Ia ingin mengadu pada Arka, namun ia takut Arka akan menganggapnya lemah. Ia ingin menelepon Bumi, namun ia tidak ingin merusak waktu istirahat sang dokter. Ia teringat Jeno yang mahir soal teknologi, namun ia merasa malu jika Jeno harus melihat pesan-pesan hinaan yang ditujukan padanya. Ia merasa tidak ingin membebani siapa pun dengan penderitaannya.
"Lana harus kuat... Lana harus bisa hadapin sendiri," ucapnya mencoba membesarkan hati, namun suaranya justru pecah oleh isak tangis yang semakin deras.
Tekanan batin ini terasa lebih berat daripada buku-buku yang dihancurkan tadi siang. Kerusakan pada barang bisa diperbaiki atau diganti, namun kerusakan pada mentalnya terasa begitu permanen. Setiap ancaman itu mengikis sedikit demi sedikit keberanian yang tersisa di hatinya. Ia merasa seperti seekor burung kecil yang sayapnya baru saja mulai tumbuh, namun dunia luar sudah siap untuk mematahkannya sebelum ia sempat terbang.
Malam itu, Lana tidak tidur. Ia duduk di pojokan kamarnya, memeluk kakinya, dan menatap pintu kamarnya dengan waspada. Ia mematikan semua lampu, merasa kegelapan lebih aman daripada cahaya yang bisa memperlihatkan keberadaannya. Setiap suara kecil dari luar kamar—langkah kaki pelayan atau suara pendingin ruangan—membuatnya berjengit ketakutan.
Ia merasa dunia luar telah benar-benar menembus pertahanannya. Pesan anonim itu bukan sekadar teks di layar ponsel; itu adalah manifestasi dari kebencian sosial yang tak kasat mata namun sangat kuat. Lana menyadari bahwa kecantikan dan kemewahan yang ia miliki sekarang adalah pedang bermata dua. Di satu sisi ia merasa cantik, namun di sisi lain, kecantikan itu adalah sasaran tembak bagi mereka yang merasa lebih berhak.
Di tengah kesunyian malam, Lana menatap ke arah laci tempat ia menyimpan kotak putih gading pemberian Bumi. Ia tidak berani membukanya. Ia merasa tidak pantas lagi menggunakan isinya. Bagaimana mungkin ia bisa memoles wajahnya besok pagi, sementara ia tahu bahwa di luar sana ada orang-orang yang siap menghancurkan wajah itu dengan kebencian mereka?
Lana merasa benar-benar sendiri. Meskipun ada tujuh pria luar biasa di rumah ini, ia merasa tembok di antara mereka dan dirinya semakin tebal karena rasa malunya. Ia takut jika mereka tahu betapa hinanya ia di mata dunia luar, mereka juga akan mulai memandangnya dengan cara yang sama.
Malam yang panjang itu berlalu dengan penuh tekanan yang menghimpit dada. Di bawah langit Jakarta yang masih diguyur hujan, Lana hanya bisa meringkuk dan berdoa agar hari esok tidak pernah datang. Namun ia tahu, matahari akan tetap terbit, dan "kejutan" yang dijanjikan dalam pesan anonim itu sedang menantinya di koridor kampus dengan taring yang lebih tajam.