NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pengangkatan jadi murid

Satu jam kemudian, ruangan itu disulap menjadi tempat upacara sederhana namun khidmat.

Di depan, sebuah meja kecil berkain merah. Di atasnya, satu set perangkat teh porselen putih sebuah teko, dua cangkir, dan wadah kecil. Lilin merah menyala di kedua sisi, melambangkan penerangan ilmu. Dua dupa harum dibakar, asap tipis melambung ke langit-langit.

Tabib Li dan Tabib Zhang duduk di kursi utama, wajah mereka berubah serius, penuh wibawa. Komandan Lei dan Pelatih Wu duduk di samping sebagai saksi. Beberapa instruktur lain berdiri di belakang.

Di luar jendela, Xia Feng dan Lin Yue ikut mengintip, mulut mereka kompak terbuka.

"Jinyu... diangkat murid sama Jūnyī?" bisik Xia Feng.

"Gila. Mereka itu legenda," Lin Yue menimpali. "Ayahku pernah cerita, Tabib Zhang itu pernah menyelamatkan nyawa seorang jenderal besar. Tabib Li juga terkenal di kalangan militer."

"Dan sekarang mereka jadi guru Jinyu..."

Di dalam ruangan, Pelatih Wu yang bertugas sebagai pemandu upacara berkata, "Su Jinyu, mulailah."

Jinyu melangkah maju. Sebuah bantal merah kecil diletakkan di lantai untuknya berlutut. Ia berlutut dengan tegap, kedua tangan di atas paha. Posturnya sempurna kebiasaan ratu iblis yang terbiasa bersikap hormat di hadapan para tetua. Tapi tidak pernah bersikap hormat lagi semenjak menjadi ratu kiamat penguasa dunia.

Pelatih Wu menuang teh panas ke dalam cangkir. Wangi melati semerbak. Ia menyerahkan cangkir pertama pada Jinyu.

Jinyu menerima dengan kedua tangan, tangan kanan memegang cangkir, tangan kiri menopang di bawah, persis seperti tradisi. Ia menundukkan kepala, lalu merangkak maju selangkah dengan lutut masih di lantai ini yang disebut "三步跪拜" (tiga langkah bersujud) versi sederhana.

Ia mengangkat cangkir setinggi dahi, lalu menyerahkan pada Tabib Li. "Guru, silakan minum teh."

Tabib Li menerima dengan kedua tangan, wajahnya berseri-seri penuh kebanggaan. Ia menyesap teh perlahan, merasakan kehangatan yang merambat ke dada. Lalu ia mengangguk.

"Baik. Terima kasih, muridku." Ia meletakkan cangkir, lalu mengeluarkan sebuah amplop merah dari saku jubahnya. "Ini angpao untukmu. Sebagai tanda restu dan selamat datang di keluargaku."

Jinyu menerima dengan kedua tangan. "Terima kasih, Guru."

Pelatih Wu menuang cangkir kedua. Jinyu mengulangi proses yang sama, merangkak maju selangkah lagi, lalu menyerahkan teh pada Tabib Zhang.

"Guru, silakan minum teh."

Tabib Zhang menerima dengan kedua tangan, menyesap, lalu menatap Jinyu dengan tatapan tajam. "Ingat, ilmu pengobatan bukan untuk pamer atau cari uang. Bukan untuk sombong atau merendahkan orang lain. Ilmu ini untuk menolong sesama, untuk menyembuhkan yang sakit, untuk meringankan penderitaan. Paham?"

Jinyu mengangguk mantap. "Paham, Guru."

"Bagus." Tabib Zhang meletakkan cangkir. Ia juga mengeluarkan amplop merah dari sakunya lebih tebal dari punya Tabib Li. "Ini untukmu. Beli jajan atau beli buku."

Jinyu kaget, tetap menerima dengan sopan. "Terima kasih, Guru."

Kedua tabib itu berdiri. Mereka berjalan mendekat, lalu masing-masing meletakkan tangan kanan di bahu Jinyu—sebuah simbol restu dan penerimaan resmi.

Tabib Li berkata, "Mulai hari ini, kau adalah murid kami. Akan kami ajari semua ilmu yang kami punya akupuntur, ramuan herbal, diagnosis penyakit, pijat refleksi, semua."

Tabib Zhang menambahkan, "Tapi jangan harap mudah. Ilmu ini butuh waktu bertahun-tahun. Bahkan puluhan tahun. Kau harus sabar, tekun, dan rendah hati."

Jinyu mengangguk dalam-dalam. "Saya siap, Guru."

Komandan Lei berdiri, bertepuk tangan. Para instruktur lain ikut bertepuk. Pelatih Wu tersenyum sesuatu yang langka.

Xia Feng dan Lin Yue yang mengintip dari jendela ikut bersorak pelan. "HOREEE!"

Setelah upacara, semua memberi selamat. Xia Feng dan Lin Yue langsung masuk dan memeluk Jinyu bergantian.

"SELAMAT, JINYU!" teriak Xia Feng lupa diri.

Lin Yue memukul lengannya. "Jangan teriak, kau! Tapi iya, selamat ya Jinyu!"

Jinyu tersenyum tipis. "Terima kasih, Kakak Xia Feng, Kakak Lin Yue."

Tabib Li dan Tabib Zhang pamit, berjanji akan kembali minggu depan untuk memulai pelajaran pertama. "Kami akan bawa buku-buku dan beberapa alat," kata Tabib Li. "Siapkan dirimu."

Komandan Lei mengantar mereka sampai gerang. Saat mobil jip mereka melaju pergi, Pelatih Wu berbisik pada Komandan Lei, "Komandan, anak ini... makin lama makin luar biasa."

Komandan Lei mengangguk. "Aku tahu. Tapi biarkan. Dia punya takdirnya sendiri."

Malam harinya, di kamar kecil, Jinyu berbaring memandangi langit-langit. Dua amplop merah tergeletak di samping bantal. Ia sudah membukanya—masing-masing berisi uang 50 yuan. Total 100 yuan. Di tahun 1963, itu jumlah besar.

Yoyo melingkar di perutnya.

Shshsss~ "Selamat, murid baru."

Iya.

["Untung kau dengar saranku."]

Iya, iya. Makasih.

["Besok mulai belajar. Aku sudah siapkan database pengobatan Tiongkok. Huangdi Neijing, Shanghan Lun, semua ada."]

Buat apa? Kan aku belajar dari guru sungguhan.

["CADANGAN! Kalau lupa, tinggal tanya aku. Atau kalau gurunya ngomong sesuatu yang tidak cocok dengan teori, aku bisa kasih tahu."]

Jinyu tersenyum kecil. Sistem ini memang menyebalkan, tapi berguna.

Shshsss~ "Jinyu, kau senang?"

Jinyu diam sejenak. Senang? Mungkin. Aku punya guru baru. Dua kakek tua yang baik.

Shshsss~ "Dan mereka bisa jadi pendukungmu nanti. Di dunia ini, punya koneksi itu penting."

Iya. Itu juga alasan aku setuju.

Di luar, angin malam berdesir lembut. Suara jangkrik mengisi keheningan. Jinyu memejamkan mata.

Hidup di era 60-an ini semakin rumit. Latihan militer, berburu herbal, bertengkar dengan sistem, dan sekarang belajar pengobatan dari dua tabib terkenal. Tapi justru itu yang membuatnya menarik.

Besok, latihan militer lagi.

Lusa, belajar pengobatan.

Dan di sela-sela itu, sistem akan terus mengganggunya.

Tapi itu tidak apa-apa.

Karena untuk pertama kalinya, ia punya tujuan.

Menjadi kuat. Berguna. Membanggakan keluarga Su.

Dan dengan dua guru tabib terkenal di sisinya... mungkin ia bisa mencapai semua itu.

["Jinyu."]

Apa?

["Terima kasih sudah dengerin saranku."]

Jinyu terkejut. Sistem jarang berterima kasih.

Sama-sama.

["Tapi besok tetap harus ambil herbal."]

...Dasar.

Yoyo mendesis geli. Jinyu memutar mata, tapi sudut bibirnya terangkat.

Malam itu, ia tidur dengan senyum kecil. Senyum yang tidak pernah dia sangka akan kembali lagi setelah sekian lama tidak pernah terlihat di dunianya.

1
Dewiendahsetiowati
keluarga Su pasti kangen berat sama jinyu.gimana kabar Yoyo dan Xiao Bai ya
Herli Yani
seru selalu buat deg-degkan rasa jangan lama2 y Thor 👍
Julia thaleb
shiou hu dan yoyo kan bisa tinggal diruang dimensi ..?
Cloudia: maaf ya, ini kelalaian saya. saya lupa buat bahwa mereka sengaja ditinggal untuk melatih anak didik miliknya makanya si Jinyu bilang supaya mereka tidak sedih. saya kelupaan buat🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Cloudia: sengaja ditinggal untuk melatih anak didiknya 🤭
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
Ellasama
terus up y Thor jangan putus ditengah jalan /Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!