Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jam Makan Siang Tak Terduga
Matahari Jakarta berada tepat di puncaknya, memancarkan panas yang seolah sanggup melelehkan aspal di pelataran parkir universitas. Di dalam studio seni fakultas, Seraphina sedang sibuk membersihkan kuas-kuasnya yang masih basah oleh cat minyak. Aroma terpentin dan kanvas baru biasanya memberikan ketenangan baginya, namun hari ini, pikirannya terasa semrawut.
Ia baru saja menerima pesan singkat dari Denzel sepuluh menit yang lalu. Singkat, padat, dan seperti biasa—tanpa ruang untuk negosiasi.
"Sera, maaf. Pertemuan Leah dan Jeff di klub golf berlanjut hingga makan siang. Aku tidak bisa menjemputmu. Makanlah sendiri di kantin atau pesan sesuatu. Aku akan menjemputmu sore nanti."
Seraphina menghela napas panjang, meletakkan kuasnya dengan sedikit dentuman ke dalam wadah kaleng. "Makan sendiri lagi," gumamnya pada bayangan wajahnya yang sedikit kusam di cermin studio.
Ia sudah terbiasa dengan jadwal Denzel yang didikte oleh kebutuhan Leah Ramiro. Namun, ada titik di mana "terbiasa" mulai berubah menjadi "melelahkan". Baginya, Denzel bukan sekadar asisten keluarga Ramiro; pria itu adalah kekasihnya. Namun, dalam hierarki hidup Denzel, Seraphina merasa dirinya selalu berada di urutan setelah keselamatan Leah, kenyamanan Leah, dan perintah Zefan.
Seraphina menyampirkan tas kanvasnya di bahu dan berjalan keluar gedung. Ia sudah membayangkan hiruk-pikuk kantin kampus yang bising, aroma minyak goreng yang menyengat, dan keringat yang bercucuran. Namun, saat ia mencapai lobi fakultas, langkahnya terhenti.
Sebuah mobil sedan mewah berwarna perak—bukan mobil operasional hitam yang biasa dikendarai Denzel—terparkir tepat di depan lobi. Seorang pria dengan kemeja putih yang lengannya digulung rapi hingga siku berdiri bersandar pada pintu mobil. Ia sedang menatap jam tangannya dengan ekspresi yang tenang, sangat kontras dengan lingkungan kampus yang penuh dengan mahasiswa yang terburu-buru.
Zefan Ramiro.
Beberapa mahasiswi yang lewat berbisik-bisik, terpesona oleh aura wibawa pria matang yang tampak sangat "mahal" itu. Zefan mendongak, dan ketika matanya menangkap sosok Seraphina, wajahnya yang biasanya kaku dan penuh beban kerja seketika melunak menjadi senyuman tipis yang hangat.
"Tuan Zefan? Sedang apa Anda di sini?" tanya Seraphina, nyaris tak percaya.
Zefan melangkah maju, menghampirinya. "Aku sedang ada pertemuan dengan dekan fakultas sebelah mengenai beasiswa yayasan. Lalu aku teringat Denzel mengirim laporan bahwa dia harus tetap berada di klub golf bersama Jeff dan Leah. Aku tahu dia tidak bisa menjemputmu, jadi aku pikir... daripada kau makan di kantin yang sepertinya sangat penuh itu, mungkin kau bersedia menemaniku mencari makan siang yang layak?"
Seraphina tertegun. Ada getaran aneh di dadanya—rasa dihargai yang sudah lama tidak ia rasakan dari Denzel. Zefan tidak perlu melakukan ini. Dia adalah CEO dari salah satu perusahaan terbesar di negeri ini. Dia bisa saja menyuruh sopir lain atau membiarkan Seraphina begitu saja. Tapi dia ada di sini, secara pribadi.
"Apa ini tidak akan mengganggu jadwal Anda?"
"Satu jam untuk makan siang tidak akan membuat kantorku runtuh, Sera," Zefan terkekeh pelan, membukakan pintu mobil untuknya dengan gerakan yang sangat sopan. "Ayo. Aku tahu sebuah restoran kecil yang tenang di dekat sini. Kau pasti butuh udara segar setelah bergelut dengan bau cat seharian."
Restoran yang dipilih Zefan adalah sebuah tempat tersembunyi dengan arsitektur kolonial yang asri. Di sana tidak ada musik yang berdentum, hanya suara gemericik air mancur di tengah taman kecil yang rimbun. Mereka duduk di sudut yang privat, jauh dari kebisingan.
Zefan memesan menu dengan sangat elegan, menanyakan preferensi Seraphina tanpa mendikte. Selama menunggu makanan, ia melakukan sesuatu yang hampir tidak pernah dilakukan Denzel saat mereka bersama: ia menaruh ponselnya dengan layar menghadap ke bawah di atas meja.
"Jadi, bagaimana progres lukisanmu?" tanya Zefan. Suaranya berat, stabil, dan penuh atensi.
Seraphina mulai bercerita. Awalnya ia merasa ragu, namun cara Zefan mendengarkan membuatnya merasa nyaman. Zefan tidak hanya mengangguk formal; ia memberikan komentar yang menunjukkan bahwa ia benar-benar menyimak. Ada kematangan emosional dalam cara Zefan menanggapi ceritanya—sebuah rasa stabil yang sangat berbeda dari Denzel yang selalu tampak waspada dan terburu-buru.
"Aku iri padamu, Sera," ucap Zefan tiba-tiba sambil menyesap teh melatinya.
"Iri? Pada mahasiswi seni seperti saya?"
"Iri pada kebebasanmu untuk mengekspresikan apa yang kau rasakan di atas kanvas. Di duniaku, perasaan adalah kelemahan. Semuanya harus dikalkulasi. Angka, aset, dan risiko. Kadang aku lupa bagaimana rasanya melihat dunia tanpa memikirkan berapa keuntungan yang bisa dihasilkan darinya."
Seraphina menatap wajah Zefan. Di bawah cahaya lampu gantung yang temaram, ia bisa melihat gari-garis halus di sekitar mata pria itu. Zefan adalah pria yang memikul beban dunia di pundaknya, namun di hadapan Seraphina, ia memilih untuk melepaskan jubah kekuasaannya sejenak.
"Denzel selalu bilang Anda adalah pemimpin yang sangat hebat," ujar Seraphina.
Zefan tersenyum kecut. "Denzel melihatku sebagai komandan. Tapi terkadang, komandan juga ingin menjadi manusia biasa. Denzel adalah pria yang baik, Sera. Dia sangat setia. Tapi aku tahu, kesetiaannya pada keluargaku seringkali menjadi beban bagi hubungan kalian. Aku minta maaf untuk itu."
Kata-kata Zefan seperti air sejuk yang menyiram luka tersembunyi di hati Seraphina. Selama ini, Denzel tidak pernah meminta maaf secara mendalam atas ketidakhadirannya. Denzel selalu menganggap bahwa pengorbanan Seraphina adalah bagian dari "kondisi yang harus diterima". Namun Zefan, orang yang justru diuntungkan oleh kesetiaan Denzel, malah mengakui kerugian yang dialami Seraphina.
"Terima kasih, Zefan. Maksudku... Tuan Zefan," ralat Seraphina gugup.
"Panggil saja Zefan jika kita sedang makan seperti ini. Aku tidak ingin merasa seperti sedang di kantor," sahutnya dengan nada yang menenangkan.
Makan siang itu berlangsung lebih lama dari yang direncanakan. Mereka tidak hanya bicara soal seni, tapi juga soal kehidupan. Seraphina menemukan bahwa Zefan memiliki sisi humor yang cerdas dan dewasa. Ia tidak mencoba untuk tampil keren atau misterius; ia hanya ada di sana, hadir sepenuhnya untuk Seraphina.
Bersama Zefan, Seraphina merasa dirinya "terlihat". Bersama Denzel, ia sering merasa dirinya hanyalah "pendukung" di latar belakang. Perbedaan itu mulai terasa sangat nyata. Denzel adalah gairah yang penuh rahasia, namun Zefan adalah stabilitas yang memberikan rasa aman.
"Aku harus mengantarmu kembali, sebelum dekan fakultasmu mulai mencariku karena aku mencuri mahasiswi terbaiknya terlalu lama," canda Zefan saat mereka berjalan kembali ke mobil.
Sepanjang perjalanan pulang ke kampus, Seraphina merasa hatinya lebih ringan. Namun, di saat yang sama, ada rasa bersalah yang mulai merayap. Ia merasa seolah-olah telah melakukan pengkhianatan kecil, bukan karena ia menyukai Zefan secara romantis, tetapi karena ia menikmati kenyamanan yang seharusnya ia dapatkan dari kekasihnya sendiri.
Zefan menurunkannya di depan gerbang. "Terima kasih untuk makan siangnya, Seraphina. Ini adalah jam makan siang paling menyenangkan yang pernah kualami dalam waktu lama."
"Saya juga, Zefan. Terima kasih sudah menjemput saya."
Saat mobil perak itu melaju pergi, Seraphina berdiri diam sejenak. Ia merogoh ponselnya. Masih belum ada pesan baru dari Denzel. Biasanya, ia akan merasa cemas atau rindu. Namun kali ini, yang ia rasakan hanyalah kehampaan yang dingin.
Sore harinya, Denzel akhirnya datang menjemput. Wajahnya tampak lelah, kemejanya sedikit kusut, dan aura ketegangan masih menyelimutinya—sisa-sisa dari mengawal Leah menghadapi Jeff yang posesif.
"Bagaimana kuliahmu tadi?" tanya Denzel saat Seraphina masuk ke mobil. Suaranya datar, lebih seperti sebuah pengecekan rutin daripada pertanyaan penuh minat.
"Baik," jawab Seraphina singkat. "Tadi Zefan menjemputku untuk makan siang."
Denzel terdiam sejenak, tangannya yang baru saja ingin memindah gigi mobil terhenti. Ia menoleh perlahan ke arah Seraphina. "Tuan Zefan menjemputmu?"
"Iya. Dia bilang kau sibuk di klub golf. Kami makan di restoran kolonial di dekat sini."
Denzel mengerutkan kening. Ada kilatan aneh di matanya—bukan cemburu, melainkan rasa terkejut yang dalam. "Oh. Begitu. Baguslah kalau kau tidak perlu makan sendirian."
"Zefan sangat baik, Denzel. Dia mendengarkan ceritaku tentang lukisanku dengan sangat serius," lanjut Seraphina, tanpa sadar mulai membandingkan.
Denzel hanya mengangguk pelan dan mulai menjalankan mobil. "Tuan Zefan memang orang yang sangat menghargai orang lain. Aku senang kau bisa akrab dengannya. Setidaknya kau punya teman bicara di rumah itu selain aku dan Leah."
Kalimat Denzel terasa tulus, namun itulah yang justru menyakitkan bagi Seraphina. Denzel tidak merasa terancam, bukan karena ia sangat percaya pada Seraphina, melainkan karena fokusnya sedang terbagi habis oleh variabel lain yang bernama Leah Ramiro. Denzel seolah bersyukur ada orang lain yang mengambil alih tugas menghibur Seraphina, sehingga ia bisa kembali fokus pada tugas utamanya.
Malam itu, di kamarnya, Seraphina menatap langit-langit. Ia membandingkan dua pria dari keluarga yang sama itu. Denzel adalah labirin yang penuh dengan jalan buntu dan rahasia. Zefan adalah jalan raya yang terbuka, stabil, dan dewasa.
Untuk pertama kalinya dalam hubungan mereka, Seraphina mulai bertanya-tanya: apakah ia mencintai Denzel karena ia benar-benar bahagia, atau hanya karena ia merasa dibutuhkan sebagai tempat persembunyian Denzel dari dunia luar?
Jam makan siang yang tak terduga itu telah membuka sebuah pintu kecil di hati Seraphina. Sebuah pintu yang menunjukkan kepadanya bahwa ada jenis kasih sayang lain yang tidak menuntutnya untuk selalu mengalah pada kepentingan orang lain. Dan saat ia memejamkan mata, bayangan yang muncul bukan lagi mata Denzel yang selalu waspada, melainkan senyuman tenang Zefan yang menghargai kehadirannya.
Tanpa disadari oleh Denzel, fondasi hubungannya dengan Seraphina baru saja mengalami retakan halus pertama—retakan yang disebabkan oleh kebaikan majikannya sendiri.