Diandra Anindya Satya, seorang anak angkat keluarga Brama. Ayah angkatnya sangat menyayanginya tapi tidak dengan ibu dan 2 saudara angkatnya. Awalnya semua perlakuan mereka yang terlihat membencinya tidak pernah jadi masalah, karena dia memiliki ayah yg selalu melindunginya. Tapi semua berubah setelah sang ayah meninggal. Dan ibu angkatnya dengan sengaja menjodohkan dia dengan seorang pria tua yang kaya untuk keuntungan pribadi.
Nasib mempertemukannya dengan seorang anak kecil bernama Lathan. Dia adalah anak laki-laki tampan dan pintar yang dibesarkan oleh seorang ayah bernama Raditya Reifansyah Nugraha. Pengusaha muda yang tampan, kaya, berkuasa dan dingin. Dia adalah salah satu cucu dari tuan Yudha Arya Kusuma.
Ditengah keputus asaannya mendapatkan perintah untuk menikah dengan pria tua, Andra mendapatkan tawaran dari Radit
"Menikahlah denganku, maka aku akan jadikan kamu ratu di dunia ini"
Bagaimana nasib Diandra selanjutnya? Akankah dia pasrah dengan keinginan sang ibu atau menikahi Radit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Radit Dan Diandra
Keesokan harinya semua sudah berkumpul dan bersiap untuk pergi ke KUA. Pagi-pagi sekali Cheva sudah sibuk menghubungi pemilik butik yang menyediakan baju pengantin dan juga salon untuk merias calon mempelai wanita beserta semua wanita yang ada dirumah Yudha
"Apa kamu sudah siap sayang? Suamiku tampan sekali. Eum ... aku jadi ingat saat kita terpaksa mempercepat pernikahan karena kak Lian merasa cemburu pada seseorang" Cheva masuk ke kamar dan mendekati Lian yang sedang mengikat dasi setelah dia selesai di rias. Dia meraih dasi itu dan memasangkannya sambil bicara dengan nada yang manja disertai senyum menggoda sang suami
"Tentu saja aku ingat. Istriku ini terlalu cantik sampai-sampai para pria tidak berhenti berusaha mendapatkannya. Padahal saat itu semua orang harusnya sudah tahu kalau kamu itu milikku karena aku sering sekali menjemputmu" Lian melingkarkan tangannya di pinggang Cheva dan menariknya kedalam pelukannya
"Itu karena kak Lian terlalu diam dan mereka mengira kalau kak Lian akan mudah mengalah dan membiarkan mereka mendekatiku"
"Biarkan saja mereka berpikir aku mudah. Karena saat lawan kita lengah, itu akan jadi pekerjaan mudah untuk membereskannya" Lian mengecup lembut pipi Cheva
"Kak Lian ..."
Tok tok tok
Cheva dan Lian dikejutkan dengan suara ketukan pintu yang keras berkali-kali
"Mami, papi cepat! Semua sudah berkumpul di bawah" Kenzie mengetuk pintu dengan keras sambil berteriak memanggil Cheva dan Lian
"Iya. Kami akan segera turun. Ayo kak kita turun! Bisa-bisa nanti Kenzo mendobrak pintu kamar kita karena Kenzie tidak berhasil membuat kita turun!" Cheva dan Lian pun keluar dari kamar mereka dengan saling bergandengan tangan
Dilantai bawah semua orang sudah menunggu calon mempelai wanita turun.
Radit duduk dengan santai bersama Lathan di sebelahnya. Tuxedo putih dengan dasi kupu-kupu hitam membuatnya terlihat gagah. Rambut hitam yang ditata klimis membuat Radit terkesan elegan dan semakin dingin
"Wow, kamu terlihat tampan sekali Dit. Tapi sayang, wajah datarmu itu membuatnya semakin terkesan dingin" Cheva menggoda Radit begitu dia melihatnya
"Jangan mulai mengajakku berdebat! Ini hari bahagia jadi jangan merusak suasana!" Jawab Radit dengan nada bicara yang dingin
"Haah ... justru kamu yang merusak suasana dengan sikapmu itu. Kamu selalu mengatakan kalau kak Lian dan Kenzo memiliki wajah tanpa ekspresi, tapi kamu juga tidak sadar kalau kamu memiliki sikap yang sama dengan mereka" Cheva menghela napas panjang melihat sikap Radit yang tetap dingin seperti dulu
"Mami jangan bandingkan aku dengan om Radit. Aku tidak sama dengannya" Kenzo menyela dengan sikapnya yang sama-sama dingin
"Mami, sebaiknya mami lihat apa pengantin wanitanya sudah siap atau belum!" Kenzie berusaha mencairkan suasana dengan nada bicaranya yang tenang dan senyum yang ramah
"Kamu benar Zie, mami akan ke kamar Diandra sekarang!" Cheva langsung berbalik dan berjalan menuju kamar yang digunakan oleh Andra dilantai atas
Tok tok tok
"Masuk!"
Cheva langsung masuk setelah mendengar izin dari seseorang di dalam. Disana terlihat Andra yang duduk di depan meja rias mengenakan gaun pengantin putih yang simpel namun anggun. Penata rias sedang merias wajah cantik Andra dengan menggunakan riasan yang natural namun membuat wajah Andra terlhat lebih segar
"Wow, kamu cantik sekali"
"Kak Cheva ..."
Cheva berjalan masuk mendekati Andra yang masih berias. Dia duduk di dekarnya dan melihat tangan Andra yang bergetar. Sepertinnya dia sangat gugup
'Kamu tidak perlu takut. Aku yakin Radit bisa membuatmu bahagia" Cheva meraih tangan Andra dan bicara dnegan lembut padanya
"Aku kenal semua saudaraku. Apalagi aku dan Radit sudah bersama sejak kami masih sekolah. Meskipun dia bersikap dingin dan menyebalkan, tapi Radit adalah ornag yang penyayang. Aku yakin alau dia juga akan memperlakukanmu dengan baik dan membuatmu bahagia" Cheva tersenyum lembut berusaha menenangkan dan meyakinkan Andra
"I-iya" Andra menundukkan kepala dengan sedih "Saat dia melamarku, dia mengatakan akan menjadikan aku ratu di dunia ini. Tapi aku tidak mengerti apa maksdunya itu, karena saat itu aku tidak tahu siapa kak Radit sebenarnya. Dia juga bilang kalau aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan dan aku bisa dapatkan apapun yang aku mau di dunia. Apakah dia tidak takut kalau nanti aku akan jadi serakah?" Andra bertanya dengan senyum manis dibibirnya
"Hahaha. Dengarkan aku, saat kamu menikah dengan Radit maka kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Kusuma. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau. Aku yakin kalau kamu bukan tipe orang yang serakah. Karena kamu juga pasti tahu, selalu ada istilah 'sebab dan akibat' dari setiap tindakan yang kamu ambil"
"Iya kak, aku mengerti. Terimakasih kak"
Cheva mengangguk dengan senyum lembut di bibirnya "Ya sudah sekarang kita turun. Semua orang sudah menunggu dibawah"
"Baik"
Cheva dan Andrapun berjalan keluar dari kamar dan menuruni tangga untuk menemui yang lainnya
"Lihat! Itu mereka turun" Risha menunjuk kearah tangga dengan senyum ceria dan membuatnya terlihat semakin cantik. Seketika semua menoleh termasuk Radit.
Radit tertegun melihat Andra. Dia terpaku menatap Andra yang menuruni tangga dengan gaun putih dan riasan pengantinnya. Dia sama sekali tak berkedip saat menatapnya
"Papi, matamu hampir saja keluar"
"Ah"
Radit langsung mengalihkan pandangannya dari Andra dengan wajah merah setelah Lathan menggodanya
"Kenapa om Radit diam saja? Om Radit tidak menyambut mempelai wanitanya?" Ujar Kenzie karena Radit diam saja
"Tentu saja aku akan melakukannya" Radit mulai berdiri dari duduknya dan menghampiri Andra. Dia mengulurkan sebelah tangannya ketika Andra menuruni anak tangga terakhir
"Kamu sudah siap, calon pengantinku?"
Kata-kata Radit yang lembut dengan senyum tipis membuat Andra malu, dan dengan wajah merahnya dia mulai meraih uluran tangan Radit
"Bagaimana ini? Jantungku berdegup kencang. Rasanya seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Apa kak Radit juga bisa mendengarnya ya? Apa yang akan terjadi jika kak Radit mendengar detak jantungku juga? Bukankah dia hanya ingin menjadikanku ibu untuk Lahan tanpa membuatku terlibat dengan kisah cintanya? Haah, aku bisa gila sendiri setiap berpegangan tangan dengannya. Jantungku akan berdegup kencang seperti sekarang. Apa aku bisa melalui hari-hariku dengan sehat setelah kami menikah nanti?" Andra terus memikirkan mengenai apa yang akan terjadi dan juga jantungnya yang terus berdegup kencang sejak dia pertama kali melihat Radit
"Apa kamu sangat gugup? Kenapa ekspresimu sangat aneh seperti itu?" Radit bertanya dengan tatapan yang lembut
"Ti-tidak. Eum, hanya sedikit" Andra menunjukkan senyum yang dipaksakan dan mengatakan hal yang berbeda dari apa yang dia pikirkan "Tentu saja aku sangat gugup. Kamu pikir apa?"
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Yudha dengan tenang
"Tentu kek" Akhirnya semua bergegas pergi menuju KUA untuk mendaftarkan pernikahan Radit