Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.
Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?
Conquer me ~》Taklukan aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21🩷 Stalkerin kamu
Rifal melajukan motornya bersama Gilang pada awalnya, memancing keributan di balik pagar yang menarik atensi orang-orang disana.
Salah seorangnya masuk ke dalam rumah mungkin untuk melaporkan jika Rifal dan Gilang berada di luar, sementara Rama dalam perjalanan menyusul.
"Mau ngapain Lo bang sat...setor nyawa, ha?!" tanya salah satunya menatap Rifal dan Rifal mendengus. Namun dari belakang mendadak serbuan motor datang bersama Rama yang baru saja sampai, "nunggu apa Lo, Fal? Lang? Sikat aja!" seru Rama dengan wajah yang sudah keruh menatap dengan sorot tajam.
Rifal kemudian melajukan lagi motornya dengan kaki yang ia acungkan ke depan, brakkk! Kakinya itu mendorong pagar besi tak terkunci masuk bersama yang lain, "sikatt!" teriak Gilang.
Rifal lantas mengeluarkan Geer motor dan mengacungkannya lalu turun dari motor menyambar salah seorang diantara mereka.
Srekk! Ia ayunkan itu tepat ke arah wajah dan tangan lelaki yang ada di depannya, hingga ia terluka, "mam poss setan." Ia kembali menyerang dan memba biii buta, sementara Rama kini sudah mendorong pintu dan masuk.
Polisi yang ikut pun, cukup kewalahan mengkoordinasi anak-anak ini. Lantas mereka lebih memilih fokus masuk dan menyelamatkan Nara terlebih dahulu bersama Rama. Tak expect pula jika selevel anak remaja bisa se-kriminal ini.
Sementara di lain tempat...
Dea menjerit-jerit dan memeluk lengan sampai pinggang mas Huda, saat dengan sengaja kedua kakanya usil menarik Dea untuk mendekat diantara puluhan rusa.
"Mamaaa!"
Fani tertawa renyah, dan memotret itu. Hobinya memang fotografi, bahkan beberapa kali ia sering memasukan jepretan fotonya ke festival atau ajang dan kompetisi tertentu. Termasuk saat ini, liburan setitik sambil tunangan ini beberapa momentnya ia masukan ke postingan dan galeri album media sosialnya dan men-tag orang-orang di dalamnya, tak terkecuali Dea.
Foto Dea dengan kondisi setengah badannya di dalam air ia potret dari belakang, dimana punggung mulus itu dililit tali spageti dari bikini di bagian tengkuknya sembari sedikit menoleh ke belakang karena Fani memanggil namanya #adik ipar kesayangan😍. @Deanada Kharisma.
Ia kembali memosting foto kali ini #sehat selalu kesayangan 😍 #Deanada Kharisma#Elok Prajata#kapt. Nuhuda Erlangga🩷
"Jangan sampai mampusss Ian!" Rifal menarik Vian saat dengan kalap menghajar keroyokan bersama yang lain.
"Bang sat emang! Mam poss Lo." Sebelum nantinya justru mereka yang akan di jebloskan ke bui, Rifal menghentikan Vian. Mereka yang sudah babak belur lantas di seret dan di ikat satu persatu, dengan bantuan pihak kepolisian.
Benar, Inggrid yang menangis bersama luka di wajahnya bekas kekerasan yang dilakukan Kenzi padanya itu digiring pula oleh polisi. Jika sudah begini, ia bisa apa? Menatap teman-temannya pun tak sanggup. Berurusan dengan hukum, ia merasa seperti tertampar ucapan Dea kemarin, ucapan Gibran dan Willy.
"Abang!" Nara memeluk kakaknya. Miftah masih bicara dengan pimpinan penyergapan yang merupakan kakak dari teman kampus dan sudah mengenal akrab, seringnya karena acara demonstrasi mahasiswa yang berada di bawah koordinasi Miftah sebagai presiden mahasiswa.
Sore, Dea kembali berpikir beberapa kali sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengaktifkan nomornya.
"Ini nanti kalua jeruk, strawberry, permen susu sama teh celup aroma kasih buat oleh-oleh Inggrid, Gibran, sama Willy, De...oh iya, Nara sama siapa kemaren teh?"
"Rifal." Jawab Dea diangguki mama.
Dea menganga dibuat speechless. Saat angka panggilan tak terjawab dan notifikasi pesan menyerbu, mulai dari nomor yang belum tersave, Nara, Inggrid, Gibran, Willy.
+6289206253749
De, ini gue Rifal.
Dea, bisa angkat telfon gue?
Narasheila
Dea, please tolong gue.
10 panggilan tak terjawab.
Dan ketiga lainnya, yang menanyakan kabarnya terlebih saat.
Gibran
De, Ing masuk kantor polisi. Ini gue sama Willy mau nyamperin. Rencananya sama Kenzi berantakan, diobrak-abrik anak MIPA 3 sama backingannya. Ini gue sama Willy jadi saksi, bahkan....status gue sama Willy jadi terduga 😔 karena ikut terlibat nganter Nara ke mall kemaren.
"Ma!"
Belum Dea bicara, mama baru saja mengakhiri panggilannya dengan tante Silvi, mama Gibran.
Mama langsung memeluk Dea, "ya Allah, kenapa bisa jadi gini, De? Kamu tau? Kamu ngga ikut-ikutan kan? Mama..." kembali mama memeluk Dea sambil berkali-kali melihat wajah Dea.
Dan Dea tau, saat ia memutuskan untuk menjauh, itu adalah keputusan yang tepat.
"Kenapa ma? Ada apa?" tanya papa, bahkan Elok dan Huda turut bertanya.
Dan tentu saja, Dea ikut-ikutan disemprot setelah mama menyampaikan kabar dari mama Gibran, "untung kemaren kamu ikut kesini. Kalo ngga udah ikut-ikutan ini anak..."
"Inggrid yang anaknya Bu Fadya?"
Mama mengangguk, "ngga nyangka aja. Saban waktu ke rumah, tiap-tiap main, berangkat sekolah bareng Dea."
"Jujur, kamu tau apa yang dilakuin mereka, De? Itu udah masuk tindakan kriminal. Dimana sih otaknya mereka, astaga!"
Dea hanya bisa menggeleng masih dibuat syok, bahkan reaksi keluarganya yang kentara sekali kecewa, tak menyangka pada Inggrid pun membuat Dea semakin memantapkan hati untuk memutar arah haluan, gimana kalo mereka tau, gue selama ini sering ikut-ikutan bully orang?
"Udah. Selulusnya nanti ngga usah mikir dua kali, coba masukin nama ke UGM, temen kaya gitu toxic, Dea." Bukan hanya papa, namun mas Huda pun ikut-ikutan bersuara.
Namun mama, ia tak bisa sekonyong-konyong menyuruh Dea menjauhi ketiganya. Ia menatap Dea yang terlihat kebingungan itu.
Bagaimanapun, ia sangat paham, jika Inggrid, Gibran dan Willy adalah teman pertama Dea disini. Sudah hampir 3 tahun mereka melalui suka duka bersama, menemani jika Dea sakit ataupun lelah. Tak akan mudah meninggalkan begitu saja. Terlebih mereka tinggal berdekatan.
Dea sampai di rumah, dimana blok rumahnya nampak sepi. Terang saja, Dea baru sampai di rumah saat malam menjelang.
**Rifal**
*Sorry baru bales. Gue baru sampe di rumah. Baru aktifin hape*.
Dan untuk sisanya, Dea mengurungkan niatannya membalas pesan Nara, Willy, Gibran dan Inggrid. Biar saja nanti bertemu.
Rifal, ia sedang merebahkan badannya di kursi di basecamp. Tak ada yang ia lakukan saat itu selain dari belum mau pulang. Ia hanya akan pulang jika waktunya tidur saja.
Iseng-iseng tangannya membuka sosial media dimana awalnya ia hanya ingin membuka lembaran memori tentang mama dan kebahagiaan yang sempat ia rasakan dulu namun mendadak di berandanya muncul sebuah pembaruan postingan yang di re-post.
**Deanada Kharisma**
Sebuah foto dimana punggung semulus marmer dan seputih susu itu tengah berada di kolam yang uapnya naik. Nampak visual cantik. \# *adik ipar kesayangan* \# **Raifani Janggrana**
Dengan ratusan like dan komentar yang memuji, banyak diantaranya adalah teman sekolah, dan beberapa akun pengikutnya yang tak Rifal kenal.
Ada reaksi dari mata dan bibir Rifal melihatnya, tak puas...ia menslide gambar selanjutnya dimana masih sesi repost foto dari seseorang bernama Fani itu, oke Rifal kini tau akun Fani itu adalah calon kakak ipar Dea.
Kini Rifal tak bisa untuk tak tersenyum melihat betapa bahagianya Dea disana, sosok Dea yang ia kenal di belakang layar. Sosok Dea yang hangat nan polos. Dan tunggu....haruskah ia merasa bangga, sebab ada bagian dari dirinya juga disana, diantara tawa dan senyum Dea bersama kedua kakaknya. Kupluk pemberiannya yang Dea pakai.
Hingga refleks, tangannya menekan tanda love, "eh." lirihnya membuat beberapa penghuni disana menoleh, "kalah push rank, Fal?"
Rifal mengangguk.
**Ting**.
Pesan yang tak diduga-duga datang menyambangi. Membuat alisnya bergerak geli, dan ledakan semangat membuat hatinya ikut merasakan adrenalin yang memacu.
*Bales, jangan, bales, jangan*? ***Jangan***. Rifal mengangguk
**Deanada**
*Oh. Sekarang gimana kondisi kamu, udah sehat? Besok sekolah*?
Namun Rifal menggeleng, karena ia langsung menekan tombol, *memanggil*.
.
.
.
.
dea harus bangga atau sedih ya dapat cinta brutal dr bedboy