NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat / Putri asli/palsu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ia Tidak Boleh Lemah

Melihat ketakutan yang terpancar jelas di mata Manda, senyum Salma justru semakin lebar.

Manda sudah tidak tahan lagi. Ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.

Dengan alasan sakit kepala, ia kabur menaiki tangga secepat kilat, meninggalkan kehangatan ruang keluarga yang kini terasa membakar hatinya.

Sesampainya di kamar, Manda mengunci pintu dan bersandar lemas. Kamarnya mewah bak istana putri raja, tapi rasanya kosong.

Riko tidak mau membantunya, dan orang tua angkatnya kini lebih memuja Salma.

Manda menggigit bibir, rasa iri dan takut kehilangan status membuatnya gelap mata. Jika ia diam saja, suatu hari nanti ia pasti akan terbuang.

Aku nggak akan melepaskanmu, Salma... batinnya geram.

Sebuah ide nekat tiba-tiba melintas di benaknya.

Rencana yang berbahaya, tapi ia tak punya pilihan lain.

Sementara itu di lantai bawah, Seno Tanudjaja sedang heboh sendiri.

Ia mengusir Bi Surti dari dapur demi memasak makan malam spesial untuk putri kandungnya tercinta.

Salma hanya bisa menggeleng pasrah melihat tingkah ayahnya, lalu memutuskan untuk naik ke kamar.

Berduaan dengan Riko di ruang tengah membuatnya mual.

Baru saja ia hendak berdiri, suara berat Riko menahannya.

"Salma, Kakak perhatikan... sepertinya kamu nggak suka sama Kakak ya?"

Salma tertegun.

Apa aku terlalu jelas menunjukkannya?

"Nggak kok, Kakak mikirnya kejauhan," elak Salma dengan senyum palsu terbaiknya.

Riko menghela napas, menatap Salma dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Kalau bisa memilih, Kakak juga pengen tetap di Indonesia. Kakak sebentar lagi bakal balik ke luar negeri.

Nanti kalau ada yang berani bully kamu lagi, bilang sama Kakak. Biar Kakak yang urus."

Salma menahan diri untuk tidak mendengus.

Ia tahu betapa liciknya Riko. Jika ia menolak mentah-mentah, pria itu pasti curiga.

"Oke, makasih ya, Kak."

"Ngomong-ngomong, liburan ini kamu mau ke mana?

Kakak bisa temani," tawar Riko, mulai memainkan peran kakak idaman.

"Papa udah janji mau ngajak liburan sekeluarga.

Kakak jangan rebut jatah Papa dong," tolak Salma halus tapi tegas.

Riko terkekeh pelan.

"Ya sudah. Tapi ingat satu hal, Salma. Jangan coba-coba pergi clubbing atau ke tempat hiburan malam.

Itu bukan tempat buat gadis baik-baik. Kalau ketahuan, Kakak nggak akan maafin kamu."

Nadanya terdengar lembut, tapi ada ancaman terselubung yang membuat bulu kuduk Salma meremang.

"Iya, Kak..." Salma memasang wajah manja yang dibuat-buat, "Salma naik dulu ya, mau mandi."

Begitu pintu kamar tertutup di belakangnya, Salma merosot lemas. Punggungnya basah oleh keringat dingin. Berhadapan dengan Riko rasanya seperti duduk di sebelah ular berbisa yang siap mematuk kapan saja.

Ia sadar, ia masih terlalu lemah untuk melawan Riko sekarang. Ia harus memanfaatkan waktu selama Riko belum kembali menetap di Indonesia untuk memperkuat dirinya.

Ting!

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Aksa masuk tepat waktu, mengusir kegelisahannya.

Aksa: Sayangku Salma, kangen aku nggak?

Salma mendengus geli, pipinya memanas.

Salma: Sayangku Salma? Nama asliku kurang bagus apa?

Aksa: Itu panggilan sayang khusus dariku.

Salma: Kalau gitu aku panggil kamu Aksa Kecil?

Di seberang sana, Aksa hanya bisa menatap layar ponselnya dengan wajah datar.

Gadis ini benar-benar...

Liburan semester resmi dimulai. Salma tidak membuang waktu untuk bersantai, ia langsung mendaftarkan diri ke sanggar bela diri milik Pak Rahmat.

Yoga Baskara, pengawal pribadi yang ditugaskan melindunginya, menatap Salma dengan skeptis.

"Nona Manja mau belajar beladiri?" cibir Yoga. "Yakin bisa tahan?"

Salma melirik sinis.

"Gimana kalau kita taruhan? Kalau aku tahan latihan sebulan penuh, Kak Yoga harus kasih aku satu mobil dari koleksi Kakak, tapi kalau aku nyerah, aku beliin Kakak Ferrari keluaran terbaru."

Mata Yoga langsung melotot.

"Serius? Ferrari?"

"Seribu persen."

"Oke, deal! Jangan nangis ya nanti," Yoga menyeringai lebar, merasa kemenangan sudah di depan mata.

Aksa yang berdiri di samping mereka hanya diam, bersedia menjadi saksi dengan wajah datar.

"Kalian pagi-pagi udah ribut," suara serak khas orang bangun tidur terdengar.

Rara Rahmat muncul sambil menguap lebar.

"Yah, namanya juga manusia, beda kasta sama kebo yang kerjanya tidur doang," celetuk Yoga dengan mulut pedasnya.

Suasana hening seketika.

Salma dan Surya, teman Yoga, kompak mundur tiga langkah. Yoga benar-benar cari mati.

Rara yang tadinya mengantuk langsung melek total. Ia berjalan menghampiri Yoga, mendongak menatap pria jangkung itu dengan tatapan membunuh. "Ngomong apa lo barusan?"

"Gue bilang kebo," jawab Yoga enteng.

Satu detik kemudian, teriakan histeris Yoga menggema di seluruh sanggar. Rara tidak main-main. Gadis itu menghajar Yoga habis-habisan tanpa ampun.

Tiga menit kemudian, Yoga sudah terkapar di lantai dengan lebam biru di wajah gantengnya.

"Cuma segini doang? Lemah," cibir Rara sambil menepuk tangannya.

Yoga meringis, harga dirinya hancur lebur. Surya membantu temannya berdiri sambil menahan tawa.

"Sialan, liat aja nanti," umpat Yoga. Matanya kemudian menangkap sosok Aksa yang tampak tenang-tenang saja.

Merasa butuh pelampiasan, Yoga menatap Aksa nyalang. "Apa lo liat-liat? Mau berantem?"

"Nggak level lawan pecundang yang kalah sama cewek," jawab Aksa santai.

Darah Yoga mendidih. Tanpa aba-aba, ia melayangkan tinju ke arah Aksa. Namun, Aksa menghindar dengan gerakan luwes seolah sedang menari, lalu dalam sekejap mata, Yoga kembali mencium lantai.

Kali ini wajahnya benar-benar bengkak tak berbentuk.

"Udah dibilangin ngeyel," ledek Aksa.

Pak Rahmat yang baru datang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kekacauan itu.

"Sudah! Mulai hari ini, kalian semua temani Rara latihan kuda-kuda!"

Hari-hari berikutnya adalah neraka dunia bagi Salma.

Latihan kuda-kuda berjam-jam membuat kakinya gemetar hebat.

Naya Wardhana, sudah mengeluh ratusan kali, tapi Salma tetap bertahan.

Setiap kali rasa sakit itu datang, bayangan kehancuran keluarganya di kehidupan lalu menjadi bahan bakarnya.

Ia tidak boleh lemah.

Melihat kegigihan Salma, Pak Rahmat yang awalnya meremehkan kini mulai kagum.

Sementara Manda yang mendekam di rumah semakin panas dingin.

Salma yang pulang dengan tubuh remuk redam setiap hari justru terlihat makin bersinar.

Manda merasa posisinya makin terancam.

Ia harus bertindak.

Suatu sore, Manda menghampiri Salma di ruang tengah dengan wajah semanis madu.

"Salma, aku mau minta maaf soal kejadian dulu," ucap Manda dengan mata berkaca-kaca, akting kelas oscar.

"Aku sadar aku salah. Aku janji bakal berubah.

Tolong kasih aku kesempatan, ya?"

Salma menatap Manda datar.

Tumben. Pasti ada maunya.

"Aku butuh waktu, Kak," jawab Salma dingin.

"Aku ngerti," Manda tidak menyerah. "Eh, aku baru belajar masak udang balado. Kamu mau cobain?

Masakan rumahan kok."

Salma pura-pura ragu, lalu mengangguk.

"Boleh deh."

Manda bergegas ke dapur.

Salma tersenyum miring.

Ia tahu persis apa yang diinginkan Manda.

Sebentar lagi ulang tahun Farel Barata, dan Manda pasti butuh "kendaraan" untuk bisa hadir di pesta itu tanpa rasa malu.

Tak lama, Manda kembali dengan sepiring udang yang menggoda. Salma memakannya dengan lahap, membiarkan Manda merasa menang sejenak.

"Enak, Kak! Nggak nyangka kamu jago masak," puji Salma.

"Makasih," Manda tersenyum malu.

"Ngomong-ngomong, Kak..." Salma meletakkan sumpitnya, menatap Manda dengan tatapan polos.

"Menurutmu Farel Barata itu orangnya gimana?"

Manda tersentak.

"Farel? Dia... baik. Bertanggung jawab."

"Kakak naksir dia ya?" tembak Salma langsung.

Wajah Manda memerah padam. "Apaan sih, Salma..."

"Jujur aja kali, Kak. Kelihatan banget lho. Farel itu cowok paling oke di sekolah. Sayang banget kalau sampai diambil orang lain."

"Tapi... kayaknya dia sukanya sama kamu deh, Salma," cicit Manda, menyuarakan ketakutan terbesarnya.

Salma tertawa renyah.

"Dia nggak suka aku, Kak. Dia cuma penasaran karena aku nggak pernah nanggepin dia.

Percaya deh, cowok kayak Farel itu butuh cewek yang perhatian dan lembut, kayak Kakak. Kalian kan sering kerja bareng di OSIS."

Manda mulai termakan omongan Salma.

"Masa sih?"

"Iya! Cewek itu harus pinter-pinter memancing. Jangan nunggu ditembak, tapi bikin dia nggak bisa lepas. Kakak harus lebih agresif dikit. Ulang tahun dia lusa kan? Itu kesempatan emas lho."

Salma melihat kilatan ambisi di mata Manda. Umpannya berhasil.

Manda yang gengsian tapi haus validasi pasti akan melakukan apa saja untuk mendapatkan Farel, dan Salma dengan senang hati akan menjadi penonton di barisan paling depan saat drama itu meledak.

"Makasih ya, Salma," ucap Manda tulus, ketulusan yang didasari oleh harapan palsu.

"Sama-sama, Kak. Semangat ya!" Salma tersenyum manis, sangat manis hingga terasa mengerikan.

Keesokan harinya di tempat latihan, Salma kembali berdiri dalam posisi kuda-kuda dengan baskom air di kepalanya. Kakinya gemetar, tapi tatapannya lurus ke depan.

"Sakit pinggang gue..." keluh Naya di sebelahnya. "Tau gini mending gue liburan ke Bali."

Salma tidak menoleh.

Keringat menetes dari pelipisnya.

"Pondasi itu segalanya, Nay. Kalau lo mau kuat, lo harus bisa nahan rasa sakit ini. Pak Rahmat jadi juara dunia bukan karena santai-santai."

1
Erchapram
Bagus sekali
sahabat pena
aksa terlalu lambat.. sdh tau ada barang bukti bukan di serahkan ke kantor polisi atau di viral kan. jd di manfaat kan sama rival nya pak rahmat kan? untuk menjatuhkan pak rahmat
mom SRA
pagi thoor
INeeTha: Pagi kaksk🙏🙏🙏
total 1 replies
kriwil
harusnya manda yang kejebak sama laki laki lain atau sama riko sekalian biar hancur nya tambah seru
Kembae e Kucir
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kriwil
apa di sekolahan ini ga ada guru dan kepala sekolah ,sampai tentang soal ujian di bobol maling yang maju hanya sosok ketua osis 😄
mom SRA
pagi thor
kriwil
seno itu dapat anak pungut sezan dari mana ya😄
kriwil
awal mula seno mungut siluman ular itu knp ya
mom SRA
mpm thor
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Diah Susanti
thor, buat tanudjaja, kalo si manda cuma anak pungut, biar dia merasakan dibully 1 sekolahan.
mom SRA
malem thor
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
ealah moduse kang Aksa, lancar kayak jalan tol bebas hambatan
penampilan cupu ternyata suhu 😂
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Diah Susanti
ini apa hubungannya dengan rahasia manda? apa karena cucu orang hebat makanya mudah dapat info? 🤔🤔🤔🤔
Diah Susanti
padahal bolu pisang enak lho, aq suka tak bisa bikinnya/Grin//Grin//Grin/
mom SRA
seru critanya.... semangat thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!