Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.
Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!
Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Bangun dari tidur panjang.
Dari balik jendela besar, cahaya mentari pagi menyusup ke dalam kamar. Kehangatannya menerpa pelupuk mata yang masih terpejam. Sang pemilik jiwa yang letih pun akhirnya terusik dari tidur panjangnya.
"Hoaaa ... mmm!!!"
Kusek ... kusek (suara mata dikucek).
"Jam berapa ini!?" serunya setengah sadar sambil merenggangkan tubuh ke udara.
Tubuhnya dalam posisi duduk di matras. Serasa mimpi dan rasa sakitnya yang seharian dirasa, menghilang tanpa jejak. Dia serasa bangun dari tidur panjang karena kelelahan. Netranya refleks mencari jam dinding di seputaran tembok ruangan. Namun nihil.
"Astaghfirullahalazimmm!!! Sudah siang rupanya. Aku lupa sholat subuhhh!" pekiknya kaget sambil turun dari peraduan dengan tergesa-gesa.
Rembulan pun turun dari dipan. Matanya memindai ke seluruh ruangan mencari pintu. Dia pun segera berlari menuju pintu yang diyakini pintu keluar-masuk. Niatnya mencari toilet. Rembulan membuka pintu dan sekarang berada di lorong yang sangat panjang dan bangunan sangatlah luas. Bulu kuduknya seketika meremang. Dia belum paham akan situasi yang terjadi mendapati ruangan yang luas dan banyak pintu di kanan-kiri dan suasana sangatlah sepi. Tak ada suara dan aktivitas manusia!
Dia kembali memasuki kamar. Tanpa bertanya apapun pada dirinya, dia segera merunduk ke arah lantai putih guna melakukan tayamum dengan cara menempelkan telapak tangan ke lantai guna menangkap debu yang menempel (walaupun tak ada sebutir pun). Tayamum (dalam ajaran Islam) sebagai pengganti air (karena dia terburu-buru, tak melihat toilet di ruang tersebut dan takut keluar ruangan) sebagai syarat sholat. Tanpa berwudhu atau bersuci dengan air dan debu maka tidak sah sholat seorang muslim.
Dia berdiri di sisi dipan dengan tubuh tegak lurus menghadap jendela guna menunaikan ibadah wajib bagi umat muslim yang sempat tertunda sebanyak dua rakaat sunnah dan dua rakaat wajib sebagai pamungkasnya (dirinya belum tahu arah kiblat, maka bila seorang muslim tidak tahu petunjuk kiblat, bisa menghadap ke sembarang arah). Kalau sudah mengetahui arah kiblat maka tidak boleh sembarang menghadapkan wajah.
Dia tunaikan selama lima belas menit, walaupun tanpa perlengkapan sholat, sebagaimana mestinya. Di akhir sholat, dirinya pun berdoa dengan khusuk, sebagai perwujudan rasa syukur telah diberikan nafas serta badan sehat tak kekurangan satu pun (tidak cacat).
"Yang penting, hati kita, menghadap-Nya! Untuk arah kiblat yang benar, nanti dicari tahu pada perawat disini!" batinnya dengan lega seperti terbebas dari beban.
Gadis ini menyangka, bangunan ini adalah rumah sakit besar dengan fasilitas mewah untuk para sultan!
Sebenarnya subuh sudah lewat dan cahaya di luar sudah terang tapi dia ketiduran dan diperbolehkan menunaikan sholat, menurut yang dia pelajari.
"Tapi ... ehhh dimana ini!?" ucapnya setelah menunaikan kewajibannya dan kesadarannya kembali sempurna demi menyadari dirinya berada di sebuah ruangan besar.
Tubuhnya duduk di pinggir dipan. Kedua netranya yang bulat, memindai seisi ruangan.
"Loh bukannya semalam aku terbaring di dasar jurang karena dilempar dari ketinggian!" batinnya gamang.
"Ini!? Kepalaku baik-baik saja!" ucapnya sambil meraba belakang kepalanya guna mencari luka sebagai bukti bahwa dirinya terluka. Namun tak ditemukan jejak bekas luka.
Dirinya baru tersadar bahwa dia bisa berdiri dan berjalan. Seingatnya, kakinya tertimpa pintu mobil yang berat, yang terlempar akibat benturan keras dan menimpa kedua tungkainya. Kakinya tidak bisa digerakan dan dia berkeyakinan kedua kakinya lumpuh total.
"Aku bisa berjalan! Aku tidak sedang bermimpi, kan!?" pekiknya sambil menepuk keras kedua pipinya bolak-balik.
"Ouchhhh! Sakit!" ringisnya.
"Rupanya aku sedang tidak bermimpi!" serunya gembira.
Dirinya merasa baru bangun dari tidur panjang, bukan bangun dari sakit. Dia pun berdiri seraya menggerakkan tubuhnya, yang terasa kaku, ke kanan dan ke kiri, sekaligus menguji apakah ada tubuh yang sakit atau organ dalam yang nyeri.
"Tidak ada luka dan tidak sakit!" monolognya takjub begitu selesai melakukan peregangan tubuh.
Bagaimana pun lukanya begitu parah. Dirinya merasakan, darahnya seperti tersedot keluar raga dan punggungnya basah, bukan oleh air tapi genangan darah kental. Dia teringat dan tidak bodoh. Sebagai manusia biasa, jatuh dari ketinggian securam itu, kalau tidak meregang ajal di tempat, minimal cacat seumur hidup dan saat ini terbaring koma untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.
"Alhamdulillah!"
Aneh bin ajaib!
"Aku masih hidup, sehat walafiat tanpa ada yang cacat. Minimal aku terluka dan menemukan perban. Dan ini ... tanganku normal padahal aku mendengar dan merasakan tulangku berderak patah dan tak merasakan apapun!" serunya berulang kali sambil meraba seluruh tubuh.
"Apa ada orang yang baik hati, menemukan aku dan membawaku ke rumah sakit ini dan dokter memberikan obat super mahal sehingga luka cepat sembuh!? Lantas, apa ini rumah sakit!?" ucapnya sambil mengamati sekeliling ruangan.
Rembulan merotasi bola matanya, melihat sekeliling yang tampak asing. Dia ternyata berada di sebuah kamar sangat besar. Plafondnya ada kemungkinan setinggi 10 meter. Begitu pun lebar bangunan dan tinggi, pasti lebih. Rumah sakit ini lengkap dengan segala perabotan kelas atas seperti matras besar super duper nyaman melebihi yang biasa dia pakai di kediaman Ambrosia.
Ada lemari besar dengan ornamen yang sangat indah (dihiasi dengan batu permata berkilau warna-warni) di kedua sisi. Meja-kursi, dipan, pintu, kusen pun berornamen yang seragam terbuat dari material mahal dan berkayu mahal. Begitu mendongak ke plafond, terdapat lampu gantung sangat besar, cahayanya berpendar terang berkilauan. Catnya dominasi warna putih tulang.
"Tempat apa ini!? Kalaulah iya, kamar rumah sakit sekelas VVVIP pun tidak akan semewah ini!" gumamnya masih mengagumi interior ruangan yang lebih megah dari mansion yang dia tinggali.
Tubuhnya yang terasa ringan, bangkit dari dipan ukuran doble king size (yang mungkin muat sepuluh orang), menuju jendela besar dimana penampakan pemandangan alam yang mempesona. Tangan halusnya meraba ornamen pinggiran jendela.
"Ini ... pasti batu permata asli karena oma memiliki perhiasan berhias permata seperti ini, di antara koleksinya, ada yang pernah dimiliki para puteri raja, ada yang dijual karena bosan, ganti model atau kesulitan finansial karena gaya hidup boros. Harganya pun selangit. Beliau memberikan beberapa kesayangannya padaku, jadi aku sedikit banyak mengetahui keaslian permata, terlihat dari kilauannya sangat cemerlang saat tersorot cahaya!" kagumnya berlipat ganda.
"Ck ck ck! Orang kaya raya aneh seperti apa yang menempelkan permata mahal di sekujur kusen jendela, pintu serta furnitur, rumah sakit pula!?" decaknya tak habis pikir.
Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat pemandangan menakjubkan dari balik jendela kaca sebening kristal. Bahkan saking beningnya, nyaris tak nampak. Bagaikan dibatasi air, bukan kaca, saking beningnya. Di depan matanya, tampak pemandangan hijau yang menghampar sejauh pandangan mata, bunga dan tanaman beragam dengan paduan warna yang serasi dan indah. Danau yang luas dengan kemilau biru, memantulkan warna langit bagaikan langit itu sendiri. Di atas rerumputan hijau, banyak burung dan mamalia kecil lainnya yang mencari makan. Pemandangan tersebut biasa dia lihat di tivi atau kebun binatang. Tidak dalam real life!
Sungguh! Nikmat Tuhan manalagi yang engkau dustakan, monolognya.
"Apa aku sudah ada di surga!" gumamnya takjub dan bibir bergetar.