melanjutkan perjalanan Lucyfer setelah kekalahan nya dengan Toma.
kini Lucyfer bergabung dengan kelompok Toma dan akan masuk ke ujian high magnus tapi memerlukan 2 orang tambahan.
setelah 2 slot itu di isi mereka kini menghadapi satu masalah akademi odler adalah musuh yang sulit dan tidak mudah di lawan.
arc ini juga memperkuat beberapa character
dan pertarungan masa lalu sang penyihir kegelapan yang bebas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berisik sekali semenjak ada nya Toma
Asrama Lucyfer – Akademi Sihir Agreta
Setelah kekacauan antara High Magnus dan HEPTA ORDER, malam di Akademi Sihir Agreta perlahan kembali tenang.
Di dalam Asrama Lucyfer, asrama khusus para bangsawan kerajaan, suasana justru terasa… terlalu tenang.
Lucyfer duduk di pangkuan Elviera, wajahnya masam namun pasrah, sementara Elviera dengan sabar menyuapinya dengan kasih sayang seperti ibu yang menyuapi anak nya.
Di sudut ruangan, Sylvara duduk tenang dengan tongkat sihir ungu nya yang selalu dia genggam, membaca buku tebal—topeng ungunya masih menutupi wajah seperti biasa.
Kedamaian itu pecah oleh suara kasar dari luar lorong.
“SRETTTT—!”
Suara sesuatu diseret dengan brutal.
Semua murid yang ada di lorong hanya bengong dan berbisik melihat tingkah itu.
“Hei murid itu aneh ya.”
“Benar, mereka mendorong kursi apa tidak keberatan ya?”
“Tunggu mereka bertiga akhir akhir ini di kenal karena mengalahkan Lucyfer ya.”
Di lorong akademi, Klee mendorong kasurnya sendiri, wajahnya penuh semangat.
Alven ikut mendorong kasurnya—dengan Toma bertengger di pundaknya.
“Ayo cepetan!” seru Klee sambil ngos-ngosan.
“Nanti keburu asrama nya dikunci oleh Lucyfer!”
“Berisik, woi,” gerutu Alven.
“Dan lu, Toma, ngapain duduk di pundak gue, sial?”
“Yaelah, tolongin dikit dong,” jawab Toma santai.
“Tubuh gue remuk semua gara-gara lawan kloning Lucyfer.”
Dalam Asrama Lucyfer
Lucyfer yang mendengar keributan itu langsung berdiri.
“Berisik sekali...”
Ia berjalan dan mengintip ke luar—melihat Klee, Alven, dan Toma semakin mendekat.
“—haaa,mereka kemari ini gawat sekali!"
BRAK!
Pintu di tutup Lucyfer dengan keras.
Lucyfer terengah-engah.
“Elviera!” katanya panik.
“Mana kunci asrama kita?!”
"Kita kedatangan orang aneh itu, cepat mana."
Elviera menunduk sopan dan menjelaskan apa yang terjadi.
“Tidak ada, Tuan Muda Lucyfer. Sudah saya buang.”
“HAA?!” Lucyfer terkejut.
“Kenapa kau buang?!"
“Anda sendiri yang memerintahkannya,”
jawab Elviera tenang.
“Karena stres setelah kekalahan, Anda menyuruh saya membuang semua barang tak berguna.”
“Dan… kunci asrama kita Anda masukkan ke kantong sampah dan itu semua atas perintah amda kemarin bukan."
Scene beralih kemarin
Lucyfer yang sedang merenung dan stres karena tak punya koin emas lagi karena kalah dari Toma—
Kini Lucyfer tak bisa menjalani ujian high magnus.
"Elviera... Elviera"bentak Lucyfer memanggil Elviera yang di panggil tak kunjung datang juga
Elviera berjalan dan menunduk ke Lucyfer.
"Ada apa tuan muda Lucyfer."kata nya
Lucyfer berkata dengan wajah kesal dan stres nya.
"Buang semua barang, aku sedang stres, jadi aku tak mau hancurkan barang dahulu."
Lalu Elviera memungut semua barang dan tanpa sadar membuang kunci pintu asrama.
Lucyfer ingat tapi hanya terdiam.
Mukanya langsung pucat.
Sylvara menutup bukunya, berdiri perlahan, lalu mendekat.
“Ada apa?” tanyanya dingin.
“Kenapa kau terlihat sangat tertekan… dan takut begitu jangan konyol Lucyfer."
Belum sempat Lucyfer menjawab—
KLIK—KLIK—KLIK
Gagang pintu digoyang dari luar.
Sylvara refleks menutup pintu lebih rapat, menarik napas panjang.
“Haaahh– Haahh– Hahhh.”
“Tahan pintunya.”
Elviera ikut menahan dengan satu tangan.
“Jangan biarkan mereka masuk.” ucap Lucyfer dengan panik
Lucyfer menahan pintu itu dengan panik.
Di luar, Alven menggoyangkan gagang pintu dengan ekspresi datar.
KRACK–KLICK
“Mereka nahan pintunya.” ucapnya.
“Alven, coba buka paksa Alven.” kata Toma.
“Eh, nanti disuruh ganti rugi gimana?” tanya Klee ragu.
Alven mendengus.
Ia menarik pintu dan membuat terpisah dari tembok.
KRAK—
Pintu terbuka, rupa nya pintu itu di tarik dari luar tapi Lucyfer, Elviera dan sylvara malah menahan nya dari dalam.
Lucyfer, Elviera, dan Sylvara terhuyung ke belakang.
Alven menatap mereka bertiga tanpa ekspresi.
Klee dan Toma hanya bengong.
“Kalian kurang,” kata Alven datar.
Lucyfer menoleh tajam.
“Kurang apa?”
“Kurang pintar.”
Beberapa Menit Kemudian
Asrama Lucyfer yang tadinya tenang berubah jadi medan perang bantal.
“Toma, gue lempar lu ya!” teriak Klee sambil melempar bantal.
“Rasain juga nih!” balas Toma, membalas lemparan.
Bulu bantal beterbangan ke mana-mana.
Elviera membersihkan ruangan dengan senyum lembut, seolah ini rutinitas biasa.
Sylvara kembali membaca buku—kali ini dengan sihir penyumbat telinga aktif.
Alven sudah tidur di pojok, tak peduli apa pun.
Lucyfer duduk diam, menatap kosong ke depan—
ke arah Klee dan Toma yang masih ribut.
Malam itu,
Asrama bangsawan paling elit di Agreta…
menjadi yang paling berisik.