cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEKANAN BATIN YG TAK TERLIHAT
BAB 35
BALAI DESA — PAGI
Pagi itu balai desa terasa berbeda.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada kepanikan.
Yang ada hanya wajah-wajah tegang dan suara kursi bergeser pelan.
Pak Kades berdiri di depan papan tulis. Di belakangnya, tertempel peta jalur distribusi baru—penuh coretan spidol.
“Sejak semalam,” katanya membuka rapat,
“kita tidak diserang. Tidak ada ular. Tidak ada preman.”
Beberapa warga mengangguk.
“Justru itu yang bikin saya nggak enak,” lanjutnya.
Pak Tirto mengangkat tangan. “Truk saya mogok dua kali, Pak. Bukan parah. Tapi aneh. Baru ganti oli minggu lalu.”
Pak Wirto menimpali, “Ban saya retak di bagian dalam. Nggak kelihatan dari luar.”
Ruangan mulai bergumam.
PAK DOSEN DEDEN ANGKAT SUARA
Pak Dosen Deden maju ke depan.
“Ini pola baru,” katanya tenang.
“Serangan mikro. Tidak menghentikan… tapi memperlambat.”
Ia menatap satu per satu.
“Kalau kita anggap remeh, kita akan kelelahan sendiri.”
Seseorang bertanya dari belakang, “Terus kita harus gimana, Pak?”
Pak Deden tersenyum tipis. “Kita lakukan hal yang paling mereka benci.”
“Apa itu?” sahut yang lain.
“Tertib dan transparan.”
Pak Deden menunjuk papan tulis.
“Kita dokumentasikan semuanya,” jelasnya.
“Mogok, keterlambatan, bengkel, suku cadang.”
“Kalau ada komponen salah,” lanjutnya,
“kita foto, simpan, lapor.”
Pak Kades mengangguk cepat. “Desa siap jadi pusat laporan.”
Bima yang duduk di sudut bicara, “Kalau mereka main halus, kita main terang.”
Eren menambahkan, “Jejak administrasi itu senjata.”
TIBA-TIBA — KETUKAN DI PINTU
Seorang staf desa masuk tergesa.
“Pak Kades,” katanya,
“ada surat.”
Pak Kades membuka amplop putih polos.
Wajahnya berubah.
“Inspeksi,” katanya pelan.
“Keselamatan kerja. Besok.”
Ruangan langsung sunyi.
Pak Tirto mengepalkan tangan. “Ini pasti ulah mereka.”
Pak Deden mengangkat tangan. “Tenang. Inspeksi bukan hukuman.”
Ia menatap Pak Kades. “Kita sambut.”
Bima tersenyum miring. “Kalau bersih, kita tidak takut.”
RUMAH MBAH KLOWOR
Sandi duduk bersama Mbah Klowor di beranda.
“Ada yang berubah,” kata Sandi.
“Udara desa berat.”
Mbah Klowor mengangguk. “Tekanan batin kolektif.”
Sandi menatap kejauhan. “Mereka mau bikin orang capek sebelum jatuh.”
Mbah Klowor tersenyum tipis. “Sayangnya… mereka lupa satu hal.”
“Apa?”
“Desa ini sudah terlalu sering jatuh.”
HARI INSPEKSI — PAGI BERIKUTNYA
Dua mobil dinas berhenti di depan rumah produksi Pak Tirto.
Petugas turun, membawa map.
“Inspeksi rutin,” kata salah satu.
Pak Tirto menyambut dengan tenang. “Silakan, Pak.”
Di dalam, pekerja tetap bekerja—teratur, rapi.
Dokumen sudah disusun.
Petugas saling pandang.
“Lengkap,” gumam salah satu.
DI LUAR — BIMA DAN EREN MEMANTAU
Eren berbisik, “Mereka berharap chaos.”
Bima mengangguk. “Dan tidak dapat.”
Laporan masuk.
“Inspeksi tidak menemukan pelanggaran signifikan, Tuan.”
Nakata diam.
“Dan jalur distribusi tetap jalan.”
Ia tersenyum… tipis.
“Bagus,” katanya pelan.
“Berarti kita sudah memaksa mereka naik level.”
Ia berdiri.
“Sekarang,” lanjutnya,
“kita uji loyalitas.”
Pak Kades menutup rapat.
“Kita lolos satu fase,” katanya.
“Tapi ini belum selesai.”
Pak Deden menatap semua orang. “Kalau ada yang didekati, diiming-imingi… lapor.”
Suasana hening.
Sandi berdiri di belakang, akhirnya bicara.
“Mereka tidak akan menyerang rame-rame lagi,” katanya tenang.
“Mereka akan mengetuk satu pintu.”
Semua menoleh.
“Dan pintu itu,” lanjut Sandi,
“bisa milik siapa saja.”
Di luar, angin malam bertiup pelan.
Tidak membawa suara ular.
Tidak membawa preman.
Hanya membawa pilihan—
yang akan menentukan siapa tetap berdiri
dan siapa mulai retak dari dalam.
DESA — SORE MENJELANG MAGRIB
Langit mulai menguning ketika sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari rumah Pak Tirto.
Mesinnya tidak dimatikan.
Tiga pria turun bergantian. Pakaian rapi. Sepatu bersih. Tidak tampak seperti preman—justru terlalu tenang untuk ukuran orang desa.
Salah satunya tersenyum sopan.
“Permisi, Pak Tirto,” katanya halus.
“Kami mau silaturahmi sebentar.”
Pak Tirto yang sedang duduk di teras, langsung berdiri. Istrinya, Bu Rini, melirik dari balik pintu.
“Silakan,” jawab Pak Tirto hati-hati. “Ada keperluan apa, ya?”
Pria itu memperkenalkan diri singkat. “Kami perwakilan mitra industri. Dari perusahaan… Pak Nakata.”
Nama itu jatuh seperti batu kecil ke air tenang.
Riaknya langsung terasa.
Mereka duduk berhadapan.
Teh disuguhkan, tapi tidak disentuh.
“Kami dengar,” kata pria kedua—berwajah licin dengan nada persuasif,
“usaha Bapak cukup stabil. Kualitas bahan bagus. Disiplin.”
Pak Tirto mengangguk pelan. “Kami hanya kerja sesuai kemampuan.”
Pria pertama tersenyum lebih lebar. “Itu sebabnya kami datang.”
Ia membuka map tipis, mendorong selembar kertas ke meja.
“Kontrak baru,” katanya.
“Harga dua puluh lima persen lebih tinggi dari yang Bapak terima sekarang.”
Bu Rini terkejut. “Sebesar itu?”
Pria ketiga—diam sejak tadi—akhirnya bicara. “Tunai. Tepat waktu. Tanpa ribet jalur desa.”
Pak Tirto menelan ludah.
KERAGUAN PERTAMA
“Tapi…” Pak Tirto menghela napas.
“Kami sudah kerja sama dengan PT. Korean Industry. Ada komitmen.”
Pria kedua tersenyum, seolah sudah menunggu kalimat itu. “Komitmen itu penting. Tapi keluarga juga.”
Ia menoleh ke arah rumah. “Anak Bapak sebentar lagi masuk kuliah, ya?”
Bu Rini langsung tegang. “Bapak tahu dari mana?”
Pria itu mengangkat tangan ringan. “Informasi umum. Desa kecil.”
Suasana mendadak berat.
Hampir bersamaan, mobil lain berhenti di depan rumah Pak Wiryo.
Istrinya, Bu Sari, sedang melipat kain di ruang tengah ketika pintu diketuk.
“Assalamu’alaikum.”
Pak Wiryo membuka pintu.
“Tamu?”
“Tamu baik,” jawab salah satu pria dengan senyum ramah.
“Kami ingin ngobrol soal masa depan usaha Bapak.”
DI RUANG TAMU PAK WIRYO
Kontrak dikeluarkan.
Angka-angka besar.
Pak Wiryo mengernyit. “Ini… terlalu tinggi.”
Pria itu tertawa kecil. “Bukan terlalu tinggi. Ini harga sebenarnya.”
“Pak Kim itu idealis,” sambung yang lain.
“Pasarnya sempit. Sementara Pak Nakata… global.”
Bu Sari menggenggam tangan suaminya. “Kita butuh uang, Pak.”
Pak Wiryo terdiam.
“Tidak perlu buru-buru,” kata pria pertama lembut.
“Kami beri waktu berpikir.”
Ia berdiri.
“Tapi perlu diingat,” lanjutnya sambil merapikan jas,
“jalur yang aman hari ini… bisa jadi tidak selalu aman.”
Pak Wiryo menatap tajam. “Itu ancaman?”
Pria itu tersenyum. “Nasihat."
Di rumah Pak Tirto, lampu dimatikan lebih awal.
Bu Rini berbisik, “Bagaimana, Pak?”
Pak Tirto memijat pelipis. “Uangnya besar. Tapi rasanya… salah.”
Di rumah Pak Wiryo, Bu Sari menangis pelan. “Kita capek terus ditekan.”
Pak Wiryo menatap langit-langit. “Kalau kita pindah… desa bisa goyah.”
RUMAH MBAH KLOWOR — MALAM
Sandi membuka mata dari semedinya.
“Gerakannya sudah masuk rumah,” katanya pelan.
Bima yang duduk di sampingnya mengangguk. “Mereka beli hati, bukan jalan.”
Mbah Klowor mengetuk lantai dengan tongkatnya. “Godaan selalu datang sebelum badai.”
Sandi berdiri. “Kalau satu runtuh,” katanya lirih,
“yang lain ikut.”
Ketiga utusan melapor lewat panggilan video.
“Mereka ragu, Tuan,” kata salah satu.
“Tapi pintunya terbuka.”
Nakata tersenyum puas.
“Keraguan,” katanya pelan,
“adalah retakan pertama.”
Ia mematikan layar.
“Besok,” lanjutnya pada diri sendiri,
“kita tekan sedikit lagi.”
Di desa, malam terasa lebih panjang dari biasanya.
Karena kali ini,
musuh tidak datang membawa ular…
melainkan angka, janji, dan pilihan yang memecah hati.
Pagi itu rumah Pak Tirto tidak seramai biasanya.
Istrinya mondar-mandir di dapur.
Di meja ruang tengah, selembar kertas tergeletak—formulir pendaftaran universitas.
Pak Tirto duduk diam, menatap angka di pojok kanan bawah.
Biaya daftar ulang: Rp30.000.000.
Ia menghela napas berat.
“Kalau sampai tanggal ini nggak dibayar,” gumamnya,
“kursinya hangus.”
Bu Rini duduk di sampingnya. “Kita pinjam ke koperasi?”
Pak Tirto menggeleng. “Limit kita sudah mentok.”
Belum sempat suasana itu reda—
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pintu.
Pak Tirto menoleh. Dadanya berdebar, entah kenapa.
Saat pintu dibuka,
tiga pria itu berdiri lagi di teras.
Senyum yang sama.
Nada yang sama tenang.
“Permisi, Pak Tirto,” kata yang paling depan.
“Kami dengar… anak Bapak diterima di universitas bagus.”
Pak Tirto terdiam.
“Silakan masuk,” ucapnya pelan.
DI RUANG TAMU
Pria itu duduk santai, seolah rumah sendiri.
“Kami datang bukan untuk menekan,” katanya lembut.
“Justru… membantu.”
Ia membuka tas hitam kecil.
Bunyi resleting terdengar keras di ruangan sunyi.
Tumpukan uang terlihat.
Bukan sedikit.
“Lima puluh juta,” katanya tenang.
“Tunai.”
Bu Rini refleks berdiri. “Untuk apa?”
Pria itu menatap Pak Tirto lurus. “Untuk masa depan anak Bapak.”
Pak Tirto menelan ludah. “Dan imbalannya?”
“Tidak rumit,” jawab pria kedua.
“Hanya mengalihkan pesanan bulan depan.”
“Dari PT. Korean Industry,” sambungnya,
“ke pabrik Tuan Nakata.”
Ruangan hening.
Detik terasa panjang.
BATIN PAK TIRTO
Ini salah…
…tapi anakku?
Ia teringat wajah anaknya semalam—berusaha tegar, tapi matanya berbinar saat bicara kampus.
“Ayah… aku janji belajar sungguh-sungguh.”
Pak Tirto memejamkan mata.
“Kalau cuma satu kali?” tanyanya lirih.
Pria itu tersenyum puas. “Satu kali awal,” jawabnya.
“Yang lain… nanti kita bicarakan.”
Uang itu didorong ke meja.
Bu Rini menggenggam lengan suaminya, gemetar. “Pak…”
Pak Tirto membuka mata.
Tangannya perlahan menyentuh tumpukan uang itu.
“Baik,” katanya akhirnya.
“Satu kali.”
Senyum ketiga pria itu mengembang bersamaan.
RUMAH PAK WIRYO — SIANG
Teriakan anak kecil terdengar dari dalam.
“Pak! Pak! Abdul mau sunat! Abdul udah gede!”
Abdul, anak Pak Wiryo, berlari-lari di halaman sambil meringis menahan malu.
Bu Sari menghela napas. “Udah sepuluh tahun, Pak… kasihan.”
Pak Wiryo mengusap kepala anaknya. “Nanti ya, Nak. Bapak lagi cari biaya.”
Saat itulah mobil hitam berhenti.
Pak Wiryo langsung kaku.
Pintu dibuka.
Pria yang sama turun.
“Assalamu’alaikum, Pak Wiryo.”
Pak Wiryo menjawab lirih. “Wa’alaikum salam.”
DI RUANG TAMU PAK WIRYO
Abdul mengintip dari balik pintu kamar.
Pria itu duduk, lalu membuka tas.
Uang lagi.
Rp50.000.000.
“Untuk khitanan,” katanya ringan.
“Yang layak. Sekalian pesta kecil.”
Abdul melonjak. “Bener, Pak?!”
Bu Sari menutup mulut, hampir menangis.
Pak Wiryo berdiri. “Ini terlalu—”
“Anak itu sudah lama minta,” potong pria itu halus.
“Dan Bapak tahu… biaya tidak kecil.”
Pak Wiryo mengepalkan tangan.
“Imbalannya sama?” tanyanya.
“Pesanan dialihkan,” jawab pria itu.
“Sederhana.”
Pak Wiryo menatap anaknya.
Abdul tersenyum lebar. “Pak… Abdul janji berani.”
Hati Pak Wiryo runtuh.
Ia duduk kembali, lemas.
“Baik,” katanya pelan.
“Satu kali.”
MALAM — DUA RUMAH, SATU KEPUTUSAN
Di rumah Pak Tirto, uang sudah disimpan rapi.
Bu Rini berdoa pelan.
“Semoga ini tidak jadi musibah.”
Di rumah Pak Wiryo, Abdul tertidur dengan senyum lebar, membayangkan hari sunatnya.
Pak Wiryo duduk sendiri di teras.
“Maafkan Bapak, Kim,” gumamnya lirih.
“Bapak kalah hari ini.”
RUMAH MBAH KLOWOR — MALAM
Sandi membuka mata dari semedi dengan napas terputus.
“Ada yang patah,” katanya pelan.
Bima berdiri. “Siapa?”
Sandi menoleh ke arah desa. “Dua simpul.”
Mbah Klowor mengangguk berat. “Uang selalu lebih tajam dari pisau… jika menyentuh keluarga.”
KANTOR NAKATA — MALAM
Laporan masuk.
“Target berhasil, Tuan.”
Nakata tertawa kecil. “Bagus.”
Ia menyesap minuman mahalnya.
“Manusia bisa menahan takut,” katanya pelan,
“tapi jarang bisa menahan cinta pada anak.”
Ia menatap layar produksi.
“Sekarang,” lanjutnya dingin,
“kita lihat seberapa cepat sistem mereka runtuh…
saat satu pengkhianatan kecil mulai menarik yang lain.”
Di luar, desa masih terlihat tenang.
Namun di bawah permukaannya,
retakan sudah terbentuk.
Dan retakan itu
baru saja diberi harga.
PT. KOREAN INDUSTRY — RUANG LOGISTIK — PAGI
Suasana ruang logistik terasa ganjil pagi itu.
Tidak ada suara truk mundur.
Tidak ada teriakan bongkar muat.
Seorang staf logistik muda berdiri di depan papan jadwal, mengernyit.
“Pak…,” katanya ragu sambil menoleh ke atasannya,
“jadwal kiriman Pak Tirto dan Pak Wiryo kosong.”
Manajer logistik menoleh cepat. “Kosong gimana maksudmu?”
“Tidak ada konfirmasi. Tidak ada pembatalan. Seperti… menghilang.”
Ruangan langsung tegang.
“Itu tidak mungkin,” gumam manajer itu.
“Mereka paling disiplin.”
Ia segera mengambil ponsel, menekan nomor Pak Tirto.
Nada sambung.
Tidak diangkat.
Ia mencoba Pak Wiryo.
Masuk… tapi hanya dering panjang.
Manajer itu menurunkan ponsel perlahan.
“Ini bukan telat,” katanya pelan.
“Ini disengaja.”
RUANG DIREKTUR — TAK LAMA KEMUDIAN
Tuan Kim Jong-un mendengarkan laporan dengan wajah tenang—terlalu tenang.
“Tidak ada pengiriman,” ulangnya.
“Dari dua vendor kunci.”
Manajer logistik mengangguk. “Namun, Tuan… stok bahan mentah kita masih aman. Gudang masih penuh untuk dua minggu.”
Kim menghela napas pelan.
“Berarti ini bukan krisis hari ini,” katanya.
“Tapi peringatan untuk besok.”
Ia berdiri.
“Panggil semua pihak desa,” perintahnya.
“Pak Kades. Pak Dosen Deden. Semua.”
“Dan,” tambahnya setelah jeda singkat,
“hubungi Pak Tirto dan Pak Wiryo. Secara baik-baik.”
BALAI DESA — SIANG
Balai desa kembali penuh.
Namun kali ini, suasananya berbeda.
Tidak ada amarah.
Tidak ada teriakan.
Hanya rasa bersalah yang menggantung.
Pak Tirto dan Pak Wiryo duduk berdampingan, kepala tertunduk.
Pak Kades berdiri di depan, membuka pertemuan.
“Kita dipanggil oleh pihak PT. Korean Industry,” katanya.
“Untuk duduk bersama.”
Pak Dosen Deden menatap dua vendor itu lama, lalu bicara tenang.
“Tidak ada penghakiman di sini,” katanya.
“Hanya kejujuran.”
Pak Tirto menarik napas panjang.
PENGAKUAN
“Saya salah,” kata Pak Tirto akhirnya.
“Saya… tergoda.”
Suara ruangan senyap.
Pak Wiryo ikut berdiri. “Saya juga.”
Ia mengepalkan tangan. “Kami dijanjikan harga tinggi. Uang tunai. Kami lupa… siapa yang berdiri bersama kami dari awal.”
Pak Tirto menatap Pak Kades. “Maafkan kami. Kami khilaf.”
Bu Rini dan Bu Sari duduk di belakang, mata mereka berkaca-kaca.
PT. KOREAN INDUSTRY — RUANG RAPAT BESAR
Meja panjang. Air mineral. Berkas.
Tuan Kim duduk di ujung meja.
Di kanan kirinya: manajer, staf hukum, logistik.
Di seberang: Pak Kades, Pak Dosen Deden, Pak Tirto, Pak Wiryo, Bima, dan Eren.
Kim membuka suara lebih dulu.
“Saya tidak marah,” katanya tenang.
“Saya mengerti tekanan.”
Pak Tirto menunduk. “Tapi kami tetap salah, Tuan.”
Kim mengangguk.
“Karena itu,” lanjutnya,
“saya tidak ingin kehilangan kalian.”
Semua terdiam.
LANGKAH TAK TERDUGA
Kim memberi isyarat pada asistennya.
Sebuah slide muncul.
REVISI KONTRAK — +25%
Pak Wiryo terkejut. “Ini—”
“Kenaikan harga dua puluh lima persen,” potong Kim.
“Resmi. Tertulis. Transparan.”
Pak Tirto berdiri setengah refleks. “Tuan… ini terlalu—”
“Tidak,” Kim menggeleng.
“Ini harga wajar.”
Ia menatap Pak Dosen Deden. “Kalau desa ingin kuat, rantainya harus adil.”
Pak Dosen Deden tersenyum tipis. “Keputusan bijak.”
KESEPAKATAN BARU
Pak Kades mengangguk mantap. “Dengan ini, desa berdiri di belakang PT. Korean Industry.”
Bima menambahkan, “Dan kami akan pastikan… tekanan dari luar tidak masuk lagi dengan cara kotor.”
Eren mengangguk. “Yang main uang, kita lawan dengan sistem.”
Pak Tirto dan Pak Wiryo saling pandang.
Pak Tirto menunduk dalam-dalam. “Kami janji, tidak mengulanginya.”
Pak Wiryo menambahkan lirih, “Uang bisa habis. Tapi kepercayaan… sekali patah, susah kembali.”
Kim tersenyum kecil. “Karena itu,” katanya,
“saya memilih memperbaiki, bukan memutus.”
DI LUAR GEDUNG — SORE
Pak Tirto dan Pak Wiryo berdiri berdampingan.
“Rasanya seperti diangkat dari jurang,” kata Pak Wiryo pelan.
Pak Tirto mengangguk. “Kita hampir menjual desa sendiri.”
Dari kejauhan, Sandi berdiri bersama Mbah Klowor.
“Retakan bisa ditambal,” kata Mbah Klowor.
“Kalau orangnya berani jujur.”
Sandi menatap langit. “Dan Nakata,” katanya pelan,
“baru saja kehilangan senjata terkuatnya.”
KANTOR NAKATA — MALAM
Laporan masuk.
“Mereka kembali ke Kim, Tuan,” kata anak buahnya ragu.
“Dan Kim menaikkan harga.”
Nakata terdiam lama.
Lalu tertawa kecil—dingin.
“Berarti,” katanya pelan,
“dia memilih perang terbuka.”
Ia berdiri, menatap malam dari jendela.
“Baik,” lanjutnya.
“Kalau uang gagal memecah…
kita lihat seberapa kuat mereka menghadapi kehancuran reputasi.”
Di luar, lampu kota berkilau.
Dan di desa,
kepercayaan yang hampir runtuh
baru saja ditegakkan kembali—
dengan harga yang tidak murah,
tapi jujur.