NovelToon NovelToon
Embers Of The Twin Fates

Embers Of The Twin Fates

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Action / Romantis / Fantasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: ibar

di dunia zentaria, ada sebuah kekaisaran yang berdiri megah di benua Laurentia, kekaisaran terbesar memimpin penuh Banua tersebut.

tapi hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, pada saat malam hari menjelang fajar kekaisaran tersebut runtuh dan hanya menyisakan puing-puing bangunan.

Kenzie Laurent dan adiknya Reinzie Laurent terpaksa harus berpisah demi keamanan mereka untuk menghindar dari kejaran dari seorang penghianat bernama Zarco.

hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, kedua pangeran itu memiliki jalan mereka masing-masing.

> dunia tidak kehilangan harapan dan cahaya, melainkan kegelapan itu sendiri lah kekurangan terangnya <

> "Di dunia yang hanya menghormati kekuatan, kasih sayang bisa menjadi kutukan, dan takdir… bisa jadi pedang yang menebas keluarga sendiri <.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 25

...****************...

Kabut tipis masih menggantung di batas luar Hutan Neraka Hening ketika Reinzie dan Chelsea akhirnya menghentikan langkah mereka. Pepohonan gelap yang selama berhari-hari seakan menelan cahaya kini berada di belakang mereka, digantikan oleh tanah terbuka dan hamparan rerumputan yang mulai jarang disentuh aura berbahaya.

Reinzie menghembuskan napas panjang tanpa ia sadari. Bahunya yang selama ini tegang perlahan mengendur.

“Di sini cukup aman,” ucapnya pelan. “Aura para monster dari hutan tidak lagi terasa menekan.”

Chelsea menoleh ke sekeliling, matanya yang tajam mengamati setiap sudut sebelum akhirnya mengangguk.

“Setidaknya untuk malam ini. Kita bisa membangun kemah.”

Mereka bergerak cepat dan teratur. Reinzie mengeluarkan perlengkapan dari cincin penyimpanan—tenda sederhana, alat masak ringan, serta beberapa batu penanda untuk lingkar pengaman. Chelsea membantu tanpa banyak bicara, memasang jebakan sederhana dan menyebar serbuk pengusir binatang di sekeliling area.

Tak lama kemudian, api unggun kecil menyala. Cahayanya memantul lembut di wajah mereka, kontras dengan bayangan hutan di kejauhan.

Reinzie menatap api itu sesaat lebih lama dari biasanya.

Akhirnya aku keluar dari hutan yang berbahaya itu…

Jika saja Tuan Kirmion tidak ada di sana, entah apa yang terjadi pada diriku dan Chelsea.

Pikiran itu membuat dadanya terasa sesak. Ia tidak mengucapkannya, namun Chelsea yang duduk di seberangnya menangkap perubahan halus pada ekspresinya.

“Kau sedang melamunkan apa?” ujar Chelsea tenang.

Reinzie tersentak kecil, lalu menggeleng. “Tidak. Hanya memastikan kita benar-benar selamat.”

Chelsea menatapnya sejenak, lalu berkata dengan nada datar namun tegas, “Kita selamat karena kau tidak gegabah.”

Reinzie tersenyum tipis. “Dan karena kau selalu ada di sisiku, aku sangat berterimakasih padamu.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka, kali ini bukan karena ketegangan, melainkan kelelahan yang wajar setelah bertahan hidup.

Keesokan paginya, mereka melanjutkan perjalanan menuju sebuah pedesaan kecil yang terletak tak jauh dari jalur utama utara. Atap-atap kayu dan asap dapur yang mengepul menjadi tanda kehidupan yang menenangkan.

Reinzie merapikan jubahnya sebelum memasuki area pemukiman.

“Kita mencari tempat untuk makan dan Informasi jalur ke bagian utara.”

Chelsea mengangguk. “Kita bisa singgah di kedai makanan kecil dan mencari pedagang keliling, biasanya mereka memiliki peta untuk rute perjalanan mereka. Tidak selalu akurat, tapi cukup sebagai panduan perjalanan kita.”

Desa itu sederhana. Para penduduk memandang mereka dengan waspada, namun tidak menunjukkan permusuhan.

di tengah pedesaan ada kedai kecil yang menyediakan makanan untuk para petualang dan pendekar yang melakukan perjalanan.

Disana Reinzie dan Chelsea berhenti untuk mengisi perut mereka sebelum mencari para saudagar yang menjual kebutuhan mereka di perjalanan. "Chelsea silahkan pilih dan pesan makanan yang ada" kata reinzie pada chelsea

"Aku memesan daging panggang, bubur, dan sayuran" jawab chelsea

"Baiklah... Kalau begitu aku memesan daging hewan buas bakar dan bubur saja"

Merekapun duduk dan makan dengan tenang di meja makan, sambil mendengarkan percakapan para petualang dan pendekar yang ada di kedai kecil tersebut.

...----------------...

Setelah selesai makan, para rombongan pedagang lewat di depan kedai kecil tersebut dengan gerobak yang berisi barang jualan mereka. Reinzie tak memperhatikannya ia hanya melihat kearah lapak di bagian belakang para pedagang itu.

Reinzie segera menghampiri seorang pedagang paruh baya yang lapaknya dipenuhi gulungan kertas dan barang-barang perjalanan.

“Apakah Anda menjual peta wilayah bagian arah utara?” tanya Reinzie sopan.

Pedagang itu menatap Reinzie dari ujung kepala hingga kaki, lalu mengangguk pelan.

“Ada beberapa. Jalur dagang, pegunungan, dan wilayah berbahaya. Harga tergantung detailnya.”

Reinzie mengeluarkan beberapa koin perak dan meletakkannya di meja. “Aku butuh rute yang aman, serta penanda wilayah berbahaya.”

Pedagang itu tersenyum kecil. “Pilihan yang bijak.”

Sambil menunggu peta dibentangkan, Chelsea memperhatikan sekeliling. Ia menurunkan suaranya.

“Kita dekat dengan wilayah pengaruh Kerajaan Elyndor.”

Reinzie mengangguk. “Aku tahu.”

Namun pikirannya tidak menuju pada kerajaan itu—melainkan pada seseorang yang berada jauh dari jalur hidupnya saat ini.

Kakak… Ia tahu Kenzie sedang berlatih di Sekte Gunung Langit. Ia tidak tahu bahwa jarak mereka kini jauh lebih dekat dari yang ia bayangkan.

Beberapa saat setelahnya peta akhirnya berpindah tangan. Reinzie memeriksanya dengan teliti, lalu menyimpannya dalam cincin penyimpanan.

“Terima kasih,” ucapnya.

Saat mereka melangkah meninggalkan desa, Chelsea berkata pelan, “Arah kita jelas sekarang.”

Reinzie menatap jalur utara yang membentang di hadapan mereka.

“Ya. Dan apa pun yang menunggu di sana… kita akan menghadapinya.”.

Sebelum meninggalkan desa, Reinzie berhenti sejenak di sebuah lapak pakaian di perjalanan yang terletak di sudut jalan utama. Kain-kain tebal berwarna gelap tergantung rapi, sebagian tampak sudah sering dibeli oleh para petualang.

“Kita butuh penutup wajah dan jubah” ucap Reinzie pelan.

Chelsea menatap jubah hitam dengan penutup kepala yang tergantung di depan mereka, lalu mengangguk singkat.

“Lebih baik menutup penampilan asli kita dan tidak menarik perhatian.”

Tak lama kemudian, mereka membeli dua jubah hitam sederhana dengan tudung kepala, serta masker kain gelap yang cukup menutup setengah wajah. Begitu mengenakannya, aura mereka seakan menyatu dengan bayangan—tidak mencolok, tidak mudah dikenali.

Setelah itu, mereka kembali ke gerbang desa. Di sana, sebuah rombongan pedagang lewat di depan kedai sebelumnya, tengah bersiap berangkat. Beberapa gerobak besar berjajar rapi, dan di sekelilingnya tampak para petualang serta pendekar yang bertugas sebagai pengawal.

Reinzie memperhatikan dari kejauhan.

“Kita ikut rombongan itu. Agar perjalanan kita lebih aman.”

Chelsea mengamati barisan pengawal dengan saksama. “Formasi mereka rapi. Ada pemimpin yang jelas.”

Mereka pun bergabung dari bagian belakang rombongan, menjaga jarak dan tidak banyak bicara.

...----------------...

Beberapa saat setelah rombongan bergerak, seorang pemuda berambut merah menyala, berbadan kurus tapi berisi, ia datang dengan ekspresi waspada menghampiri mereka. Tubuhnya tegap, auranya stabil, jelas seorang petarung berpengalaman.

“Kalian berdua,” ucapnya, nada suaranya tidak kasar namun tegas. “Jarang ada yang ikut rombongan tanpa bicara apa pun. Kalian dari mana?”

Reinzie dan Chelsea berhenti melangkah. Reinzie sedikit menundukkan kepala, menyamarkan suaranya agar terdengar lebih berat dan asing.

“Kami hanya petualang yang ingin menuju utara. Kami mengikuti rombongan untuk mencari keamanan.”

Ryujin menyipitkan mata, menatap jubah hitam dan masker mereka.

“Penampilan kalian terlalu tertutup. Biasanya yang berpakaian seperti ini punya urusan yang tidak sederhana.”

Chelsea menjawab dengan suara yang dibuat lebih datar dan rendah.

“Banyak petualang tidak ingin dikenal. Kami juga sama, tidak ingin identitas kami tersebar.”

Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Ryujin menimbang kata-kata mereka, lalu akhirnya mengendurkan bahunya sedikit.

“Hm… masuk akal. Banyak orang menyembunyikan identitas. Selama kalian tidak mengganggu rombongan, tidak masalah.”

Reinzie mengangguk singkat. “Terima kasih.”

Namun percakapan itu tidak luput dari perhatian seseorang di depan rombongan.

...----------------...

Kenzie, yang sedang berjalan di sisi gerobak utama, melihat Ryujin berbincang dengan dua sosok berjubah hitam. Ia memperlambat langkahnya, lalu menghampiri ryujin.

“Ada apa, Ryujin?” tanya Kenzie tenang.

Begitu mendengar suara itu, tubuh Reinzie menegang seketika. Chelsea pun refleks menahan napas.

Tidak mungkin…

Itu…

Rambut perak yang tertata rapi, wajah tampan yang sulit dilupakan, anting tindik hitam serta anting khas keluarga Laurent—cukup satu pandangan bagi mereka untuk mengenali sosok itu.

Kakak…

Jantung Reinzie berdegup keras. Chelsea bisa merasakan telapak tangannya berkeringat di balik kain jubah.

Ryujin menjawab, “Dua petualang yang ikut rombongan. Penampilan mereka cukup mencurigakan, tapi mereka hanya mencari perlindungan.”

Kenzie menatap Reinzie dan Chelsea. Tatapannya tenang, tajam, seolah berusaha membaca sesuatu di balik jubah hitam itu.

“Petualang?” ulang Kenzie.

Reinzie segera berbicara, mengubah pita suaranya lebih jauh—kasar, sedikit serak. “Benar. Kami tidak ingin dikenal. Itu saja.”

Chelsea menambahkan cepat, dengan nada asing yang konsisten, “Kami hanya ingin perjalanan yang aman, dengan cara mengikuti rombongan.”

Beberapa detik terasa begitu panjang. Kenzie mengamati mereka lebih saksama, namun masker dan tudung kepala menyembunyikan terlalu banyak aura mereka.

Di sisi lain, Wulan Tsuyoki ikut memperhatikan dari kejauhan. Alisnya sedikit berkerut.

Dua orang itu… auranya tertutup rapi. Terlalu rapi. Sulit untuk mengenali identitas mereka.

Ryujin, yang merasakan suasana mulai tegang, tertawa kecil untuk mencairkan keadaan.

“Tenang saja, Kak Kenzie. Banyak petualang berpakaian seperti ini. Bisa saja mereka tuan muda keluarga bangsawan yang menyamar, atau ahli dari sekte yang tidak ingin dikenali. Bahkan akademi Gerbang Langit sering mengirim orang secara diam-diam, maka dari itu tidak heran jika mereka menutup diri dengan sangat tertutup seperti ini.”

Begitu mendengar itu, Reinzie dan Chelsea langsung mengangguk hampir bersamaan—terlalu cepat.

“Iya… benar, tuan.” ucap Reinzie singkat.

Chelsea mengangguk lagi, mencoba menahan ketegangan di dadanya.

Kenzie memperhatikan reaksi itu sejenak, lalu akhirnya mengalihkan pandangan.

“Selama mereka tidak mengganggu misi, biarkan saja mengikuti kita.”

Ryujin tersenyum. “Siap Kaka Kenzie ku yang baik hati.”

Kenzie pun berbalik dan kembali ke posisinya.

Begitu jaraknya menjauh, Reinzie dan Chelsea saling melirik di balik masker. Keringat dingin membasahi punggung mereka.

Hampir saja…

Jika masker dan jubah itu tidak ada, pertemuan ini pasti akan berubah menjadi pertemuan haru—atau sesuatu yang jauh lebih rumit.

Rombongan kembali bergerak maju, tanpa satu pun dari mereka menyadari bahwa kedua orang tersebut adalah adik Kenzie yaitu Reinzie dan Chelsea.

1
أسوين سي
💪💪
أسوين سي
💪
أسوين سي
💪💪💪
أسوين سي
👍
{LanLan}.CNL
keren
LanLan.CNL
ayok bantu support
أسوين سي: mudah-mudahan ceritanya bagus sebagus Qing Ruo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!