Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Baru saja membuka pintu, Naka langsung disuguhi pemandangan yang membuat bibirnya melengkung ke atas. Entah kenapa, hatinya terasa adem melihat Zea yang sedang menyuapi Arka sambil nonton TV dan ketawa-ketawi. Namun sayangnya, pemandangan itu hanya berlangsung sekejab, ekspresi bahagia Zea seketika hilang saat melihat kedatangannya.
"Nonton apa, keliatannya seru banget?" sambil membawa 2 keresek besar, Naka berjalan ke arah Zea dan Arka.
"Nonton kartun, Om," sahut Arka, beberapa saat kemudian, ia kembali tertawa melihat adegan lucu di TV.
Naka tersenyum, Arka yang ketawa, tapi ia rasanya ikut senang. Tawanya Arka kayak nular, bikin yang melihat ikut bahagia.
"Aku beliin bubur ayam buat kamu." Naka meletakkan keresek warna putih ke atas meja nakas, berisi bubur ayam dan teh hangat. "Buat Arka, Om bawain jajanan yang banyak," membuka kantong keresek minimarket, menunjukkan isinya pada Arka lalu meletakkan di hadapannya.
"Wow, banyak sekali," mata Arka berbinar melihat berbagai macam jajanan di depannya. Ini sih bukan banyak lagi, tapi banyak banget, melebihi banyaknya pas di rumah Om Rizal dulu. "Makasih, Om," mengambil sebungkus sus coklat, namun tangannya tiba-tiba ditahan sang Ibu.
"Makan jajannya nanti, habisin dulu makannya," Zea kembali menyuapi Arka. Tak nyaman Naka berdiri tepat di sampingnya begitu dekat, bahkan gerak dikit aja sikunya nyenggol, ia pindah ke sebelah lain, duduk di sisi ranjang.
Naka agak kaget juga, segitunya Zea jaga jarak.
"Ibu udah," rengek Arka yang selera makannya memang belum pulih.
"Dikit lagi ya, dua suapan," bujuk Zea.
Arka menutup mulut sambil menggeleng, "Gak enak, hambar."
"Itu karena Arka masih belum sembuh total. Kalau pingin sembuh, ya harus dipaksa makannya. Katanya pengen pulang, pengen sekolah, pengen ketemu teman-teman dan Bu guru. Makan lagi ya, Nak," bujuknya, mendekatkan satu sendok makanan ke mulut Arka.
Namun Arka tetap menggeleng, "Aku pengen udang krispi buatan Ibu."
"Iya, nanti kalau sudah sembuh, sudah pulang, Ibu buatin. Sekarang, makan ini dulu ya. Ini enak loh, ada ayam, wortel, bakso," menunjuk makanan ransum dari RS. "Kata Ustadzah gimana, buang-buang makanan, itu do_"
"Sa," lanjut Arka.
"Tuh pinter. Ak dulu ya, Nak."
Arka mengangguk, lalu membuka mulutnya.
Diam-diam, Naka yang melihat senyum-senyum sendiri. Urusan bujuk membujuk, Zea memang juaranya. Dulu awal mula Zea menjadi susternya, ia juga menolaknya, namun wanita itu tidak kehabisan akal, selalu ada saja cara untuk mendekatinya. Hingga akhirnya setelah hampir 2 bulan Zea bekerja, ia bisa benar-benar nyaman dengannya. Ia teringat kejadian dimana akhirnya ia luluh pada Zea.
Pyarr
Naka kaget saat sedang makan, tak sengaja tanganya menyenggol gelas di atas meja hingga jatuh dan pecah.
"Tidak apa-apa, biar saya bereskan dan ambilkan minum yang baru," ujar Zea, meninggalkan Naka di meja makan untuk mengambil air di dispenser dapur. Ia berusaha untuk bekerja segercep mungkin. Namun saat kembali, matanya dibuat melotot melihat tampilan meja makan. Mangkuk makan Naka sudah terguling, isinya tumpah.
Pyarr
Belum hilang kaget Zea, ia kembali dibuat syok sekaligus geram melihat kelakuan Naka. Laki-laki yang emosi karena kesulitan makan itu, mengambil mangkoknya lalu membanting ke lantai. Sungguh, kelakuannya bikin jantungan dan ngelus dada.
Kerja belum genap sebulan rasanya sudah mau nyerah. Tiap hari dihadapkan dengan Naka yang tantrum karena kesulitan melakukan hal-hal kecil termasuk seperti barusan, makan.
"Payah, aku memang payah!" teriak Naka dengan nafas memburu. Sesuatu yang biasanya amat mudah, sekarang jadi terasa sulit karena tak lagi bisa melihat. Kebutaannya membuatnya frustasi berat, dunianya seperti runtuh, hilang seketika. Sudah seminggu lebih ia belajar makan dan melakukan apapun sendiri, tapi hasilnya selalu payah, susah sekali melakukan apa-apa tanpa melihat.
"Nanti kalau terus belajar, InsyaAllah akan bisa. Semua butuh dibiasakan," ujar Zea yang berdiri agak jauh darinya, takut kena lemparan sesuatu. Dulu, awal-awal kerja ia sudah kena lemparan HP hingga kepalanya benjol.
"Diam kamu!" Naka makian naik darah. "Kalau gak tahu apa yang saya rasakan, gak usah ngomong." Ia meraba-raba, mencari tongkat yang tadi ia letakkan di sampingnya, disandarkan pada meja makan. Namun benda itu sepertinya sudah pindah tempat, terbukti saat ia raba cukup lama, tak kunjung menemukannya.
Zea yang faham dengan gerak-gerik Naka, langsung mengambil tongkat yang tergeletak di lantai, lalu menyodorkan padanya. "Ini, Tuan mencari tingkatkan?" memegang telapak tangan Naka untuk membantunya menggenggam tongkat. Namun alih-alih mendapatkan ucapan terimakasih, ia malah mendapatkan amukan. Naka marah, melemparkan tongkatnya.
"Saya gak butuh benda itu, saya gak butuh bantuan kamu!' bentak Naka. Ia bangkit dari duduknya, berjalan tanpa tongkat, berbekal ingatan tentang tata letak meja makan. Namun baru beberapa langkah, kakinya menabrak kursi, hingga akhirnya.
" Awww!" Naka terjatuh, dan sialnya telapak tangan kanannya yang menyentuh lantai, malah terisa perih sekali, seperti tertusuk sesuatu. "Sakit," desisnya, menyentuh bagian yang perih itu dan mendapati sesuatu menancap disana. "Sus, Suster!" teriaknya yang kesal karena tak ada yang menolong. "Suster!" teriknya lagi karena hening, tak ada sahutan. Ia yang kesakitan, berusaha mencabut sendiri pecahan beling di telapak tangan kanannya. "Suster!" terus berteriak, gemetar menyentuh telapak tangannya basah, sepertinya darah.
"Ada apa?" sahut Zea tenang. Sebenarnya sejak tadi ada disana, hanya saja menahan diri untuk tidak membantu.
"Ada apa kamu bilang hah? Matamu buta, tak bisa melihat aku terluka?"
"Lalu, saya harus apa?"
"Bangsaaat, sialan!" Naka yang kesal terus mengumpati Zea, bahkan jika dikumpulkan, hewan yang ia sebutkan bisa membentuk kebun binatang.
Naka merasakan sebuah tangan menyentuh pergelangan tangannya, lalu lukanya diusap menggunakan tisu.
"Sekarang fahamkan, anda butuh bantuan."
Naka, buat cara jitu ya buat naklukkan hati papamu, manfaatkan Arka 🤭
keputusan yg bener zee...
jangan mau terus di rendahkn oleh bpknya naka itu.
pastikn naka mau berusaha memperjuangkn kalian....
Ayo Naka berusaha semangat💪💪💪
Zea ingin menikah denganmu asal ada restu dari ayahmu Naka