NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memberikan warna merah darah pada fasad rumah mewah milik Adila. Saat mobilnya memasuki halaman, hal pertama yang ditangkap oleh indra penglihatan Adila adalah tumpukan tas belanja dari brand bayi ternama yang berserakan di teras.

Di sana, Mama Revan dan Meisya sedang tertawa riang sambil mengeluarkan baju-baju bayi mungil yang sangat mahal. Pemandangan itu nampak sangat harmonis, seolah-olah Adila-lah yang menjadi orang asing di rumahnya sendiri.

Adila turun dari mobil, membanting pintunya dengan keras untuk menarik perhatian mereka. Langkah kakinya yang masih mengenakan sepatu kerja terdengar angkuh di atas lantai granit.

"Dila, kamu sudah pulang?" sapa Mama Revan tanpa rasa bersalah. "Lihat, Mama baru saja membelikan cucu Mama baju-baju baru. Oh ya, soal permintaan konyolmu di rumah sakit tadi, Mama sudah memutuskan. Meisya tetap tidur di kamar tamu lantai atas. Kamar belakang itu pengap, tidak manusiawi untuk calon cucu Mama."

Adila berhenti tepat di depan tumpukan tas belanja itu. Ia menatap Meisya yang kini tersenyum tipis, sebuah senyuman yang berkata: "Lihat, aku punya pelindung yang lebih kuat darimu."

"Mah," suara Adila rendah namun tajam. "Saya sudah bilang, peraturan di rumah ini adalah keputusan saya. Meisya harus pindah ke kamar belakang sekarang juga atau dia keluar dari gerbang itu."

"Jangan lancang, Adila!" bentak Mama Revan sambil berdiri. "Kamu pikir kamu siapa? Memang kamu yang membayar cicilan rumah ini sendirian? Ini juga rumah Revan! Anakku punya hak atas setiap jengkal tanah di sini, dan haknya adalah hak Mama juga!"

Revan keluar dari pintu utama, tampak ragu melihat konfrontasi itu. "Dila, sudah... Mama benar, jangan terlalu ekstrem. Kasihan Meisya, dia baru saja dari rumah sakit."

Adila menoleh ke arah Revan, matanya berkilat penuh amarah yang kini bercampur dengan rasa rendah hati yang mematikan. "Rumah Revan? Kamu yakin, Ma? Kamu yakin Revan punya hak untuk memberikan izin pada wanita lain tinggal di sini tanpa persetujuanku?"

"Tentu saja! Revan laki-laki, dia kepala keluarga!" Tiara ikut muncul dari balik pintu, menambah suasana semakin bising.

Adila tidak membalas lagi dengan teriakan. Ia justru tersenyum, senyuman yang membuat Revan mendadak merasa menggigil. Tanpa sepatah kata pun, Adila melewati mereka semua dan masuk ke dalam rumah. Ia langsung menuju ke ruang kerjanya yang terkunci rapat.

Di dalam ruangan yang tenang itu, Adila membuka brankas pribadinya. Ia menarik sebuah map berwarna biru tua yang sudah tersimpan selama sepuluh tahun. Sebuah dokumen yang dulu dibuat bukan karena kurang percaya, melainkan karena Adila adalah putri dari seorang pengacara yang selalu mengajarinya untuk waspada.

"Perjanjian Pra-Nikah: Adila & Revan"

Adila mengusap kertas itu. Ia membaca poin demi poin yang dulu disetujui Revan dengan penuh janji manis sebelum mereka menikah. Ia kemudian keluar kembali ke ruang tamu, di mana Revan, Mama, Tiara, dan Meisya masih berkumpul, siap untuk melanjutkan perdebatan.

"Revan," panggil Adila, suaranya kini begitu tenang hingga terasa mencekam. "Sepertinya kamu, ibumu, dan adikmu perlu diingatkan tentang status kepemilikan aset di rumah ini."

Adila melemparkan map biru itu ke atas meja kopi, tepat di tengah-tengah tas belanja bayi Meisya.

"Apa ini?" tanya Revan dengan suara bergetar.

"Ingat poin nomor empat, Revan?" Adila menunjuk ke arah baris tulisan yang sudah ia stabilo kuning. "Disebutkan secara hukum dan sah di hadapan notaris: Jika salah satu pihak melakukan pengkhianatan emosional atau fisik, atau mengambil keputusan besar terkait rumah tangga secara sepihak tanpa diskusi dan persetujuan pihak lain, maka pihak yang tersakiti berhak melayangkan gugatan cerai seketika.

Revan mulai membaca dengan mata terbelalak, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Adila melanjutkan dengan nada bicara yang sangat lambat, memastikan setiap kata meresap ke telinga Mama mertuanya. "Dan poin tambahannya, Revan... Dalam hal terjadi pelanggaran poin di atas, seluruh harta bersama yang berupa aset tetap termasuk rumah ini akan jatuh sepenuhnya secara mutlak ke tangan pihak yang tersakiti sebagai ganti rugi imateriil."

"Apa?! Tidak mungkin!" Mama Revan menyambar kertas itu. Wajahnya yang tadi angkuh mendadak pucat pasi. "Ini pasti palsu! Mana mungkin Revan menandatangani perjanjian gila seperti ini!"

"Tanya anak kesayangan Mama," sindir Adila. "Sepuluh tahun lalu, dia begitu yakin tidak akan pernah mengecewakanku sehingga dia berani menandatangani ini. Dan hari ini, dengan membawa Meisya masuk tanpa izin saya, dengan membela kebohongannya di depanku, Revan sudah melanggar poin itu berkali-kali."

Adila menatap Revan yang kini terduduk lemas. "Kamu melupakan poin ini, kan? Kamu pikir aku wanita bodoh yang hanya tahu cara mengobati orang? Aku juga tahu cara menyelamatkan diriku sendiri dari parasit seperti kalian."

Meisya yang tadinya merasa di atas angin, kini nampak gemetar. Ia menyadari bahwa jika Revan kehilangan rumah ini, maka "tempat berteduh" mewahnya akan hilang.

"Jadi, Mah," Adila menoleh ke mertuanya. "Rumah ini secara hukum adalah milik SAYA sejak Revan melanggar perjanjian itu. Jadi, siapa yang lancang sekarang? Siapa yang menumpang di sini? Meisya, angkut semua barang-barang ini ke kamar belakang atau saya akan memanggil truk sampah untuk mengambilnya."

Mama Revan mencoba bicara, tapi suaranya tercekat. Ia melihat wajah Adila yang tidak lagi memiliki sisa-sisa rasa hormat.

"Revan, bicaralah! Katakan kalau ini tidak benar!" Tiara merengek, namun Revan hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Adila tidak memedulikan mereka lagi. Ia kembali ke atas, memanggil Bi Ijah. "Bi, bantu saya mengemasi semua surat-surat aset, sertifikat tanah dan dokumen investasi di brankas. Kita pindahkan ke deposit box di bank besok pagi. Dan satu lagi, mulai malam ini, kunci semua pintu akses dari belakang ke area utama setelah jam sembilan malam."

Adila mulai memasukkan laptopnya, koleksi perhiasan yang ia beli dari hasil menulisnya, dan dokumen-dokumen penting ke dalam koper kecil. Ia tidak akan meninggalkan rumah ini karena rumah ini miliknya tapi ia akan mengamankan semua hartanya agar tidak ada satu rupiah pun yang digunakan Revan untuk membiayai wanita lain.

Ia berdiri di balkon, menatap ke bawah di mana petugas makam tadi sore meneleponnya dan mengonfirmasi bahwa mereka tetap melaksanakan tugas mereka meski sempat tertunda. Jenazah suami Meisya sudah dalam perjalanan ke kampung.

"Operasi pengangkatan tumor memang menyakitkan, tapi itu satu-satunya cara untuk bertahan hidup," bisik Adila pada dirinya sendiri.

Ia melihat ke arah meja riasnya, di mana terdapat foto pernikahannya dengan Revan. Adila mengambil foto itu, lalu dengan tenang menjatuhkannya ke lantai.

Prang.

Kaca bingkainya hancur, sama seperti hatinya yang kini sudah tidak bersisa untuk pria itu.

Malam itu, Adila tidur dengan nyenyak di kamarnya yang terkunci rapat, sementara di lantai bawah, ia bisa mendengar sayup-sayup perdebatan hebat antara Revan dan ibunya. Revan sedang merasakan akibat dari meremehkan seorang wanita yang memiliki otak setajam pisau bedah.

Adila tersenyum sebelum memejamkan mata. "Selamat datang di neraka yang kamu bangun sendiri, Revan."

1
stela aza
payah bgt udh gitu aja masih di tampung si Memes ,,,, pekok bin bahlul s Revan 🤦
falea sezi
lanjutt
falea sezi
cerai lah oon di usir secara halus gk paham🤣 bego katanya. dokter masak ngemis2 ke laki🤣
falea sezi
mengejar. karir makanya g hamil🤣
falea sezi
10 tahun g hamil. mandul kahh
Suanti
mampus lah kau revan sekalian aja mantan mertua bangun dri pingsan langsung stroke 🤭
Dew666
🩵🩵🩵🩵
cinta semu
syukurin ,salah sendiri jadi suami plin-plan ...sudah dewasa masih aja mau di atur ibu yg mulut ny pedas level 1000... gunakan kedewasaan u untuk berpikir bijak Revan ...dah pulang Sono ...ngadu lagi sm ibu u ...
Sri Widiyarti
lanjut kak semangat up-nya...
Lee Mba Young
lanjut
Dew666
👑👑👑👑
cinta semu
😁😁kaki manusia ...kok q baca ny bisa senyum sendiri ...mungkin efek tegang Krn keluarga Revan nyerang Dil kali😂😂
stela aza
❤️❤️❤️❤️
stela aza
rasakan itu sampah di pungut ,,, istri luar biasa multitalent di buang ,,, pekok ora ketulungan 🤦
Sri Widiyarti
satu kata buat Kel Revan bodoh bela2in perempuan kayak Meisya...🤦🤦🤦
stela aza
lanjut thor up Double y Thor ❤️❤️❤️
stela aza
good job Dila ❤️❤️❤️
stela aza
q suka karakter s Adila ,,, yg tegas pintar dan cerdik ,,, bagaimana menghadapi para benalu dan suami bahlul bin plin-plan ,,, good job Dila
stela aza
stupid bin tongkol sampah loe pungut ,,, punya istri cerdas hebat multitalent loe ganti dg sampah bau busuk bener2 suami bahlul 🤦
Heni Setiyaningsih
untung punya perjanjian pranikah 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!