JANGAN LUPA UNTUK SELALU MEMBERIKAN DUKUNGANNYA YA...!!!
Lin Yao seorang blogger makanan didunia modern Time Travel kenegeri kuno, menjadi seorang wanita muda miskin.
Berawal hanya dengan sebuah sendok, ia menghasilkan uang sepenuhnya melalui Hobby & kecerdasannya dalam makanan.
Lin Yao memanfaatkan keterampilan memasaknya untuk bisa bertahan bertahan hidup didunia yang baru ia pijaki.
Bukan cuma untuk dirinya seorang, tapi juga bagi keluarganya.
Bagaimana kah kisah perjalan Lin Yao diDunia kuno...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Keesokan harinya, ketiga saudara tiba diwarung setengah jam lebih awal.
Bibi Lie menyapa Lin Yao dengan penuh suka-cita "Nona Lin, kalian tiba lebih awal hari ini. Sun Dafu belum datang, cepat dirikan kios kalian."
"Salam bibi..!" sapa tiga bersaudara.
"Terimakasih banyak untuk kemarin Bibi Lie..!" kata Lin Yao lagi.
"Nona Lin, kau ini terlalu kaku." bibi Lie terkekeh.
"Kios panekukmu berada tepat disebelah lapakku, bisnis milikku jadi lebih baik. Kemarin tanpa ada kalian, aku mendapatkan beberapa puluh wen lebih sedikit dari biasanya," kata Bibi Lie sambil tersenyum.
Setelah bertukar sapa singkat dengan Bibi Lie, Lin Yao pergi kekios bakpao Kakek Wang.
Ada beberapa kukusan besar diwarung itu yang berisi mantau, roti pipih, dan berbagai macam bakpao isi daging serta vegetarian. "Kakek, aku ingin bakpao kosong."
"Baik, akan aku siapkan untukmu segera."
Kakek Wang Shan mengambil bakpao panas dari kukusan kemudian memberikannya kepada Lin Yao.
Lin Yao menggigit sedikit bakpao yang ada digenggaman. Aroma gandum yang familiar memenuhi mulut. Bakpao itu lembut mengembang dengan sempurna.
"Kakek, aku ingin menawarkan kerjasama denganmu. Apa kakek ada waktu untuk membicarakannya..?" kata Lin Yao setelah menelan bakpao dimulutnya.
Wang Shan menggosok-gosok tangan bersemangat "Bisnis..? aku hanya menjual bakpao dan roti."
Lin Yao menjelaskan idenya secara terang-terangan.
Wang Shan tidak percaya hal sebaik ini jatuh kepangkuannya. Lelaki tua itu sesaat merasa gembira penuh syukur.
"Nak, apakah ini benar..?"
Lin Yao mengangguk "tapi aku membutuhkan bakpao dalam jumlah banyak disetiap harinya. Bisakah kakek memberikan diskon untukku..?"
"Tentu saja bisa..! aku menjual bakpao kosong ini seharga dua wen karena ukurannya lebih besar dari pedagang lain. Tetapi jika kau mengambil dalam jumlah banyak, satu wen per buahnya. Bagaimana..?"
"Baik kakek, aku mau..!"
Senyum kakek Wang mengembang.
"Untuk besok aku memesan lima puluh bakpao kosong, dan Ini adalah uang mukanya." Lin Yao menyerahkan jumlah uang dua puluh lima wen.
"Sisanya akan aku berikan besok saat mengambil bakpaonya."
"Oke, besok aku siapkan khusus untukmu."
Wang Shan mengambil uang dari tangan Lin Yao dengan gembira. Ia baru saja membuka kiosnya, tapi sudah langsung mendapatkan dua puluh lima wen.
"Terimakasih kakek...!" ucap Lin Yao membungkuk.
"Jangan terlalu kaku begitu nak. Aku yang orangtua ini sangat terbantu olehmu. Terimakasih ya..? semoga bisnismu berjalan dengan baik."
Lin Yao tersenyum "begitu juga dengan bisnis kakek, semoga semua dagangan kakek terjual habis."
Wang Shan sangat kagum dengan bakat bisnis Lin Yao, meski masih muda tapi berpikiran maju dan terbuka.
Terlebih Lin bersaudara belum lama membuka kiosnya, tapi bisnis mereka sudah berkembang pesat.
Jika Lin Yao terus memesan bakpao kosongnya setiap hari, penghasilan kakek Wang tentu bertambah banyak.
Memikirkan hal ini, Wang Shan memandang Lin Yao dengan lebih ramah.
Ketika Lin Yao kembali kekiosnya, Lin Shun sedang membuat panekuk.
Lin Shun sudah memasak dirumah sejak kecil. Setelah mengamati Lin Yao membuat panekuk selama beberapa hari terakhir, ia pun langsung menguasai caranya.
Jadi sekarang kakak beradik itu bisa bergantian membuat panekuk.
Lin Yao mengambil alih pekerjaan lainnya, menyerahkan jeroan babi cincang kepada pelanggan, menyajikan teh perilla hawthorn kepada pembeli berikutnya.
Pada saat itu, sebuah suara yang familiar terdengar di telinga gadis itu.
"Apa ini..?"
Xu Fang Zhi, pria kekar bergaya flamboyan ini muncul lagi.
Pemuda itu mengenakan jubah panjang baru hari ini, dengan bunga delima terselip dirambutnya.
Ya Tuhan, apakah ia menganggap dirinya sangat tampan.
Lin Yao mendongak, alisnya berkedut. Matanya pedih berair. Xu Fang Zhi mengenakan busana yang amat mencolok, menunjukkan identitas statusnya.
Tapi, apakah dia masih akan menawar dengan pakaian seperti itu..?
semangat trs updatenyaaa 💪