Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual Puasa
Dimana ya aku ngeliat ada yang punya pohon pisang raja?" Batin Yitno berusaha berfikir, sembari mencoba mengingat ingat
"Oh iya! Di belakang rumah pak RT kan ada.."
Yitno pun segera ke rumah pak RT dan meminta daun pisang dengan beralasan jika ia disuruh oleh ibunya.
"Iya Yit, ambil aja. Buat apa to Yit mamakmu daon pisang?" Tanya pak RT
"Gak tau aku Pak, cuma disuruh minta aja nggak nanyain aku"
"Oh, mungkin buat alas besek berkat acara di rumah Tarman itu, mamakmu kan rewang disana."
"Iya, mungkin Pak"
Akhirnya Yitno dengan mulus mendapatkan daun pisang itu. Ia segera pulang menaruh daun pisang itu di dalam kamarnya dan ia keluar kembali menuju warung pecel bude Sri. Siang itu ia ingin sekali makan lontong pecel dengan lauk mendoan dan es teh sisri gula batu serebuan.
"Pecel bude sama es teh sisri gula batu" ucap Yitno memesan sembari menaruh bokong lancipnya di kursi kayu panjang.
"Pedes nggak?"
"Pedes lah bude, sepedas mulut admin lambe turah hehehe."
"Berapa cabe-nya, Yit?"
"Satu aja bude"
"Hiisss..!! Katanya pedes!"
"Hehehe lagi sariawan aku bude" jawab Yitno cengengesan sembari mengemplok tahu bunting yang tersaji di depannya.
"Gak kerja to kamu, Yit?"
"Masih nganggur bude, belum ada job"
"Oh, mamakmu rewang ya, Yit?"
"Iya Bude, hmm.. bude tau nggak?"
"Tau apa?" Bude Sri menoleh sembari mengerutkan keningnya dengan raut wajah penasaran menatap Yitno yang sedang memperhatikan tahu bunting yang ia makan
"Bude tau nggak siapa yang mbuntingin tahu bunting ini?" Ucap Yitno
"Huwoohhh...!! Dasar gendeng! Kirain apaan! Ngerjain orang tua aja kamu itu, hmm yang buntingin mas bakwan mungkin hahaha"
Pecel pun jadi, Yitno menyantap makanan itu begitu lahap.
"Kamu udah ada calon belum, Yit? Udah umur lho kamu itu.. emang gak pengen apa?" Ucap bude Sri sembari melirik Yitno dengan mulut penuh sesak mengunyah lontong.
"Ya pengenlah bude, ada cenel gak bude? Siapa gitu.. saudara, ponakan yang belum nikah. Kenalin lah bude"
"Hmm, ada. Saudara jauh sih. Hitungannya masih sepupu suami bude. Bodinya semlohe Yit, kayak mesin molen aduk semen! manteblah pokoknya."
"Ehh? Kayak mesin molen semen? Gendut berarti bude? Gede badannya kayak Nunung?"
"Yo nggak, padet gitu lho maksudnya. Kulitnya bersih, putih mulus tanpa noda kayak lantai bandara Soekarno-Hatta" ucap bude Sri
"Bew! Yang bener bude? Mau aku!"
"Ya tinggal dianya mau gak sama kamu, itu masalahnya hahaha"
"I-iya juga ya"
"Tapi harapan kamu masih besar buat dapetin dia, Yit"
"Kok bisa? Kata bude dia canteek banget. Apa mau sama aku? Yang biasa biasa ajalah bude, jangan ketinggian gitu. Mana mau dia sama aku."
"Ya bisa aja dia mau, karna dia juga lagi ada masalah ditambah dia janda anak satu Yit."
"Janda? Hmm kata mamakku gak papa sih janda juga, anaknya udah gede belum bude?"
"Baru lulus SD kayaknya. Anaknya cewek."
"Terus kata bude tadi dia ada masalah, emang masalah apa?"
"Ya masalah ekonomi lah, apa lagi? Dia janda buka salon tapi sepi, mana buka salonnya di rumah kontrakan ditambah anaknya butuh biaya buat pendidikannya. Katanya dia mau kesini main. Aslinya bude males, pasti nanti dia ngerusuhin suami bude. Makannya tak tawarin kamu kalo mau. Ntar dia kalo dateng bude ceritain soal kamu, ke dia. Bude tau kamu orang Baek, makannya bude berani bilang kayak gini."
"Siip bude, ditunggu info selanjutnya. Oh iya ngomong ngomong aku lupa bawa duit bude.. aku utang dulu ya hehe.."
"Huwoohhh..!! Awas kamu gak balik kesini mbayar Yit! Tak tagih ke mamakmu!" Teriak bude Sri pada Yitno yang terus berjalan pulang tanpa dosa.
"Iya, ntar sore aku kesini lagi, tenang aja bude.." jawab Yitno sembari berlalu
***
Tepat sore hari menjelang Maghrib setelah ibunya mandi, Yitno segera mengambil bunga tujuh jenis berbeda yang ia masukan ke dalam sebuah kantong plastik kecil dan ia bawa masuk ke dalam kamarnya. Semua persyaratan sudah terpenuhi. Tampak Yitno lega, malam ini ia berencana menemui si kakek dukun di rawa itu.
Selepas pulang dari acara yasinan di kediaman Tarman, malam itu Yitno langsung mempersiapkan kain kafan, tujuh lembar daun pisang dan bunga sebagai syarat itu ke dalam jaket tebalnya dan keluar rumah tak lupa ia juga membawa senter dan alat suluh untuk menangkap burung.
Ia sengaja membawa alat tersebut agar warga tidak ada yang mencurigainya. Yitno tergolong sangat cerdas, ia selalu memperhatikan tiap langkah dan tindakannya, sekecil apapun itu. Ia berjalan di jalanan kampung sesekali ia menegur orang yang bertemu dengannya.
"Wei Yit, mau nyuluh kemana?" Sapa salah satu warga yang duduk di teras bersama isterinya sedang bersantai malam hari.
"Di sekitar kebon sana lek.." jawab Yitno
"Burung apa Yit? Aku mau kalo perkutut."
"Gak ada kutut lek, mungkin ciblek, tilang gitu biasanya. Aku punya burung perkutut di rumah lek, 150 kalo mau plus kandangnya haha" ucap Yitno tertawa
"Asem kamu Yit, pelit amat.."
"Iyalah aku nyari buat dijual, bukan buat di sedekahkan hahaha.."
"Jangkrik kutut kok seratus lima puluh...mahal!! Huu.."
"Udah jadi lek, suaranya udah bagus kalah suara Judika, dahlah nanti keburu malem, tak lanjot lek"
Yitno pun melanjutkan perjalanannya hingga ia sampai di gubuk reyot milik sang kakek. Dengan perasaan tak menentu ia memberanikan dan memantapkan keinginannya untuk terus maju. Setelah mengetuk pintu gubuk tersebut beberapa saat, akhirnya pintu pun terbuka. Terlihat sang kakek tersenyum mengerikan menyambutnya.
Yitno menyerahkan kain kafan tersebut serta semua persyaratan lainnya. Tampak kakek tersebut tersenyum puas sembari mengangguk-anggukan kepalanya melihat isi plastik tersebut.
"Bagus..bagus..sekarang dengerin Mbah, mulai besok kamu puasa tujuh hari tujuh malam, kamu hanya boleh makan tepat jam 12 malam tidak boleh melebihi jam satu. Ingat itu baik-baik" ucap si kakek
"Jadi buka puasanya jam 12 malam ya Mbah? Terus sahurnya kapan Mbah?" Tanya Yitno polos
"Gak ada sahur...!!"
"Ohh..i..iya Mbah."
"Tidak hanya itu, Kamu cuma boleh makan pas jam 12 itu, makanan yang berwarna hitam."
"Apa..?? Makanan warnanya item? Apa Mbah? Intip kerak nasi gosong?"
"Ya terserah kamu, yang jelas warna yang boleh di makan warnanya serba hitam."
"I..iya Mbah, terus kalau udah seminggu, aku boleh makan normal lagi kan Mbah?"
"Boleh, Kalau udah selesai seminggu, kamu kesini lagi."
"Iya Mbah.."
Setelah berbincang-bincang sesaat Yitno pun akhirnya pamit undur diri. Ia tak langsung pulang, ia mencari burung. Pohon demi pohon ia senter mencari burung yang tidur di dahan pohon.
Ia pulang dengan membawa dua burung kutilang yang berhasil ia tangkap. Dua burung itu ia bakar hingga gosong dan berwarna hitam.
Ya tepat jam dua belas malam Yitno mulai melakukan ritual memakan makanan serba hitam, sialnya ia tak tau apa yang harus ia makan. Jadi ia hanya makan burung bakar yang ia beri kecap dan dua gelas kopi.
Ia lalu beranjak tidur, sembari berfikir besok malam, apa yang harus ia makan dan berwarna hitam.
"Black forest mahal aku gak punya duit, Oreo tengahnya putih, waduh makan apa besok aku ya yang warnanya item dan mudah di dapetin juga murah meriah? Mosok nasi di unyek unyek pake bubuk kopi sih? Kayaknya tetep gak item.."