Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Tidak Melihatnya
Vincent tidak tahu bagaimana ekspresinya sekarang setelah mendengar jika pria matang yang sempat mengancamnya adalah ayah Haikal.
Dia sampai memastikan berkali kali pada Sisi jika apa yang di dengarnya tidak salah.
"Ya elah, buat apa juga gue bohong. Si Om itu emang bokapnya Haikal" meskipun dia juga terkejut pada awalnya, namun mendengar ketidakpercayaan Vincent yang berkali-kali membuatnya kesal sendiri. "Lagian, temenan apaan lo sampe ga tahu bokap temen sendiri"
"Bukan salah gue lah. Si Haikal itu anaknya tertutup. Kalau bukan sering ketemu di club malam, dan gue yang berinisiatif ngajak dia ngomong duluan, gue yakin kita ga bakal pernah kenal."
Hampir setiap malam dia melihat Haikal duduk sendirian, sambil minum di tempat duduk yang sama pula. Vincent abai saja awalnya, namun lama lama dia penasaran juga. Bertanya pada pekerja disana, mereka hanya menjawab jika Haikal anak pengusaha.
Yang membuatnya semakin penasaran adalah, tidak pernah sekalipun dia melihat Haikal bersama orang lain. Entah itu pria apalagi wanita. Kedatangannya ke tempat itu seolah dalam rangka melepaskan beban yang di pikulnya.
Saat Vincent pertama mengajak berbicara, Haikal tidak terlalu merespon. Namun karena dia tidak menyerah, akhirnya dia luluh dan mau menceritakan sedikit tentang masalahnya, yang ternyata tentang keluarganya.
Dan mereka pun berteman sampai sekarang.
"Karena masalahnya tentang keluarga, gue ga terlalu banyak ikut campur. Selama ini gue cuma jadi pendengar" akunya apa adanya. Bahkan untuk sekedar memberi saran saja dia tidak melakukannya.
"Oh iya, menurut lo, gimana kalau gue ngasih tahu Haikal soal bokapnya naksir Keisya?" ujarnya kembali sambil merinding. Entah kenapa dia seperti itu. Untung saja dia tidak ngotot menyukai gadis itu. Bersaing dengan pria sebaya, mungkin hal biasa. Tapi jika lawannya orang berkuasa seperti Bastian, bukannya cinta yang dia dapat, tapi kesialan.
Baru rencana mengajak makan saja dia sudah ketar ketir, apalagi jika sampai lebih dari itu.
Nasibnya pasti lebih parah dari Haikal sekarang.
Sisi memukul pundak Vincent dengan keras sampai pria itu mengaduh. "Jangan gila, lo! Kalau si Om tahu anaknya dapet informasi dari kita, bisa mati kita berdua"
Sambil mengusap pundaknya, dia mengangguk, membenarkan ucapan Sisi. Lalu setelahnya mereka diam, tengah bergelut dengan pikiran masing-masing.
Sampai tiba-tiba, Vincent berceletuk "Menurut lo si Haikal mirip ga sama bokapnya?"
Karena ucapan Vincent, Sisi jadi memikirkan hal itu. Benar juga, mungkin ini salah satu alasan kenapa mereka tidak bisa langsung menebak hubungan ayah dan anak tersebut.
"Bisa jadi mirip nyokapnya semua"
"Semua?"
"Iya, David yang satu sekolah sama sepupu gue juga ga terlalu mirip si Om" Jika mirip, dia dan Keisya tidak akan terlalu terkejut saat Bastian muncul dan mengaku sebagai Ayah David.
\=\=\=\=\=
Ulang tahunnya hampir tiba. Keisya tidak ingin merayakannya, tapi Papanya memaksa.
Keisya sudah mencoba protes, tapi diabaikan.
Ya sudah, akhirnya dia pasrah saja.
Tapi dia tetap memberikan syarat, untuk melakukannya di rumah. Tidak boleh menyewa hotel atau apapun itu. Karena Keisya terlalu malas untuk melakukan hal-hal semacam itu.
Papanya akhirnya setuju.
Toh tujuan merayakan juga memang bukan untuk pesta meriah, melainkan sebagai bentuk syukur untuk kehidupan mereka sekarang.
Bisa berkumpul setelah banyak persoalan di masa lalu yang cukup pelik, itu sudah sebuah berkah untuk keluarga kecil Gunawan.
"Om Bastian juga katanya bakal hadir"
Keisya berhenti menekan remot, lalu menoleh pada Papanya.
"Bukannya cuma kita kita aja yah?"
Gunawan tersenyum sambil menggeleng, "Om Bastian sudah seperti keluarga kita juga"
Cih! Keluarga apanya?
Tidak tahu saja bagaimana kelakuan temannya itu di belakangnya. Sangat mesum dan kurang ajar.
Dia tiba-tiba terpikirkan untuk memberitahu semuanya. Tapi Keisya tidak mau membuat Papa-nya semakin banyak pikiran. Bastian bukan orang yang mudah di hadapi. Kekuasaan serta kegilaannya, adalah combo terbaik untuk membuat lawan tak berkutik.
Bisa-bisa apa yang terjadi pasa Vincent dan Haikal juga akan menimpa Papa-nya.
"Kei?" Gunawan berubah serius dalam sekejap.
"Kenapa Pa?" Keisya sudah sepenuhnya meninggalkan tontonannya, dan sepenuhnya menghadap Papanya, yang sedang menerawang jauh ke depan.
"Papa minta maaf soal dulu. Papa ga punya pilihan lain"
"Papa. Kenapa harus di bahas lagi sih? Aku gapapa. Bukan salah Papa atau Mama. Mereka yang salah. Aku ga pernah menyalahkan siapapun selain para pelaku itu"
Setiap Gunawan melihat Keisya, dia tidak bisa untuk tidak menyesal. Membiarkan putrinya tinggal jauh dari rumahnya sendiri membuatnya miris. Dan itu diperparah oleh fakta, jika dia sendiri yang meminta putri pertamanya itu pergi.
Keisya menghambur memeluk Papanya dari samping setelah melihat kedua mata lelah itu berkaca-kaca, "Ah, ga mau begini. Jangan bahas itu lagi. Kalau Papa sedih aku juga ikut sedih." suaranya mulai serak. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
Gunawan menepuk rambut putrinya tersebut, dia berusaha tersenyum, sekalipun itu sangat sulit untuknya.
Dalam hatinya dia berjanji, akan membahagiakan putrinya di sisa hidupnya.
\=\=\=\=\=
Bastian kesulitan menghubungi Keisya. Entah kemana gadisnya itu pergi. Bertanya pada Gunawan sudah dia lakukan, namun jawaban yang di dapatnya adalah Keisya sedang tidak ada di rumah.
Katanya pergi dengan Sisi sejak pagi.
Akhirnya Bastian meminta orang untuk mencari posisi gadisnya. Ingatkan dia untuk memasang pelacak pada ponsel Keisya untuk mempermudahnya disaat seperti ini..
Jika saja Gunawan tidak mengatakan tentang pembicaraan mereka semalam, dia tidak akan seperti sekarang. Di tambah lagi temannya itu memintanya untuk membantu mencari keberadaan Keisya.
Dia sempat menyalahkan Gunawan. Kenapa juga hal itu harus di ungkit jika tahu hasilnya akan seperti ini? Merepotkan saja. Gadisnya katanya sampai menangis semalaman.
Begitu lokasi ditemukan, Bastian langsung meluncur ke tempat yang membuatnya sampai mengebut di jalanan..
Bar.
Sampai di lokasi, Bastian bergegas turun dan masuk ke dalamnya. Dia terburu-buru sampai menabrak beberapa orang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
Apakah dia meminta maaf?
Oh tentu saja, tidak.
Jangankan meminta maaf, menoleh saja dia tidak melakukannya. Fokusnya sekarang hanya pada keadaan gadisnya.
Tidak tahu saja, jika salah satu orang yang di tabraknya itu adalah mantan istrinya.
Diana menoleh ke belakang, melihat punggung mantan suaminya yang menghilang di balik pintu masuk.
Dahinya menyerit, penasaran apa yang membuatnya sampai terburu buru seperti itu sampai tidak melihatnya sama sekali?
Tanpa menunggu lama dan juga takut kehilangan jejak, dia segera putar balik mengikuti Bastian masuk kembali ke dalam. Sedikit kesusahan mengimbangi langkah mantan suaminya yang lebar, namun dia tetap berhasil melihat tujuan kedatangan Bastian ke tempat ini untuk siapa.
Perempuan muda itu lagi.