Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Dunia Membalas
Tidak ada ledakan. Tidak ada teriakan.
Balasan pertama datang dalam bentuk keheningan.
Sejak pertemuan dewan itu, vila Matteo terasa berbeda. Penjagaan diperketat, jadwal berubah tanpa pemberitahuan, dan setiap pintu dikunci dua kali—bukan karena takut diserang, melainkan karena mereka tahu serangan terbaik tak selalu terlihat.
Carmela berdiri di dapur, menyiapkan kopi yang tak disentuh. Pikirannya berlari lebih cepat daripada tubuhnya. Ia sudah memperhitungkan risiko saat melangkah masuk ke ruang dewan. Ia tidak menyesal. Tapi ia tahu—dunia yang mereka ganggu tidak akan diam.
Matteo masuk dengan wajah keras, jaketnya belum dilepas. Ia baru kembali dari pertemuan singkat dengan kepala keamanan. Tatapannya menemukan Carmela, dan untuk sesaat, raut dinginnya retak.
“Kamu harus bersiap,” katanya.
“Untuk apa?” tanya Carmela.
“Untuk dibenci,” jawab Matteo. “Dan untuk diuji.”
Carmela mengangguk. “Aku sudah.”
Matteo mendekat, menangkup wajahnya dengan kedua tangan—bukan posesif, melainkan memastikan. “Jika ada satu tanda kamu ingin mundur—”
“Aku tidak akan,” potong Carmela lembut. “Bukan sekarang.”
Matteo menutup mata sejenak, lalu mengangguk. “Baik. Kalau begitu, dengarkan ini.”
Ia membuka tablet dan memperlihatkan rangkaian peristiwa kecil: kontrak yang dibatalkan, jadwal yang diacak, rumor yang menyebar rapi. Semua legal. Semua “kebetulan”.
“Dario sedang mengisolasi kita,” lanjut Matteo. “Bukan untuk menghancurkan. Untuk melelahkan.”
“Dan membuatmu terlihat ceroboh,” tambah Carmela.
Matteo tersenyum tipis. “Kamu sudah membaca permainannya.”
Sore itu, Carmela menerima undangan yang tidak ditandatangani—makan malam kecil, lokasi netral, jam yang sopan. Bukan jebakan kasar. Justru terlalu sopan.
Matteo menatap undangan itu lama. “Kamu tidak pergi.”
Carmela menatapnya balik. “Kita pergi. Bersama. Tapi aku yang bicara.”
Hening mengisi ruangan. Matteo menimbang, lalu mengangguk. “Satu langkah salah—kita keluar.”
“Kesepakatan,” kata Carmela.
Restoran itu terang, bersih, nyaris ramah. Dario duduk di meja sudut, ditemani dua orang yang senyumnya tidak pernah sampai ke mata. Ia berdiri saat mereka mendekat.
“Terima kasih sudah datang,” katanya. “Keberanian selalu… mengesankan.”
“Kejujuran juga,” jawab Carmela, duduk tanpa menunggu.
Dario mengangkat alis, lalu tersenyum. “Baik. Kita luruskan.”
Ia menatap Matteo. “Aku tidak ingin perang.”
“Perang jarang dimulai oleh yang kalah,” balas Matteo datar.
Dario tertawa kecil. “Sentuhanmu masih sama. Dingin.”
Lalu tatapannya kembali ke Carmela. “Kamu mengubah papan permainan.”
“Aku hanya menolak dijadikan pion,” jawab Carmela.
“Masalahnya,” kata Dario pelan, “pion yang berjalan sendiri sering tertabrak.”
Carmela tidak bergeming. “Ancaman tidak mengubah fakta.”
“Tidak,” sahut Dario. “Tapi konsekuensi mengubah orang.”
Ia memberi isyarat halus. Seorang pelayan datang, meletakkan amplop tipis di meja—foto-foto lama, potongan rumor, serpihan masa lalu Carmela yang belum sepenuhnya sembuh.
Matteo bergerak, tapi Carmela menahan lengannya.
“Aku tidak bersembunyi dari masa lalu,” kata Carmela. “Kamu mengira ini menakutiku?”
Dario menyandarkan punggung. “Aku mengira ini melelahkanmu.”
Carmela menghela napas pelan. “Kalau itu tujuanmu, kamu terlambat.”
Makan malam berakhir dengan senyum-senyum yang tidak tulus. Tidak ada kesepakatan. Tidak ada ledakan. Hanya satu pesan yang jelas: permainan naik level.
Malam itu, vila gelap lebih awal. Matteo berdiri di teras, menatap kota. Carmela menghampiri, menyelipkan lengannya ke lengan Matteo.
“Dia tidak akan berhenti,” kata Carmela.
“Aku tahu,” jawab Matteo. “Dan kali ini… aku juga tidak.”
Ia berbalik, menatap Carmela serius. “Ada langkah yang harus kuambil. Kotor. Tidak indah.”
Carmela menelan ludah. “Seberapa kotor?”
“Cukup untuk membuat semua orang paham bahwa kita bukan target empuk.”
Carmela memikirkan pilihannya. Dunia ini tidak memberinya ruang untuk bersih sepenuhnya. Ia mengangguk. “Aku ingin tahu. Aku ingin ikut memutuskan.”
Matteo tersenyum—bukan bahagia, tapi menghormati. “Baik.”
Langkah itu dimulai subuh. Bukan serangan fisik, melainkan pembongkaran. Matteo membuka berkas-berkas lama yang selama ini disimpan sebagai penyeimbang—bukti keterlibatan Dario dalam skema abu-abu yang cukup untuk mengguncang reputasi, tidak cukup untuk penjara. Tepat sasaran.
Carmela membantu merangkai narasi: apa yang dibocorkan, kapan, dan kepada siapa. Ia memilih jalur yang paling menyakitkan—kepercayaan publik.
Pukul sepuluh pagi, berita itu beredar. Rapi. Kredibel. Tidak meledak—tapi menyebar.
Pukul dua belas, panggilan masuk bertubi-tubi. Matteo tidak mengangkat satu pun.
“Ini akan membuatnya marah,” kata Carmela.
“Marah itu reaksi,” jawab Matteo. “Kesalahan datang setelahnya.”
Kesalahan itu datang sore hari.
Sebuah mobil mengikuti Carmela dari jarak aman saat ia keluar sebentar—bukan untuk menculik, bukan untuk menakut-nakuti. Hanya mengingatkan.
Carmela menyadarinya. Ia tidak berlari. Ia masuk ke toko kecil, menunggu. Mobil itu pergi.
Saat ia kembali, Matteo sudah tahu. Rahangnya mengeras.
“Mulai sekarang, kamu tidak keluar sendirian,” katanya.
Carmela menatapnya. “Aku tidak ingin hidup di kandang.”
“Kandang menyelamatkan,” balas Matteo.
“Tidak selamanya,” jawab Carmela.
Hening. Lalu Matteo menghela napas. “Baik. Kita buat aturannya bersama.”
Malam itu, mereka duduk di ruang kerja, menyusun batas: rute, waktu, sinyal. Bukan larangan—kesepakatan.
Di sela itu, kelelahan merayap. Ketegangan yang tertahan menemukan jalannya. Matteo menyentuh tangan Carmela, lama, seolah memastikan dunia masih ada di sana.
“Takut?” tanya Matteo.
“Ya,” jawab Carmela. “Tapi tidak sendirian.”
Matteo mendekat, dahi mereka bersentuhan. Tidak ada kata-kata besar. Hanya napas yang selaras, kesadaran bahwa keintiman kini adalah keberanian untuk tetap tinggal.
Malam berikutnya, Dario bergerak lagi—kali ini lewat orang ketiga. Lorenzo muncul di vila, tanpa janji temu. Wajahnya pucat, matanya lelah.
“Aku tidak punya banyak waktu,” katanya. “Dia akan menjatuhkanmu lewat jaringan lama. Nama-nama yang kamu kira netral.”
Matteo menatapnya dingin. “Kenapa membantuku?”
“Karena aku sudah terlalu lama berdiri di sisi yang salah,” jawab Lorenzo. “Dan karena Carmela benar.”
Carmela menatap Lorenzo lama. “Ini tidak menghapus apa pun.”
“Aku tahu,” katanya. “Tapi mungkin ini mencegah yang lebih buruk.”
Matteo mengangguk tipis. “Terima kasih.”
Saat Lorenzo pergi, Carmela merasakan beban baru—bukan ancaman, melainkan tanggung jawab. Setiap orang yang memilih sisi menambah harga yang harus dibayar.
Puncak datang tanpa peringatan.
Sebuah konferensi kecil. Matteo hadir, Carmela di sisinya. Kamera, senyum, kalimat yang ditimbang. Di tengah sesi tanya jawab, satu pertanyaan tajam dilemparkan—tentang masa lalu, tentang legitimasi, tentang Carmela.
Matteo hendak menjawab. Carmela menyentuh lengannya.
“Aku,” katanya.
Ia melangkah setengah langkah ke depan. Suaranya stabil. “Aku tidak sempurna. Aku tidak datang dari tempat yang mudah. Tapi aku tidak bersembunyi. Dan jika itu membuat sebagian orang tidak nyaman—itu bukan masalahku.”
Keheningan menyapu ruangan. Kamera mengarah padanya. Tidak ada defensif. Tidak ada drama. Hanya kehadiran.
Matteo menatap Carmela dengan rasa yang tak bisa dinamai—campuran bangga dan takut. Dunia baru saja melihat apa yang selama ini ia lindungi.
Malamnya, saat vila kembali sunyi, Matteo berdiri di balkon. Carmela menghampiri.
“Kamu membuat banyak musuh hari ini,” kata Matteo.
Carmela tersenyum kecil. “Aku juga membuat posisi.”
Matteo tertawa pelan. “Kamu berbahaya.”
“Belajar dari yang terbaik,” jawab Carmela.
Matteo memeluknya dari belakang. Tidak erat. Tidak posesif. Cukup untuk berkata: aku di sini.
“Perang ini belum selesai,” bisiknya.
Carmela menutup mata. “Aku tahu.”
“Tapi sekarang,” lanjut Matteo, “kita bukan hanya bertahan. Kita membentuk arah.”
Carmela berbalik, menatapnya. “Bersama.”
Matteo mengangguk. “Bersama.”
Di kejauhan, kota berdenyut—tidak peduli pada cinta, tidak peduli pada perang kecil mereka. Tapi di balkon itu, dua orang memilih untuk tetap berdiri, meski dunia membalas setiap langkah.
Dan untuk pertama kalinya, balasan itu tidak membuat mereka mundur.