"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.
"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beasiswa Untuk Rara
Tiga bulan sejak kepergian Alisya. Hari-hari Rara kembali berjalan normal. Kini Alea perlahan mulai menerima kehadirannya, meski sesekali gadis itu masih saja galak dan ketus.
“Kenapa lambat sekali, Ra! Cepat dong jalannya!” bentak Alea ketika Rara tertinggal jauh di belakang.
Ia mencak-mencak, sesekali menoleh ke arah Rara yang masih berjalan pelan.
“Jalan, lelet amat sih,” gerutunya kemudian.
Rara hanya menoleh sekilas, tanpa niat untuk membalas. Percuma berdebat, karena Alea tak pernah mau kalah.
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya mereka sampai di depan gerbang sekolah. Rara menunduk, memperhatikan sepatu lusuh yang dikenakannya. Ujung ibu jempol kakinya tampak mengintip malu dari sela-sela sobekan.
Rara menarik napas dalam. Entah kapan sepatu ini bisa ia tukar. Terlintas keinginan untuk bercerita pada ayahnya, tapi semua itu terasa percuma.
“Hei, Ra!”
Arini menepuk pundaknya, membuat Rara tersentak. Ia menoleh, lalu menebarkan senyum getir.
“Bengong aja pagi-pagi,” gumam Arini pelan.
“Udah akur kayaknya nih?” godanya lagi, melirik ke arah Alea yang berjalan lebih dulu.
“Ya gitulah, Rin. Sejak Alisya ikut ibu, sikap Alea sedikit berubah padaku.”
Rara mencelos pelan.
“Ibumu juga?” selidik Arini penasaran.
“Kalau itu… sama ajalah, Rin.”
Rara terkekeh lirih, getirnya lebih terasa daripada tawanya.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan kelas. Rara dan Arini masuk, mereka menuju ke meja yang kebetulan bersebelahan. Beberapa menit mereka di dalam kelas, bel tanda masuk berbunyi.
Semua berhamburan ke luar ruangan. Pagi sebelum masuk jadwal mereka senam sehat. Rara dan Arini jalan berbarengan.
Matahari pagi mulai mengintip di balik peraduan. Angin berembus sepoi, dinginnya menyentuh kulit Rara. Namun tak ada yang benar-benar terasa hangat di dadanya.
Suara musik dari tape recorder terdengar nyaring, tanda senam pagi akan dimulai. Rara mengikuti gerakan demi gerakan dengan tubuh kaku. Pikirannya melayang, jauh dari halaman sekolah.
Tak lama bel masuk berbunyi. Setelah senam pagi, Rara dan Arini kembali ke kelas dan duduk di bangku bersebelahan. Beberapa menit kemudian, Bu Atika masuk ke ruangan.
Seperti biasa Bu Atika menyapa dengan hangat. Ia mengambil absen satu per satu. Ketika sampai di nama Rara, ia menghentikannya.
"Rara?" sapanya lembut.
"Iya, Bu." balas Rara gugup.
"Rara sekarang ke ruangan kepala sekolah, ya?"
Jantung Rara langsung berdegup kencang. Tubuhnya mendingin. Tangannya terasa gemetar.
"Ada apa ini?" desisnya hampir tak terdengar.
"Sekarang, Bu?" tanyanya kemudian.
"Iya sekarang, sudah ditunggu kepala sekolah." Rara menelan air liurnya perlahan. Ada takut yang tiba-tiba menyergap. Ia melangkah gontai meninggalkan kelas.
Sesampai di depan ruangan itu, Rara mengetuk pintu pelan.
"Masuk!" suara itu terdengar cukup lembut. Tidak seperti yang ia bayangkan.
"Permisi, Bu." ucap Rara ragu-ragu.
"Iya silakan masuk, Ra." ucap kepala sekolah itu menyunggingkan senyum.
Wanita yang cukup tua itu menyediakan kursi untuknya.
"Rara tahu kenapa, Ibu panggil?"
Rara menggeleng. Jemarinya saling meremas.
"Nggak usah takut. Ibu bukan ingin menghukum Rara." ucapnya kemudian seakan tahu apa yang dipikirkan Rara.
Rara mengangguk pelan.
Kepala sekolah itu mengeluarkan selembar kertas. Menaruhnya tepat di hadapan Rara.
"Ini, karena Rara berprestasi. Nama Rara keluar sebagai penerima beasiswa prestasi."
Rara tertegun. Kaget dan senang bercampur menjadi satu. Ini terasa mimpi baginya. Matanya berbinar.
Ia menandatangani sebuah kertas yang di sodorkan kepala sekolah.