NovelToon NovelToon
Qalbu Yang Terlupa

Qalbu Yang Terlupa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi
Popularitas:26
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Persiapan Menuju Reruntuhan

Sebelum berangkat ke museum untuk mengambil Keris Sulaiman, ada satu hal yang harus diselesaikan dulu: izin resmi. Karena keris itu bukan barang sembarangan yang bisa dipinjam dengan mudah.

"Pak Arman pasti nggak akan kasih begitu saja," kata Raesha sambil menyetir menuju museum. "Dia direktur museum. Ada prosedur, ada birokrasi—"

"Maka kita bawa surat resmi dari Papa," potong Mahira sambil menunjukkan amplop cokelat di tangannya. "Surat permohonan pinjaman artefak untuk keperluan riset keluarga. Plus Papa sudah telepon dia tadi pagi. Bilang ini urgent."

"Dan kalau dia tetap nolak?"

"Maka kita curi," jawab Zarvan dengan santai dari kursi belakang.

"APA?!" Raesha hampir kehilangan kendali mobil.

"Becanda. Tenang aja." Zarvan nyengir—tapi matanya serius. "Tapi serius, kalau emang harus, aku akan lakuin apapun untuk dapetin keris itu. Ini bukan cuma soal kita berdua lagi, Mahira. Ini soal Khaerul. Soal Alzena. Soal semua orang yang terikat kutukan ini."

Mahira menatapnya lewat spion—dan dadanya sesak. Bukan karena takut. Tapi karena... cinta. Cinta yang makin kuat setiap hari. Cinta yang membuatnya rela melakukan apapun—bahkan mencuri kalau perlu—demi pria ini.

"Kita nggak akan curi," katanya pelan. "Kita akan minta baik-baik. Dan kalau Pak Arman punya syarat, kita akan penuhi."

***

Ternyata Pak Arman tidak menolak. Malah dia yang mengusulkan sesuatu yang tidak terduga.

"Saya akan kasih keris itu ke kalian," katanya sambil duduk di ruang kerjanya yang penuh artefak kuno. "Tapi bukan untuk dipinjam. Untuk dimiliki. Selamanya."

Mahira terkejut. "Pak Arman, ini artefak nasional. Bapak nggak bisa—"

"Siapa bilang nggak bisa?" Pak Arman tersenyum—senyum aneh yang bikin Mahira merinding. "Keris itu memang milik museum secara hukum. Tapi secara spiritual? Keris itu milik keluarga Sultan Mahmud. Milik keturunan Putri Aisyara. Milikmu, Mahira."

"Bapak... tahu?"

"Tentu aku tahu." Pak Arman berdiri, berjalan ke jendela yang menghadap taman museum. "Ayahku dulu bekerja untuk nenekmu. Dia yang menjaga artefak-artefak keluarga Qalendra. Dan sebelum dia meninggal, dia pesan padaku: 'Suatu hari nanti, akan ada keturunan Aisyara yang datang untuk ambil Keris Sulaiman. Jangan halangi dia. Karena keris itu sudah menunggu pemilik yang tepat selama 300 tahun'."

Zarvan berdiri juga. "Jadi Bapak sudah tahu ini akan terjadi?"

"Tidak tahu kapan. Tapi tahu pasti akan terjadi." Pak Arman berbalik menatap mereka. "Dan kemarin malam, aku mimpi. Mimpi seorang wanita dengan kebaya kuno datang ke kamarku. Dia bilang namanya Alzena. Dan dia minta aku untuk kasih keris itu ke kalian. Tanpa syarat. Tanpa pertanyaan."

Mahira merasakan air mata mendesak keluar. Alzena. Roh yang bahkan di keterbatasannya masih berusaha membantu mereka.

"Terima kasih, Pak," ucap Mahira dengan suara bergetar. "Bapak nggak tahu betapa ini berarti buat kami."

"Aku tahu." Pak Arman tersenyum lagi—kali ini lebih hangat. "Dan aku cuma minta satu hal: setelah kutukan putus, kembalikan keris itu ke museum. Bukan untuk disimpan. Tapi untuk dipajang dengan cerita yang benar. Cerita tentang cinta yang mengalahkan dendam. Cerita yang bisa menginspirasi orang lain."

"Janji," kata Zarvan. "Setelah semuanya selesai, kami akan kembalikan. Dengan cerita lengkap."

---

Pusaka Pertama - Keris Sulaiman

Keris Sulaiman lebih berat dari yang Mahira bayangkan.

Saat Pak Arman mengeluarkannya dari vitrin dengan sarung tangan khusus dan meletakkannya di meja—keris itu berkilau meskipun cahaya di ruangan redup. Sarung emasnya dengan ukiran kaligrafi Arab terlihat seperti baru dibuat kemarin. Tidak ada karat. Tidak ada kerusakan.

"Keris ini," jelas Pak Arman sambil membuka sarungnya perlahan, "dibuat oleh pandai besi terbaik kesultanan 300 tahun lalu. Dicampur dengan logam meteor dan dibacakan doa selama 40 hari 40 malam. Konon keris ini bisa melihat kebenaran—bisa membedakan yang tulus dan yang munafik."

Bilah kerisnya keluar—dan Mahira tercekat. Bilahnya bergelombang dengan pola pamor yang indah. Dan di tengah bilah—ada ukiran kecil. Ukiran nama.

"Mahira Kencana binti Sultan Mahmud."

"Ini... ini milikku?" bisik Mahira. "Maksudku—milik Aisyara?"

"Keris ini dibuat khusus untuk Putri Aisyara sebagai hadiah ulang tahun ke-18," jawab Pak Arman. "Sultan Mahmud yang pesan. Tapi sebelum keris ini diserahkan—tragedi terjadi. Jadi keris ini tidak pernah sampai ke tangan Aisyara. Sampai sekarang."

Mahira mengulurkan tangannya—gemetar—dan menyentuh pegangan keris itu.

Dan—

VISI MELEDAK.

***

Bukan visi pengkhianatan kali ini. Tapi visi yang berbeda.

Mahira—atau Aisyara—berdiri di ruang tahta. Sultan Mahmud duduk dengan senyum bangga. Di tangannya, keris yang sama ini.

"Ini untuk kamu, anakku," kata Sultan dengan suara penuh kasih sayang. "Keris untuk melindungimu. Karena seorang putri harus kuat. Harus bisa bela diri. Tidak cuma cantik tapi juga pemberani."

Aisyara menerima keris itu dengan air mata bahagia. "Terima kasih, Ayahanda. Ini hadiah terindah yang pernah aku terima."

"Gunakan ini dengan bijak. Dan ingat—keris ini hanya boleh digunakan untuk kebenaran. Untuk keadilan. Tidak untuk dendam."

"Aku mengerti, Ayahanda."

Tapi visi berubah. Menjadi gelap. Menjadi mengerikan.

Aisyara berlari—dengan keris di tangan—menuju paviliun saat mendengar teriakan Zarvan. Dia sampai di sana—melihat Khalil berdiri dengan pisau di tangan—dan Zarvan tergeletak berdarah.

"TIDAK!" Aisyara mengangkat keris—ingin serang Khalil—tapi tangannya gemetar. Dia tidak bisa. Tidak bisa bunuh orang meskipun orang itu baru saja bunuh orang yang dia cintai.

Dan keraguan itu—keraguan satu detik itu—membuat Khalil punya waktu untuk balik menyerang.

Pisau ditusukkan. Darah mengalir. Dan keris Sulaiman jatuh dari genggaman Aisyara yang melemah.

Jatuh ke tanah berdebu. Terlupakan. Sampai 300 tahun kemudian.

***

"MAHIRA!"

Zarvan menangkapnya sebelum jatuh. Mahira terengah-engah—keringat dingin membasahi wajahnya.

"Aku... aku lihat kenapa Aisyara nggak bisa selamatin dirinya," bisiknya dengan suara parau. "Dia punya keris. Dia punya senjata. Tapi dia nggak bisa pakai karena... karena dia terlalu baik. Terlalu takut untuk bunuh orang."

"Dan itu yang bikin dia mati," gumam Zarvan dengan suara pahit. "Kebaikannya sendiri yang bunuh dia."

"Bukan kebaikan," potong Ustadz Hariz yang entah kapan masuk ke ruangan. "Tapi keraguan. Aisyara ragu apakah membunuh Khalil itu benar atau salah. Dan keraguan itu—meskipun datang dari hati yang baik—adalah kelemahannya."

Pak Arman meletakkan sarung keris di meja. "Dan sekarang keris ini ada di tanganmu lagi, Mahira. Tapi kali ini—kali ini kamu harus siap. Siap untuk bertindak kalau saatnya tiba. Tidak boleh ragu lagi."

Mahira menatap keris di tangannya—keris yang seharusnya melindungi Aisyara tapi gagal. Dan dia bersumpah dalam hati: kali ini tidak akan gagal. Kali ini dia akan gunakan keris ini untuk apa yang seharusnya—untuk kebenaran, untuk keadilan, dan untuk melindungi orang-orang yang dia cintai.

"Terima kasih, Pak Arman," ucap Mahira sambil memasukkan keris kembali ke sarungnya. "Aku akan jaga keris ini. Dan aku akan pastikan—kali ini—keris ini berhasil melindungi kami."

"Semoga Allah meridhai langkahmu, anak muda," kata Pak Arman sambil menepuk bahu Mahira. "Dan ingat—keris itu bukan hanya senjata. Keris itu juga kunci. Kunci untuk membuka ingatan yang masih tersembunyi. Baik ingatanmu maupun ingatan Zarvan."

Zarvan yang dari tadi diam tiba-tiba menatap keris itu dengan pandangan aneh. "Maksud Bapak?"

"Sentuh keris itu. Berdua. Dalam waktu bersamaan. Dan kalian akan lihat... akan lihat kebenaran yang selama ini tersembunyi. Kebenaran tentang siapa sebenarnya yang mengkhianati kalian 300 tahun lalu."

Mahira dan Zarvan saling pandang. Lalu—perlahan—mereka berdua menyentuh keris itu. Tangan Mahira di pegangan. Tangan Zarvan di bilah.

Dan dunia meledak.

Ingatan datang bagai banjir. Bukan cuma ingatan Aisyara. Tapi juga ingatan Zarvan. Lengkap. Jelas. Tanpa ada yang tersembunyi lagi.

Dan yang mereka lihat—yang mereka rasakan—membuat keduanya jatuh berlutut sambil menangis.

Karena kebenaran itu... jauh lebih menyakitkan dari yang mereka kira.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!