Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.
Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.
Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJALANAN PULANG
Gelombang kesedihan yang mendalam menyelimuti Evan saat ia mengikuti jenazah Kakek Darmo menuju kuburan keluarga yang terletak di belakang kebun pepaya milik leluhurnya. Jalan yang biasanya ia lalui dengan riang untuk berlatih atau membantu Kakek Darmo merawat kebun obat kini terasa begitu panjang dan berat. Setiap langkahnya diiringi oleh suara takbir dari warga kampung yang berbaris mengiringi jenazah, sementara hujan gerimis mulai turun lembut seolah alam juga ikut menangis kehilangan sosok yang begitu dicintai.
Setelah prosesi pemakaman selesai dan semua tamu mulai pulang, Evan tetap berada di dekat makam Kakek Darmo, duduk bersila di atas tanah yang masih hangat oleh sinar matahari sore yang menerobos awan. Ia masih menggenggam kotak kayu yang berisi warisan leluhur dengan erat, seperti itu adalah satu-satunya hal yang bisa menghubungkannya dengan Kakek Darmo yang kini telah tiada.
"Kakek... aku sudah kembali seperti yang kamu minta," bisik Evan dengan suara yang penuh kesedihan, menatap batu nisan yang baru saja dipasang dengan nama lengkap Kakek Darmo dan tahun kelahiran serta wafatnya. "Aku akan tetap di kampung sampai kamu benar-benar pulang ke alam yang lebih baik. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian di saat seperti ini."
Pada hari berikutnya, Evan menghubungi sekolah untuk mengambil cuti selama seminggu. Guru dan teman-temannya dengan senang hati memberikan izin dan bahkan mengirim pesan dukungan serta doa untuk Kakek Darmo dan keluarga. Rina sendiri mengirim pesan panjang yang penuh dengan dukungan dan janji akan membantu mengurus tugas sekolah Evan selama ia tidak ada.
Setelah mengurus administrasi cuti dan menyampaikan kabar kepada orang tuanya, Evan langsung kembali ke rumah Kakek Darmo. Ia membersihkan setiap sudut rumah dengan hati-hati – dari ruang tamu yang penuh dengan perabotan kayu tua hingga ruangan rahasia yang menyimpan buku-buku kuno tentang ilmu pengobatan. Ia ingin rumah Kakek Darmo tetap bersih dan terawat seperti ketika leluhurnya masih hidup.
Setiap pagi, Evan bangun sebelum fajar seperti biasa dan melakukan latihan beladiri di bawah pohon beringin yang besar. Namun kali ini, latihannya terasa lebih dalam dan penuh dengan makna – setiap gerakan yang ia lakukan adalah untuk menghormati Kakek Darmo dan untuk mengingat semua pelajaran yang telah diajarkan. Ia juga mulai mengikuti ritual leluhur yang pernah diajarkan Kakek Darmo – menyala dupa di altar kecil yang terletak di pojok halaman rumah dan mengucapkan doa untuk keselamatan roh leluhur.
"Saya akan melanjutkan latihan seperti yang kamu ajarkan, Kakek," ujar Evan sambil menyelesaikan serangkaian gerakan beladiri dengan keanggunan dan kekuatan yang baru saja ia kuasai beberapa minggu yang lalu. "Saya tidak akan pernah melupakan setiap kata yang kamu ucapkan dan setiap gerakan yang kamu tunjukkan."
Selain berlatih, Evan juga menghabiskan banyak waktu di kebun obat milik Kakek Darmo. Ia merawat setiap tanaman dengan penuh cinta dan perhatian – menyiramnya dengan air sungai yang jernih, membersihkan gulma yang tumbuh di sekitarnya, dan memangkas cabang yang sudah tua agar tanaman bisa tumbuh dengan subur. Ia mengingat setiap kata Kakek Darmo tentang cara merawat tanaman obat dan menerapkannya dengan sangat hati-hati.
Pada suatu sore ketika ia sedang merawat tanaman temu lawak, Pak Jono – yang pernah disembuhkan oleh Evan beberapa waktu yang lalu – datang dengan membawa mangkuk penuh dengan makanan yang sudah dimasak oleh Mbok Siti.
"Kamu harus makan dengan baik ya, Evan," ujar Pak Jono dengan suara yang penuh perhatian, melihat Evan yang sudah mulai kurus akibat kesedihan dan kurang makan. "Kakek Darmo pasti tidak ingin melihatmu seperti ini. Dia selalu bilang bahwa kamu adalah penerus yang terbaik dan kamu harus tetap kuat untuk bisa menjalankan amanahnya."
Evan menerima makanan dengan rasa syukur dan mengucapkan terima kasih kepada Pak Jono dan Mbok Siti. Saat ia makan sambil berbincang dengan Pak Jono, ia mulai bertanya tentang pengalaman Pak Jono dengan Kakek Darmo dan tentang hal-hal yang mungkin belum pernah ia ketahui tentang leluhurnya.
"Kakek Darmo adalah orang yang sangat luar biasa," cerita Pak Jono dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Ketika saya masih kecil, kampung kita pernah dilanda wabah penyakit dan banyak orang yang sakit bahkan meninggal dunia. Kakek Darmo bekerja tanpa henti selama berhari-hari untuk menyembuhkan orang-orang yang sakit, tidak pernah meminta imbalan apa pun. Ia selalu bilang bahwa membantu orang lain adalah bagian dari kewajiban kita sebagai manusia."
Ia melanjutkan, "Selain itu, ia juga pernah melindungi kampung kita dari beberapa orang yang ingin menyebarkan kekacauan dan merusak kebun-kebun milik warga. Ia menggunakan keahlian beladirinya bukan untuk menyakiti mereka melainkan untuk membuat mereka menyadari kesalahan mereka dan berubah menjadi orang yang lebih baik."
Setelah Pak Jono pergi, Evan kembali ke rumah Kakek Darmo dan membuka kotak kayu yang berisi warisan leluhur. Ia membuka setiap gulungan kain sutra satu per satu dan membaca catatan-catatan rahasia yang tertulis di dalamnya dengan sangat hati-hati. Di sana ia menemukan banyak hal baru yang belum pernah diajarkan Kakek Darmo – teknik pengobatan untuk penyakit yang lebih kompleks, gerakan beladiri yang lebih mendalam, dan juga cerita tentang leluhur-leluhur mereka yang telah menjadi penyembuh dan pejuang keadilan selama berabad-abad.
Ia juga membuka surat yang ditulis Kakek Darmo khusus untuknya. Di dalam surat tersebut, Kakek Darmo menjelaskan dengan rinci tentang tugas dan tanggung jawabnya sebagai penerus warisan, tentang cara memilih penerus berikutnya yang layak, dan tentang harapannya agar Evan bisa menggabungkan ilmu tradisional dengan modern untuk kebaikan masyarakat luas.
"Cucu tercinta Evan," tulis Kakek Darmo dalam suratnya, "Saat kamu membaca surat ini, aku sudah tidak lagi berada di dunia ini. Namun aku tahu bahwa kamu akan terus melanjutkan apa yang telah kita mulai bersama. Jangan pernah merasa sendirian – aku akan selalu ada di dalam hatimu dan di setiap gerakan yang kamu lakukan, di setiap ramuan yang kamu buat. Ingatlah selalu bahwa ilmu yang kita miliki adalah anugerah dari alam dan harus digunakan dengan penuh rasa hormat dan tanggung jawab. Jadilah orang yang tidak hanya pintar dan terampil namun juga memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu orang lain. Aku sangat bangga menjadi gurumu dan aku tahu bahwa kamu akan membuat nama keluarga kita bangga."
Evan menangis saat membaca surat tersebut, namun kali ini air matanya tidak hanya penuh dengan kesedihan namun juga dengan tekad yang kuat. Ia menyimpan surat dengan hati-hati ke dalam kotak kayu dan kemudian mengambil keris pusaka yang diberikan Kakek Darmo. Ia merasa bahwa kekuatan dan kebijaksanaan leluhurnya mengalir ke dalam dirinya melalui benda pusaka tersebut.
Pada malam terakhir sebelum ia harus kembali ke sekolah, Evan menghabiskan waktu di bawah pohon beringin yang besar bersama beberapa tetangga yang sudah dekat dengan Kakek Darmo. Mereka berbagi cerita tentang Kakek Darmo, menceritakan berbagai pengalaman indah yang pernah mereka lalui bersama leluhurnya. Beberapa dari mereka bahkan meminta Evan untuk melanjutkan pekerjaan Kakek Darmo dalam membantu masyarakat kampung dengan ilmu pengobatan tradisional.
"Kita semua tahu bahwa kamu akan pergi ke kota untuk melanjutkan studi dan mengejar impianmu, Evan," ujar Mbok Siti dengan suara yang penuh harapan. "Namun kami berharap kamu tidak akan melupakan kampungmu dan kami yang tinggal di sini. Kakek Darmo selalu bilang bahwa kamu adalah harapan kita untuk masa depan yang lebih baik."
Evan mengangguk dengan penuh pemahaman dan rasa tanggung jawab. "Saya tidak akan pernah melupakan kampung ini atau semua orang yang tinggal di sini," janjinya dengan suara yang jelas dan penuh tekad. "Saya akan kembali setiap waktu yang bisa saya dapatkan untuk membantu masyarakat dan merawat kebun obat serta rumah Kakek Darmo. Dan satu hari nanti, ketika saya sudah menyelesaikan studiku, saya akan kembali untuk membangun klinik kecil di kampung ini – di mana ilmu tradisional dan modern bisa digabungkan untuk membantu lebih banyak orang."
Di bawah sinar bulan yang terang dan bintang-bintang yang bersinar terang, Evan merasa bahwa hubungan dirinya dengan kampung halamannya dan dengan Kakek Darmo semakin kuat. Ia tahu bahwa perjalanan yang akan ia tempuh masih panjang dan penuh dengan tantangan, namun ia juga yakin bahwa dengan dukungan dari keluarga, teman-teman, dan warga kampung, serta dengan kekuatan yang diberikan oleh warisan leluhurnya, ia akan mampu menghadapi segala sesuatu dengan penuh keberanian dan kebaikan hati.
Pada pagi harinya, Evan melakukan latihan terakhir di bawah pohon beringin sebelum berangkat kembali ke kota. Ia melakukan setiap gerakan dengan penuh kesadaran dan penghormatan, seolah Kakek Darmo masih berdiri di depannya menyaksikan. Setelah selesai berlatih, ia berdiri tegak di bawah pohon besar itu dan mengucapkan doa untuk leluhurnya serta untuk masa depan yang akan datang.
"Sampai jumpa lagi, Kakek," bisik Evan sambil melihat ke arah makam Kakek Darmo yang terletak tidak jauh dari sana. "Saya akan selalu mengingatmu dan semua yang kamu ajarkan padaku. Saya akan bekerja keras untuk mewujudkan impian kita berdua dan menjadikan kamu bangga. Saya akan kembali lagi sebentar lagi."
Dengan kotak kayu yang berisi warisan leluhur di dalam tasnya dan kalung batu giok yang hangat di lehernya, Evan berjalan menuju jalan utama untuk menaiki bis yang akan membawanya kembali ke kota. Ia melihat ke belakang untuk melihat rumah Kakek Darmo dan pohon beringin yang besar yang sudah menjadi bagian penting dari kehidupannya, merasa bahwa meskipun ia sedang pergi untuk mengejar masa depannya, kampung halamannya dan leluhurnya akan selalu menjadi tempat kembali yang aman dan penuh kasih sayang.