Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 KHSC
Pukul lima pagi, gedung Bhaskara Corp sudah menyala terang. Juna berdiri di depan dinding kaca raksasa yang menghadap ke arah distrik bisnis Jakarta. Matanya merah karena kurang tidur, tapi energinya justru sedang berada di puncak. Di belakangnya, Rio dan tim pengacara serta ahli finansial sedang sibuk dengan laptop masing-masing.
"Sekarang," perintah Juna pendek.
Dalam hitungan detik, instruksi dikirimkan. Juna tidak hanya bertahan dari hostile takeover Bagaswara; ia balik menyerang dengan membongkar semua dosa lama mereka ke publik—termasuk bukti baru yang ditemukan Juna mengenai penjebakan ayah Nareswari tiga puluh tahun lalu.
"Pak, saham Bagaswara Group anjlok 40% dalam pembukaan perdagangan. Investor mereka mulai menarik diri secara massal," lapor Rio dengan nada puas.
Juna tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang terlihat namun mematikan. "Hancurkan mereka sampai ke akarnya. Aku ingin mereka tahu bahwa menyentuh keluargaku adalah kesalahan terakhir yang akan mereka buat dalam hidup mereka."
Meskipun dalam mode tempur, Juna melirik ponselnya. Ia mengirim pesan singkat ke Nares: "Aku akan pulang untuk makan siang. Jangan keluar rumah hari ini, sayang. Aku mencintaimu."
***
Di rumah, Nares merasa gelisah. Meskipun Juna sudah memperketat keamanan, perasaan tidak enak terus menghantuinya. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan di taman belakang, menghirup udara segar untuk menenangkan janinnya yang terasa sangat aktif pagi itu.
Tiba-tiba, suara deru mobil yang berhenti mendadak di depan gerbang terdengar. Tak lama kemudian, keributan pecah. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian bermerek namun tampak berantakan berhasil menerobos masuk melewati penjaga, tampak histeris.
Itu adalah Shinta Bagaswara, istri dari pimpinan konsorsium yang sedang dihancurkan Juna.
"Di mana kau, Nareswari?!" teriak Shinta, wajahnya penuh amarah dan keputusasaan.
Nares berdiri tegak, memegangi perutnya yang besar dengan protektif. "Saya di sini, Nyonya Shinta. Tolong tenang, Anda sedang berada di properti pribadi."
"Tenang?! Suamimu sedang menghancurkan hidup kami! Dia mengambil segalanya! Hanya karena rahasia lama dari orang tuamu yang sudah mati?!" Shinta melangkah maju dengan cepat, tangannya terangkat seolah ingin mencengkeram Nares.
Nares tidak mundur. "Suami saya hanya mengungkapkan kebenaran yang kalian kubur dalam-dalam. Ayah saya menderita karena keserakahan kalian. Kehancuran kalian adalah buah dari benih yang kalian tanam sendiri."
***
Tepat saat Shinta mencoba menyerang, sebuah tangan kekar menangkap pergelangan tangannya di udara. Juna telah tiba. Ia pulang lebih awal karena firasat buruk yang tidak bisa ia abaikan.
Wajah Juna tampak mengerikan. Aura dingin yang ia pancarkan mampu membekukan siapa pun di tempat itu.
"Jangan. Pernah. Sentuh. Istriku," desis Juna, suaranya rendah namun penuh ancaman nyata.
Ia melepaskan tangan Shinta dengan kasar hingga wanita itu terjatuh ke rumput. Juna segera berbalik, memeluk Nares dengan sangat posesif, memeriksa setiap inci tubuh istrinya untuk memastikan tidak ada yang terluka.
"Kau tidak apa-apa, Nares? Apakah bayinya baik-baik saja?" Juna bertanya dengan suara yang seketika berubah lembut dan penuh kekhawatiran.
Nares mengangguk, menyandarkan kepalanya di dada Juna. "Aku tidak apa-apa, Juna. Dia hanya ketakutan."
Juna menatap Shinta yang menangis di tanah. "Rio, panggil polisi. Tuntut dia atas pelanggaran wilayah dan percobaan penyerangan. Dan pastikan semua aset keluarganya dibekukan tanpa sisa. Aku tidak akan membiarkan mereka memiliki satu sen pun untuk mengusik ketenanganku lagi."
***
Setelah keributan mereda dan Shinta dibawa pergi, Juna membawa Nares masuk ke dalam rumah. Ia tidak melepaskan tangan Nares sedetik pun. Juna membawa Nares ke kamar mandi, menyiapkan air hangat dengan aroma lavender untuk menenangkan istrinya.
"Maafkan aku, Nares. Aku seharusnya tidak membiarkan mereka sampai ke sini," kata Juna sambil membantu Nares duduk di tepi bak mandi.
Juna berlutut di depan Nares, melepas sepatunya, dan menciumi jemari tangan Nares satu per satu. "Aku bersumpah, ini adalah gangguan terakhir. Keluarga Bagaswara sudah tamat. Nama ayahmu sudah dibersihkan di semua media nasional sore ini."
Nares tersenyum haru, menarik Juna mendekat dan mencium keningnya. "Kau adalah pelindung kami, Juna. Aku tidak takut selama kau ada di sini."
Juna mendongak, matanya penuh dengan pemujaan. "Aku akan melakukan apa pun untukmu, Nareswari. Kau adalah satu-satunya alasan aku ingin menjadi pria yang lebih baik setiap harinya."
***
Malam itu, mereka menghabiskan waktu di dalam kamar yang diterangi cahaya lilin. Juna tidak membiarkan Nares melakukan apa pun. Ia memasak makan malam sederhana—pasta yang sangat disukai Nares—dan menyuapinya dengan penuh cinta.
Setelah makan, Juna berbaring di samping Nares, tangannya tak henti-hentinya mengusap perut Nares yang sedang bergerak-gerak.
"Dia sangat aktif malam ini," bisik Juna, matanya berbinar bahagia.
"Dia tahu ayahnya adalah pahlawan," balas Nares sambil tersenyum manja.
Juna menarik Nares ke dalam pelukannya, menyelimuti tubuh mereka dengan kehangatan. "Besok, aku akan mengambil cuti panjang. Aku ingin bersamamu sampai hari persalinan tiba. Bhaskara Corp bisa berjalan tanpa aku, tapi aku tidak bisa hidup tanpamu."
Juna mencium bibir Nares dengan penuh perasaan, sebuah ciuman yang menandakan berakhirnya semua konflik masa lalu. Mereka telah melewati badai terbesar mereka, dan kini yang tersisa hanyalah masa depan yang cerah bersama sang pewaris yang sebentar lagi akan hadir.
Nares tertidur dalam dekapan Juna, merasa sangat lengkap. Juna tetap terjaga sebentar, menatap wajah tidur istrinya dengan cinta yang begitu dalam, berjanji di dalam hati bahwa ia akan selalu menjadi benteng yang tak terkalahkan bagi keluarga kecil yang sangat ia cintai ini.
Bersambung....