NovelToon NovelToon
Penghianatan Tak Termaafkan

Penghianatan Tak Termaafkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."

​Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.

​Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.

​Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.

Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.

By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 7

Keheningan di apartemen Kirana terasa sangat mencekik, seolah-olah udara telah berubah menjadi beton yang padat. Cahaya fajar mulai menyelinap melalui celah jendela, memantulkan sinar pada pecahan kaca ponsel di lantai marmer. Kirana masih duduk di posisi yang sama sejak telepon itu terputus semalam, tegak, kaku, dengan mata yang menatap kosong ke arah dinding.

Di lantai, ponselnya yang retak dan kalung safir yang putus menjadi saksi bisu hancurnya sebuah ilusi yang sempat ia peluk erat. Kirana menatap pantulan dirinya di cermin rias yang besar. Wajahnya pucat, matanya merah - bukan karena air mata, karena ia menolak menjatuhkan setetes pun untuk pria itu - melainkan karena kemarahan murni yang membakar setiap sel sarafnya. Kulit lehernya yang putih sedikit tergores akibat rantai yang ia tarik paksa semalam, meninggalkan jejak merah yang tampak seperti bekas jeratan.

"Taruhan," bisiknya lirih. Suaranya terdengar serak, dingin, dan asing di telinganya sendiri. "Kau menganggap hidupku, karierku, dan harga diriku sebagai meja judi, Arka?"

Kirana berdiri dengan perlahan. Rasa sakit di dadanya masih ada, sangat dalam hingga membuatnya mual, namun ia menekannya jauh ke dalam lubuk hatinya yang paling gelap. Ia tidak boleh hancur sekarang. Jika Arka ingin mengakhiri permainan ini di pesta ulang tahun Mahendra Group besok malam, maka Kirana akan memastikan panggung itu menjadi tempat eksekusi bagi reputasi keluarga Mahendra.

Ia mengambil ponselnya yang retak, menyalakannya, dan melihat belasan pesan dari Arka yang masuk setelah panggilan tak sengaja itu.

"Maaf tadi teleponnya terputus, Sayang. Aku sedang di rapat darurat, berisik sekali. Tidurlah yang nyenyak. Sampai jumpa di pesta besok malam. Aku punya kejutan besar untukmu."

Kirana tersenyum sinis, sebuah lengkungan bibir yang penuh dengan kebencian. Rapat darurat. Ya, rapat tentang bagaimana cara membuangnya ke tempat sampah setelah mendapatkan semua yang diinginkan. Dengan tangan yang sangat stabil, Kirana mulai mengetik balasan singkat.

"Tidak apa-apa, Arka. Aku mengerti betapa sibuknya kamu. Aku juga sangat menantikan pesta besok malam. Itu akan menjadi malam yang benar-benar tidak terlupakan bagi kita berdua."

Sepanjang hari itu, Kirana bekerja dengan presisi seorang algojo. Ia tidak pergi ke kantor pusat Kencana Jewelry. Sebaliknya, ia mengumpulkan seluruh tim IT kepercayaan dan tim hukum pribadinya di sebuah kantor satelit rahasia. Ia tahu ia telah melakukan kesalahan fatal dengan menyerahkan daftar vendor itu, dan satu-satunya cara untuk menebusnya adalah dengan menarik kembali jantung itu sebelum Arka sempat menggunakannya untuk menghancurkan pasar.

"Ibu Kirana, Anda tampak sangat pucat," ujar Maya, asisten setianya, dengan nada khawatir yang tulus. "Apa perlu saya batalkan semua jadwal untuk besok? Anda terlihat seperti sedang menahan beban yang sangat berat."

"Tidak, Maya," Kirana menatap asistennya dengan tatapan yang begitu dingin hingga membuat Maya merinding. "Besok adalah hari terpenting dalam karier saya. Siapkan dokumen pencabutan hak akses darurat dan kirimkan ke server vendor kita di Afrika dan Kalimantan. Aktifkan protokol Silent Killer pada data yang saya berikan kepada Arka semalam."

Maya tertegun, jemarinya berhenti di atas keyboard. Protokol itu adalah langkah terakhir yang hanya digunakan jika perusahaan berada dalam ancaman akuisisi ilegal. Artinya, data yang ada di tangan Arka akan hancur sendiri atau berubah menjadi data sampah yang terenkripsi jika dibuka tanpa kunci yang diperbarui dari pusat. "Tapi Bu, itu akan memicu alarm di sistem mereka jika mereka mencoba mempresentasikannya secara publik."

"Itu tujuannya," jawab Kirana pendek, matanya berkilat tajam. "Biarkan mereka merasa seolah-olah telah menggenggam permata paling berharga di dunia, sampai mereka menyadari bahwa yang mereka genggam sebenarnya hanyalah bom waktu yang siap meledak."

Malam pesta itu tiba dengan segala kemegahannya yang memuakkan.

Ballroom Hotel Grand Hyatt Jakarta didekorasi dengan kemewahan yang berlebihan. Bunga-bunga anggrek putih eksotis, lampu kristal yang berdentang tertiup angin pendingin ruangan, dan karpet merah yang membentang luas menyambut para tamu terhormat.

Seluruh elite bisnis, pejabat pemerintahan, dan sosialita Jakarta hadir di sana. Mereka datang untuk merayakan kejayaan Mahendra Group, namun banyak juga yang datang karena mendengar rumor panas tentang tunangan misterius Arka Mahendra yang akan diperkenalkan malam ini.

Arka berdiri di tengah lobi utama, tampak sangat tampan dan berwibawa dengan tuksedo hitam pekat yang dirancang khusus dari Italia. Ia dikelilingi oleh Dion dan teman-teman satu gengnya. Mereka tertawa-tawa kecil, sesekali melirik jam tangan Rolex mereka dengan tidak sabar.

"Mobil sport merahmu sudah siap di depan lobi, Arka," bisik Dion sambil menyeringai lebar. "Begitu kau mengumumkan kerja sama dengan Singapura dan melepas wanita itu di panggung, kuncinya langsung berpindah tangan ke kantongmu. Taruhan dimenangkan."

Arka membenarkan letak bowtie-nya di depan cermin besar, senyum sombong menghiasi wajahnya. "Sabar, Dion. Biarkan dia masuk dulu. Aku ingin melihat wajahnya saat dia merasa menjadi ratu semalam, tepat sebelum aku menarik karpet dari bawah kakinya dan menginjak mahkotanya di depan semua orang."

Tak lama kemudian, sebuah limosin hitam berhenti tepat di depan pintu masuk. Suasana seketika senyap saat pintu mobil terbuka.

Kirana turun dari mobil. Ia tidak mengenakan gaun hijau zamrud atau warna-warna lembut yang disukai Arka. Ia mengenakan gaun backless berwarna hitam legam dengan payet yang berkilau gelap seperti sisik naga di bawah lampu sorot. Bibirnya dipulas merah darah yang kontras dengan kulit pucatnya, dan matanya digaris dengan eyeliner tajam yang memberikan kesan predator.

Ia tidak lagi mengenakan kalung safir dari Arka. Sebagai gantinya, ia mengenakan kalung berlian mentah yang besar, kasar, dan berat milik koleksi pribadi keluarga pendiri Kencana Jewelry yang jarang dikeluarkan.

Ia berjalan masuk dengan dagu terangkat tinggi. Setiap langkahnya memancarkan aura kekuasaan yang mengintimidasi, jauh dari kesan wanita yang sedang jatuh cinta. Arka terpaku sesaat di tempatnya berdiri. Ada sesuatu yang berbeda dari Kirana malam ini. Sisi lembut dan rapuh yang selama ini ia manipulasi telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya dan tak terduga.

Arka segera menghampirinya, mencoba meraih tangan Kirana untuk menciumnya sesuai protokol kekasih yang ia mainkan. "Kirana, kau terlihat... luar biasa malam ini. Benar-benar mematikan. Tapi di mana kalung pemberianku?"

Kirana menarik tangannya dengan gerakan halus namun sangat tegas sebelum bibir Arka menyentuh kulitnya, seolah-olah ia sedang merapikan lipatan gaunnya. "Oh, itu? Rantainya putus semalam saat aku sedang merenung, Arka. Mungkin itu sebuah pertanda dari alam semesta bahwa barang murah tidak akan pernah bisa bertahan lama melingkar di leherku."

Arka sedikit tersentak oleh nada bicara Kirana yang sedingin es, namun ia segera tertawa kecil, mencoba menutupi kecanggungannya di depan tamu lain. Ia menganggap itu hanyalah bentuk kekesalan wanita karena ia tidak mengangkat telepon semalam. "Aku akan membelikanmu yang sepuluh kali lebih mahal malam ini, tepat setelah pengumuman besar kita di panggung nanti."

"Aku benar-benar tidak sabar menunggu pengumuman itu, Arka," jawab Kirana dengan senyum manis yang tidak mencapai matanya sama sekali.

Acara inti dimulai. Surya Mahendra naik ke atas panggung utama untuk memberikan pidato pembukaan yang membosankan tentang ekspansi pasar dan dominasi keluarga Mahendra. Di samping panggung, Arka terus mencoba memegang tangan Kirana, sesekali berbisik mesra yang kini hanya terdengar seperti desisan ular berbisa di telinga Kirana.

"Dan sekarang," suara Surya menggema melalui sistem suara yang canggih, "putra saya sekaligus pewaris tunggal Mahendra Group, Arka Mahendra, akan mengumumkan sebuah kerja sama strategis yang akan mengubah peta industri perhiasan di seluruh Asia Pasifik."

Arka melangkah maju ke podium dengan penuh rasa percaya diri yang meluap. Ia menarik Kirana untuk berdiri tepat di sampingnya di bawah lampu sorot yang menyilaukan.

"Malam ini adalah malam yang sangat istimewa bagi kami," Arka memulai pidatonya dengan nada yang sangat meyakinkan. "Bukan hanya karena kesuksesan finansial perusahaan kami, tapi karena kami telah berhasil mengamankan jalur pasokan vendor paling eksklusif di dunia yang selama ini tidak tersentuh oleh siapa pun. Dengan data ini, Mahendra Group secara resmi menandatangani kerja sama eksklusif dengan Global Star Corp dari Singapura!"

Tepuk tangan riuh rendah memenuhi ballroom. Layar LED raksasa di belakang panggung mulai menampilkan slide presentasi yang menunjukkan daftar vendor rahasia yang dicuri Arka dari Kirana.

Dion dan teman-temannya bersorak dari meja depan, mengangkat gelas wiski mereka ke arah Arka. Arka melirik Kirana, memberikan senyum kemenangan yang sangat merendahkan, seolah-olah Kirana hanyalah sebuah alat yang telah selesai digunakan fungsinya. Ia lalu mendekatkan mulutnya ke mik lagi untuk memberikan pukulan terakhir.

"Dan mengenai Ibu Kirana di samping saya... saya ingin mengucapkan terima kasih secara pribadi karena telah menjadi... 'mitra' yang sangat kooperatif. Begitu kooperatif hingga ia rela menyerahkan rahasia terbesar perusahaannya hanya demi apa yang ia kira adalah... cinta yang tulus."

Beberapa tamu di ruangan itu mulai berbisik-bisik, menyadari nada menghina yang terselip di suara Arka.

"Tapi sayangnya bagi Ibu Kirana," Arka melanjutkan dengan mata yang kini menatap Kirana dengan kedinginan yang brutal, "di dunia Mahendra, cinta tidak memiliki nilai tukar di bursa saham. Terima kasih, Kirana. Peranmu sudah selesai malam ini. Kau bisa meninggalkan panggung sekarang sebelum petugas keamanan kami membantumu menemukan jalan keluar."

Ruangan menjadi sunyi senyap seolah-olah waktu berhenti berputar. Semua mata menatap Kirana dengan campuran rasa kasihan, ejekan, dan penghinaan. Arka merasa telah memenangkan taruhan, harga diri, dan bisnis dalam satu gerakan sekaligus.

Namun, Kirana tidak bergeming. Ia tidak menangis. Ia tidak lari. Ia justru melangkah maju dengan tenang, merebut mikrofon dari tangan Arka yang terkejut.

"Terima kasih atas sambutannya yang sangat jujur, Arka," suara Kirana terdengar sangat jernih, stabil, dan penuh wibawa, bergema di setiap sudut ruangan. "Tapi sepertinya kau terlalu cepat merayakan kemenangan di atas meja judi kecilmu."

Kirana melirik ke arah Maya yang berada di meja teknis di ujung ruangan. Maya memberikan anggukan kecil dan menekan satu tombol di laptopnya.

Tiba-tiba, slide presentasi di layar raksasa itu bergetar dan berubah total. Daftar vendor yang tadi terpampang hilang seketika, digantikan oleh sebuah video rekaman CCTV berkualitas tinggi dari sebuah kelab malam. Suara Arka yang mengejek Kirana, menyebut tentang "*si bodoh yang jatuh cinta*", dan detail taruhan mobil sport dengan Dion terdengar sangat jelas di seluruh ballroom.

Wajah Arka berubah menjadi pucat pasi seketika. Surya Mahendra berdiri dari kursi kehormatannya dengan wajah merah padam karena malu yang luar biasa.

"Itu belum semuanya," lanjut Kirana, suaranya kini semakin tajam seperti pisau bedah. "Daftar vendor yang baru saja kau banggakan itu? Coba periksa tabletmu sekarang, Arka. Data itu telah terhapus secara permanen melalui protokol keamanan darurat dan sistem telah mengirimkan laporan pencurian data ke Kepolisian Cyber Indonesia serta Bursa Efek. Mahendra Group baru saja mengumumkan kerja sama internasional menggunakan data ilegal yang sebenarnya sudah tidak ada."

Arka dengan panik mencoba mengoperasikan tablet di podium, namun layarnya hanya menampilkan tulisan merah besar yang berkedip - *ACCESS DENIED - DATA CORRUPTED - LAW ENFORCEMENT NOTIFIED*.

"Kau... jalang! Apa yang kau lakukan?" Arka menggeram, mencoba meraih bahu Kirana dengan marah, namun Kirana menepis tangannya dengan gerakan yang sangat kasar dan bertenaga.

"Jangan pernah sentuh aku lagi dengan tangan kotormu yang penuh dengan kebohongan itu," desis Kirana tepat di depan wajah Arka. Ia menoleh ke arah tamu undangan yang masih ternganga tak percaya. "Malam ini, kalian semua menjadi saksi bagaimana Mahendra Group mencoba membangun imperium di atas penipuan dan taruhan murahan. Saya, Kirana, secara resmi menyatakan bahwa Kencana Jewelry membatalkan seluruh pembicaraan bisnis dengan keluarga penipu ini!"

Kirana menjatuhkan mikrofon itu ke lantai panggung. Bunyi dentuman keras dari speaker bergema menyakitkan di telinga semua orang. Ia berbalik dan berjalan menuruni panggung dengan langkah yang paling anggun yang pernah ia lakukan.

"Kirana! Berhenti di sana!" teriak Arka yang kini dikerubungi oleh para wartawan yang haus akan skandal. Kamera kilat menyambar-nyambar wajah Arka yang panik, sementara Surya Mahendra tampak nyaris pingsan karena investor Singapura-nya langsung berjalan keluar dari ruangan dengan wajah marah.

Kirana terus berjalan melewati kerumunan tanpa menoleh sedikit pun. Di ambang pintu besar hotel, ia berhenti sejenak, melihat ke arah Arka yang sedang dikepung dan mencoba menutupi wajahnya dari kejaran media.

"Permainanmu berakhir dengan memalukan di sini, Arka," bisik Kirana pada dirinya sendiri, suaranya penuh dengan kepuasan yang pahit. "Tapi permainanku... baru saja memasuki babak yang paling menghancurkan bagi keluargamu."

Kirana masuk ke dalam mobilnya yang sudah menunggu. Saat mobil itu melesat membelah malam Jakarta, Kirana menatap telapak tangannya yang sedikit gemetar. Ia telah memenangkan pertempuran pertama dan menghancurkan harga diri pria yang menghancurkan hatinya. Namun ia tahu, mulai besok pagi, ia akan menjadi musuh nomor satu keluarga Mahendra yang memiliki kekuatan politik besar.

Ia telah membakar jembatan di belakangnya, dan sekarang, ia harus bersiap untuk perang yang sesungguhnya di mana tidak akan ada tawanan yang diambil hidup-hidup.

...----------------...

**Next Episode**...

1
anju hernawati
bagus jalan ceritanya author lanjut y .....
Miss Ra: siaaappp
total 1 replies
zhelfa_alfira
makin seru
Renjana Senja
nah bener. harus waspada sama barang asing gitu
Renjana Senja
eh. kiriman apa itu kalau boleh tau kawan?
zhelfa_alfira
wah keren²
zhelfa_alfira
lanjut²...
Sunaryati
Okey ku kira walau di penjara Bram tidak tinggal, orang yang serakah hal dunia biasanya sulit menerima kekalahan walau terbukti bersalah
Sunaryati
Menegangkan melebihi cerita mafia
Sunaryati
Semoga Arka selamat
zhelfa_alfira
semangat²
zhelfa_alfira
lanjut sama2 masih punya perasaan tapi ego masih sama² tinggi
zhelfa_alfira
dah selesai yang menegangkan kita tunggu yang manis2 nya lagi.😁🤭
zhelfa_alfira
wow seru nya cerita ini...
zhelfa_alfira
akhirnya keangkuhan arka selesai juga
zhelfa_alfira
bagus akhirnya ketahuan juga padahal reza sudah tau semua kebusukan arka...semangat²
zhelfa_alfira
entah lah bisa² nya masuk lobang yang sama...
zhelfa_alfira
keren² aku suka hancur kan dan hempaskan yang sudah menyakiti
zhelfa_alfira
keren
Miss Ra: /Kiss//Heart/
total 1 replies
zhelfa_alfira
wow keren aku suka karakter kinara tegas...semangat up kk author
zhelfa_alfira: sama² semangat
total 2 replies
zhelfa_alfira
lanjut²
Miss Ra: siaaap...

lanjut besok pagi ya kak..
good night...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!