"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"
Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.
Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?
Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.
Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Pram Memang Mencari Perkara
"Uhhh, tampannya suamiku ini...."
Kanaya menaiki kursi rias di kamarnya, dengan Kalendra yang berada di hadapannya. Kepala laki-laki itu menunduk. Menatap fokus pada Kanaya yang tengah memasangkan dasi di lehernya.
"Selesai." Kanaya tersenyum puas.
"Kerja yang rajin ya, suamiku. Istrimu ini tidak suka hidup susah." tangan Kanaya berpegangan pada masing-masing bahu Kalendra. Menempelkan bibirnya pada pipi Kalendra secepat kilat.
Lagi-lagi Kalendra sedikit tersentak. Belum terbiasa dengan inisiatif Kanaya yang satu ini. Istrinya ini, sekarang suka sekali mencuri kecupan.
"Sekarang kau sangat nakal ya?" Kalendra menarik pinggang Kanaya. Tidak keras, namun cukup memaksa perempuan itu untuk mendekat.
"Tapi...kau suka kan?" bisik Kanaya genit. Memainkan telunjuknya pada dada bidang Kalendra.
Kalendra terkekeh. Mencegat telunjuk Kanaya agar berhenti bermain-main di dadanya. Lantas, laki-laki itu membawa telunjuk sang istri masuk ke dalam mulutnya. Menyesapnya sembari matanya menatap Kanaya dalam.
Kanaya berdesis. Telunjuknya terasa geli, namun hangat. Sengatan akibat sesapan yang Kalendra berikan membuat perempuan itu menggigit bibirnya, menahan suara kotor yang sangat ingin keluar.
"Aww!" seru Kanaya saat merasakan gigitan di sana.
"Kalendra, kau menggigit jariku!" protes sang istri merajuk.
Kalendra tersenyum miring. Ia keluarkan telunjuk Kanaya dari mulutnya. Matanya berkilat gairah saat melihat jari itu basah dan sedikit memerah. Pikirannya melayang kotor, bagaimana rasanya jika miliknya yang masuk ke mulut mungil sang istri. Merasakan hangat dan sesapan di dalamnya.
Ck, sial! Dia tidak akan bisa tahan jika lebih lama berada di posisi ini.
"Aku berangkat." pamit Kalendra setelah mencium tangan sang istri.
"Kabari aku jika ingin berpergian." ujarnya lagi sembari mencubit hidung sang istri gemas.
"Siap kapten!" balas Kanaya dengan tangan membentuk gestur hormat.
Setelah itu, Kalendra berangkat. Diikuti Kanaya yang mengantarnya sampai depan pintu utama. Perempuan itu melambaikan tangan tatkala Rio--- sang asisten sekaligus sekretaris Kalendra menghidupkan mesin.
"Rio, jaga suamiku ya, jika dia melirik perempuan lain di kantor, tolong cubit ginjalnya untukku!" seru Kanaya bersungguh-sungguh.
Di tempatnya, Rio memaksakan senyumnya. Mengangguk pada Kanaya sebelum akhirnya memilih menutup kaca mobil dan melanjutkan mobilnya.
"Andaikan dia tahu, seberapa bucinnya suaminya itu, sampai-sampai menghalalkan segala cara untuk menjeratnya." gumam sang asisten dengan sangat pelan.
"Kau mengatakan sesuatu, Rio?"
Rio gelagapan. Padahal dia sudah sangat pelan bersuara, kenapa bosnya masih bisa mendengar.
"Bu--bukan apa-apa Tuan." jawab Rio gagap yang di balas dengusan malas oleh sang atasan.
"Sekali lagi kau berbicara sembarangan, kupotong lidahmu."
.
.
Selepas kepergian Kalendra, Arana memutuskan untuk membaca novel dengan ditemani sepiring cookies dan segelas jus melon. Duduk di dekat jendela yang menghadap langsung pada kolam renang, istri Kalendra nampak tenang menikmati waktu bersantainya.
Setidaknya--- sebelum seseorang datang dan membuat keributan.
"Aku ingin bertemu Kanaya! Ada hal penting yang harus aku sampaikan!" teriakan itu berasal dari depan rumah.
"Maaf, Tuan. Nyonya kami sedang tidak bisa diganggu. Lebih baik anda pergi dari sini, sebelum kami bertindak kasar." terdengar sahutan penjaga yang memperingati.
"Aku tidak peduli, aku akan tetap di sini, sampai Kanaya keluar dan menemuiku!"
"Kanaya! Aku punya rekaman yang membuktikan Kalendra dalang dari tragedi di gudang waktu itu!"
Di luar sana, perdebatan semakin sengit. Membuat Kanaya akhirnya memilih beranjak dan melangkah menuju sumber keributan.
"Tuan, tolong kerja samanya! Silahkan pergi dari rumah majikan kami!"
"Tidak mau!"
"Aku akan tetap menunggu sampai---
"Ada apa ini?" sela Kanaya yang baru saja datang.
Melihat kehadiran Kanaya, Pram--- orang yang menjadi sumber keributan lantas, bergerak maju, ingin mendekati sang perempuan. Sayangnya, langkahnya gegas dicegat oleh dua penjaga di sana.
"Lepaskan aku, sialan. Aku tidak memiliki urusan dengan kalian!" ronta Pram.
"Tapi, apapun yang menyangkut Nyonya kami adalah urusan kami."
"Lepas!"
Lewat gerakan tangan, Kanaya memberikan isyarat pada penjaga untuk melepaskan Pram. Walau tampak keberatan, akhirnya dua penjaga itu melepaskan cekalannya.
Membenarkan kemejanya kasar, Pram maju. Mengambil sesuatu dari sakunya dan menunjukkannya pada sang mantan kekasih.
"Di sini, semua kebrengsekan Kalendra telah tersimpan rapi. Setelah melihatnya, baru kau akan percaya jika aku tidak berbohong."
"Tragedi di dalam gudang itu adalah jebakan. Dan dalang dari itu semua adalah Kalendra."
Kanaya mengamati wajah Pram yang memiliki banyak lebam, seperti bekas pukulan. Lantas, perempuan itu mengurut hidungnya sebelum akhirnya menghembuskan nafas jengah.
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu, Pram. Tidak peduli kau berbohong atau tidak, semuanya sudah tidak ada gunanya."
"Kita hanyalah masa lalu. Sekarang, aku sudah menjadi istri orang. Bukti itu tidak akan berarti apa-apa."
"Tapi orang yang menjadi suamimu, dia juga orang yang sama yang menghancurkan hubungan kita!" amarah Pram meledak. Laki-laki itu tak terima dengan respon Kanaya yang di luar ekspetasinya.
Pram mencengkram bahu Kanaya. Kuat, hingga membuat sang empu meringis.
"Jika saja bajingan itu tidak berulah, mungkin sekarang kita masih bersama, menikah dan memiliki anak. Kenapa kau malah menutup mata atas kejahatan dia, hah?!" urat-urat laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu, menonjol.
"Pram, sakit."
"Kau sudah jatuh cinta dengannya? Kau mencintai bajingan itu?!"
"Pram---
"Tuan Pram, lepaskan Nyonya kami!"
Dua penjaga tadi hendak menarik Pram. Dan--- sebelum itu terjadi, Pram sudah terlebih dahulu mendorong tubuh Kanaya, hingga perempuan itu terjengkang ke belakang. Mungkin saja istri Kalendra itu akan jatuh jika saja tidak ada pintu sebagai penghalang. Tepat saat itu, penjaga langsung menahan Pram agar tidak bertindak lebih jauh.
"JAWAB KANAYA! KAU MENCINTAI KALENDRA?!"
"YA!!"
Kanaya bersuara lantang. Menegakkan badannya, dia menatap Pram penuh kepercayaan diri. Bersedekap dada, Kanaya menyunggingkan senyum remeh.
"Kalendra adalah suamiku. Sudah sepantasnya aku--- mencintainya."
"Kanaya, kau---
"Kau akan menyesal. Sudah cukup selama ini aku diam. Sekarang--- aku akan mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku!"
Pram menyentak lengannya, hingga cekalan dua penjaga tadi terlepas. Mendekati Kanaya, ia cekal tangan perempuan itu dan hendak menyeretnya, membawanya pergi dari kediaman Wijaya.
"Pram, lepaskan aku!" Kanaya memberontak.
"Tidak Kanaya. Jika aku tidak bisa menggunakan kebusukan Kalendra untuk membawamu kembali, maka jangan salahkan aku jika aku menggunakan cara kasar!"
"Pram, kau gila. Lepaskan tanganku!"
"Aku bilang tidak ya ti--
Bughh!
Tubuh Pram terpelanting. Wajahnya yang belum sepenuhnya sembuh harus rela mendapatkan bogeman kembali tatkala kemejanya ditarik paksa dan sebuah kepalan tangan mendarat keras pada rahangnya.
"Berani sekali kau menyentuh istriku!"
Bugh!
Kalendra--- emosinya begitu meledak saat mendapati tangan kotor Pramudya menyentuh Kanaya. Untungnya, Ami mengabarinya jika Pram membuat ulah di kediamannya. Sehingga dia bisa buru-buru balik arah dan memberikan bajingan itu pelajaran.
"Apa hak-mu menyentuh milikku, hah?!"
Bugh!
Kalendra benar-benar tidak memberikan Pram kesempatan untuk membahas. Bak orang kesetanan dia memukuli Pram membabi buta.
"Tuan, dia bisa tiada!" Rio panik. Jika Kalendra terus dibiarkan, bisa-bisa nyawa Pram tidak tertolo.
"Tangan ini yang kau gunakan untuk menyentuh Kanaya, benar? Biar kupatahkan tangan lancangmu ini!"
Krek.
"Arghhh!!"
Kalendra tidak main-main dengan ucapannya. Kakinya itu dengan tega menginjak tangan Pram, hingga menimbulkan suara yang membuat ngilu bagi yang mendengarnya.
"Nyonya, tolong hentikan Tuan. Dokter Pram bisa mati!" ujar Rio pada Kanaya yang sedari tadi hanya diam menyaksikan.
Kanaya menatap Rio datar. Sebelum akhirnya membuka suara yang hampir membuat sang sekretaris menjatuhkan rahangnya.
"Biarkan saja. Aku yakin, Kalendra lebih tahu kapan dia harus berhenti."
Dasar pasangan tidak waras! Seru Rio di dalam hatinya yang hampir frustasi.