"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"
Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.
"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"
baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Sore itu, matahari mulai turun perlahan di ufuk barat, meninggalkan semburat jingga yang menyapu langit dengan lembut. Angin laut berhembus hangat, membawa aroma asin yang menenangkan. Rama memutar setir mobilnya, semula hendak langsung pulang usai mengantar keluarga Pak Haris ke hotel, tapi entah kenapa hatinya tergerak untuk berbelok ke arah pantai.
Ia berhenti di tepi pasir putih yang sepi, mematikan mesin, dan memandang langit luas yang dihiasi awan tipis keemasan. Di sampingnya, Citra tersenyum kecil, rambutnya tertiup lembut oleh angin.
“Indah ya…” ucap Citra pelan.
Rama menoleh, menatapnya dalam. “Iya. Sama seperti kamu.”
Citra terkekeh pelan, pipinya bersemu merah. “Aduh, Pak Rama, gombalnya masih aja jalan.”
Rama hanya tersenyum, lalu meraih jemari Citra. “Aku nggak gombal, Cit. Aku cuma jujur.”
Mereka berdiri bersama menatap matahari yang perlahan tenggelam ke laut. Cahaya oranye itu menari di permukaan air, seolah dunia sedang berhenti sejenak untuk memberi ruang pada keindahan. Saat Citra menoleh, Rama sudah lebih dekat. Jarak mereka hanya sejengkal, dan tanpa banyak kata, Rama menunduk, menempelkan bibirnya di bibir Citra dengan lembut.
Citra sempat terkejut, tapi detik berikutnya matanya terpejam. Ciuman itu bukan nafsu, tapi kehangatan. Perlahan, Rama menjauh, matanya menatap penuh kasih. “Aku nggak akan memaksa apa pun. Kalau kamu belum siap, aku akan menunggu.”
Citra terdiam. Ia menggigit bibir, menatap laut yang kini memantulkan cahaya bulan. “Bapak selalu gitu, ya. Selalu sabar.”
Rama tersenyum kecil. “Karena aku nggak mau hubungan kita cuma soal waktu. Aku mau ini soal hati.”
Mereka lalu berjalan beriringan menuju penginapan kecil di tepi pantai. Di sana, meja makan sudah disiapkan — cahaya lilin berkilau lembut, suara ombak menjadi musik alami. Saat mereka menikmati makan malam, Citra sesekali menatap Rama dengan senyum tak percaya.
“Kadang aku masih nggak nyangka,” katanya lirih. “Dulu Citra cuma tahu Bapak sebagai papanya Rava. Sekarang… Citra malah jadi istri Bapak.”
Rama tertawa ringan. “Dunia memang suka bercanda.”
Baru saja Citra ikut tertawa, ponsel Rama bergetar di meja. Nama Rava tertera di layar. Senyum Rama perlahan memudar.
Citra berhenti menyuap makanan. “Rava?” tanyanya hati-hati.
Rama mengangguk singkat, berdiri, lalu berjalan menjauh dari meja. Ia menekan tombol hijau.
“Ya, Va?” suaranya tenang.
“Papa, aku… aku mau bicara,” suara Rava berat di seberang sana. “Sekarang.”
“Tidak sekarang. Kita bicarakan besok. Kau masih punya resepsi, masih harus menemui keluarga Cantika.”
“Tapi Pa, aku—”
“Besok, Rava,” potong Rama. Nada suaranya lembut tapi tegas. “Selesaikan dulu harimu.”
Sebelum Rava bisa menjawab, sambungan terputus. Rama menatap layar sebentar, kemudian menarik napas panjang.
Citra menatapnya saat ia kembali ke meja. “Kenapa, Pak?”
“Kami harus bicara banyak. Tapi aku tahu dia butuh waktu,” jawab Rama. Ia menggenggam tangan Citra di atas meja. “Aku juga butuh waktu, Cit. Untuk bikin semua orang terbiasa.”
Citra menatapnya, matanya berkaca-kaca. “Bapak tahu… Ini semua bermula dari Rava. Aku rasa, dialah yang harus mengakhiri dramanya.”
"Tapi, aku tak akan mundur jika dia mau membuat drama," sambung Citra membatin.
Rama tersenyum lembut. “iya.”
Malam makin larut. Di balkon kamar penginapan, mereka duduk berdampingan, memandang bulan yang menggantung penuh di langit. Suara ombak menjadi latar yang menenangkan. Rama menyentuh pipi Citra, lalu menunduk mencium keningnya pelan.
“Tidurlah. Malam ini cuma untuk kita. Nggak perlu mikir siapa pun.”
Citra terharu, air matanya menetes tanpa sadar. “Terima kasih, Pak.”
Ia menyandarkan kepala di bahu Rama. Mereka akhirnya berbaring, saling berpelukan tanpa kata, tanpa api birahi—hanya dua hati yang mencoba saling memahami dalam tenang.
Sementara itu di rumah Cantika, suasana justru berkebalikan.
Rava duduk di tepi ranjang, wajahnya kosong, matanya memandang jauh ke arah jendela. Malam begitu panjang baginya. Setiap kali ia menutup mata, bayangan Rama dan Citra tadi siang muncul kembali. Ia membayangkan mereka sekarang—bersama, di tempat yang hangat, mungkin sedang tertawa atau bahkan berciuman seperti yang dilakukan suami-istri.
Kepalanya panas. Tangannya mencengkeram rambut. “Papa kejam…” bisiknya pelan. “Papa kejam banget.”
Cantika keluar dari kamar mandi, mengenakan daster lembut. Ia menatap Rava yang duduk kaku. “Rava?” suaranya lembut. “Kamu kenapa? Dari tadi nggak ngomong apa-apa.”
“Nggak apa-apa,” jawab Rava singkat, tanpa menoleh.
Cantika duduk di sampingnya, memegang tangan suaminya. “Kamu mikirin Papa, atau Citra?”
Rava diam.
Cantika menarik tangan Rava, menaruhnya di atas perutnya yang masih datar. “Dengar… ada kita di sini. Ada aku, ada bayi kita. Kamu harus ingat kami, Va.”
Tapi tatapan Rava kosong. Ia menarik tangannya pelan. “Aku senang,” katanya datar. “Aku cuma capek.”
Cantika menatapnya lama, perih. “Kamu bohong…”
Rava berdiri, berjalan ke balkon, menatap langit. Bulan yang sama yang tadi disaksikan Rama dan Citra, kini terasa kejam di matanya. “Aku cuma butuh waktu,” katanya pelan. “Itu aja.”
Pagi harinya, saat Cantika masih tertidur, Rava diam-diam keluar rumah. Matanya sembab, wajahnya lelah. Ia menyetir tanpa arah, tapi pikirannya cuma satu — menemui ayahnya.
Ia menelpon Rama berkali-kali, tapi tak diangkat.
“Ayo dong, Pa…” gumamnya di belakang kemudi. “Angkat, sekali aja.”
Tak ada jawaban.
Mobilnya berhenti di depan rumah besar bercat putih milik Rama. Ia turun tergesa, menekan bel. Pintu dibuka oleh pembantu keluarga.
“Pak Rama sama Bu Citra belum pulang, Mas,” katanya sopan. “Dari kemarin pagi berangkat bareng keluarga Bu Citra.”
Rava terpaku. “Belum… pulang?” ulangnya lirih.
“Belum, Mas.”
Rava tersenyum hambar. “Baiklah.” Ia berjalan kembali ke mobilnya, matanya mulai berkaca-kaca. Kepalanya penuh bayangan yang tak mau pergi. “Mereka… bareng, ya…”
Ia menyetir lagi, tanpa arah. Jalanan pagi yang cerah dan sepi justru terasa menyakitkan. Angin menerpa wajahnya, tapi dada terasa sesak. Ia menekan gas lebih dalam, matanya mulai buram oleh air mata.
“Kenapa harus dia, Pa…” gumamnya parau. “Kenapa Citra…”
Dari arah berlawanan, sebuah mobil menyalakan klakson keras. Rava tersentak, banting stir ke kanan, tapi terlambat. Mobilnya menabrak pohon besar di pinggir jalan dengan suara benturan keras.
Warga sekitar segera berlari mendekat. Suara kaca pecah dan alarm mobil menggema. Darah menetes dari pelipis Rava yang tak sadarkan diri di balik kemudi.
“Cepat panggil ambulans!” teriak seseorang.
Beberapa menit kemudian, suara sirene menggema, memecah pagi yang seharusnya indah itu.
kalo dah ditinggal pegi..
gigit jari bakalan lani
klao kehilangan 2 suami
meninggal Juni 2012
😭😭